
Malam ini adalah malam pertama Cicit tinggal di Kediaman Winata. Meski baru pertama tinggal Cicit sudah merasa nyaman dengan kediaman itu. Malam itu juga pertama kalinya Cicit memasak untuk Yusuf sebagai seorang istri.
Sepiring nasi goreng telah siap di meja makan. Cicit memanggil suaminya untuk makan malam. Yusuf turun menuju meja makan. Tampak sepiring nasi goreng telah menunggunya. Yusuf mengernyitkan dahinya tampak kebingungan.
"Istriku sayang, kenapa hanya ada sepiring nasi goreng?" Yusuf tahu kalau porsi makan istrinya sangat besar tapi dia tidak mengerti kenapa hanya ada sepiring saja.
"Suamiku sayang, memang betul hanya ada satu piring di atas meja, tetapi di situ juga ada satu wadah besar berisi nasi goreng! Kan tidak mungkin jika dituang semua! Kalau perihal piringnya cuma satu, itu... aku... hmm... aku...!" Cicit tak sanggup mengatakannya karena malu.
Yusuf mengerti maksud istrinya. Pria itu langsung memangku Cicit di pangkuannya. Cicit terkejut karena Yusuf melakukan gerakan tiba-tiba memangkunya. Cicit mengalungkan tangannya di leher Yusuf agar tidak jatuh.
"Biar lebih romantis!" Yusuf berseloroh sambil tersenyum. Wajah Cicit merona. Cicit tidak menyangka jika Yusuf paham maksudnya. Kini mereka saling menyuapi nasi goreng. Tanpa terasa nasi goreng dalam wadah besar sudah habis. Sejak tadi Yusuf hanya penasaran dengan sikap Cicit yang tidak biasa. Pria yang akrab dipanggil Ucup itu akhirnya bertanya.
"Sri, boleh aku tanya sesuatu?" Cicit hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertindak romantis seperti tadi? Bukannya aku tidak suka, hanya saja aku heran sikap itu tidak seperti biasanya dirimu bersikap."
"Aku memang sengaja tidak pernah memperlihatkan sikap manja atau sisi feminin atau romantis atau apapun itu selama ini. Aku hanya ingin menunjukkan sikap itu di hadapan suamiku seorang. Bahkan ayah dan ibu saja tidak pernah melihatku yang seperti tadi. Ini juga pertama kalinya aku bersikap manja di hadapan seorang laki-laki!"
"Teruslah seperti itu di hadapanku! Aku sangat senang melihatnya! O iya, kenapa kamu ingin dipanggil Sri olehku?"
"Nama Sri sangat spesial buatku. Mungkin terdengar kampungan tetapi bagiku itu sangat spesial. Dulu, ada pria kecil yang menolongku saat aku dikejar-kejar sekelompok anak lelaki dalam sebuah pesta. Saat berkenalan, dia memanggilku Sri. Katanya aku seperti Dewi Sri! Entah mengapa aku sangat tersentuh saat itu. Oleh sebab itu, aku ingin jika menikah nanti dipanggil dengan nama Sri!"
"Aku benar-benar cemburu, Sri! Sekarang dimana pria kecil itu? Aku benar-benar ingin menyombongkan diri di hadapannya!"
"Aku tidak tahu dimana dia? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya? Waktu dia mau menyebutkan nama, aku keburu dipanggil Kakek Surya untuk pulang. Jadi tidak tahu siapa dia." Tiba-tiba sekelebat ingatan Yusuf kembali ke masa lalu. Dia teringat dengan Tuan Putri kecil. Yusuf tersenyum. Cicit yang melihat senyum suaminya jadi mengerutkan dahi.
"Kamu kenapa? Kok senyum-senyum gitu?" Belum juga Yusuf menjawab adzan Isya sudah berkumandang.
"Nanti saja! Sudah masuk waktu Isya, ayo kita solat!" Yusuf menurunkan Cicit dari pangkuannya.
"Kamu bersiap saja duluan! Aku mau membereskan meja makan dulu!" Yusuf menggangguk saja tanda mengerti. Pria bertubuh tinggi itu segera menuju kamar.
Tak lama Cicit sudah kembali ke kamar. Yusuf sudah selesai wudhu. Yusuf heran melihat Cicit hanya duduk di sofa bukan langsung bersiap untuk solat.
__ADS_1
"Sri sayang! Ayo cepat pakai mukenanya! Kita segera solat!"
"Ucup sayang! Maaf ya aku tidak bisa solat!" Yusuf masih belum mudeng dengan perkataan istrinya.
"Kenapa?" Yusuf bertanya dengan polosnya.
"Aku kedatangan tamu bulanan!" Cicit menjawab sambil tersenyum.
"Tamu bulanan? Maksudnya? Yusuf masih belum paham juga. Cicit menggelengkan kepalanya.
" Ucup sayang! Aku sedang haid jadi tidak bisa solat! Paham!" Cicit agak kesal dengan kepolosan Yusuf.
"Oo... Kamu lagi haid ya! Bilang dong yang jelas!" Yusuf masih belum sadar sampai otaknya mencerna kata haid dengan mendalam.
"Apaa??!! Haid?!" Cicit kaget dengan ucapan Yusuf yang terdengar agak keras.
"Kamu kenapa Cup? Kok malah kaget gitu? Kan wajar kalau perempuan haid!" Kini giliran Cicit yang dibuat bingung oleh Yusuf.
"Ya ampun! Ku pikir ada apa? Ternyata hanya masalah urusan bawah saja!" Cicit menanggapi dengan santai.
"Buat kamu bukan masalah tapi buatku menunggu selama 1 minggu itu sangat bermasalah!" Yusuf masih berwajah suram.
"Kamu itu aneh Cup! Kamu bisa puasa sampai 30 tahun masa puasa seminggu aja gak bisa?"
"Aku bisa kuat puasa 30 tahun karena belum tahu kalau rasanya enak dan bikin ketagihan. Sekarang setelah tahu bagaimana aku bisa bertahan?" Cicit menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah! Ada ya laki-laki polos macam kamu! Kamu kan bisa tetap minta meski tidak bisa mendukhul* aku!"
*Dukhul dalam bahasa Arab artinya masuk, memasuki. Kata dukhul adalah istilah dalam bahasa arab yang merujuk pada hubungan suami istri.
"Maksud kamu gimana?" Cicit makin geram melihat kepolosan Yusuf.
"Kamu tetap dapat pergi ke puncak meski kita tidak berhubungan. Aku bisa membantumu! Kamu kok jadi laki-laki polis amat sih! Apa kamu tidak pernah belajar atau melihat hal-hal "begituan"?" Yusuf hanya menggelengkan kepala. Cicit ternganga dibuat Yusuf.
__ADS_1
Ya Allah! Ada juga lelaki polos seperti suamiku di dunia ini. Tapi aku bersyukur akan hal itu. Cicit.
"Aku pertama kali tahu tentang hubungan suami istri sebelum kita nikah. Itu juga karena berguru sama papa! Sebelumnya aku tidak pernah melihat atau menonton video-video seperti "itu"!" Yusuf menjawab dengan polosnya.
"Ya sudah! Nanti kita belajar bersama ya! Sekarang kamu solat Isya dulu!" Yusuf akhirnya solat sendirian.
Setelah solat Isya, Yusuf bergabung dengan Cicit di sofa. Yusuf dengan semangat 45 meminta penjelasan pada Cicit soal menuju puncak tanpa harus mendukhul. Cicit yang melihat semangat itu mencoba mengalihkan perhatian Yusuf ke hal lain. Sejujurnya saat ini Cicit sedang tidak mood membahas itu. Maklum saja hormon sangat memengaruhi emosi perempuan saat sedang haid.
"Ucup sayang! Sebelum kita bahas soal "itu" ada hal lain yang membuatku sangat tertarik untuk membahasnya. Siapa orang yang kamu maksud ketika penyambutan tadi?" Cicit langsung to the point.
Yusuf agak kecewa dengan pengalihan Cicit. Meski demikian benar yang dikatakan Cicit bahwa masalah "orang itu" lebih penting dari urusan bawah.
Yusuf membaringkan tubuhnya di sofa. Kepalanya sengaja ia jatuhkan di pangkuan Cicit. Cicit membelai rambut halus suaminya. Yusuf mulai bercerita.
"Ada 3 wanita yang akan ku ceritakan padamu!" Cicit tidak menduga kalau orang itu merujuk pada wanita. Cicit mendengarkan dengan seksama.
"Tuan Putri, The Cuckoo, dan Monyet Gunung! Dulu, ketika aku berumur 8 tahun pernah ikut kakek Adrian pergi ke pesta perjamuan rekan bisnis kakek. Di sana aku bertemu dengan gadis kecil yang penampilannya seperti dewi. Aku sangat mengaguminya sejak pertama bertemu. Tanpa sadar aku mengikutinya kemanapun. Saat itu si gadis kecil memakai gaun warna hijau daun persis seperti warna selendang seorang dewi dalam buku cerita yang pernah ku baca. Tiba-tiba saja dia berlari ke arahku. Aku pikir dia ingin berkenalan denganku rupanya dia sedang dikejar sekelompok anak lelaki. Gadis kecil itu bersembunyi di belakangku. Saat mereka melihatku mereka langsung membubarkan diri. Mereka sepertinya tahu siapa aku dan berlalu begitu saja karena takut berurusan denganku. Gadis kecil itu berterima kasih padaku. Kami berkenalan. Sayangnya aku belum menyebutkan namaku karena dia sudah dipanggil kakeknya. Kamu tahu siapa gadis itu?" Sebenarnya sejak menyimak cerita Yusuf, Cicit merasa kalau ceritanya agak mirip dengan cerita pria kecilnya. Hanya saja Cicit tidak yakin.
"Siapa?" Cicit penasaran dengan gadis kecil itu.
"Namanya Sri! Karena warna bajunya sama dengan warna selendang Dewi Sri dalam buku cerita. Nama lengkapnya Citra Srikandi Wirabuana!" Seketika wajah Cicit merona. Dirinya tidak menyangka ada cerita kebetulan seperti itu. Yusuf menarik kepala Cicit kemudian mencium bibirnya.
"Kamu sangat menggemaskan jika sedang merona. Membuatku tak tahan untuk menciummu!" Cicit tak mau kalah. Wanita itu juga membalas ciuman Yusuf. Untuk beberapa saat mereka saling berciuman.
"Hentikan! Jangan diteruskan lagi! Jika lanjut terus aku tak bisa menahannya lagi!" Cicit tertawa kecil mendengar ucapan suaminya.
"Ya Allah! Aku tidak menyangka jika pertemuan kita saat itu adalah takdir yang menyatukan kita saat ini. Aku bersyukur karena aku bertemu kembali dengan pria kecilku! Cinta pertamaku!"
"Aku jadi seperti orang bodoh karena cemburu dengan diriku sendiri!" Yusuf menutup wajahnya karena malu. Cicit tertawa melihat tingkah suaminya.
"Siapa Cuckoo dan Monyet Gunung?"
Mau tau siapa mereka? Tunggu episode selanjutnya ya! Semoga author bisa up cepat kalau tidak ada halangan. Doakan ya!!!! ☺☺☺
__ADS_1