
Siang itu panas mentari sedang terik-teriknya. Meski begitu semilir angin masih menyapa. Sebuah sedan meluncur dengan kecepatan sedang menuju sebuah rumah. Saat memasuki gerbang, tampak beberapa mobil sudah memenuhi halaman. Sepasang suami istri yang baru saja menikah segera memasuki rumah mewah itu.
"Sepertinya kita paling terakhir!" Yusuf melihat ke barisan mobil yang terparkir. Dia mengabsen satu per satu yang hadir.
"Apa kita terlambat?" Cicit cemas karena ini pertama kalinya datang ke pertemuan dan sudah terlambat.
"Tidak! Mereka saja yang datangnya terlalu cepat! Kita harus hati-hati, mereka kalau sudah berkumpul entah trik apa yang akan mereka mainkan?" Yusuf mengingat kembali kenangan di setiap pertemuan besar. Saudara-saudaranya akan sangat jahil meski mereka sudah besar dan berkeluarga.
"Apa maksudmu?" Cicit bingung dan penasaran.
"Maksudku mereka itu meski sudah dewasa tetapi kadang kelakuan masih seperti anak kecil! Mereka sering kali jahil apalagi double twins! Merekalah penggeraknya!"
"Double Twins?"
"Iya! Di keluarga besar ini ada 2 pasang anak kembar, Paman Ara dan Bibi Ari anak dari Kakek Rendi dan Nenek Dinda. Satu lagi Aisy dan Maira, adikku! Selama ini aku selalu dikerjai mereka karena kejombloanku! Tapi sekarang aku sudah menikah, entah apa yang akan mereka perbuat lagi! Waspada saja!"
"Oke! Baiklah!"
Pasangan itu segera memasuki kediaman Kusuma. Ketika akan memasuki rumah terdapat tulisan di depan pintu, " Ketuk tiga kali sebelum masuk! Jika tidak 3 kali akan ada kesialan bagi kalian!"
"Tuh kan! Ku bilang juga apa?! Belum juga masuk sudah dikerjai begini!" Yusuf geleng-geleng kepala melihat kelakuan saudaranya.
"Sabar Cup! Sudah kita ikuti saja!" Cicit menenangkan suaminya.
Cicit akhirnya mengetuk pintu sebanyak 3 kali sesuai yang tertulis di pintu.
Tok! Tok! Tok!
Kreekkk!! Pintu dibuka.
"Surprise!" Semua orang berdiri menyambut mereka. Aisy dan Maira menyambut mereka dengan kalung bunga. Pada kalung bunga milik Yusuf tertulis, "Bye-bye Bujang Lapuk". Cicit yang melihat tulisan itu langsung tertawa. Setelahnya terdengar suara musik mengalun, mereka langsung berbaris dan menari. Di akhir tarian, masing-masing membawa kertas bertuliskan nama mereka sendiri. Tujuan tarian itu adalah pengenalan diri. Cicit sangat terpukau dengan penampilan mereka. Istri Yusuf itu tidak menyangka bahwa mereka sangat kompak. Sama seperti di keluarga besarnya. Cicit bertepuk tangan untuk penampilan mereka.
Setelah penampilan itu satu per satu tetap memperkenalkan diri.
"Ara Dirgantara!"
"Ari Dirgantara!"
"Kami paman dan bibi Yusuf!"
Berikutnya adalah The Twins of Winata.
"Kakak ipar!" Si Kembar kompak menyapa Cicit.
"Ini pasti Aisy dan kamu pasti Maira!" Cicit menunjuk pada wanita dengan tubuh agak tinggi untuk yang pertama disebut.
"Kakak ipar hebat bisa membedakan kami berdua! Baiklah nanti kita ngobrol lagi!" Mereka mencium tangan Cicit.
"Bang Ucup yang udah gak jomblo lagi, selamat ya!" ucap Maira sambil memeluk abangnya.
"Iya nih! Akhirnya Bujang Lapuk Keluarga Winata laku juga!" sambung Aisy yang juga ikut memeluk abangnya.
"Mulut kalian ini memang gak berubah ya! Manis banget!" Yusuf mengelus kepala kedua adiknya.
"Bang, minta jatah dong!" Mereka tidak malu untuk meminta uang pada Yusuf.
"Memangnya kalian gak dikasih uang sama suami kalian?"
"Dikasih kok! Banyak malahan!"
"Terus kenapa minta lagi sama abang?"
"Ya elah bang! Pelit banget sih! Masa minta duit sama abang sendiri gak boleh!" Aisy masih meminta.
"Pajak nikah bang!" Maira menambahkan.
"Kalian ini! Sudah mau jadi ibu masih juga kayak anak-anak! Malu lah!" Yusuf mengeluarkan dompetnya. Masing-masing diberikan 5 lembar uang seratus ribu.
" Makasih Bang Ucup!" Mereka berdua mencium kedua pipi Yusuf. Mereka pergi sambil melambai-lambaikan uang pemberian Yusuf. Suami mereka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istrinya.
Selanjutnya adalah anak dari Alex dan Arin.
"Hai! Aku Cindy Zahra Wiryawan! Ini adikku, Zidan Narya Wiryawan! Kami anak Paman Alex dan Bibi Arin!" Cicit menyalami mereka berdua.
"Hai! Kami dari Keluarga Dirgantara juga! Aku Aizen dan ini adikku Conan!" Cicit melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Mereka ini anak dari sahabat Mama Aiu, Tante Ari, yang menikah sama keponakannya Kakek Rendi!"
"Ooh!"
"Selanjutnya adalah kami! Saya Keiji Natakusuma dan ini Yuki Natakusuma!" terdengar logat aneh dari mereka.
"Saya Cicit!"
"Mereka itu anak dari Paman Aoi dan Bibi Ranti! Sedari kecil tinggal di Jepang jadi maklum saja kalau logat mereka terdengar aneh." Cicit mengangguk tanda paham.
"Sekarang giliranku! Hai, Cicit! Masih ingat aku kan?" Nara berusaha mengingatkan Cicit.
"Nara kan?" Cicit mencoba menebak.
"Ya betul! Jadi waktu itu kamu menolak aku karena Si Pendek ini?" sambil menunjuk ke arah Yusuf.
"Si Pendek?"
"Iya! Sebelum jadi galah begini, dulunya dia lebih pendek dariku juga dari yang lain! Gak tahu kenapa tiba-tiba jadi kayak galah begitu!" ledek Nara. Cicit hanya tertawa saja.
"Terus saja Nara! Dasar Siketek!" Yusuf berdiri di samping Nara dan memperlihatkan kalau tinggi Nara hanya seketek Yusuf.
Cicit hanya tertawa saja. Seorang wanita muda melihat ke arah Cicit dan tersenyum kecil melihat wanita di hadapannya.
Pantas saja kamu tidak pernah melihatku rupanya gadis yang kamu cari memang sangat lebih dariku. Setidaknya aku lega bahwa bukan Si Cuckoo itu yang memilikimu. Intan.
"Kak! Aku dah dilupain ya?"
"Ya Ampun! Kakak lupa! Intan, kenalkan ini Cicit! Kakak dulu pernah nembak dia tapi ditolak! Katanya ada lelaki yang dia suka tapi masih dicari!" Intan bersalaman dengan Cicit.
"Hai! Aku Cicit!" Cicit tersenyum.
Ya ampun! Ternyata kalian memang sehati ya! Saling setia meski hanya baru sekali bertemu! Betapa beruntungnya kamu dicintai Yusuf.
Seorang laki-laki mendekati mereka.
"Hai, aku Zein! Suami Intan!"
"Hai Zein, sehat?" sapa Yusuf.
"Baguslah!"
"Ya sudah bang, kami permisi dulu! Itu para sesepuh udah pada manggil! rapat mau dimulai kayaknya!"
"Eh iya! Yuk kita ke sana!" Nara mengajak Yusuf dan Cicit untuk bergabung.
Sementara itu Zein mengajak Intan ke tempat lain.
"Apa kamu masih belum ikhlas?" Zein bertanya karena tadi melihat tatapan sendu di wajah istrinya.
"Aku sudah ikhlas kok! Tadi aku hanya teringat dosaku saja! Betapa bodohnya aku dulu dapat diperdaya oleh Si Cuckoo untuk menjatuhkan harga diri dan kehormatanku di hadapan Bang Ucup! Sekarang melihat Bang Ucup dan Kak Cicit, akhirnya aku paham, bahwa cinta itu memang tidak bisa dipaksakan. Aku kagum dengan mereka berdua yang bisa saling setia meski hanya sekali bertemu. Mereka saling mencari satu sama lain dan akhirnya dipertemukan. Sungguh indah bukan!" Zein memeluk istrinya menyalurkan kehangatan padanya.
"Sama halnya dengan kita, bukan! Dipertemukan dengan cara tak terduga!"
"Iya! Kamu benar! Aku mencintaimu, mas!"
"Aku juga mencintaimu, Intan Dewi Kusuma!"
"Kalian, bukannya kumpul malah peluk-pelukan disini!" tiba-tiba Mama Alyssa muncul dan memergoki mereka. Mereka berdua hanya tertawa kemudian kabur.
Ya Allah! Akhirnya Intan bisa lepas dari masa lalunya. Alhamdulillah. Mama Alyssa.
Mama Alyssa bukannya tanpa sebab mengikuti mereka. Wanita paruh baya itu tahu tentang cinta putrinya kepada Yusuf yang bertepuk sebelah tangan. Dirinya juga tahu tentang kejadian memalukan itu, tetapi tidak ada yang membahasnya karena tidak ingin menyakiti hati Intan. Bersyukur Intan langsung bertobat.
"Baiklah! Karena semua sudah berkumpul, kita mulai saja rapatnya!" Andi Kusuma memegang kendali rapat karena pertemuan diadakan di kediamannya.
"Pertama, ada berita dari Keluarga Winata, silakan Dre!"
"Berita kali ini mengenai resepsi pernikahan Cicit dan Ucup! Rencana berubah, resepsi akan diadakan Sabtu besok! Pagi bergaya militer, malamnya bergaya pebisnis!" Sontak Yusuf dan Cicit terkejut.
"Kok dipercepat pa?"
"Pertama lebih cepat lebih baik! Kedua untuk mengantisipasi serangan musuh yang akan segera muncul atau bisa jadi resepsi disabotase mereka. Kita harus bersiap! Bisa jadi resepsi kalian jadi medan perang!"
"Kok jadi serius begitu pa?"
__ADS_1
"Karena berita pernikahan kalian cepat atau lambat akan tersebar, tentu itu akan jadi pemantik, terutama Si Cuckoo untuk bertindak, selain itu Jordan Vincent juga akan bergerak, karena permintaan perjodohannya dengan Cicit ditolak Surya Dinata!"
"Sebelum itu pa! Rumah papa harus dibersihkan dari mata-mata!" Cicit berbicara tiba-tiba.
"Maksudmu, di dalam rumah ada mata-mata?" Yusuf terkejut karena baru tahu tentang hal itu.
"Iya! Kalian tidak tahu karena selama ini kalian tidak melakukan gerakan berarti. Jadi dia hanya melaporkan hal yang biasa saja kepada tuannya!"
"Siapa tuannya?" Kini Andre yang bertanya.
"Cuckoo!"
Mereka semua terkejut. Andre, Mama Aku, Yusuf juga Si Kembar tidak percaya jika selama ini di rumah mereka ada penyusup.
"Sebenarnya dia orang lama, hanya saja pelayan itu sudah menganggap Cuckoo sebagai penyelamatnya sehingga dia berkhianat. Aku juga baru tahu saat penyambutan kemarin. Terlihat jelas sikapnya yang sangat berbeda dan memusuhiku." Cicit menjelaskan.
"Itulah alasanmu ingin bertemu pelayan besok?"
"Ya, betul! Aku akan menunjukkan padanya siapa Nyonya Winata sebenarnya!" Semua orang di situ langsung memberikan jempol untuk Cicit. Cicit jadi tersipu malu.
"Kedua, ini berkaitan dengan Cuckoo yang akan pulang! Kita semua harus waspada dan harus tetap mengawasi gerak-geriknya!" Andi menambahkan.
"Ketiga! Ini terkait dengan Keluarga Vincent! Berhati-hatilah! Mereka banyak mengajukan kerjasama. Kalian harus meneliti setiap perjanjian. Kalau bisa ditolak saja kerja samanya! Kami hampir saja tertipu. Mereka pandai memanipulasi surat perjanjian!" Andi mengingatkan.
"O ya Cit, sementara waktu ayahmu akan bertugas di Wardhana Grup!" Berita Andre mengejutkan Cicit.
"Kok bisa?"
"Ayahmu adalah pemegang saham terbesar di Wardhana Grup saat ini! Dia memegang 51% saham. Sebelum Doni Wardhana menyerahkan sahamnya, rupanya dia sudah memindahkan sahamnya atas nama Bima, ayahmu! Ini merupakan suatu tindakan pencegahan jika suatu saat terjadi sesuatu yang buruk dengan Wardhana Grup. Ternyata keputusan itu tepat. Untuk menolong Wardhana Grup yang hampir bangkrut, ayahmu Bimasena, kini menjadi Direktur Utama Wardhana Grup."
"Aku tidak bisa bayangkan bagaimana ayah akan bekerja? Selama ini ayah hanya tahu kinerja militer, apa ayah akan menerapkan aturan militer di sana?" Cicit masih menebak-nebak apa yang akan dilakukan ayahnya.
"Kamu tidak usah khawatir, ayahmu itu juga seorang pebisnis! Bukankah dia punya gelar master bisnis?"
"Benarkah? Kok aku bisa tidak tahu ya?"
"Itu berlangsung saat kamu sedang masa pemulihan trauma!"
"Oo... begitu! Mengenai hal ini, ada kemungkinan Bram akan muncul di hadapan kita cepat atau lambat! Aku yakin Cuckoo akan menemuinya!" Cicit memprediksi.
"Kalau begitu, aku hanya memberi saran saja! Lindungi anak-anak kalian! Jangan sampai dijadikan sasaran empuk oleh mereka!" Rendi Dirgantara memberikan saran. Mereka mengangguk tanda mengerti.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di hape Cicit. Cicit membuka pesan itu lalu tersenyum puas. Yusuf penasaran dengan senyum istrinya yang tiba-tiba.
"Pesan dari siapa?"
"Cakra! Tadi aku meminta bantuan Cakra untuk memeriksa sesuatu! O ya besok aku ijin untuk pergi ke suatu tempat." Cicit meminta ijin suaminya.
"Ke mana?" Cicit menunjukkan sebuah lokasi dari pesan Cakra. Yusuf hanya mengangguk.
"Aku ikut saja ya!"
"Tidak usah! Besok aku akan pergi dengan Pak Im! Cakra juga akan membuntuti dari belakang. Kamu gak usah khawatir! Tugasmu sudah menumpuk di kantor! Ku harap sebelum resepsi harus selesai!" Yusuf akhirnya mengalah dan memberikan ijin kepada Cicit.
"Api, apa ada info dari Jepang?" Andi bertanya kepada Aoi.
"Sejauh ini semua masih aman dan terkendali! Ada satu grup yang berusaha masuk dan ingin menguasai pasar Jepang tetapi hal itu bisa diatasi oleh pemegang otoritas Jepang, mereka adalah Kaisar Grup!" Aoi menjelaskan.
"Akhirnya keluar juga!" Andre tersenyum puas.
"Kok papa senyum gitu?"
"Ya, akhirnya musuh yang kita tunggu keluar juga! Kalau gitu kita harus mengambil kembali bayaran yang telah kita keluarkan!"
"Maksud papa apa sih? Aisy gak ngerti!"
"Bukankah kita selama ini mengeluarkan banyak uang untuk Si Cuckoo sekarang saatnya kita menagih bayarannya."
"Maksud papa Kaisar Grup itu?" Maira mencoba menerka.
"Pintar anak papa! Aisy dan Maira, papa perintahkan untuk menarik sedikit demi sedikit investasi yang berkaitan dengan Kaisar Grup dengan membuat opini yang melandasi penarikan kita! Kalian paham!"
"Siap papa! Akhirnya kini saatnya kita beraksi! Hehehehe!" mereka tertawa jahat. Akhirnya ada kesempatan bagi mereka untuk membalas Si Cuckoo setelah sekian lama.
Setelah rapat penting selesai, sisa waktu mereka habiskan dengan bersenda gurau. Untuk saling mengikat tali silaturahim di antara mereka. Setelah makan malam mereka kembali ke kediaman mereka. Kini mereka bersiap untuk badai yang akan segera menerjang.
__ADS_1
Ikuti terus ya lanjutannya! ☺☺☺