
"Dimana aku?" Rosalinda yang baru sadar masih belum tahu posisinya berada. Tiba-tiba saja dirinya mendapat pelukan hangat dari seorang laki-laki. Suara tangis pria itu menyadarkannya. Cakra sedikit menangis saat tahu Rosalinda sudah sadar. Itu adalah tangis bahagia.
"Ca... Cakra??!" Rosalinda ragu. Benarkah suara yang didengarnya suara pria yang dia rindukan atau bukan. Pria itu masih memeluknya tanpa memperlihatkan wajahnya.
"Ya... Ini aku Cakra! Syukurlah kamu sudah sadar, Ros! Aku sangat takut kehilangan kamu!" Cakra makin memeluk dengan erat. Perlahan senyuman terlukis di bibir Rosalinda.
"Cakra! Tolong lepaskan aku!" Rosalinda memintanya melepas pelukan.
"Tidak mau! Tidak akan pernah aku lepaskan!" Cakra tetap memeluk erat.
"Cakra cepat lepaskan aku! Itu... ada...!" Rosalinda berusaha menjelaskan situasi tetapi lagi-lagi ucapannya dipotong Cakra.
"Aku tidak mau! Mau ada gempa kek, tanah longsor kek, aku tidak akan melepaskanmu!" Cakra tetap teguh pada pendiriannya sampai suara deheman membuatnya sadar.
"Ehem... ehem! Ingat! Bukan muhrim!" Wajah Bima sudah terlihat sangar. Cakra yang sadar dengan suara yang barusan di dengarnya langsung melepas pelukannya. Wajahnya sudah seperti kucing yang baru tertangkap basah mencuri ikan. Pria muda itu hanya cengar-cengir saja.
"Eh, ada ayah! Ayah kapan datang? Kok Cakra gak tahu ayah datang?!" Cakra masih menutupi kegugupan karena kesalahannya dengan sedikit cengengesan. Tangannya masih menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal.
"Enak ya! Sementara tidak ada orang main peluk aja anak orang!" Bima mulai memberikan petuahnya.
"Maaf, yah! Cakra khilaf! Soalnya tadi kelewat senang karena Ros sudah sadar!" Wajahnya tertunduk malu.
"Minta maaf sama Ros bukan sama ayah! Kan yang kamu peluk itu Ros bukan ayah! Sudahlah, yang penting sekarang Ros sudah sadar!"
"Iya ayah!" Cakra langsung berlutut dengan satu lututnya menyentuh lantai.
"Ros, maafkan aku! Aku akan berhati-hati mulai sekarang! Kalau belum sah, aku tidak akan menyentuhmu!" Cakra bersungguh-sungguh mengucapkan hal itu. Rosalinda yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum simpul saja.
"Ros, bagaimana perasaanmu? Apa masih ada yang terasa sakit?" Bima sangat mengkhawatirkan anak sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya om! Masih terasa sakit di bagian kepala tetapi tidak seberapa sakit. Sebentar, bagaimana dengan Rachel?" Gadis itu penasaran dengan nasib Rachel.
"Dia sudah diamankan polisi. Kamu tenang saja sekarang sudah aman. Apa kamu sadar kalau sudah diracuni?" Pertanyaan Bima membuat mata Rosalinda membelalak seketika. Gadis itu tidak percaya kalau dirinya diracuni.
"Aku diracuni?" Bima hanya mengangguk. Rosalinda masih berpikir sejak kapan dia diracuni.
"Sejak sebelum kamu ikut ke Kediaman Winata! Mungkin kamu itu dijadikan bahan uji coba obat yang dikembangkan mereka atau kamu sudah ketahuan lalu mereka coba mengendalikan kamu? Karena racun yang diberikan padamu merupakan racun syaraf yang bisa menghilangkan ingatan lalu dengan beberapa sugesti kamu bisa dikendalikan layaknya seperti robot!" Ros makin tercengang dengan penjelasan Bima.
"Apa kamu ingat sesuatu sebelum kamu kembali ke Indonesia?" Bima penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Rosalinda. Rosalinda berusaha mengingat-ingat peristiwa sebelum dia kembali. Akhirnya dia teringat sesuatu.
"Seperti dugaan om, aku memang diracuni. Aku ingat hari itu pesta sebelum Rachel kembali ke sini. Semua ikut dalam pesta. Aku ingat dengan baik bahwa saat itu aku tidak ikut minum tetapi anehnya aku terbangun dengan tidak mengingat apapun. Rachel mengatakan bahwa aku mabuk. Sejak saat itu terkadang aku merasakan sakit kepala tiba-tiba. Rachel sempat memberiku obat, katanya untuk menghilangkan rasa sakit kepala. Beruntungnya aku tidak pernah meminum obat itu. Entah mengapa disaat aku ingin meminum obat itu ada saja yang menghalanginya. Tidak ada air untuk minum, tiba-tiba obatnya jatuh karena aku ditabrak orang, dll. Lantas kenapa kalian bisa tahu kalau aku diracun?" Gadis berusia sama dengan Cicit itu penasaran.
"Simpel saja karena tidak mengenali Cicit begitu sampai di kediaman Winata. Cicit bahkan sudah berkali-kali memberikan kode tetapi tidak ada respon darimu. Akhirnya Cicit berasumsi bahwa sudah terjadi sesuatu padamu. Ditambah lagi Cicit pernah mendapat laporan dari Pak Im kalau kamu pernah diserang sakit kepala. Selama ini kamu kan tidak pernah mengalami sakit kepala atau semacamnya. Akhirnya Cicit tahu kalau ada sesuatu yang terjadi padamu. Kamu ingat waktu dimintai tolong oleh Mona untuk membantunya mengupas buah dan tanganmu terluka?" Ros hanya menganggukkan kepala tanda dia ingat.
"Itu adalah ide Cicit untuk mendapatkan sampel darahmu. Cicit tahu kalau kamu tidak pandai mengupas kulit buah. Makanya dia meminta Mona untuk mengambil sampel darahmu. Setelah diperiksa memang terdapat racun dalam darahmu. Cicit juga sudah meminta Dr. Budi untuk menganalisa racun itu dan membuat penawarnya. Makanya dalam kesempatan kali ini, sengaja memprovokasimu untuk mendapatkanmu tanpa ada yang curiga." Bima selesai menjelaskan.
"Satu hal lagi, Ros. Apakah kamu masih ingin menyelamatkan Rachel seperti tujuanmu selama ini dan ingin menjadikannya menantu di Keluarga Wirabuana?" Untuk kali Bima memang tidak basa-basi. Pasalnya setelah Ros menghilang tiba-tiba tiga tahun lalu, Cakra mengalami banyak perubahan dalam suasana hati. Beruntungnya anak laki-lakinya itu tidak melampiaskannya ke hal-hal negatif. Hanya menjadi play boy dan sering berganti pacar saja.
"Maafkan Ros, om. Ros memang bodoh. Dulu, karena melihat nasib kami yang sama dan selalu menginginkan adik perempuan, maka bertindak bodoh seperti itu. Dalam mimpi tadi diperlihatkan wajah asli Rachel yang serakah akan harta dan hanya memperalat Ros. Sekarang Ros sudah sadar om. Ros tidak akan membantu Rachel lagi." Air mata Rosalinda mengalir begitu saja. Rasa penyesalan tergambar jelas di wajahnya. Kini giliran Laras yang menyalurkan kehangatan lewat pelukannya.
"Nah sekarang kamu jawab dengan jelas. Apa kamu bersedia menjadi menantu di Keluarga Wirabuana?" Tiba-tiba saja Laras bertanya tanpa basa-basi.
"Iya! Ros mau tante!" Cakra yang mendengarnya langsung ingin menghambur dalam pelukan mereka berdua tetapi berhasil dicegah Bima.
"Bukan muhrim dan belum sah! Jangan suka ambil kesempatan! Lagipula kamu harus membersihkan diri kamu dari kebiasaan play boy kamu!" Ros yang mendengar hal itu langsung memicingkan matanya dan menatap tajam Cakra.
Cakra yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah. "Apa itu benar?" Ros menatap Cakra dengan tatapan penuh selidik.
"Itu... itu... " Cakra tergagap.
__ADS_1
"Jawab yang benar!" Ros semakin tidak sabar.
"Iya benar! Semenjak kamu menghilang tiba-tiba 3 tahun lalu, aku sangat frustasi dan menjadi play boy. Lagipula itu semua salahmu yang selalu menghindariku selama ini. Meski begitu sampai saat ini aku tidak bisa menemukan penggantimu. Meski harus menjomblo atau jadi bujang lapuk seumur hidup juga aku tidak keberatan." Cakra mengeluarkan semua uneg-unegnya selama ini.
"Maafkan aku yang bodoh ini! Mulai sekarang jangan lagi mencari yang lain. Cukup aku saja yang harus kamu lihat dan perhatikan! Tapi, apa ayah sudah tahu kalau aku sudah di Indonesia? Aku juga harus minta maaf kepada ayah." Wajah Rosalinda tertunduk lesu. Tiga tahun lalu saat dirinya pergi bahkan tidak berpamitan pada ayahnya. Untung Cicit memberitahu ayahnya tentang hal itu. Setidaknya Firman bisa sedikit lega karena tahu apa yang dilakukan putri semata wayangnya. Jika tidak makan Firman akan diserang rasa bersalah terhadap mendiang istrinya, Mawar.
"Ayahmu sudah tahu apa yang kamu lakukan. Meski caramu salah tetapi dia dapat memakluminya. Selama ini Cicit selalu memberi tahu kabar tentangmu." Laras berusaha menenangkan Ros.
"Ayah dimana sekarang?"
"Ayah disini nak?" Tiba-tiba terdengar suara bas pria yang sangat dirindukannya. Gadis itu langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukan ayahnya. Tangisnya pecah begitu saja. Suasana berubah menjadi haru.
"Maafkan Ros, ayah! Ros salah! Ros sungguh bodoh! Maafkan Ros!" Gadis kecilnya kini telah kembali. Pria paruh baya itu mengelus punggung putrinya. Mengeratkan pelukannya. Menumpahkan semua rasa rindu yang dimilikinya.
"Ayah sudah memaafkan kamu. Lain kali jangan diulangi lagi ya! Ayah tidak tahu harus bagaimana bertanggung jawab di hadapan ibumu. Kamu satu-satunya harta yang ditinggalkan ibumu untuk ayah. Jika sesuatu terjadi padamu ayah akan merasa bersalah pada ibumu." Tanpa terasa air mata juga mengalir dari pelupuk mata Firman.
"Ros janji yah tidak akan mengulangi lagi!"
Kini pasangan ayah dan anak itu sudah bersatu kembali.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Yusuf penasaran dengan sikap istrinya itu.
"Aku dari tadi sedang menguping obrolan di kamar Ros. Makanya senyum sendiri. Alhamdulillah mereka sudah berkumpul lagi."
"Kamu itu ya, sempat-sempatnya menguping."
"Biarin! Biar gak penasaran!"
"Ih, kamu menggemaskan deh! Jadi ingin makan kamu deh!" Yusuf menggoda istrinya.
__ADS_1
"Kamu itu bisa tidak kalau ngomong hal begitu suaranya jangan besar-besar! Malu tahu didengar orang!" Tangan cicit sudah menutup mulut Yusuf.