
Langit malam ini begitu indah. Bintang-bintang menghiasi gelapnya langit. Rembulan bersinar terang. Angin sepoi membuat rambutku menari tak tentu arah. Ku berdiri di balkon kamarku, memandang ke langit. Ku masih berpikir, apakah pilihanku ini tepat? Menunggu yang tak pasti tapi hati ini terus meminta untuk menunggu. Terkadang aku merasa bodoh karena terpaku pada kenangan masa lalu. Kenyataannya sampai detik ini hatiku tak bisa bergerak dari kenangan itu. Tak ku pungkiri jika aku menunggu anak laki-laki itu datang.
Esok aku akan bertarung lagi dengan calon pilihan kakek. Calon kali ini memang sengaja ku pilih paling akhir karena ada urusan yang ingin ku selesaikan dengannya. Kali ini aku tidak akan segan untuk bertindak.
Calon yang terakhir bernama Beni. Cucu dari pensiunan jendral. Aku pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja. Laki-laki itu menabrak motorku hingga aku terjatuh. Dia tidak membantuku apalagi minta maaf padaku. Dia bahkan memintaku bertanggungjawab untuk memperbaiki mobilnya. Aku pergi karena malas meladeninya. Tiba-tiba dia menarikku hingga aku terjatuh kedua kalinya dan helm ku terlepas.
"Ternyata perempuan! Pantas saja gak becus bawa motor!" Dia bicara begitu sambil tertawa.
Aku berdiri dan hendak pergi tetapi dihadang olehnya.
"Bayar dulu ganti ruginya baru boleh pergi!"
"Saya merasa tidak harus membayar ganti rugi karena sejatinya kamu yang salah! Malahan saya yang minta ganti rugi!"
Aku berjalan menjauh menuju motorku. Saat aku sudah duduk di motor dan hendak pergi, lagi-lagi aku dihadang.
"Sombong sekali! Dasar perempuan murahan! Kau tidak tahu apa aku ini siapa? Aku ini cucu jendral! Jangan macam-macam denganku! Aku bisa melakukan segala yang ku mau!"
"Aku tak peduli mau kamu cucu jendral sekalipun! Dalam hal ini aku tidak bersalah dan tidak berkewajiban bertanggungjawab! Sepertinya kamu juga orang kaya kan? Seharusnya orang kaya tidak mempermasalahkan ganti rugi! Jika memang kaya kenapa tidak beli yang baru lagi!"
"Kau! Jika bukan perempuan sudah ku hajar dari tadi!" p
"Kenapa kalau aku perempuan? Aku tidak takut padamu! Jika bertanding sekalipun, aku tidak akan kalah darimu!"
Aku kemudian menendang laki-laki itu hingga jatuh. Motor ku lajukan dengan cepat. Ku lihat dia tidak mengejarku lagi. Saat pulang Kakek Krishna marah besar karena melihatku terluka. Pria tua itu bahkan sampai bersumpah akan membuat perhitungan dengan orang yang mencelakaiku.
Tak ku sangka akan bertemu dengan pria itu lagi. Kesempatan kali ini akan ku manfaatkan untuk memberinya pelajaran. Aku, meski seorang wanita tidak bisa diremehkan begitu saja. Persiapan untuk bertarung esok sudah siap. Akan ku bungkam mulut laki-laki itu selamanya.
Tadi malam, sebelum tidur aku menemui kakek. Ku katakan padanya jika aku memenangkan pertarungan ini, aku meminta kakek untuk tidak melakukan perjodohan lagi. Kakek terdiam sesaat. Beliau nampak berpikir. Semenit kemudian beliau baru menyetujui permintaanku. Beliau hanya berpesan agar aku tidak lupa untuk mencari pasangan dan menikah. Aku hanya mengangguk saja kemudian memeluknya.
Pertarungan kali ini dilakukan di rumah. Aku sengaja meminta kakek untuk mengundang mereka ke rumah. Arena bela diri juga sudah disiapkan di halaman belakang rumah.
__ADS_1
Matahari mulai condong ke arah barat, sebentar lagi akan pulang ke peraduannya. Keluarga Beni sudah tiba. Kakek dan orang tuaku menyambut mereka. Aku tidak menyambutnya karena memang tak perlu. Aku sudah siap dengan pakaian ala ninjaku lengkap dengan penutup kepala.
Mereka tiba di arena. Aku mempersilakan Beni untuk bersiap. Ku mulai pemanasan lebih dulu sebelum bertarung.
"Aku sudah siap!"
Beni tampaknya tak semangat. Laki-laki itu bahkan menghampiri ayah dan ibuku.
"Apa tidak masalah jika saya bertarung dengan putri paman? Rasanya tidak etis jika laki-laki bertarung dengan perempuan."
"Tidak masalah! Lagipula ini adalah aturan main yang dibuat Cicit! Jadi ikuti saja! Lagipula belum tentu kamu menang!" Ayah Bima hanya tersenyum ke arahku.
"Apa kamu takut melawan saya? Jika takut silakan pulang dan jangan lanjutkan lagi perjodohan ini!"
"Tidak! Saya tidak takut! Tentu saya akan melawanmu untuk mendapatkanmu!"
"Kalau begitu, ayo kita mulai! Peraturannya mudah saja. Hanya perlu menjatuhkan lawan dengan cara apapun. Yang jatuh lebih dulu dia kalah."
Aku mulai lebih dulu. Pukulan pertamaku berhasil mendarat di wajahnya. Sepertinya Beni sangat terkejut dengan kecepatanku. Tak mau berlama-lama, aku melakukan serangan bertubi-tubi. Tendangan dan pukulanku berkali-kali mendarat di tubuhnya. Beni hampir tak punya kesempatan membalas seranganku.
Lima menit berlalu, wajah Beni sudah tampak babak belur. Aku hanya tersenyum puas di balik penutup wajah. Ku lihat Ibu Beni sudah cemas melihat anaknya. Kakek Beni berbisik kepada kakekku, mempertanyakan kelakuanku yang terlihat bar-bar. Kakek Krishna hanya diam saja.
Beni mulai melakukan serangan padaku. Banyak serangannya yang mematikan tetapi berhasil ku tangkis dan ku balas. Sepuluh menit berlalu, tubuh Beni sudah sempoyongan. Tapi dia tidak mau menyerah. Karena sudah mulai membosankan, ku akhiri saja pertarungan ini dengan sebuah guntingan.
Brugh!
Tubuh Beni jatuh. Pertarungan selesai. "Aku menang!"
Ku hampiri Beni yang terjatuh. Tangan ku ulurkan untuk membantunya berdiri. Pria itu masih memegangi wajahnya yang penuh luka. Ku buka penutup kepalaku. Beni sangat terkejut melihat wajahku.
"Kau?!"
__ADS_1
"Ya, ini aku! Kau bilang tidak etis bertarung dengan perempuan tapi waktu kau bahkan bertengkar denganku!"
"Kalian sudah pernah bertemu?" Kakek Krishna penasaran.
"Sudah kek! Apa kakek ingat waktu aku pulang dalam keadaan terluka? Dia ini yang membuatku terluka! Sudah tidak mau minta maaf, memaksaku untuk ganti rugi, dan memakiku!"
Beni hanya terdiam saja. Pria itu tidak bisa ber kata-kata lagi. Kakek dan orang tua Beni terkejut mendengar hal itu. Dia tidak menyangka anaknya berbuat seperti itu. Apalagi terhadap Cicit, yang merupakan cucu Jendral Krishna. Orang yang sangat dihormati oleh Keluarga Beni.
"Apa betul yang dikatakan Cicit, Ben?" Ibu Beni bertanya dengan harap cemas. Berharap yang didengarnya hanya kebohongan.
Beni diam saja. Dia tidak berani menjawab. Ibu Beni terus bertanya. Akhirnya pria itu bersuara juga setelah ku perlihatkan video CCTV di TKP. Aku memang sudah menyiapkan segalanya.
"Maafkan Beni, bu!"
Tubuh Ibu Beni tiba-tiba melemas kemudian pingsan. Ibuku membantu menyadarkan Ibu Beni dengan memberinya minyak kayu putih. Tak lama Ibu Beni sadar. Wanita paruh baya itu meminta maaf kepada orang tuaku atas sikap dan perilaku anaknya.
Ku lihat kakek tampak diam saja. Wajahnya suram. Kakek Beni juga meminta maaf kepada Kakek Krishna.
"Kali ini aku tidak akan memperhitungkannya, tapi ku harap tidak ada lain kali! Kau tahu bukan aku ini orang seperti apa, Beno! Aku tidak pernah melepaskan orang yang bermasalah denganku! Aku masih menghargai pertemanan kita! Sebaiknya kau didik lagi cucumu itu!"
"Terima kasih, Krishna! Aku pasti akan mendidiknya dengan keras! Kalau begitu kami pamit dulu!"
Akhirnya keluarga Beni pulang. Kakek pun menyetujui permintaanku. Sebelum meninggalkan arena, kakek memelukku dan meminta maaf padaku. Setelah itu kakek tidak pernah lagi menyinggung masalah perjodohan atau bertanya tentang laki-laki yang dekat denganku.
Aku bersyukur masalah perjodohan ini selesai. Akhirnya aku bisa tenang. Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama sampai aku membaca pesan Kakek Surya untuk ibu. Dalam pesannya, Kakek Surya bertanya kepada ibu, apakah kalian setuju jika Cicit akan ayah jodohkan dengan cucu dari rekan bisnis ayah?
Aku terkejut membaca pesan itu. Ada perasaan cemas saat membacanya. Seolah-olah mengatakan bahwa aku harus menerima perjodohan itu. Itu juga alasan yang membuatku harus pergi. Aku masih belum bertemu Ucup, belum memastikan perasaanku kepadanya. Karena hal itulah aku berada di sini sekarang.
Sebenarnya, ada hal aneh yang ku rasakan saat bertemu Pak Yusuf tadi. Entah mengapa untuk beberapa saat, hatiku bergetar dan seperti terdengar suara, "Dia jodohmu!" Tak ku pungkiri Pak Yusuf memang tampan sesuai namanya. Tapi, aku harus bertemu Ucup. Bagaimanapun aku harus mencari dan bertemu Ucup untuk memastikan semuanya.
"Ucup, kamu dimana sih?"
__ADS_1