BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 25. Kebenaran Ari (3)


__ADS_3

Kumpul keluarga masih berlangsung di ruang makan. Handphone Joni berdering. Terlihat di layar nama Jajang terpampang. Joni menerima panggilan itu. Tak lama, Joni menyerahkan hapenya kepada Yusuf.


"Dari Jajang, bos!" Yusuf mengangkat tangannya ke atas meminta semua orang untuk berhenti bicara. Mereka mengerti arti tangan Yusuf dan diam.


"Ada apa Jang?" Yusuf langsung bertanya.


"Ada orang yang memaksa untuk masuk ke ruangan pasien bos! Mereka masih bisa kooperatif waktu saya bilang harus meminta ijin pada bos!"


"Katakan pada mereka Yusuf Mahardika Winata ingin bicara dengan Hengki Gunawan! Jika mereka menolak jangan harap bisa bertemu dengan orang yang berada di dalam ruangan itu! Kamu boleh bertindak jika mereka melawan!" Semua orang di ruang makan terkejut mendengar Yusuf menyebut nama Hengki Gunawan.


"Siapa yang bernama Hengki Gunawan? Bos saya, Yusuf Mahardika Winata ingin bicara!" Seorang lelaki tua bergerak mendekati Jajang. "Saya Hengki Gunawan!" Jajang langsung memberikan hapenya.


"Halo! Saya Hengki Gunawan! Apa yang ingin anda bicarakan?"


"Bagaimana kalau kita video call saja agar saya percaya kalau anda adalah Hengki Gunawan?" Pak Hengki langsung berganti dengan panggilan video. Kini Yusuf benar-benar yakin bahwa yang dihadapannya adalah Hengki Gunawan.


"Ada seseorang yang ingin bicara dengan anda!" Yusuf memberikan hapenya kepada Doni Wardhana. Kini Doni dan Hengki saling berhadapan. Hengki begitu terkejut ketika melihat wajah sahabat lamanya yang dikira sudah meninggal.


"Do... Do... ni?! Benarkah itu kamu?" Air mata Hengki tak terasa menetes begitu saja.


"Iya Hengki! Ini aku, Doni Wardhana!" Air mata Doni juga tak terasa mengalir begitu saja.


"Ku dengar kamu sudah tiada. Aku sempat mencarimu dan memastikannya sendiri. Bagaimana kamu bisa selamat?"


"Itu berkat kuasa Tuhan aku bisa selamat. Hengki, aku belum memberitahu bahwa Ari adalah anakmu. Setelah malam itu, Singgih langsung pergi ke luar negeri selama 3 minggu. Setelah kepulangannya Sindi memberitahu kalau dia hamil. Sindi tidak tahu kalau kamulah yang telah menghamilinya. Jadi, ku harap kamu bisa memberitahunya kebenarannya!"


"Iya, aku tahu! Aku baru tahu Ari adalah anakku setelah melihat wajahnya di majalah. Hanya saja ketika aku akan bertemu dengannya, tiba-tiba aku merasa asing saja dengannya. Ditambah lagi menurut orang yang ku minta untuk mencari informasi, diketahui kalau Ari sering main ke kediaman Keluarga Setiawan. Aku jadi ragu! Lalu aku mulai memeriksa semuanya ternyata terdapat perubahan sikap drastis dari Ari dari sebelum dan sesudah ditolak Rania. Selama ini meski aku berada jauh dari Sindi, aku selalu memantau kondisinya!"


"Iya aku percaya! Aku yakin cintamu pada Sindi tidak pernah berubah! Jagalah mereka dengan baik! Selamat juga kamu sudah menjadi kakek sekarang! Berbahagialah Hengki! Titip salam untuk Sindi!" Pak Doni mengakhiri percakapannya. Doni memberikan hape kepada Yusuf.


"Tolong berikan hapenya kepada Jajang!" Pak Hengki mengembalikan hapenya kepada Jajang.


"Aku memberi ijin mereka masuk. Jika mereka mau membawa Ari dan keluarga pergi, pastikan jika Ari menyetujuinya. Jika tidak setuju maka jangan pernah ijinkan mereka membawa pergi Ari dan keluarga. Jika Ari setuju maka kamu harus mengawalnya sampai aku sendiri yang memerintahkanmu untuk berhenti! Paham!"

__ADS_1


"Siap bos!"


Jajang memberitahu hal yang dikatakan bosnya barusan kepada Hengki. Hengki mengerti dan mengangguk paham. Sejak diminta Yusuf menjaga mereka. Jajang langsung memperkenalkan diri dan memberitahu tugasnya. Jajang membuka pintu kamar. Bu Sindi menyambut dengan senyuman.


"Ada apa Jang?"


"Ada orang yang mau bertemu dengan ibu Sindi dan Pak Ari!" Jajang meminta Pak Hengki untuk masuk ke dalam. Bu Sindi sangat terkejut melihat kedatangan Hengki. Ari yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja. Dirinya masih sibuk menyuapi Dahlia. Tetapi telinganya tetap mendengarkan.


"Hengki? Benarkah kamu Hengki?" Bu Sindi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Iya Sindi! Ini aku Hengki!" Bu Sindi tanpa sadar langsung memeluk Hengki. Air matanya mengalir begitu saja. Hengki juga menyambut pelukan Sindi. Keduanya larut dalam rasa rindu.


"Maafkan aku! Tak seharusnya aku bersikap tidak sopan dengan memelukmu! Khawatirnya istrimu akan cemburu!" Bu Sindi melepas pelukannya.


"Tidak ada yang akan cemburu! Aku masih lajang!" Bu Sindi tidak menyangka kalau Hengki akan melajang seumur hidup. Bu Sindi mengajak Hengki duduk di sofa.


"Kamu kemana saja? Setelah hari itu kamu pergi tanpa pamit padaku."


"Sindi, tolong kamu panggil anakmu kemari! Aku ingin memberitahu sesuatu yang penting!" Sindi sebenarnya bingung dengan sikap Hengki, tetapi dia tetap memanggil Ari untuk duduk di sampingnya. Ari yang dipanggil langsung menghampiri ibunya. Dahlia tertidur setelah minum obat.


"Kenalkan ini Hengki Gunawan! Teman ibu dan pamanmu." Ari menjabat tangan Hengki sambil memperkenalkan diri.


"Bapak ada perlu apa? Kenapa memanggil saya?" Ari penasaran dengan hal penting yang ingin disampaikan Hengki.


"Sindi, Ari! Saya akan menceritakan dosa yang telah lama saya perbuat. Saya selama ini merasa bersalah dan juga bingung karena tidak tahu apa yang harus saya perbuat saat itu!" Sindi dan Ari mengerutkan keningnya karena bingung.


"Apa maksudmu, Hengki?" Sindi bertanya karena penasaran.


"Apa kamu masih ingat kejadian di malam pernikahanmu dulu? Ah, aku lupa mungkin kamu tidak tahu apa yang terjadi malam itu. Maafkan aku Sindi! Orang yang merenggut kehormatanmu di malam pernikahan itu adalah aku!" Sindi terperanjat mendengar hal itu.


"Apa? Tidak mungkin! Paginya aku lihat Mas Singgih ada di sampingku! Kamu jangan berbohong, Hengki!" Ibu Sindi masih tidak percaya.


"Sindi! Sejak pertama bertemu denganmu, aku sudah jatuh cinta padamu! Saat itu aku tahu kamu menyukai Doni. Aku hanya bisa diam. Saat kamu ditolak Doni, aku berharap bisa mendekatimu. Tapi sayangnya Singgih lebih cepat. Ku kira Singgih sungguh-sungguh mencintai kamu sampai setelah malam pernikahan itu aku baru tahu kalau Singgih hanya memanfaatkanmu. Singgih mengira kalau Doni ditolak olehmu. Itulah sebabnya dia mendekatimu untuk membuat Doni marah. Sayangnya hingga hari pernikahan Doni tidak bertindak apapun. Malam itu aku dan Doni berdiri di balkon memandang ke arah pesta kalian. Aku yang sudah frustasi langsung meminum minuman milik Doni. Tak disangka bahwa minuman itu sudah dicampur obat perangsang. Rupanya kamu juga sudah diberi obat yang sama. Saat aku bertemu denganmu di Koridor, ku lihat kamu sudah terhuyung-huyung. Niatku hanya ingin membantumu ke kamar. Rupanya saat sampai di kamar, reaksi obat itu makin menjadi. Tanpa kita sadari, melakukan hal yang tak seharusnya. Keesokan harinya, aku terbangun saat adzan Subuh. Aku terkejut saat melihat tubuh kita berdua sudah polos. Aku panik. Ku pakai bajuku dan langsung berlari ke kamar Doni. Aku menceritakannya kepada Doni. Doni menyarankan padaku untuk jujur padamu. Tapi aku takut. Aku sangat takut dibenci olehmu. Saat melihat dirimu yang bahagia bersama Singgih, hatiku takut kalau aku jujur, kamu akan membenciku. Karena tidak tahu harus berbuat apa, aku lari dan sembunyi di luar negeri. Aku menghukum diriku dengan tidak menikah. Aku yang sudah berbuat dosa ini tak berhak bahagia! Begitulah Sindi kejadiannya! Aku tahu ini sangat berat untukmu! Maafkan aku, Sindi!" Hengki bersimpuh di bawah kaki Sindi. Memohon maaf kepada Sindi.

__ADS_1


Sindi sangat sedih setelah mendengar cerita Hengki. Dirinya tidak menyangka kalau sejak awal Singgih sudah memanfaatkannya bahkan sampai tega membuat dirinya untuk tidur bersama Doni. Air mata Sindi tak tertahankan lagi, mengalir begitu deras. Ari yang mendengar cerita itu juga turut bersedih dan marah dalam hatinya. Tetapi dirinya belum berani untuk bicara karena sejatinya ini adalah urusan antara Hengki dan ibunya.


"Bangunlah Hengki! Kamu tidak bersalah dalam hal ini! Kita berdua adalah korban dari keserakahan Singgih. Benar yang dikatakan Doni, bahwa aku telah salah memilih. Aku sendiri juga tahu setelahnya jika Singgih hanya memanfaatkan ku. Aku sungguh bodoh yang tidak menyadari keberadaan dirimu. Aku minta maaf juga padamu!"


"Kamu tidak marah padaku? Bahkan aku sudah menjadi pengecut dengan kabur begitu saja!" Hengki masih merasa heran dengan sikap Sindi yang tidak biasa.


"Bagaimana mungkin aku bisa marah dengan ayah dari anakku? Meski ada sedikit rasa kesal karena dirimu yang melarikan diri, tetapi itupun wajar karena kita memang terjebak dalam rencana Singgih. Aku baru menyadari Ari bukan anak Singgih ketika Ari berumur 5 tahun. Meski pada saat itu aku tidak tahu siapa ayah Ari sebenarnya. Saat itu Ari mengalami kecelakaan dan butuh transfusi darah. Aku heran karena darahku dan Singgih tidak cocok. Beruntung stok darah untuk golongan darah Ari masih ada, jika tidak mungkin tidak tertolong. Saat itu karena penasaran, aku meminta ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA antara Ari dan Singgih. Hasilnya Ari bukan anak Singgih. Aku sangat bingung saat itu. Aku sempat berpikir kalau Ari anak Doni, sampai aku mengambil sampel rambut Doni untuk tes DNA. Hasilnya juga sama, Ari bukan anak Doni. Aku sampai tidak tahu harus berbuat apa lagi. Akhirnya aku lebih memilih diam dan menyembunyikannya dari Singgih." Sindi menceritakan hal yang ditutupinya selama ini. Ari terkejut mendengar perkataan ibunya. Dia juga marah tetapi rasa marahnya lebih kepada Singgih yang telah tega berbuat jahat seperti itu kepada ibunya.


"Maafkan aku Sindi, Ari! Selama ini aku sudah menjadi penakut dan pengecut! Aku tidak menyangka kalau satu malam itu telah menciptakan kehidupan baru. Seandainya aku tahu lebih awal, aku pasti akan segera kembali merebut kalian apapun yang terjadi!" Hengki sangat menyesal karena tidak mengetahui kehamilan Sindi lebih awal.


"Sudahlah Hengki! Itu sudah berlalu! Kita sama-sama tidak tahu saat itu! Lantas apa yang membuatmu tahu dan kembali ke sini?"


"Aku melihat wajah Ari di majalah. Wajahnya sangat mirip denganku. Jadi aku putuskan untuk bertemu dengan Ari. Tetapi saat pertama bertemu, aku merasa ada yang aneh padanya. Akhirnya aku tidak jadi bertemu. Secara diam-diam juga aku meminta seseorang untuk mengambil sampel rambutnya. Setelah dilakukan tes, hasilnya dia bukan anakku. Tapi wajahnya mirip. Dari situ aku mulai menyelidikinya. Hasilnya dia memang bukan Ari. Aku mencoba mencari Doni tetapi menurut berita Doni juga sudah tiada. Akhirnya aku hanya bisa memantau secara diam-diam Keluarga Wirabuana. Sampai hari ini tadi anak buahku mengatakan bahwa dirimu masih hidup. Akhirnya aku datang kemari untuk membawa kalian pulang!"


"Ari, kamu kenapa diam saja? Apa kamu marah kepada kami dan masih belum menerima ini semua?" Ibu Sindi penasaran dengan sikap Ari yang hanya diam saja dan tidak bereaksi apapun.


"Jujur saja Ari sangat terkejut, bu! Ari tidak menyangka jika Ari bukanlah anak Ayah Singgih. Ari marah bu! Ari tidak menyangka jika Ayah Singgih bisa sekejam itu. Meski Ari masih bingung dengan semua yang Ari dengar tetapi Ari juga menyadarinya sejak lama. Ari memang tidak cerita pada ibu karena khawatir ibu kepikiran." Ari berhenti sejenak.


"Sebenarnya sejak Ari diminta untuk bekerja di perusahaan, banyak orang yang mengatakan bahwa wajah Ari tidak mirip dengan ayah. Awalnya Ari tidak ambil pusing dengan hal itu. Tetapi kelamaan hal itu sangat mengganggu juga. Sampai Ari juga melakukan tes secara diam-diam. Hasilnya sama seperti yang ibu bilang, Ari bukan anak ayah Singgih. Ibu masih ingat saat Ari bertanya, sebelum menikah dengan ayah, ibu pernah berkencan dengan siapa saja? Waktu itu ibu bilang, tidak pernah berkencan dengan siapapun selain ayah Singgih. Ibu hanya cerita pernah ditolak oleh Paman Doni. Karena tidak menemukan titik terang, Ari akhiri saja penyelidikannya."


"Maafkan papa, Ari! Papa sangat pengecut saat itu! Maafkan papa!" Hengki sangat menyesali sikap pengecutnya dulu.


"Sudahlah pa! Semua sudah berlalu! Ari senang akhirnya bisa mengetahui ayah Ari yang sebenarnya!" Ari memeluk Hengki dengan erat. Sindi juga ikut memeluk mereka berdua.


"Karena sudah bertemu, maukah kalian ikut bersamaku! Melihat situasi yang tidak kondusif saat ini, bagaimana kalau kalian ikut tinggal denganku di luar negeri untuk sementara waktu?" Hengki memberi saran.


"Kenapa harus ke luar negeri pa?" Ari bingung dengan sikap papanya.


"Papa merasa jika tidak ke luar negeri, nyawa kalian akan dalam bahaya. Papa merasa seperti akan ada badai besar yang akan datang. Papa hanya tidak ingin kalian terlibat. Ini semua demi keselamatan kalian. Jika bukan demi keselamatan kalian untuk apa Yusuf meminta seorang penjaga untuk menjaga kalian?" Ari juga heran sejak tadi dan masih berpikir alasan Yusuf memberinya seorang bodyguard.


"Papa mohon untuk kali ini kalian menurut! Papa hanya ingin menikmati momen kebersamaan kita lebih lama tanpa gangguan. Apalagi sudah ada Gunawan junior. Jika kalian setuju besok pagi kita pergi!"


"Baiklah pa! Kami akan ikut papa!" Hengki sangat senang mendengar hal itu. Dia memanggil Jajang dan memintanya untuk memberitahu Yusuf. Jajang segera mengirim pesan pada Yusuf. Yusuf mengijinkannya. Yusuf juga meminta Jajang untuk terus mengawal sampai ke bandara.

__ADS_1


Malam itu adalah malam kebahagiaan untuk Hengki. Mereka bisa berkumpul kembali setelah sekian lama terpisah. Malam itu Hengki tidur di sofa bersama dengan Sindi. Akhirnya Ari dapat melihat kebahagiaan di wajah ibunya. Kebahagiaan yang selama ini sirna telah kembali. Ari kembali ke samping istrinya dan mulai terlelap. Sesekali dia terbangun karena anaknya menangis ingin menyusu ataupun mengompol.


__ADS_2