
21 Februari xxxx
Satu minggu kemudian resepsi dilangsungkan. Pesta pernikahanku begitu meriah. Aku tidak menyangka bahwa hanya dalam waktu satu minggu saja Bayu bisa menyiapkan pesta yang begitu meriah.
21 Mei xxxx
Sudah 3 bulan sejak kami menikah. Setiap hari ku jalani dengan bahagia. Bayu sangat perhatian padaku. Dia tidak pernah bosan memasak untukku. Sebenarnya aku tidak bisa masak. Aku pernah bertanya pada Bayu, "Apa kamu tidak menyesal menikah denganku yang tidak bisa masak?" Aku cukup terkejut dengan jawabannya. Dia bilang, "Yang aku nikahi adalah kamu, dirimu seutuhnya. Bukan chef atau yang lainnya. Memasak bukanlah kewajibanmu. Kewajibanmu hanya satu patuh terhadap suami. Hal remeh temen lainnya seperti memasak, cuci baju, dan mengurus rumah itu adalah kewajibanku untuk memenuhi semuanya. Tetapi jika kamu ikhlas dan ridho dalam mengerjakan semua itu maka ganjarannya adalah pahala." Aku terkesima dengan jawaban Bayu.
"Lalu bagaimana dengan kewajiban melayani suami? Apa itu termasuk dari patuh terhadapmu?" Bayu terdiam sesaat. "Bisa dikatakan seperti itu. Kewajiban utamaku adalah memberikan nafkah lahir dan batin kepadamu. Pengertiannya sangat luas. Nafkah lahir itu berupa pemenuhan sandang, pangan, papan. Nafkah batin itu tidak melulu mengacu kepada pemenuhan hasrat seksual tetapi juga pemenuhan terhadap emosi yang lain. Misalnya membuatmu tetap tersenyum dan bahagia. Nah dalam pemenuhan hasrat seksual pasti melibatkan kedua sisi. Tidak hanya aku saja, tetapi harus ada timbal baliknya juga. Ketika aku meminta hakku padamu, tentu itu akan menjadi sebuah perintah dalam tanda kutip. Keikhlasanmu dalam memenuhi perintah itu sama dengan kewajiban." Aku masih terdiam karena terpesona dengan jawaban Bayu.
Melihatku yang masih terdiam, Bayu mengira aku masih belum mengerti. "Bagaimana menjelaskan secara ringkasnya ya?" Aku tertawa melihat kebingungan di wajah suamiku. "Sudah! Aku sudah paham! Aku hanya terpesona dengan pengetahuan suamiku!" Tiba-tiba saja Bayu mencium bibirku dengan lembut. Kemudian kami terhanyut dalam suasana romantis.
Saat terbangun, aku melihat jam sudah pukul 10.00. Aku terkejut karena suamiku masih tertidur di sampingku. Aku membangunkannya. "Sayang, bangun! Sudah jam 10.00. Kamu tidak ke kantor?" Bayu masih menggeliat malas. "Aku cuti! Jadi tidak ke kantor 2 hari ini!." Aku heran mengapa Bayu bisa malas begini. "Kenapa mendadak cuti?" Bayu kemudian bagun dari tidur, sekarang dia dalam posisi duduk menghadap ke arahku. "Karena aku berencana untuk ke rumah sakit hati ini." Aku terkejut mendengarnya. Aku sungguh tidak peka kalau Bayu sakit. Aku jadi bingung karena Bayu tidak mengalami gejala sakit.
"Kamu sakit apa? Sakitnya di bagian apa?" Aku panik sendiri. Aku makin heran melihat tingkah Bayu. Dia tidak panik malah menepuk jidatnya. Aku jadi makin bingung. Apa yang salah? "Cempaka sayang! Aku tidak sakit tetapi kamu yang sakit! Mbok Yem bilang kamu sering muntah akhir-akhir ini. Tetapi kamu sering menolak jika diajak periksa oleh Mbok Yem. Makanya hari ini aku akan membawamu ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Aku sudah buat janji temu dengan Dokter Mira. Jadi kamu harus patuh ya!"
Aku jadi malu sendiri. Aku tidak menyangka jika Bayu lebih peka dari yang ku kira. Aku sangat bahagia memiliki suami sepertinya. Setelah makan siang kami bertemu dengan Dokter Mira. Dalam pertemuan itu Dokter Mira, yang tak lain masih saudara jauh Bayu menanyakan tentang kapan aku terakhir datang bulan. Ketika dokter bertanya, aku jadi teringat kalau aku sudah tidak haid selama sebulan ini. "Apakah ini...?" Dokter Mira hanya mengatakan kemungkinan besar iya. Mbak Mira memintaku berbaring kemudian seorang suster mengoleskan gel di atas perut bagian bawah. Kemudian sebuah alat digerakkan pada permukaan yang diberi gel. "Selamat ya! Kamu hamil hampir 2 bulan!" Aku terkejut. "Lihatlah ke monitor! Kamu lihat gambar lingkaran dengan sebuah titik yang agak besar?" Aku hanya mengangguk. "Itu calon bayimu! Sekarang masih sangat kecil. Semakin bertambah bulan akan semakin besar. Dirawat dengan baik ya!" Aku dan Bayu masih tidak percaya. Sesaat kemudian Bayu langsung memeluk diriku. Dia mengucap syukur dengan bersujud.
"Gimana, sekarang kamu percaya kan, Yu? Kamu ngeyel sih waktu mbak bilang kalau Cempaka hamil!" Bayu hanya cengar-cengir. "Wajar lah mbak kan belum ada buktinya. Sekarang sudah ada buktinya baru percaya!" Aku yang masih bingung dengan pengalaman baru ini jadi bertanya dengan polosnya, "Jadi, aku harus bagaimana, mbak?" Pertanyaanku sontak membuat mbak Mira tertawa lepas. "Kamu benar-benar polis sekali Cempaka! Maaf ya bukan maksud mbak mengejek. Sebentar ya!" Ku lihat mbak Mira menuliskan resep di kertas.
"Kamu minum vitamin dan obat yang ku resepkan di sini secara teratur. Makan makanan bergizi dan cukup istirahat. Kalau dari laporan Bayu kamu hanya muntah di pagi hari saja, saya rasa itu masih normal. O ya jangan pakai sepatu hak tinggi. Kalau kalian mau berhubungan intim juga boleh tapi dikurangi intensitasnya ya! Sejauh ini kondisi anak kalian sangat sehat. O ya untuk pencegahan, kalau mau hubungan pake "sarung" ya atau bisa juga coitus interuptus. Itu hanya sementara saja sampai melewati trimester pertama saja! Kamu juga harus jadi suami siaga, Yu! Wanita hamil itu emosinya sangat dipengaruhi hormon, jadi kadang banyak maunya! Kamu harus sabar!" Hampir satu jam kami diberi petuah oleh Mbak Mira. Bersyukur dengan petuah Mbak Mira kami jadi banyak tahu tentang kehamilan.
Ketika sampai di parkiran, aku baru sadar kalau tempat itu sangat sepi. Hanya ada dua mobil yang terparkir di sana. Setelah ku lihat ternyata parkiran khusus. Bayu membuka pintu belakang yang membuatku terheran. "Sayang, kok buka pintu belakang?" Bayu hanya diam sambil memberiku kode untuk segera masuk. Aku pun masuk dengan masih kebingungan. Bayu kemudian mengunci pintu lalu memasang penutup jendela. "Ada apa yang?"
"Cempaka, istriku sayang! Bisa tidak kamu melayani sekarang? Jujur saja beberapa hari ini, aku selalu merasa bergairah jika melihatmu. Tadi aku bertanya sama Mbak Mira saat kamu ke toilet, katanya itu wajar sih. Banyak suami yang mengatakan kalau saat istrinya hamil malah makin bergairah. Jadi, bisakah kita melakukannya disini? Memang tidak biasa tapi ini juga salah satu variasi. Gimana?" Aku melihat ke arah bawah, benar saja sudah on. Kami akhirnya melewati siang itu dengan hal yang tidak biasa. Setelahnya kami pulang untuk membersihkan diri kemudian pergi ke rumahku dan mertua untuk memberikan kabar gembira ini.
Kehamilan ini memang pengalaman baru bagiku. Meski banyak yang merepotkan tetapi tetap saja membuatku sangat bahagia. Bayu dengan rajin membacakan quran setiap habis solat maghrib. Pagi, setelah solat subuh, Bayu mengajakku berjalan pagi. Setiap minggu dia juga menemaniku untuk mengikuti senam kehamilan. Aku sangat bersyukur memiliki suami sepertinya.
_____
__ADS_1
Pojok Author
Andre: Thor, lo kemana aja sih? Lama banget upnya! Gue kan jadi gabut! ð
Bima: Iya nih Thor! kemana aja sih? ðĨą
Author: Andre, Bima, dan juga para reader tercinta, author minta maaf ya dah kelamaan absen. Bukan lagi buntu gak ada ide, tapi apa daya, kesayangannya author, dua-duanya sakit. Hampir sebulan ini author sibuk merawat mereka. Jadi, mohon maaf lahir batin ya! Author belum bisa up cepat!
Bima: Maksudnya duo bocil, Ara dan Leyya sakit?
Author: Iya Bima! Seratus buat kamu!
Andre: Sakit apa Thor?
Author: Sakit klasik dre, demam, diare. Memang lagi musimnya juga. Untuk para reader tercinta. Jaga kesehatan ya! Covid-19 belum usai. Patuhi Prokes dengan baik! Kita sama-sama berdoa semoga Covid-19 segera berakhir.
Bima & Andre: Aamiin!
Author: Maaf ya untuk sementara tidak menerima kunjungan. Omicron masih belum dijinakkan. Jadi, untuk jaga-jaga lo pada diem di rumah bae ya!
Andre: Yah gagal dong makan bakwan! ð
Author: Et dah! Ujung-ujungnya makanan juga! Minta Aiu buatin napa? Lo juga Bima apa mau minta bakwan juga?
Bima: Sekali-kali napa Thor? ð
Author: Kalian ini benar-benar ter-la-lu! ð Kapan-kapan aja deh kalau korona sudah berlalu!
Andre: Lama amat Thor!
__ADS_1
Author: Kalo mo cepet beli di tukang gorengan gih! Bayar sendiri ya!
Bima: Author pelit! ð
Author: Bodo amat! ðĪŠðĪŠ
Aiu: Udah-udah daripada ribut mending makan bakwan aja! Mumpung masih hangat!
Author: Kamu memang paling pengertian deh! Aiu memang hebat! ð
Laras: Ini aku buatin teh tawar kesukaan author!
Author: Makasih! Kalian memang the best! Gak kayak suami kalian deh! ð Cuma bikin rusuh aja! ð ð
Bima & Andre: (No comment! Asik makan bakwan!)
Author: Et dah! Gue dicuekin! ð Awas aja kalian ya! Peran kalian bakal gue potong!
Bima & Andre: Jangan dong, Thor! Udah gabutnya lama pake dipotong segala! Ntar gue gak ada aksi dong! Gak ada aksi gak ada duit! Lah anak bini mau makan apa? ð°
Author: Gaya lo! anak bini mau makan apa? Tu harta lo aja kagak abis tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh pengkolan, pake nanya lagi makan apaan? Udah ah author mo pamit dulu! Para bocil udah bangun! Byee!
Bima: Yah Thor! Dia pergi gitu aja! Ini gara-gara lo, Dre!
Andre: Kok gue! Lo tuh yang duluan!
Laras: Udah! Kalian diam dan makan ni bakwan! Kalo gak kami pergi juga nih ikut author!
Aiu: Iya! mending ikut author aja daripada ribut mulu disini!
__ADS_1
Bima & Andre: Jangan! Iya kami makan!