
Seorang wanita sedang menangis di pelukan suaminya. Semua kebencian luntur begitu saja seiring dengan tangis dan tetesan air mata. Kini yang ada hanya penyesalan karena ketidaktahuannya. Betapa dia tidak tahu penderitaan dan pengorbanan yang diberikan orang yang sangat mencintainya. Pengorbanan yang begitu besar untuk dirinya juga keluarganya.
"Sudahlah! Sekarang kamu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ku harap kamu bisa memaafkan mama!" Frans masih mengelus punggung istrinya untuk menenangkannya.
"Iya! Aku sudah memaafkan mama! Sekarang malah aku yang seharusnya minta maaf padanya karena selalu kurang ajar padanya! Huhuhu...!" Air mata Magnolia masih menetes dan tidak bisa berhenti.
Flash back on.
Adzan subuh berkumandang. Seorang pria membuka matanya perlahan. Rasa kantuk masih menggantung tetapi pria itu menahannya karena waktu subuh sudah tiba. Tangan kanannya meraba-raba bagian atas nakas, berusaha menggapai kacamata yang diletakkan di situ. Setelah mendapatkannya pria itu terduduk dan mengenakan kacamata itu. Dilihatnya jam sudah pukul 04.45.
Rasa lelah masih menggelayuti tubuhnya. Tidak hanya karena pelarian tetapi juga habis melepas rindu bersama istri tercinta. Suami mana yang tahan melihat istrinya berpakaian seksi dan menggoda. Meski lelah tetap saja hasrat tak bisa dibendung. Pria itu tersenyum melihat ke arah istrinya yang masih tertidur karena kelelahan. Jemarinya menyibak rambut sang istri kemudian sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya. Tubuh sang istri menggeliat karena mendapat sentuhan. Sang suami terus membelai rambut istrinya untuk membangunkannya.
"Sayang, aku masih ngantuk!" Sang istri merajuk.
"Aku tahu kamu masih ngantuk tetapi adzan subuh sudah berkumandang. Bukankah sudah waktunya solat subuh. Jangan-jangan kamu sudah tidak solat lagi ya kalau aku tidak ada?" Sebenarnya Frans hanya bercanda saja. Magnolia langsung terbangun karena tidak terima dengan perkataan suaminya.
"Siapa bilang? Aku tetap solat dan selalu di awal waktu meski kamu tidak ada!" Magnolia masih bersungut karena tidak terima dengan perkataan suaminya.
"Aku percaya kok! Liaku yang cantik tidak akan meninggalkan kewajibannya. Aku hanya memprovokasimu saja agar bangun. Haha!"
"Kamu jahat, yang!" Tangan Magnolia masih memukuli dada Frans dengan lembut.
"Aku minta maaf! Sudah jang pukul lagi. Pukulanmu itu bisa membangkitkan yang lain apalagi dua bola di hadapanku ini sangat menggoda. Bisa-bisa kita kehabisan waktu subuh!" Magnolia menatap ke tubuhnya yang terbuka. Wanita itu segera menutupinya dengan selimut.
"Kamu mesum!"
"Iya! Aku memang mesum tapi kan cuma sama kamu aja! Ayo kita mandi terus solat subuh!"
Tanpa malu, Frans langsung menggendong istrinya menuju kamar mandi. Setelah ritual mandi selesai mereka segera solat subuh berjamaah. Seperti biasa, Lia akan mencium tangan suaminya selesai solat. Wanita muda itu segera membereskan peralatan solatnya.
"Kamu sudah siap untuk membaca bukunya mama?" Lia hanya mengangguk pelan.
"Kamu mau minum apa? Biar ku pesankan!"
"Mau segelas susu hangat dengan sedikit madu!" Frans yang sedang menelepon ke bagian restoran segera memesankan pesanan istrinya.
__ADS_1
Pria bertubuh tinggi itu kembali duduk di samping istrinya. Menemani Sang istri membaca buku diary mamanya.
Tanggal 20 Januari tahun xxxx
Sekian tahun aku mengejar Bima tetapi bukan aku yang menikah dengannya. Anehnya mengapa hatiku tidak sedih? Aku juga tidak berniat untuk mengganggu mereka. Ku lihat mereka pasangan yang serasi. Sepupuku Mawar memberitahu jika kita tidak sedih berarti itu bukan cinta namanya. Itu juga berarti kita belum bertemu dengan cinta sejati.
Mengapa pernikahan mereka cepat sekali sih? Haduh! Mawar sudah ada pasangan sedangkan aku tidak punya! Brukk! Aku terjatuh karena menabrak seseorang. "Nona baik-baik saja?" Suaranya sangat menggoda. Waktu ku tengadahkan kepalaku, terlihat wajahnya yang tampan. Pria itu menolongku untuk berdiri. Dia juga meminta maaf.
Kemudian kami berkenalan. Namanya Bayu Pradana. Semenjak bertemu dengannya rasa sedih karena pernikahan Bima tidak terasa lagi. Aku hanya merasakan kebahagiaan saja.
Bayu adalah sosok laki-laki yang baik, humoris, humble, baik, dan pengertian. Aku sangat menyukainya. Tetapi aku tidak berani mengatakannya.
14 Februari xxxx
Hari ini aku mendapat pesan dari Bayu. Katanya dia akan mengungkapkan perasaan kepada gadis yang dicintainya sekaligus melamarnya. Jujur saja aku sangat sedih. Seminggu sebelumnya, Bayu memintaku menemaninya membeli cincin. Aku sangat sedih ketika tahu kalau cincin itu untuk gadis pujaannya. Aku tidak membalas pesan Bayu. Aku begitu kesal karena cemburu. Ternyata semua rasa bahagia yang ku rasakan selama ini adalah palsu. Bayu sudah memilih pasangannya dan gadis itu bukanlah aku.
Ayah memberitahuku bahwa nanti malam akan ada tamu penting. Ibu juga mengatakan bahwa mereka akan datang dengan anak laki-lakinya. Meski ibu tidak bilang dengan jelas, aku sudah paham maksud dan tujuan kedatangan mereka.
Ya Tuhan! Mengapa Engkau begitu kejam padaku! Di saat aku sedang sedih malah harus melakukan perjodohan dengan lelaki yang tidak ku ketahui.
Pukul 19.30, ibu membawaku turun ke ruang makan. Betapa terkejutnya ketika melihat Bayu sudah duduk di meja makan. Wajahku masih cemberut dan tidak memedulikan kehadirannya. Aku makan dengan tidak semangat. Aku hanya berpikir bahwa kedatangan Bayu hanya untuk urusan bisnis saja. Dia bilang akan pergi menemui pasangannya pada pukul 20.00.
Pukul 20.00, kami berkumpul di ruang tamu. Benar saja, kan, dia meminta ijin untuk pergi. Aku juga pamitan untuk kembali ke kamar. Saat aku akan menaiki tangga, tiba-tiba saja tanganku ditarik seseorang dan hampir terjatuh.
Terima kasih! Dua kata yang kuucapkan apda Bayu karena berhasil menangkapku. Kemudian aku melepaskan tangannya dan hendak kembali lagi ke kamar. Tiba-tiba saja dia menggendongku. Aku berteriak minta diturunkan. Bayu baru menurunkan ketika sudah sampai di halaman belakang.
Di sana sudah ada ayah dan ibuku. Orang tua Bayu juga berada di sana. Aku masih kesal. Aku hendak pergi lagi menuju kamar. Bayu mencegahku pergi.
"Aku tidak bisa menyatakan perasaanku jika kamu pergi lagi!" Aku terkejut dengan perkataannya. Saat berbalik badan, ku lihat dia tersenyum. "Apa maksudmu?" Kemudian dia menyatakan perasaannya padaku sambil berlutut dengan satu kaki.
"Cempaka, maukah kamu menikah denganku? Aku sungguh menyukai dan mencintaimu!"
Aku sangat terkejut sekaligus senang mendengarnya. Tak menyangka jika gadis yang dimaksud adalah aku.
"Ya! Aku mau menikah denganmu!" Kemudian Bayu menyematkan cincin yang kami beli waktu itu di jari manisku. Dia mau memelukku tetapi tidak jadi karena deheman dari ayahku. Aku sangat bahagia.
__ADS_1
Ku lihat wajahnya tiba-tiba jadi serius. Apa dia tidak senang karena ayah melarangnya memelukku? Tiba-tiba saja dia menghampiri ayah. Mereka terlihat berdiskusi. Selain keluarga intiku, keluarga besarku juga ada. Ternyata hanya aku yang tidak tahu kalau hari ini adalah lamaran. Ku lihat juga keluarga besar dari pihak Bayu juga hadir.
Ya ampun! Ternyata Bayu merencanakan semua ini di belakangku. Tak lama kemudian, datang Pak RT dan juga Ustadz Zakir. Loh! Ada apa ya? Kok sampai Pak RT dan Pak Ustadz datang? Aku masih tidak mengerti.
Aku menghampiri ibu untuk bertanya. "Bu, kok ada Pak RT dan Pak Ustadz?" Ibu hanya tersenyum. Jemarinya membelai rambutku. Tak lama kemudian ku lihat beberapa pelayan menyiapkan meja dan kursi. Ibunya Bayu juga menghampiriku.
"Kamu pasti bingung ya?" Aku hanya mengangguk. "Bayu itu memang begitu, serba dadakan! Lah ini lamaranmu aja mendadak! Syukurnya gadis itu adalah kamu kalau bukan mungkin ibu sudah ngamuk!" Aku hanya tersenyum malu.
"Ini juga mendadak! Tapi ibu pikir itu juga lebih baik dari pada kelamaan terus kalian khilaf!" Aku masih belum paham dengan ucapan ibunya Bayu. Ibuku menanggapinya dengan tersenyum dan setuju dengan tindakan Bayu.
"Kamu itu cantik banget! Pantas saja Bayu buru-buru untuk menghalalkan kamu! Rupanya takut diambil orang!" Ibu Bayu tertawa kecil. Begitupun dengan ibuku.
Ayah kemudian memanggil kami. Kedua ibu membawaku ke hadapan ayah. Kemudian mendudukkanku di kursi di samping Bayu. Bayu tersenyum menatapku. Aku terkejut ketika sebuah kerudung dipakaikan di kepalaku.
"Bu, ada apa ini? Kenapa aku harus pakai ini?" Ibu membelai wajahku sambil berkata, "Anak ibu yang cantik! Sekarang kamu akan menikah! Meski mendadak menurut ayah dan ibu, ini adalah hal yang terbaik! Untuk menjaga kehormatanmu lagipula kamu mencintai Bayu, kan?" Aku sungguh terkejut dengan pernikahan yang tiba-tiba ini. Bukannya aku tidak mau tetapi hatiku belum siap.
"Bu, apakah harus secepat ini? Hatiku belum siap!" Tiba-tiba terdengar suara bas Bayu dari belakangku. "Satu minggu lagi atau sekarang bukankah sama saja!" Apa?! Satu minggu lagi! Ya Ampun Bayu kamu ini! Aku hanya berkata dalam hati. Aku pun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku masih terdiam.
"Cempakaku sayang! Maafkan aku yang serba terburu-buru seperti ini! Maaf jika membuatmu seolah tidak dipedulikan pendapatmu! Bukan maksudku seperti itu, hanya saja, jika terlalu lama ditunda aku khawatir tidak bisa menahan godaan setan. Senyumanmu, kecantikanmu adalah godaan terberat buatku. Meski aku sudah melamarmu, aku takut tidak bisa menahan godaan. Hampir saja tadi aku ingin memelukmu. Jika bukan karena ayahmu yang mengingatkan mungkin aku sudah memelukmu. Kesempatan seperti itu pasti akan muncul lebih banyak. Hari ini beruntung karena ada ayahmu. Lain kali, aku takut kita berdua tidak bisa menahan godaan. Makanya ku pikir lebih baik menikahimu saat ini juga. Makanya aku meminta Pak RT dan Pak Ustadz untuk hadir sebagai saksi. Agar Senin nanti aku langsung mengurusnya di KUA. Bagaimana? Apa kamu masih ragu?"
Aku terdiam dan mencerna semua perkataan Bayu. Aku pun mengingat kembali saat kami sering pergi berdua. Bayu terkadang terlihat salah tingkah. Dia tidak pernah menyentuhku tetapi selalu menjagaku. Memang benar apa yang dikatakannya. Karena kedua orang tua kami sudah setuju, tentu kami akan lebih banyak berinteraksi dan keinginan untuk memiliki tentu semakin besar. Tidak lepas kemungkinan kami akan kehilangan kendali diri suatu saat nanti. Benar juga yang dikatakan Bayu mau hari ini atau satu minggu lagi tetap sama. Sama-sama mendadak buatku. Akhirnya aku putuskan untuk setuju.
"Baiklah! Aku setuju!" Terlihat wajah Bayu yang berbinar. Kemudian Pak Ustadz membimbing ayah dan Bayu untuk melakukan ijab qabul. Setelah dilakukan latihan dia kali. Akhirnya ijab qabul sungguhan terjadi.
Dalam hitungan detik aku sudah menjadi Nyonya Pradana. Aku sungguh bahagia! Terdengar kata sah dari dua saksi. Pak RT kemudian memberikan surat pernyataan tentang pernikahan.
Untuk pertama kalinya aku mencium tangan lelaki lain selain ayah. Bayu juga mencium kening dan tanpa malu mencium bibirku. Wajahku memerah karena malu. Seperti anak kecil, dia memamerkan keberhasilannya menciumku. Semua orang tertawa.
Setelah semua acara selesai. Keluarga Bayu pulang beserta rombongan. Hanya Bayu saja yang tinggal. Karena sudah malam aku membawanya ke kamarku. Sebenarnya aku sangat canggung dan malu. Ini pertama kalinya aku membawa laki-laki masuk kamar.
Setelah masuk, terdengar suara pintu dikunci. "Kenapa dikunci?" Aku tidak pernah mengunci kamar selama ini. "Apa kamu ingin mereka mengintip kegiatan kita malam ini?" Benar juga katanya. Kami sudah menikah. Tidak mungkin juga kami tidak melakukan itu.
"Jika aku meminta hakku malam ini apa kamu tidak keberatan?" Pertanyaannya membuatku gugup juga membisu. Jantungku berdegup kencang. Pikiranku tetiba kosong. Aku bingung mau jawab apa. Jika dia meminta hak itu berarti kami akan melakukan itu. Itu... Bagaimana ini? Ibu, tolong aku!
"Jika kamu keberatan, tidak masalah! Aku akan menunggu!" Ku lihat wajahnya sedikit suram. Aku tahu dia sangat ingin tetapi dia masih memikirkan perasaanku. Sebenarnya aku juga paham, padahal dia mempercepat pernikahan kami khawatir kami kebablasan. Sekarang giliran sudah sah masa aku akan menggantungnya. Itu jelas tidak mungkin.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana melakukannya. Aku tidak berpengalaman!" Ya Tuhan! Apa yang ku katakan? "Dasar bodoh! Tentu saja kamu tidak berpengalaman kan kamu masih perawan!" Aku juga tidak berpengalaman. Ini pertama kalinya. Ayahku bilang, semua manusia punya insting dan naluri untuk melakukan itu, jadi ya biarkan mengalir saja apa adanya. Tapi bakalan sakit untukmu. Aku akan pelan-pelan. Kuncinya nikmati dan biarkan mengalir saja. Bagaimana?" Aku hanya mengangguk. Perlahan tapi pasti akhirnya aku bisa menyerahkan mahkota kebanggaanku kepada laki-laki yang ku cintai. Meski sakit tetapi memang nikmat.