
Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Cicit masih terjaga di ranjang. Tubuhnya hanya tertutup selimut tebal. Matanya masih sulit terpejam. Dirinya masih dalam kebingungan besar terlebih ketika Bibi Rania mengatakan hal yang menurutnya sangat tidak mungkin. Wajahnya masih tertegun memikirkan hal itu. Tanpa disadarinya Yusuf sudah bangun sejak tadi dan sedang memperhatikannya.
"Ada apa? Apa aku telah melakukan kesalahan yang membuatmu tidak senang?"
"Kamu sudah bangun? Maaf aku tidak sadar kalau kamu sudah bangun!"
"Kamu kenapa? Kok bengong aja dari tadi?" Yusuf membelai wajah Cicit dan menatapnya dengan lembut.
"Sebenarnya aku sedang bingung memikirkan perkataan Bibi Rania tadi. Tapi untuk saat ini, aku juga tidak bisa menceritakannya padamu karena telah berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapapun. Aku juga sedang bingung, manakah yang sedang berbohong? Aku jadi bingung sendiri!" Yusuf tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Cicit. Dahinya mengernyit.
"Sekarang aku malah lagi bingung dengan apa yang dikatakan istriku. Aku tidak paham maksudmu."
"Maafkan aku karena bicara tidak jelas! Bisakah besok kamu menemaniku bertemu dengan seseorang? Bawa juga Paman Joni dan Bibi Rania, tapi Bintang tidak boleh ikut. Aku juga minta kamu jika sampai kondisinya kacau bisakah kamu melindungi orang itu dan mengendalikan Paman Joni?" Yusuf makin bingung dengan permintaan Cicit. Meski begitu dia tetap mengiyakan permintaan Cicit.
"Ya sudah sekarang istirahat dulu! Kalau kamu gak mau istirahat kita lanjut olahraga lagi gimana?" Yusuf menakut-nakuti Cicit. Akhirnya Cicit setuju untuk tidur. Matanya perlahan mulai terpejam dalam pelukan Yusuf.
Keesokan paginya setelah Solat Subuh, Yusuf mengirim pesan pada Joni agar dia mengajak Rania pergi bersamanya. Yusuf juga mengatakan agar tidak membawa Bintang. Cicit juga telah mengirim pesan kepada orang yang akan mereka tujuan. Wanita yang baru menikah itu juga mengatakan dia membawa orang lain bersamanya. Ada hal penting yang harus dibahas.
"Bos, kita mau kemana?" Joni penasaran.
"Saya juga tidak tahu! Kamu tanya saja pada Cicit!"
"Kita mau kemana, Cit?" Joni masih penasaran.
"Maaf Paman aku tidak bisa memberitahukannya sekarang! Ku harap setelah kita sampai nanti, Paman dan Bibi harus bisa menahan emosi ya! Soalnya ini belum pasti kebenarannya! Cicit hanya minta itu sama paman dan bibi! Berjanjilah!" Cicit meminta mereka berdua untuk berjanji. Mereka berdua mengangguk tanda setuju.
"Sekarang kencangkan sabuk pengaman kalian! Aku minta maaf sebelumnya karena kita harus mengejar waktu! Jika terlambat makan orang itu mungkin sudah pergi dan butuh waktu satu minggu untuk menunggu dia kembali! Aku tidak punya kesabaran untuk menunggu! Selama aku menyetir tolong jangan ganggu!" Cicit sudah bersiap untuk menginjak pedal gas.
"Bismillahirrohmaaniirrohim!" Seketika mobil melaju dengan kencang. Yusuf, Joni, dan Rani terkejut dibuatnya. Cicit menyalakan GPS dan mencari rute yang lengang. Yusuf tidak menyangka jika istrinya bisa begitu bar-bar. Meski begitu gadisnya tetap sangat mempesona.
Cicit terus melakukan mobil dengan kecepatan tinggi. Mobil mulai melambat saat memasuki jalan pedesaan yang tidak rata dan sempit. Cicit memacu mobilnya hingga ke ujung desa yang berbatasan dengan hutan.
Saat sampai, Yusuf, Joni, dan Rania bingung, siapa orang yang akan mereka temui di gubuk kecil itu. Cicit meminta mereka untuk menunggu di bale-bale yang ada di bagian depan rumah. Cicit masuk ke dalam memanggil orang yang dimaksud.
Saat Cicit membawa keluar orang yang dimaksud, saat itu juga Joni terbakar amarah. Joni langsung akan menerjang orang yang dimaksud, beruntung Yusuf menghalaunya.
"Bukankah paman sudah berjanji padaku tadi! Aku tahu paman emosi tapi bisakah kita duduk dulu dan bicara baik-baik! Bibi Rania tolong tenangkan paman!" Cicit meminta Rania untuk menenangkan Joni.
Setelah semua tenang, seorang wanita tua keluar dari dalam gubuk dengan membawa minuman. Wanita itu tak lain adalah Sindi, Bibi Joni. Joni terkejut melihat bibinya. Dia bingung karena sebelum dia menikah sempat takziyah karena bibinya meninggal dalam kecelakaan dan hanya Ari saja yang selamat.
"Bi... bi! Bibi Sindi! Ini beneran Bibi Sindi?" Joni menghambur langsung ke pelukan bibinya. Sindi yang tiba-tiba dipeluk tak bisa langsung membalas pelukan Joni. Cicit yang paham segera mengambil minuman dari tangan neneknya. Sindi kini bisa membalas pelukan Joni. Kini mereka duduk di bale-bale.
"Bibi Rania! Apa ada hal yang ingin bibi katakan?" Cicit membuka suara.
"Iya Cicit! Sebenarnya tadi saat bibi turun dan melihat Ari, bibi merasakan ada yang aneh. Bibi merasakan sensasi yang berbeda saat bertemu Ari yang disini dengan Ari yang bibi temui dulu. Bibi memang cuek tetapi bibi bisa merasakan perbedaannya. Sebenarnya sejak dulu, bibi juga terpikir kenapa Ari bisa berubah drastis begitu? Apa karena kecelakaan?" Rania masih berpikir.
"Sudahlah Rania! Kamu tidak perlu berpikir lagi! Karena sejatinya Ari yang datang di pernikahanmu dan mempermalukanmu bukanlah aku!" Ari langsung to the point. Cicit hendak menceritakan kejadian hari itu tetapi ditahan Ari. Ari bermaksud menceritakannya sendiri.
"Kamu masih ingat saat kamu menolak lamaranku! Setelah penolakan itu aku pulang ke rumah. Aku memang hendak pergi ke luar kota bersama ibu untuk melakukan pengobatan. Sejak keluar rumah aku sudah menyadari kalau diikuti orang. Makanya aku memutar haluan ke kota B. Bermaksud meminta pertolongan pada Paman Krishna. Saat tiba di kota B mereka mulai menyenggol mobil kami. Menghantam dari sisi kanan dan kiri. Mobil hilang keseimbangan dan saat mendekati jurang dengan sengaja mereka mendorong kami dari belakang. Tuhan masih melindungiku dan ibu. Aku tersadar setelah masuk jurang. Karena mencium bau bensin, aku segera pergi dengan membawa ibu. Dengan tertatih aku berusaha keluar dari sana. Ketika mendapat sinyal, aku segera menghubungi Paman Krishna, tapi tidak terhubung, begitu juga dengan Bima, terakhir aku teringat Cicit. Aku menghubunginya dan memintanya menyelamatkan kami. Setelah perawatan selesai, kami minta untuk disembunyikan. Disini lah kami sekarang!" Ari menceritakan semuanya.
"Kenapa Paman Krishna bisa tidak tahu?"
"Aku yang meminta Cicit untuk merahasiakannya."
"Sudahlah! Itu sudah berlalu! Bibi lebih senang tinggal disini! Lebih tenang dan tentram. O ya Jon! Bagaimana kabar ayahmu? Seandainya dulu bibi mendengarkan perkataan ayahmu mungkin tidak akan jadi seperti ini!"
"Ayah baik-baik saja! Apa maksud perkataan bibi? Joni tidak mengerti!"
"Bibi dulu sangat menyukai ayahmu. Tetapi ayahmu menolak bibi. Dia bilang ada orang lain yang lebih mencintai bibi. Ayahmu bilang dia sangat dekat dengan ayahmu. Waktu itu bibi tidak paham siapa yang dimaksud ayahmu. Sampai hari pernikahan bibi dengan pamanmu, bibi baru sadar kalau yang dimaksud ayahmu adalah Hengki, teman ayahmu. Bibi juga tidak tahu kalau pamanmu menikahi bibi hanya untuk memanasi ayahmu. Singgih berpikir kalau bibi menolak cinta ayahmu. Bibi baru tahu kalau Singgih orang jahat setelah Ari berumur 5 tahun. Singgih meracuni ayahmu sampai dia harus menyerahkan perusahaan pada Singgih dan pergi dari rumah untuk pengobatan. Sejak saat itu bibi sudah kehilangan cinta untuk Singgih dan bertahan hanya demi Ari. Tidak disangka semakin hari, pamanmu semakin tak terkendali. Dia bahkan membawa perempuan ke rumah dan menikahinya. Wanita itu tidak suka dengan keberadaan bibi. Itulah sebabnya dia mencelakai bibi dengan meracuni bibi. Tujuannya hanya harta keluarga Wardhana. Mungkin setelah dia mendapatkan semuanya, pamanmu juga akan disingkirkan!"
"Kenapa bibi berpikir seperti itu?"
__ADS_1
"Bibi mendengarnya sendiri saat Marcella menelepon seseorang. Dia mengatakan untuk bersabar, sampai kita mendapatkan semua harta Wardhana, wanita itu akan menyingkirkan Singgih!"
"Sudah jelas bukan kalau Ari yang datang di pernikahan Paman bukan Ari yang ini. Ada orang yang menyamar menjadi Ari dan melakukan pengeboman terhadap kalian!" Cicit akhirnya menemukan titik terang.
"Pengeboman? Kalian dibom?" Ari terkejut mendengar perkataan Cicit.
"Iya! itu terjadi 5 tahun lalu. Beberapa bulan setelah kami menikah. Kami mencurigaimu yang melakukan pengeboman karena pernah ditolak Rania! Tetapi sekarang kamu sudah bersih. Hanya saja kami masih bingung siapa yang melakukannya?"
"Rania! Apa kamu masih ingat selain aku bukannya ada seorang lagi yang pernah kamu tolak?"
"Apa iya? Aku bahkan tidak ingat ada orang lain lagi!" Rania berusaha mengingat tapi masih belum mengingatnya.
"Kamu itu ya! Kebiasaanmu untuk melupakan hal buruk dan mengingat hal baik belum berubah ya? Apa kamu lupa bagaimana kamu bertemu Joni?" Ari berusaha mengingatkan Rania.
"Kalau pertama bertemu Joni tentu saja aku ingat! Mana mungkin aku lupa dengan pahlawanku! Penyelamat ku! Terus maksud kamu apa?" Rania masih belum paham.
"Ya Allah, Ya Tuhanku! Rania! Kamu itu ya telminya kebangetan amat ya! Kamu masih ingat kan sama orang yang hampir menodaimu waktu itu kan?" Ari hampir kehabisan sabar menghadapi Rania. Ternyata tak hanya Joni yang bisa habis sabarnya jika berhadapan dengan Rania.
"Tentu saja! Si bajingan Dika Setiawan itu kan! Mana mungkin aku lupa! Karena kamu mengungkit hal itu lagi, ingin rasanya aku mencabik-cabiknya! Maksud kamu, dia yang berusaha mengebom kami dan berpura-pura menjadi kamu?" Ari mengangguk mantap.
"Kenapa kamu bisa berpikir begitu?" Joni tidak begitu paham.
"Maksudnya Ari, Dika itu bisa menjadi Ari karena nyonya Wardhana saat ini dari Keluarga Setiawan bukan?" Yusuf paham dengan maksud Ari.
"Kenapa juga mereka bersusah payah ingin melenyapkan keluargaku bukankah papa sudah menyerah sejak lama?" Joni masih belum paham juga.
"Tentu saja untuk mendapatkan sumber daya secara utuh untuk tujuan lain, misalnya untuk mengalahkan keluarga lain atau balas dendam ke keluarga lain atau untuk memperkaya diri mereka lagi juga bisa. Intinya karena pewaris asli dari Keluarga Wardhana adalah kamu, tentu saja kamu harus disingkirkan. Sedangkan untuk Ari, itu hanya untuk menyingkirkan ahli waris dari Singgih, setelah Singgih nanti tidak ada dan Keluarga Joni tidak ada maka seluruh harta Wardhana bisa didapatkan secara utuh. Kamu lupa ya bahwa usaha Wardhana grup itu seperti apa? Itu sebanding dengan kekayaan Winata Grup dan Natakusuma. Sampai sini kamu ngerti, Jon? Kalau tidak, kamu saya kirim ke pelatihan lagi nanti!" Yusuf kesal dengan Joni yang tidak paham juga.
"Hmmm... Setiawan ya? Sepertinya dulu Kakek Surya pernah menyinggung tentang Keluarga Setiawan. Kakek Krishna juga pernah cerita kalau dulu Keluarga Setiawan pernah hampir mencelakai Kakek Surya. Jika yang dikatakan Yusuf benar, maka saat ini Keluarga Setiawan sedang menyusun rencana untuk balas dendam dengan Keluarga Dinata!" Cicit mulai menganalisis keadaan.
"Setahuku Keluarga Setiawan sudah tidak punya kuasa lagi. Bisa dikatakan Dinasti Setiawan sudah runtuh. Tapi, sisa-sisa orangnya mungkin masih ada beberapa yang bertahan. Seperti Dika Setiawan juga Si Kamboja itu kalau tidak salah ibunya juga dari Keluarga Setiawan. Nama ibunya kalau tidak salah Cempaka Putih." Yusuf mengetahui hal itu karena Andre pernah menyinggung soal perjodohan dengan Magnolia.
"Jon, saya punya tugas untuk kamu! Selidiki semuanya dengan jelas! Karena saya juga punya firasat buruk tentang ini! Saya khawatir sasaran mereka tidak hanya Keluarga Dinata tapi juga keluarga besar Winata!" Yusuf selalu memiliki firasat tajam akan sesuatu yang biasanya tak pernah meleset.
"Nanti jangan lupa kirim undangan reuni keluarga besar! Sudah lama kita tidak berkumpul!"
"Siap bos! Gimana dengan rencana resepsi pernikahan?"
"Kalau itu biar para sesepuh saja yang atur!"
"Siap bos!"
"Paman Ari, apa nanti bisa datang di resepsi pernikahan Cicit?"
"Sebenarnya ingin datang! Tapi karena masalahnya jadi semakin rumit, paman minta maaf untuk tidak hadir! Paman harus memprioritaskan keselamatan nenek dan juga...!" Omongan Ari terpotong karena seseorang memanggilnya.
"Mas Ari! Ini ada apa kok rame sekali?" Seorang wanita tengah berdiri di depan pintu pagar bambu.
Ari langsung menjemput wanita itu. Wanita yang tengah hamil besar itu kebingungan dengan kerumunan di rumahnya.
"Inilah alasan utama ku tidak bisa hadir di resepsimu. Aku khawatir tidak bisa menjamin keselamatan yang ada di dalam perut! Perkenalkan ini istriku, namanya Dahlia! Dahlia, kenalkan ini keponakanku, Cicit! Itu suaminya, Yusuf! Nah yang ini Joni sepupuku dan istrinya, Rania!" Dahlia menyalami semua orang yang ada disitu.
"Oo... jadi ini yang namanya Mba Rania! Yang pernah nolak Mas Ari ya, hehe! Mbak Rania cantik banget! Pantas saja Mas Ari kesemsem, hehe!" Dahlia meledek suaminya.
"Itu dulu! Sekarang tentu saja kamu yang paling cantik!" Ari membalas Dahlia dengan menjawil dagunya.
"Saudaranya mas bawa mobil yang bagus banget kayak gini! Jangan-jangan mas juga orang kaya ya aslinya?" Ari selama ini hanya mengaku sebagai guru honorer saja. Pria itu tidak pernah menceritakan yang sebenarnya kepada istrinya.
"Apa kamu menyesal nikah sama mas?"
"Dahlia gak pernah menyesal nikah sama Mas Ari! Mau gimanapun Mas Ari, Dahlia tetap cinta! Kalau Mas memang dari keluarga berada, Dahlia cuma heran kenapa mas bisa ada disini? Kenapa malah mau nikah sama Dahlia yang miskin?"
__ADS_1
"Mas nikah sama Dahlia karena mas cinta sama Dahlia! Gak ada hubungannya sama harta! Kalau misalnya mas orang kaya, apa Dahlia gak mau jadi orang kaya?"
"Bukannya Dahlia gak mau mas! Cuma ya kalau Dahlia lihat di sinetron gitu ya, jadi orang kaya kok ribet ya! Ada yang diculik lah terus dibunuh lah cuma untuk perebutan harta! Ngapain jadi orang kaya kalau nyawa jadi taruhannya! Mending yang biasa-biasa aja kayak gini! Lagi juga ya mas! Dahlia gak mau kayak itu tu Si Bu Tedjo! Orang Kaya Baru itu! Setiap hari pamer mulu udah gitu mulutnya nyinyir mulu. Ih Dahlia mah gak mau kayak gitu!" Semua orang terkekeh mendengar jawaban Dahlia. Gadis polos yang memang sangat cocok dengan Ari.
"Iya sayang! Mas ngerti kok!"
"O ya mas! Sebelum pergi, itu antena TV-nya dibetulin, dicagak yang kuat biar kalau hujan gak goyang-goyang! Jadi Dahlia sama ibu bisa tenang nontonnya!"
"Mas gak jadi pergi! Kebetulan ada guru baru yang datang gantiin mas sementara waktu! Mas kan mau jagain kamu menjelang melahirkan!"
"Ih mas, so sweet banget sih!"
Pemandangan romantis itu jelas membuat kedua pasangan di depannya cemburu. Yusuf berdehem untuk menghentikan mereka.
"Hem... hem...! Duh haredang ya!" Yusuf menyindir mereka.
"Eh, Pak Yusuf gerah ya! Mas gimana sih? Kok tamu gak disuruh minum!" Dahlia salah mengerti maksud Yusuf.
"Karena sudah disini sebaiknya kalian makan dulu baru pulang ya! O ya Jon, dulu kamu bilang pengen punya rumah di pedesaan. Itu ada tanah mau dijual, kamu mau gak? Gimana kalau kita jalan-jalan untuk lihat-lihat! Biar para wanita masak! Nanti kalau sudah matang tinggal telepon aja!"
"Iya Mas Joni! Kalian jalan-jalan saja! Nanti Rania telepon kalau sudah siap!"
Joni menyetujui usulan Ari. Bersama dengan Yusuf melihat tanah yang diceritakan Ari. Para wanita sibuk memasak. Mereka terlihat ceria apalagi kalau bukan tingkah Dahlia yang menggemaskan.
"Ri, apa kamu tidak ingin kembali ke kehidupanmu dulu?" Joni bertanya pada Ari.
"Dulu iya, tapi kalau sekarang aku sudah tidak ingin lagi. Dahlia memberiku banyak pelajaran bahwa mau kita kaya atau miskin yang penting adalah rasa syukur dan cinta."
"Dimana orang tua Dahlia?" Kini Yusuf yang bertanya.
"Mereka sudah meninggal. Keluarga Dahlia sangat miskin. Setelah kedua orang tuanya meninggal, dia tinggal dengan pamannya yang seorang pemabuk. Dahlia dijual demi uang. Aku bertemu dengannya saat dalam perjalanan pulang dari sekolah. Ku lihat bajunya compang-camping dan dikejar-kejar orang. Untuk menghilangkan jejaknya, aku membuat jejak kaki di mulut jurang. Mereka mengira Dahlia sudah mati terpeleset di jurang. Aku juga sudah memastikan identitas Dahlia melalui Cicit. Cicit bilang dia bersih dan memang korban perdagangan manusia."
"Sungguh kasihan nasibnya!" Yusuf iba mendengar cerita Ari tentang Dahlia.
"Iya! Nasibnya lebih buruk dariku! Itu juga alasan aku ingin melindunginya. Lagi pula dia sangat menggemaskan!" Ari tersenyum lebar saat mengatakan kalimat terakhir.
Tak lama Rania menelepon Joni, mengabarkan kalau masakan sudah siap. Joni, Yusuf, dan Ari bergegas pulang. Mata Yusuf berbinar saat melihat hidangan di atas meja. Semuanya makanan kesukaannya.
"Pak Yusuf, maaf ya! Adanya cuma makanan begini saja! Sayur asem, ikan asin, tahu tempe, sambel terasi, sama pete!" Dahlia merasa tidak enak hati menyediakan makanan sederhana untuk tamunya. Tapi mau bagaimana lagi hanya itu saja yanga ada.
"Tidak perlu minta maaf! Ini semua makanan kesukaan saya! Apalagi petenya besar-besar banget! Masih ada lagi gak? Mau saya bawa pulang untuk oleh-oleh!" Yusuf tersenyum senang melihat semua hidangan yang ada.
"Tenang saja pak! Masih banyak di pohon. Nanti tinggal dipetik saja! Ayo semuanya mari makan!" Dahlia mempersilakan tamunya untuk makan. Cicit menyendokkan nasi untuk suaminya. Yusuf tanpa malu menyeruput kuah sayur asem dari mangkoknya langsung. Entah sudah berapa papan pete dimakannya. Entah juga sudah berapa piring nasi yang dia makan. Yusuf sangat menikmati makanan hari ini.
"Pak Yusuf gimana? sudah kenyang belum? Maaf, bukannya gak boleh makan lagi. Tapi nasinya sudah habis! Kalau masih mau makan ya nunggu dimasak dulu!" Dahlia merasa senang tamunya senang makan di rumahnya. Hanya saja dia bingung kalau Yusuf ingin makan lagi, masalahnya berasnya juga sudah habis. Meski begitu Dahlia tetap berusaha menyenangkan tamunya.
"Tidak usah repot-repot! Saya sudah kenyang! Terima kasih!"
Tak lama kemudian datang sebuah mobil pick up dengan membawa sembako. Dahlia yang mendengar suara klakson mobil berjalan keluar rumah diikuti dengan Ari dan yang lainnya.
"Mas pesan sembako? Kok banyak amat sampai diantar segala!" Dahlia heran dengan mobil sembako yang kini terparkir di halaman rumahnya.
"Gak ah! Kan belum gajian mana berani mas pesan sembako!" Ari menyangkalnya.
"Itu hadiah dari saya! Dengan perut besar begitu jangan terlalu jalan jauh meski hanya untuk pergi ke warung!" Yusuf memberitahu mereka.
"Ya Allah! Hatur nuhun atuh pak!" Dahlia sangat senang dengan rejeki yang baru diterimanya.
"O ya saya minta foto kopi KTP kalian berdua. Saya berencana untuk mendaftarkan Dahlia di rumah sakit terdekat. Saya lihat puskesmas disini juga tidak memadai bahkan rumah bidannya juga jauh. Bagaimana kalau setelah ini kamu bersiap saja untuk ikut sekalian ke rumah sakit? Tadi Cicit bilang kalau selama memasak perut istrimu sudah mulai sering sakit. Khawatirnya waktu melahirkannya sudah semakin dekat. Sebaiknya cepat bersiap!" Yusuf mengingatkan Ari untuk bertindak cepat. Tanpa pikir panjang Ari segera menyiapkan segala yang dibutuhkan. Benar saja tak lama setelah bersiap Dahlia mulai merasakan sakit lagi di perutnya.
Semua orang masuk dalam mobil. Cicit yang mengendarai mobil. Kebetulan Cicit sudah sering ke sana jadi sedikit hapal dengan kota itu. Ari menggenggam tangan Dahlia. Wajahnya terlihat panik. Begitu juga dengan Ibu Sindi. Joni dan Rania berusaha menenangkan mereka di belakang. Sekitar setengah jam mereka sampai di rumah sakit. Hanya berselang 10 menit Dahlia melahirkan. Mereka sungguh lega. Setelah menyelesaikan administrasi mereka pamit pulang.
__ADS_1