BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 7. Rumsiah Singgah (Part 2)


__ADS_3

Selain cerita tentang kakek dan nenek, rumah singgah ini juga menyimpan cerita lainnya. Menurut Joni, sebelum aku sudah ada 4 guru wanita yang melamar disini. Mereka semua gagal di ujian terakhir.


Awalnya aku bingung dengan ujian terakhir bahkan saat pembicaraan pertama bersama Pak Yusuf di teras, beliau hanya mengatakan, "Lulus tidaknya bergantung pada anak-anak. Apakah mereka menerima atau tidak? Itu tergantung pada ujian yang terakhir! Semangat!"


Sebenarnya setiap ujian yang diberikan anak-anak kepada calon guru mereka selalu dipantau Yusuf melalui tablet miliknya. Perjanjiannya mereka boleh bermain dengan calon guru mereka dalam hal yang wajar. Jika ketahuan membahayakan maka mereka harus dihukum. Tak terkecuali saat ini, Yusuf menyaksikan aksi Cicit melalui tabletnya.


Ku pikir ujian macam apa yang diberikan, rupanya hanya sebuah permainan. Saat memasuki rumah ini untuk pertama kalinya, banyak jebakan yang dipasang. Rupanya "jebakan inilah" yang dimaksud Pak Yusuf. Pantas saja tidak ada yang lulus jika ujian terakhirnya seperti ini. Memang benar jika ingin tinggal di suatu tempat makan kita harus diterima oleh si empunya rumah.


Ya ya ya. Baiklah! Kita lihat permainan seperti apa yang mereka siapkan. Ayo Cicit! Kamu sudah sering memainkannya bukan?


Targetnya adalah keberadaan anak-anak. Tertulis dalam kertas yang ditempel di pintu, "Temukan kami jika ingin diterima!"


Kondisi rumah sangat gelap. Mereka sengaja mematikan lampu. Langit mendung menambah suasana semakin gelap.


"Sebentar lagi maghrib aku harus cepat menyelesaikan ini lalu memberikan mereka hadiah pertemuan!"


Cicit berhasil menghindari semua serangan yang datang. Mulai dari air yang dijatuhkan saat membuka pintu, lalau tutup panci yang tiba-tiba melayang ke arahnya, beragam hewan mainan, juga pocong-pocongan untuk menakuti.


Anak-anak yang menyaksikan dari monitor pengawas merasa kecewa karena tidak ada satupun jebakan yang kena.


"Yah... gak kena!"


"Kok gak takut si??"


"Berhasil menghindar lagi?!"


Cicit melihat seisi rumah dengan senter kecil yang dibawanya. Cicit selalu membawa barang-barang yang tidak umum di tasnya. Itu untuk berjaga-jaga saat situasi dan kondisi darurat seperti sekarang ini. Gadis itu memperhatikan bahwa semua jebakan yang dipasang hanya ada di satu jalur sedangkan di sisi lainnya tidak ada. Maka dapat disimpulkan bahwa jalur itu adalah jalan menuju anak-anak.


Cicit juga tahu kalau dirinya dipantau dari CCTV. Cicit mengikuti jalur jebakan yang dipasang dengan masih menghindari setiap jebakan yang dipasang termasuk telur yang tiba-tiba melayang ke arahnya.


"Aish! Gak kena! Ah, sial!"


Ucapan itu terdengar oleh Cicit. Gadis itu mengikuti arah sumber suara. Dia berhasil menangkap anak yang mengerjainya.


"Kena kamu!"


"OMG! Aku tertangkap!"


"Sekarang kamu tunjukkan dimana teman-temanmu?"


"Gak mau! Cari aja sendiri!"


"Baiklah kalau tidak mau kasih tahu tidak apa-apa!"


Cicit menyuruh anak itu menghadap CCTV. Mereka kini berada di depan CCTV.


"Saya tahu kalian ada dimana. Jika tidak keluar dalam hitungan 5, maka teman kalian dan bahkan rumah ini akan saya ledakkan!" Cicit mengeluarkan granat dari dalam tas kecilnya.


"Halah! Paling juga granat mainan! Saya juga punya!"


"Mainan? Coba kamu pegang sendiri! Apa ini granat mainan?"


Bocah itu memegang granat yang diberikan cicit. Granat itu tidak seperti granat mainan yang pernah dipegangnya. Bobotnya berat, ukurannya lebih besar dari granat mainan miliknya. Bocah itu mulai ketakutan. Wajahnya mulai pucat, keringat dingin mulai keluar.


"Guys! Plis! Ini bukan granat mainan, guys! Ini beneran! Ukuran dan bobotnya beda dari granat punyaku! Tolong guys, aku gak mau mati! Bang Zack tolong! Udahan aja ya! "


Bocah itu mulai menangis. Sebenarnya Cicit tak tega menakuti bocah itu, tapi waktu semakin sempit. Hal itu dilakukan agar anak-anak kelak tidak mempermainkan ya lagi.


Saat Arul mulai menangis, seseorang yang sedang menonton melalui tablet menjadi panik. Pria itu meminta supir untuk putar balik kembali ke rumah singgah.


"Gila! Apa-apaan gadis itu!? Bawa granat segala! Lihat saja jika aku sampai nanti! Dia sudah membahayakan anak-anak! Akan ku pecat dia nanti!" Yusuf sudah emosi. Amarahnya tak terbendung.


"Sabar bos! Itukan cuma... " ucapan Joni terpotong.


"Sabar? Anak-anak digituin masih bilang harus sabar! Kamu dah gila, Jon!" Joni pun terdiam. Tidak bicara lagi.


"Baiklah! Sebelum itu jawab pertanyaan terakhir dari kami! Apa tujuan kakak datang kemari?"


"Tujuanku kemari ya untuk kalian! Mengajar kalian sesuai yang diamanatkan Pak Yusuf. Satu lagi, saya juga sedang mencari orang."


"Siapa yang kamu cari?"

__ADS_1


"Lelaki cungkring yang telah merebut hati saya di masa lalu!"


"Baiklah! Kakak lulus! Tolong granatnya kakak pegang!"


"Tidak! Sampai kalian semua keluar!"


"Bang Zack! Udahan ngapa? Arul udah takut banget ini! Hu... Hu... Hu...!"


Bocah itu semakin kencang menangisnya. Tak lama semua anak keluar dari sebuah ruangan. Anak-anak itu berlindung dibalik tubuh Zack.


"Sungguh anak-anak yang baik! Sini granatnya!"


Saat Arul memberikan padanya, Cicit sengaja tak menerimanya dengan baik.


"Yah granatnya jatuh!"


Semua anak langsung berjongkok dan berteriak minta tolong. Ada juga yang menangis. Seseorang di dalam mobil juga ikutan berteriak.


"Aaaa... Tolong!"


Cicit membiarkan anak-anak itu berteriak dan menangis. Beberapa saat kemudian anak yang paling dituakan, Zack, perlahan membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada yang terjadi. Semua masih utuh. Rumah juga dirinya masih utuh. Tidak terjadi apa-apa. Dia melihat semua adik-adiknya yang masih menutup telinga.


"Kalian semua berhenti menangis. Tidak ada apa-apa! Kita semua dikerjai!"


Mendengar kata "dikerjai" mendadak mereka berhenti menangis. Cicit yang melihat hal itu hanya tertawa saja.


"Sial! Niatnya ngerjain malah dikerjain!"


"Hahaha! Itulah kalau niat buruk pasti berakhir buruk!" ejek Cicit.


"Ini hanya duplikat granat bukan granat asli! Memang sengaja dibuat seperti aslinya sebagai contoh! Jadi baik ukuran dan bobotnya ya harus sama dengan yang asli! Itung-itung itu sebagai hukuman atas ketidaksopanan kalian terhadap orang yang lebih tua!"


Mereka semua terdiam. Termasuk pria yang kini berada di depan pintu hendak masuk ke dalam rumah. Yusuf terduduk lemas mendengar bahwa granat itu adalah granat palsu.


Cicit menyuruh anak-anak mengikutinya saat mendengar suara mobil berhenti. Cicit kini berada di belakang pintu. Arul mengikuti di belakang Cicit. Sedangkan anak lainnya mengikuti beberapa meter di belakang Arul.


"Nah, saya bilang juga apa? Si bos disuruh sabar gak mau sih! Saya tadi tuh mau bilang kalau itu granat palsu, tapi si bos udah motong aja!"


"Yaelah Jon! Bisa diam gak! Kakiku lemas ini! Iya saya salah! Gak mau dengarkan kamu! Maaf!"


"Kalau penasaran tanya saja sama orangnya!"


Tiba-tiba tubuh Yusuf terjungkal ke belakang saat pintu yang disandarinya terbuka.


"Laaah kok pintunya terbuka?"


Duuk! terdengar suara kepala yang beradu dengan lantai.


"Aduh!" Yusuf mengaduh kesakitan karena kepalanya beradu dengan lantai dengan cukup keras. Cicit sengaja menarik gagang pintu dengan kencang tapi dia tidak menyangka kalau Yusuf sedang bersandar di pintu. Perkiraan Cicit Yusuf sedang berdiri di depan pintu.


Bersamaan dengan itu, Arul yang melihat Yusuf terjungkal, memanggil namanya, "Bang Ucup!" Hanya saja suaranya tak terlalu didengar Cicit karena dirinya terlalu fokus dengan pembicaraan di luar pintu.


"Penasaran apa?" tanya orang yang membuka pintu.


Orang itu tak lain adalah Cicit. Cicit sudah menduga kalau Pak Yusuf juga mengetahui tentang tindakan anak-anak dan mendiamkannya. Sesaat tadi dia menyadari bahwa aksinya juga ditonton oleh Yusuf. Makanya tadi Cicit sengaja mengeluarkan granat yang sebenarnya tak sengaja tertinggal di dalam tasnya. Granat itu dibawa Bima setelah selesai rapat persenjataan. Saat itu Bima minta dijemput Cicit dan menitipkan granat itu pada Cicit.


Dengan adanya granat itu dan juga ancaman terhadap anak-anak, pasti Pak Yusuf juga tidak akan tenang. Dia pasti akan datang untuk menyelamatkan anak-anak. Benar dugaan Cicit, Yusuf datang untuk menyelamatkan anak-anak.


Meski kesal, Cicit tak tinggal diam melihat Yusuf terjatuh. Gadis itu membantu Yusuf berdiri dan meminta maaf.


"Maaf Pak Yusuf saya tidak tahu kalau bapak bersandar di pintu! Saya pikir bapak sedang berdiri di depan pintu!"


"Terima kasih! Saya baik-baik saja! Kok kamu tahu saya ada disini!"


"Tahulah! Saya tahu pasti bapak juga menyaksikan ujian ini kan? Makanya saya sengaja mengeluarkan granat agar bapak kembali!"


Cicit mengumpulkan semua anak dan juga Yusuf beserta asistennya, Joni, di halaman. Cicit menceramahi mereka semua.


Lah! Kok aku ikut diceramahi sih!? Yusuf.


Aksi Cicit itu ditonton kakek dan nenek yang sedang bersantai di teras paviliun. Mereka tersenyum dan tertawa kecil melihat hal itu.

__ADS_1


"Sepertinya rumah ini akan semakin ramai ya kek?"


"Iya nek! Jadi semakin berwarna!"


Ceramah Cicit berhenti ketika azan magrib berkumandang.


"Sudah azan kalian segera solat setelah itu saya tunggu kalian di meja makan untuk makan malam! O ya Pak Yusuf juga nanti ikut makan di sini! Saya punya hadiah untuk bapak!" Yusuf hanya mengangguk.


Anak laki-laki segera ke masjid untuk solat. Sedangkan untuk yang perempuan kembali ke kamar masing-masing.


"Untuk yang perempuan, seperempat jam lagi kakak tunggu di dapur!


Rumah singgah ini sebenarnya sudah ada koki khusus untuk masak. Yusuf sudah menyiapkan semua fasilitas untuk anak-anak agar mereka nyaman. Cicit menyadari bahwa kenyamanan yang diberikan akan membuat anak-anak manja dan malas. Oleh karena itu, mulai sekarang anak-anak akan dilibatkan dalam kegiatan merawat rumah mulai sekarang.


"Kalian sudah berkumpul di sini. Saya mau kalian membantu membuat makan malam. Makan malam kali ini adalah nasi goreng. Kalian siapkan bumbu dan goreng telur, bantu Ibu Nia memasak. Saya akan buat sesuatu yang spesial untuk kalian."


"Bu Nia tolong u mereka ya!" Bu Nia hanya mengangguk.


Saat Yusuf dan anak-anak kembali dari masjid, makanan mulai dihidangkan di meja makan. Yusuf dan anak-anak mencium aroma makanan yang lezat. Mereka langsung menuju meja makan.


"Wuih, makanannya enak nih! Jadi lapar!" ucap salah satu anak. Tangan mereka sudah mengambil sendok dan siap menyantap makanan. Tiba-tiba terdengar suara meja di pukul.


"Siapa suruh kalian makan? Semua duduk di tempat masing-masing!" Yusuf yang mendengar juga ikutan duduk ditempatnya dengan patuh.


"Sebelum makan ada beberapa hal yang akan saya sampaikan dan butuh persetujuan Pak Yusuf! Jika Pak Yusuf setuju maka aturan itu akan diterapkan! Bagaimana Pak Yusuf?" Yusuf hanya mengangguk saja.


"Pertama, bagi yang berumur 7 tahun sampai usia remaja, mulai besok harus membantu di dapur menyiapkan makan malam. Kalian buat kelompoknya sendiri. Saya akan mengawasi selama kalian masak!"


"Kedua, saya mau kalian membersihkan kamar kalian sendiri termasuk dengan kamar mandi yang ada di kamar kalian. Jika saya periksa kamar kalian masih kotor dan berantakan, akan ada hukuman untuk kalian!"


"Ketiga, setiap minggu pagi akan diadakan olahraga bersama. Kalian semua harus ikut, jika ada yang tidak ikut akan kena hukuman juga. Kecuali jika sakit. Tetapi jika ketahuan hanya berpura-pura sakit, siap-siap saja akan ada hukuman!


" Bagaimana Pak Yusuf, apa bapak setuju?"


"Baiklah! Saya setuju!"


"Apa diantara kalian ada yang tidak setuju?" Cicit melihat ke arah mereka, mencari adakah anak yang mengacungkan tangan tanda tidak setuju. Ah, rupanya ada.


"Siapa nama kamu? Kenapa tidak setuju?"


"Saya Kirana. Ada pelayan kok ngapain juga kami harus ikut membantu. Mereka kan dibayar."


"Kamu benar mereka dibayar. Mereka bekerja untuk hidup. Bukankah kamu juga sebelum sampai di sini harus bekerja untuk hidup, bukan? Apa kamu sudah lupa dengan kehidupan sebelum ini, Nona Kirana Larasati? Apa kamu pantas mengatakan itu sedangkan sebelumnya kamu juga sama dengan mereka? Sama-sama berjuang untuk hidup. Sekarang ini meski kamu tinggal di sini apakah selamanya kamu akan terus tinggal di sini dan bergantung dengan rumah ini? Suatu saat kamu pasti akan meninggalkan rumah ini saat dewasa nanti dan mencari kehidupanmu sendiri. Saat itu tiba bahkan tidak akan ada yang membantu kecuali dirimu sendiri. Jika kamu bisa survive kamu akan hidup, jika tidak berakhirlah hidupmu! Jawab saya, apakah perkataan saya salah atau benar?"


Gadis itu terdiam. Mulutnya seolah terkunci begitu saja. Kata-kata yang diucapkan Cicit sangat menohok dan menampar dirinya. Gadis itu sadar bahwa selama tinggal di rumah itu dia terlena dengan fasilitas yang ada. Seolah kehidupan masa lalunya sebelum di jalanan kembali lagi. Dia merasa kembali menjadi nona muda seperti sebelumnya. Dia jadi sombong dan lupa kalau dirinya pernah di jalanan, berjuang untuk hidup.


"Nona Kirana jawab saya!"


Gadis itu masih terdiam. Wajahnya kini tertunduk malu. Gadis itu hanya menggeleng sebagai tanda jawaban setelah Cicit bertanya kembali. Anak-anak lain yang mendengar kata-kata Cicit juga ikut tertunduk. Sepertinya mereka mulai menyadari kepongahan mereka selama ini.


"Baiklah! Jika semua setuju, Zack, besok pagi saya minta daftar piket untuk masak makan malam! Bu Nia tolong bawakan makanan yang tadi saya buat!"


Zack tidak berani menyahut. Remaja itu hanya mengangguk saja. Yusuf tersenyum kecil. Bukan tanpa alasan Yusuf menyetujui semua aturan itu. Sebenarnya Yusuf sudah sering mendapat laporan tentang tingkah anak-anak yang seenaknya selama ini. Bahkan pelayanan yang bicara langsung pada mereka diacuhkan. Yusuf sangat senang dengan kehadiran Cicit di sini.


Kayaknya Joni harus dikasih bonus.


"Nah, ini makanan spesial yang saya buat untuk kalian, bakwan!"


"Cuma bakwan, kak! Dikirain apa gitu? Spageti atau pizza gitu?" celoteh Zack.


"Cobain dulu nanti kalian pasti ketagihan!"


Mereka mencoba bakwan buatan Cicit termasuk Yusuf.


"Hmmm... Enak!" Arul berkata sambil terus mengunyah bakwan.


Anak yang lain juga berkata enak. Berbeda dengan anak-anak, kini Yusuf sedang berada dalam kenangannya 15 tahun yang lalu. Saat mengunyah bakwan itu, Yusuf merasakan rasa yang tidak asing, rasa yang diingatnya selama 15 tahun ini. Rasa bakwan yang tak pernah hilang dan selalu dicarinya. Meski dirinya selalu makan bakwan setiap hari tak pernah dia menemukan rasa yang sama seperti 15 tahun lalu bahkan ketika makan bakwan buatan Mama Aiu. Bukan kata enak yang keluar dari mulutnya melainkan nama seseorang yang dirindukannya.


"Sri?"


Anak-anak yang mendengar Yusuf mengatakan Sri jadi tertawa.

__ADS_1


"Bang, abang lagi ngigau ya? Ini bakwan bang bukan Sri! Harusnya abang bilang enak!" Zack menertawai Yusuf.


Sesaat tadi, saat Yusuf mengucapkan nama Sri, Cicit merasa terpanggil. Hanya saja dia ragu untuk menjawab apakah yang dimaksud adalah dirinya atau orang lain.


__ADS_2