BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 49. Resepsi: Bertemu Kembali (3)


__ADS_3

Brakk!


Tiba-tiba saja suara suara pintu dibuka dengan kencang terdengar. Semua orang yang berada di dalam kamar itu terkejut. Seorang gadis memaksa masuk meski sudah dicegah. Gadis itu sudah tidak tahan dengan emosinya yang dipendam selama ini.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Firman. Tak hanya itu, gadis itu juga memukuli dada Firman berkali-kali. Sampai-sampai Bima berang kemudian menghentikan gadis itu. Bima menarik gadis itu menjauhi Firman. Kemudian gadis itu tiba-tiba menangis.


"Kau! Benar-benar sangat jahat! Kau membiarkan bibi menderita selama ini! Bibi selalu menunggu kepulanganmu tetapi kenapa kau tidak kembali?" Gadis itu masih menangis sesenggukan.


"Bibi? Siapa kamu ini? Bibi yang kamu maksud itu siapa?" Firman benar-benar bingung, tidak mengerti apa yang dikatakan gadis itu.


"Kau jangan pura-pura tidak tahu! Bibi sangat menderita selama ini. Dia bahkan menjadi tawanan di keluarganya sendiri. Bahkan hanya untuk melindungi bibi, aku harus mengikuti rencana gila mama!" Gadis itu masih menumpahkan emosinya.


"Jujur saja aku tidak mengenalmu. Katakan saja dengan jelas siapa dirimu dan bibimu itu! Aku masih sangat lelah setelah mencari istriku yang hilang dan tak kunjung ditemukan. Jadi, jangan menambah masalah lagi!" Lelaki paruh baya itu sangat kecewa dengan hasil pencariannya.


"Ayah! Apa ayah masih terus mencari ibu?" Ros tidak menyangka jika ayahnya masih terus mencari ibunya.


"Tentu saja masih! Ayah percaya bahwa ibumu masih hidup! Meski baju ibumu ditemukan dalam sisa kebakaran mobil itu tetapi ayah ingat betul itu bukanlah baju yang dipakai ibumu saat itu. Jadi, ada kemungkinan ibumu masih hidup!" Ros merasa bersalah dalam dirinya karena tidak pernah sekalipun berniat untuk mencari ibunya.


"Kenapa ibu waktu itu tidak ikut melompat bersama kita, yah? Seandainya waktu itu ibu melompat bersama pasti keluarga kita akan tetap utuh." Ros masih menyimpan rasa kecewa pada ibunya saat itu.

__ADS_1


"Itu karena kaki ibumu terjepit. Dia sudah berusaha mengeluarkan kakinya tapi tetap tidak bisa. Waktunya sudah tidak banyak lagi. Itulah alasan mengapa ibumu lebih memilih menyelamatkan kalian berdua. Seharusnya kau itu bangga bukan kecewa." Gadis yang tadi menangis kembali terbakar emosi setelah mendengar perkataan Ros.


"Siapa kamu? Bicara seolah-olah kamu kenal dengan ibuku." Ros penasaran.


"Aku Magnolia Vincent! Aku sangat kenal dengan ibumu, karena ibumu adalah bagian dari Keluarga Setiawan. Aku sangat kecewa sekali padamu yang tidak memikirkan ibumu padahal ibumu setiap hari tanpa henti selalu berdoa untukmu!" Ros dan Firman sangat terkejut mendengar perkataan Magnolia. Tidak hanya mereka, Cicit dan Yusuf yang menguping di kejauhan juga terkejut.


"Sungguh? Benarkah istriku masih hidup?" Firman langsung memegang kedua lengan Magnolia. Senyum sumringah terlukis di wajah pria yang tampak mulai keriput. Ada kelegaan di wajah Firman setelah mengetahui bahwa istrinya masih hidup.


"Bibi juga melakukan hal yang sama dengan anda. Beliau juga selalu mencari kalian berdua." Air mata Ros menetes ketika mendengar bahwa ibunya terus mencarinya. Dia merasa menyesal karena pernah berpikir kalau ibunya tidak menginginkannya. Laras yang ada di samping Ros langsung memeluknya. Laras paham betul apa yang sebenarnya dirasakan calon menantunya itu. Ros hanya ingin kala itu ibunya juga selamat seperti dirinya bukan mengorbankan dirinya.


"Ahhh! Sakit!" Tiba-tiba saja Ros berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya. Semua orang jadi panik. Firman bergegas keluar memanggil dokter yang ada di ruangan sebelah.


Ros masih berteriak kesakitan. Tak lama Firman datang bersama dokter. Dokter itu langsung memberi suntikan penenang. Tak berapa lama Ros mulai tenang dan tertidur. Magnolia bingung melihat anak bibinya seperti itu.


"Dia sedang mengalami ledakan ingatan. Ada kemungkinan ingatan-ingatan masa lalu yang hilang mulai bermunculan. Itu artinya obat penawarnya bekerja." Cicit yang baru datang menjawab pertanyaan Magnolia.


Magnolia terkejut dengan kedatangan Cicit dan Yusuf yang tiba-tiba.


"Kau kenapa ada di sini?" Pertanyaan Yusuf mengagetkan Magnolia.


"Sebetulnya aku mau pulang tadi. Ketika di parkiran aku melihat orang itu keluar dari mobil. Jadi aku mengikutinya sampai kemari!" Magnolia memberi penjelasan.

__ADS_1


"Sudahlah! Mari kita duduk dulu! Tenangkan diri kalian dulu!" Lagi-lagi mereka dikejutkan dengan kedatangan orang yang tiba-tiba. Kali ini yang datang adalah Andre dan Mama Aku. Mereka datang karena pengantin maupun besan mereka tidak ada di tempat pesta.


Sekarang semua orang sudah duduk. Andre meminta Magnolia untuk mulai bercerita. Magnolia mengangguk dan mulai bercerita.


"Bibi Mawar masih hidup. Alasan kenapa paman tidak bisa menemukannya selama ini kemungkinan ibuku telah menyebarkan info palsu. Lagipula bibi sekarang tidak tinggal di Kediaman Vincent ataupun Setiawan. Bibi ditawan di sebuah rumah terpencil yang jauh. Tidak ada sinyal di sana. Jalan masuknya hanya satu. Alasan bibi ditahan karena tidak mau menandatangani surat pengalihan waris kepada ibuku, Cempaka Putih. Bibi masih tetap ingin menjalankan wasiat alm. Kakek Budi yang meminta semua harta atas namanya disumbangkan ke panti asuhan ataupun digunakan untuk kepentingan kemanusiaan."


"Rencananya jika bibi mau mengalihkan hak: warisnya, Bibi Cempaka akan membangun kembali pabrik narkoba. Menurut cerita mama, semenjak Kakek Budi meninggal, bisnis Keluarga Setiawan bangkrut. Jika bukan karena mama menikah dengan anak dari Michael Vincent, mungkin mama sudah jadi gelandangan. Mama sangat dendam sekali dengan Keluarga Dinata juga Wirabuana. Aku juga diminta untuk membantu jika tidak maka nyawa Bibi Mawar jadi taruhannya. Aku sebenarnya tidak punya perasaan apapun terhadap Yusuf. Aku sudah punya calon sendiri tetapi mama tidak setuju. Mama ingin aku menikah dengan Yusuf agar dapat menguasai harta Keluarga Winata." Magnolia selesai bercerita.


"Oo... begitu ceritanya! Pantas saja selama ini aku hanya merasa sebal dengan tingkahmu tetapi tidak benci padamu!" Kali ini Mama Aku yang bicara.


"Kamu seperti sengaja melakukan hal yang menyebalkan agar kami tidak menyukaimu kan?!"


"Iya! Tante benar! Aku minta maaf om, tante! Aku hanya ingin kalian tidak menyukaiku jadi mama juga tidak mendesakku terus. Ku pikir setelah Yusuf menikah rencana mama akan gagal ternyata tidak. Mama menggandeng pengusaha dari Amerika untuk melanjutkan pabrik itu. Kalau tidak salah namanya Alexander Kaisar dari Kaisar Grup. Tidak hanya memproduksi narkoba tetapi juga obat halusinogen dan penghilang ingatan." Magnolia kembali memberitahu rencana mamanya.


"Iya! Salah satu objek percobaannya adalah saudaramu yang terbaring di ranjang itu! Ingatannya sedikit terganggu maka emosinya juga terganggu. Ucapan kekecewaan Ros yang kau dengar tadi bukanlah yang sebenarnya. Itu hanya sebagian dari ingatannya yang hilang. Dia tidak mengingat rangkaian kejadian kecelakaan itu dengan baik makanya bisa berkata demikian. Dulu, sewaktu Ros datang di keluarga kami setelah kecelakaan, dia sering menyalahkan dirinya sendiri karena membuat kaki ibunya terjepit. Dia sudah berusaha membantu ibunya untuk mengeluarkan kakinya tetapi tetap kehabisan waktu. Pada akhirnya hanya dirinya dan ayahnya yang selamat. Itulah kebenarannya. Bukan begitu, paman Firman?" Mata Cicit menatap Firman meminta pembenaran.


"Itu benar Magnolia! Waktu itu kami berusaha mengeluarkan kaki bibimu yang terjepit tetapi kami kehabisan waktu. Aku sempat berpikir jika kami harus mati maka kami terima saja. Tetapi bibimu malah mendorongku dan juga Ros keluar dari mobil sesaat sebelum mobil masuk jurang. Saat aku akan menyelamatkan bibimu, terdengar suara ledakan dari lokasi mobil bibimu jatuh. Keesokan harinya saat memeriksa mobil yang terbakar terdapat sisa pakaian bibimu, tetapi aku ingat betul bahwa itu bukan pakaian yang dipakai bibimu. Hari itu aku menyusuri lokasi kejadian untuk mencari keberadaan bibimu tetapi hasilnya nihil." Firman menerawang jauh mengingat kembali kejadian di hari kecelakaan.


"Itu karena tubuh bibi sudah dibawa oleh orang yang disuruh mama untuk membunuh paman. Targetnya adalah paman. Tak disangka bibi malah menyelamatkan paman. Orang suruhan mama diminta untuk memastikan kematian kalian saat itu. Ternyata bibi selamat dan berhasil keluar dari mobil sebelum ledakan. Bibi pingsan tak jauh dari mobil. Akhirnya orang itu memasukkan pakaian bibi yang berada dalam koper ke dalam kobaran api itu. Koper itu keluar saat mobil berbenturan dengan tebing jurang. Setelah itu bibi disembunyikan di rumah terpencil itu. Aku baru tahu saat mama mengajakku ke sana. Tetapi mama mengancamku akan menghabisiku jika memberitahu bahwa bibi masih hidup. Aku juga mengirim orang untuk mencari kalian karena bibi yang memintaku." Magnolia mengakhiri ceritanya.


"Bisa kamu beritahu dimana lokasi istriku? Aku akan menyelamatkannya!" Firman sangat bersemangat kali ini.

__ADS_1


"Boleh saja! Tetapi aku minta bantuan kalian juga untuk menyelamatkan satu orang lagi yang dikurung disana. Kemudian membantuku untuk bersembunyi di luar negeri! Aku sudah lelah dengan semua tingkah mama. Aku juga sudah tidak peduli lagi. Bagaimana?"


"Baiklah!" Kali ini Yusuf yang menyetujuinya.


__ADS_2