BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 10. Tukang Ngintip!


__ADS_3

Sudah sebulan Cicit mengajar di rumah singgah. Keadaan rumah singgah kini terbilang jauh lebih baik dan disiplin. Anak-anak sudah tidak ada lagi yang mengamen. Semenjak diceramahi Cicit pagi itu mereka mulai berbenah diri. Tidak ada lagi kata malas dalam diri mereka. Mereka juga lebih penurut. Tidak ada yang keluyuran malam lagi.


Melihat perubahan yang signifikan dari anak asuhnya, Yusuf semakin mengagumi Cicit. Tak jarang setiap permintaan Cicit ataupun anak asuhnya langsung disetujui. Seperti baru-baru ini, para anak perempuan merengek untuk ikut kursus memasak dan menjahit. Yusuf langsung mengiyakan dan mendatangkan guru untuk mereka. Para anak lelaki juga tidak mau kalah, mereka ingin belajar beternak. Yusuf juga mendatangkan ahli dalam peternakan. Kebetulan halaman belakang masih luas. Khusus untuk guru memasak, Yusuf meminta Mama Aiu untuk mengajar. Tujuannya sudah pasti agar lebih dekat dengan Cicit.


Sudah sebulan ini, sejak pertama bertemu, Yusuf merasakan hal berbeda di dirinya. Terutama dalam hatinya. Terkadang dia merasa bersalah pada Sri karena seperti menduakan hati. Tetapi setiap kali melihat Cicit, Yusuf merasa seperti melihat Sri dalam diri Cicit. Yusuf sempat curhat dengan Mama Aiu tentang perasaannya. Mama Aiu bingung mau menjawab bagaimana karena belum pernah bertemu dengan Sri atau Cicit. Itu juga yang membuat Mama Aiu menerima tawaran Yusuf untuk mengajari anak-anak memasak.


Sabtu pagi di rumah singgah sudah begitu sibuk, terutama Ibu Nia. Karena hari ini akan diadakan kursus memasak, maka Ibu Nia dibantu para anak perempuan menyiapkan semua kebutuhan untuk belajar nanti. Cicit juga ikut membantu menyiapkan bahan dan menata peralatan masak di atas meja.


Waktu menunjukkan pukul 09.00. Yusuf dan Mama Aiu sudah datang. Yusuf memperkenalkan Mama Aiu kepada anak-anak termasuk Cicit.


"Ma, perkenalkan ini Cicit. Nama lengkapnya Citra Srikandi Wirabuana!"


Mama Aiu mengulurkan tangannya kemudian disambut oleh Cicit. Kini mereka bersalaman dan saling menyebutkan nama.


"Citra! Ibu bisa panggil saya Cicit!"


"Cantiknya! Perkenalkan saya Aiu! Mamanya Yusuf!"


Setelah berkenalan, Mama Aiu membawa Yusuf ke luar ruangan.


"Pantas saja kamu kebingungan rupanya Cicit sangat cantik!" Yusuf hanya tersenyum sumringah.


"Bukan cuma itu ma! Rasa bakwan buatannya juga sama! Coba nanti mama rasa deh!"


"Meski kamu gak ketemu sama Sri, sama Cicit juga mama akan kasih restu!" Mama Aiu sangat senang karena Yusuf bisa suka sama perempuan.


Mama Aiu kembali lagi ke ruangan. Wanita paruh baya itu memulai kelas memasak. Untuk tahap awal adalah pengenalan alat dan bahan memasak. Mama Aiu menjelaskan satu persatu peralatan dapur yang digunakan untuk memasak. Setelah selesai menjelaskan diadakan sesi tanya jawab. Para anak perempuan sangat antusias bertanya dan mendengarkan jawaban dengan seksama. Mereka juga mencatat setiap penjelasan dari Mama Aiu.


"Baiklah sekarang kita mulai belajar memasak! Menu kita hari ini adalah bakwan! Kalian sudah mendapat bahan masing-masing kan?"


"Sudah!"


"Baiklah! Ibu akan jelaskan cara membuatnya! Oh iya, Bu Cicit bisa ikut membuat juga kalau mau! Yusuf bilang bakwan buatan Bu Cicit sangat enak! Saya jadi mau coba!"


Cicit yang mendengar ucapan Mama Aiu jadi terkejut. Dia tidak menyangka jika Yusuf juga bercerita seperti itu kepada mamanya. Cicit mencari keberadaan Yusuf. Matanya berkeliling ke penjuru ruangan. Tapi Yusuf tak berada di sana. Cicit akhirnya memenuhi permintaan Mama Aiu untuk membuat bakwan.


Di luar ruangan, seorang pria sedang merapatkan tubuhnya di tembok. Kepalanya sesekali menyembul di pintu. Pria itu tidak berani masuk. Seorang anak laki-laki beserta kedua anjingnya memergoki pria itu.


"Hayoo! Bang Ucup ngapain disini?" Yusuf terkejut ketika Zily menepuk bokongnya.


"Sssttt! Kamu jangan berisik!"


"Bang Ucup ngintip ya? Pasti ngintipin Kak Cicit ya?!"


"Ssttt! Zily diam dong! Nanti ketahuan!" Zily memang ingin menjahili Yusuf.

__ADS_1


"Ya udah Zily diam tapi Bang Ucup belikan Zily es krim ya!?"


"Oke, siap!" Yusuf kembali berdiri dibalik dinding melanjutkan mengintip. Tiba-tiba Zily masuk ke dalam ruangan bersama kedua anjingnya. Zily berteriak, "Ada Tukang Ngintip!"


Sontak semua anak perempuan terkejut. Begitupun dengan Yusuf yang berada di luar ruangan.


Asem Si Zily! Yusuf.


Mama Aiu menenangkan kelas. Mama Aiu keluar untuk menangkap Si Tukang Ngintip. Mama Aiu membawa Yusuf masuk kelas sambil menjewer telinga Yusuf.


"Sakit ma! Udah dong! Malu tuh dilihat anak-anak!"


"Tahu malu! Tapi kenapa masih ngintip! Kalau mau masuk ya masuk saja!" Mama Aiu mengomeli Yusuf.


Semua anak di kelas tertawa melihat tingkah Yusuf. Yusuf hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Cicit juga tertawa melihat hal itu. Dia teringat ayahnya yang sering dijewer ibunya jika bertingkah aneh.


Apa kabarnya ayah dan ibu? Jadi kangen. Sudah sebulan juga. Mungkin sebaiknya aku menghubungi mereka.


"Anak-anak, maaf ya abang udah ganggu! Zily, ayo kita keluar jangan ganggu lagi!" Zily menuruti kata-kata Yusuf. Bara dan Biri juga ikut keluar.


Kelas memasak dilanjutkan kembali. Setengah jam berlalu. Semua bakwan sudah matang dan tersaji di piring.


"Baiklah! Sekarang kalian tukar bakwan kalian dengan teman di samping. Biar teman kalian mencicipi bakwannya. Setelah itu lakukan penilaian dan katakan dengan jujur kekurangan dari bakwan masing-masing. Untuk Bu Cicit, bakwannya biar saya yang mencicipi!"


Para peserta menukar bakwan mereka dan mencicipinya. Cicit membawa bakwan buatannya ke hadapan Mama Aiu. Aiu mengambil bakwan dengan tangannya kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Perlahan wanita itu mengunyah bakwan buatan Cicit dan mulai merasakannya. Seperti yang Yusuf katakan rasanya sama seperti rasa bakwan yang dibawa Yusuf 15 tahun lalu.


Rasa yang sama hanya dibuat oleh orang yang sama. Mama Aiu jadi berpikir juga apakah Cicit adalah Sri. Sayangnya Mama Aiu belum pernah melihat wajah Sri. Meski Yusuf memiliki foto Sri tapi itu hanya tampilan belakang saja.


"Nak Cicit, setelah ini kita ngobrol ya! Saya sudah lama tidak ngobrol sesama perempuan. Kedua anak perempuan saya sedang menemani suami mereka kuliah di luar negeri. Jadi sudah lama tidak ngobrol akrab dengan sesama perempuan." Cicit hanya mengangguk.


Aku jadi kangen ibu! Sudah sebulan tidak bicara dengan ibu. Biasanya kalau malam selalu ngobrol sama ibu. Cicit.


Setelah kelas berakhir, Cicit menemani Mama Aiu di halaman belakang. Mereka duduk di bawah pohon jambu.


"Cicit cantik sekali! Masakannya juga enak! Sudah punya pacar belum?" Mama Aiu bertanya tanpa basa basi. Sedangkan tidak jauh dari pohon, Lagi-lagi Yusuf mengintip mereka. Kali ini tidak hanya mengintip tapi juga menguping.


Mama nanyanya gak pake basa-basi deh! Yusuf.


"Cicit gak punya pacar dan gak mau pacaran juga bu!"


"Alhamdulillah! Gimana kalau kamu nikah sama Yusuf saja?"


Waduh! Mama nanyanya to the point banget ya! Yusuf.


"Maaf Bu Aiu! Saat ini meski Cicit tidak punya pacar, ada seseorang yang Cicit suka dan masih mencari keberadaan orang itu. Saya tidak berani mempermainkan perasaan orang, bu. Meski saya akui kalau Pak Yusuf itu ganteng!"

__ADS_1


"Siapa orang yang kamu cari itu? Mungkin ibu bisa membantu!"


Mama apa-apaan sih! Kok malah mau bantu Cicit nyari sainganku. Yusuf.


"Apa tidak merepotkan? Saya kan jadi tidak enak hati. Sudah menolak Pak Yusuf malah dibantu cari orang yang saya suka."


"Tidak apa-apa! Saya bukan orang pendendam. Jika ingin bantu ya bantu saja!"


"Terima kasih ibu Aiu! Namanya Ucup bu!"


Ucup? Kok kayak nama panggilan Yusuf?! Jangan-jangan... Aiu.


"Selain nama, kamu punya petunjuk lain gak?"


"Ada bu! Sebentar saya ambil dulu!"


Cicit meninggalkan Aiu dan kembali ke kamarnya. Sayangnya saat Cicit mengucapkan nama Ucup, Yusuf sudah tidak berada di posisi. Yusuf ketahuan lagi oleh Zily. Yusuf takut Zily akan berulah lagi, akhirnya Yusuf pergi meninggalkan tempat itu.


Cicit kembali ke tempat Aiu berada. Dia membawa tutup lensa kamera.


"Ini bu, Si Leika!" Cicit menyerahkan tutup lensa kamera itu kepada Aiu. Aiu memegang tutup lensa itu dan mengamatinya baik-baik.


Ini kayak punya Yusuf deh! Tapi, apa mungkin? Aiu.


Dia membalik tutup lensa itu dan terlihat tulisan kecil di dalamnya. Aiu mengeluarkan kacamatanya dan memakainya. Aiu membaca tulisan kecil itu. Benar saja, tertulis nama Ucup di sana. Mama Aiu tersenyum lebar. Wajahnya sumringah.


Aiu teringat saat Yusuf pulang dari studi wisata kala itu. Dia melihat kamera Yusuf tidak ada penutup lensanya. Saat ditanya Yusuf bilang tutupnya hilang di hutan.


"Selain nama dan tutup lensa ini, apa kamu punya petunjuk lain?"


"Sayangnya tidak ada bu! Saya sudah mencari orang yang bernama Ucup tapi tidak satupun dari mereka yang mengaku pemilik penutup lensa ini." Cicit menghela napas.


"Apa saya menyerah saja dan menerima perjodohan?"


"Perjodohan?"


"Iya bu! Saya datang ke kota ini mencari Ucup untuk menghindari perjodohan. Meski telah lama sekali, saya ingin memastikan perasaan ini dengan Ucup! Tapi usaha saya belum membuahkan hasil!" Cicit menampilkan wajah sedihnya.


"Kamu kabur ya?"


"Kok ibu tahu?"


"Tentu saja. Apa kamu sudah memberitahu ayah dan ibumu kalau kamu disini?" Cicit menggeleng.


"Sebaiknya kamu hubungi orang tuamu. Beritahu keadaanmu dan apa yang kamu inginkan. Ibu rasa mereka akan mengerti!" Cicit hanya mengangguk. Aiu memeluk Cicit dengan lembut.

__ADS_1


Hahaha. Ada kesempatan juga untuk menjahili Yusuf. Ternyata calon mantu yang dicari selama ini ada di depan mata. Hihihi... Aiu.


__ADS_2