BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 41. Pedang Pora Istimewa


__ADS_3

"What?!!" Yusuf masih tidak percaya bahwa penculikan itu hanya sebuah drama saja. Ingin rasanya pria itu menghajar dalang di balik drama itu tapi apa daya jika dalangnya adalah Kakek Krishna.


Belum selesai rasa terkejut karena drama penculikan, ayah dari Cicit mengatakan bahwa mobil yang mengejar mereka bukan suruhan kakek.


"Apaa??!!" Yusuf terkejut untuk kedua kalinya.


"Itu benar! Mobil yang kami suruh untuk mengikuti kalian berada di belakang mobil yang mengejar kalian. Saat kecelakaan terjadi, beruntung pasukan kami tiba tepat waktu sehingga masih bisa meringkus mereka dan menjalankan drama ini!" Bima menjelaskan dengan tenang dan santai.


"Di mana mereka?" Yusuf kembali emosi ketika mengingat kecelakaan itu. Gara-gara mereka dia terpisah dari istrinya.


"Ada di ruangan itu!" Bima menunjuk sebuah ruangan paling ujung.


"Apakah mereka sudah bicara?"


"Mereka sepertinya tidak takut mati." Ucapan Bima menunjukkan bahwa mereka tidak mau buka mulut.


"Biar aku saja yang bicara!"


Yusuf masuk ke ruangan itu. Di dalamnya terdapat 4 pria yang kedua tangannya terikat tali.


"Jadi kalian orang yang ditugaskan Si Rachel sialan itu! Kalian pikir kalian hebat?! Bahkan tanpa kalian bicara saja aku sudah tahu siapa yang mengirim kalian." Yusuf sebenarnya hanya memancing saja. Kemungkinan tebakannya benar hanya 50:50. Pria itu hanya ingin melihat ekspresi mereka untuk memastikan tebakannya.


Seorang pria dari keempat pria itu mengangkat kepalanya. "Kau pikir kau hebat? Kau pikir dengan menangkap kami maka kami akan buka mulut." Pria itu tersenyum dengan penuh seringai.


"Kalian betul! Kalian tidak perlu buka mulut, kalian perlu mendengar! Maka dengarkan apa yang aku katakan! Jon! Miskinkan mereka semua! Tarik semua dana di rekening mereka! Selain itu, buat bangkrut klub malam milik mereka!" Kini gantian Yusuf yang tersenyum dengan penuh seringai licik.


Seketika wajah pria itu menjadi pucat. Bagi mereka kemiskinan lebih menyeramkan dibandingkan kematian. Meski begitu pria bertato itu masih merasa bahwa itu hanya gertakan saja. Wajahnya pun berangsur pulih.


"Kau pikir aku hanya menggertak dan menakut-nakuti saja? Joni! Cepat bawa kemari!" Joni datang dengan membawa laptop khusus. Dia memperlihatkan sebuah transaksi pemindahan dana dari akun Martin King dengan nomor rekening 123890xxxxx. Sontak saja pria bertato itu langsung melotot dan tubuh melorot. Kemudian dia berjalan tergesa menuju Yusuf. Pria itu bersujud di kaki Yusuf. Memohon ampun.


Tak lama terdengar suara sering telepon dari hape pria bernama Martin itu. "Bos! Ada masalah! Ada orang yang tiba-tiba membeli semua saham klub malam kita! Bahaya bos! Kita bisa bangkrut bos! Terus tadi juga ada pembobolan dana klub! Bagaimana ini bos?"


Pria itu tidak menjawab pertanyaan anak buahnya. Kini dirinya sedang sibuk memohon kepada Yusuf agar mengembalikan semua uang miliknya. Ketiga rekannya yang tadinya masih jumawa kini berubah ciut karena melihat temannya itu.


"Baiklah! Kami akan bicara! Tetapi kami minta perlindungan. Tidak hanya Rachel, Jordan Vincent juga ikut terlibat. Dia tidak terima karena Cicit menikah denganmu!"


"Apa rencana mereka?"


"Jika penculikan ini berhasil, maka Jordan akan melakukan hipnotis atau yang paling ekstrem adalah dengan obat penghilang ingatan untuk mengendalikan Non Cicit. Dengan rumor yang sudah beredar, Rachel akan memanfaatkan emosi publik untuk mengusungnya menjadi pengganti istrimu!"


"O... begitu! Hebat juga dia bisa berpikir begitu!" Baiklah! Kau baik-baiklah di sini! Karena kami akan mengirimkan penggantimu untuk tetap menjalankan rencana mereka! Untuk uangmu itu akan dikembalikan setelah semua urusanmu dengan yang berwajib selesai. Sementara waktu klub milikmu itu akan diurus Kak Seilon! Kau kenal dengannya kan?" Pria itu langsung sumringah setelah mendengar nama Seilon disebut. Seilon merupakan orang yang paling dihormati di kalangan pemilik klub malam.

__ADS_1


Di ruang sebelah, ayah mertua dan para pria tua menyaksikan dengan jelas proses interogasi yang dilakukan Yusuf. Mereka tidak menyangka kalau metode yang digunakan bukanlah metode kekerasan. Para tetua itu semakin takjub dengan menantu Bima.


"Kami kalah telak! Pilihanmu memang tepat, Bima! Kau juga harus bangga, Krishna!" ucap Danu, yang cucunya merupakan salah satu dari 30 calon jodoh Cicit yang telah dikalahkan.


"Itu memang sangat membanggakan! Kalian pikir dia itu hanya pebisnis biasa? Yusuf itu juga cucu dari senior kita! Apa kalian tidak melihat wajahnya yang mirip dengan seseorang?" Krishna mengingatkan.


"Rasanya wajahnya memang tidak asing! Jangan-jangan dia itu cucunya orang itu?!" Bima tidak paham sama sekali dengan omongan para sepuh itu. Dia hanya diam saja.


"Ya, kamu betul! Dia memang cucunya orang itu! Hendra Atmaja! Sang Jendral Muda!" Krishna membenarkan asumsi Danu.


"Jendral muda yang pensiun dini karena harus meneruskan bisnis keluarganya. Bahkan kita tidak sempat membuat pedang pora untuknya karena keburu pensiun." Danu mengenang kisah masa lalu.


"Bagaimana kalau kita buat pedang pora untuk mereka? Sebagai penghormatan kepada Senior Hendra Atmaja!" Danu mengusulkan ide.


Catatan: Ingat ya! Ini hanya karangan belaka. Bahkan sesungguhnya author mau menghilangkan plot pedang pora ini. Prosesi pedang pora hanya dilakukan oleh prajurit TNI dari golongan perwira.


"Tidak bisa!" Itu menyalahi aturan!" Tapi jika pedang pora untuk Hendra Atmaja itu bisa saja dilakukan!" Krishna mengingatkan akan aturan yang berlaku.


"Benar!" Padahal hanya tinggal beberapa hari lagi menuju prosesi pernikahan pedang pora, rupanya senior lebih memilih untuk pensiun dini dan meninggalkan kita semua. Padahal dulu kita sudah berjanji jika senior menikah maka kita yang akan melakukan pedang pora untuknya!" Danu sangat antusias setelah mendengar ide Krishna.


"Baiklah! Kalau begitu tinggal dieksekusi saja! Bima! Kamu hubungi Paman Adrian! Katakan padanya untuk membawa semua peninggalan Hendra saat masih bergabung dengan ketentaraan!"


"Siap jendral!"


"Kamu apaan sih? Aku baik-baik saja!" Cicit berusaha menenangkan suaminya.


"Iya! Aku tahu dan aku bersyukur! Tetapi tetap saja nanti kamu harus check up secara keseluruhan. Terutama di kepala dan juga perut kamu!" Yusuf menunjuk kepala dan perut Cicit.


"Ih, apaan sih? pegang-pegang perut! Geli tahu!" Tanpa tahu malu Yusuf memeluk istrinya dari belakang dan mencium bahu istrinya.


"Hemm... hemm!" Bima berdehem untuk menghentikan mereka.


Bisa-bisanya umbar kemesraan di sini! Aku kan jadi pengen! Laras, aku kangen! Bima.


"Eh, ayah! Maaf yah! Ucup cuma ngecek aja apa ada tubuh Cicit yang terluka? Hehehe!" sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo kita kembali! Kita harus bersiap untuk acara besok pagi! Jangan sampai telat! Besok acaranya jam 7.00 pagi!"


"Kok pagi sekali yah?" Yusuf ingin protes karena waktu acara yang kelewat pagi.


"Soalnya besok setelah acara kita harus kembali ke Jakarta lagi untuk pesta resepsi pada malam hari!" Bima menjelaskan dengan ekspresi datar seperti biasanya.

__ADS_1


"Jadi acara besok tidak di Jakarta?" Bima hanya menggeleng.


"Kok mama gak kasih tahu?"


"Kalau mamamu kasih tahu bisa gagal rencana kami! Untuk itulah kami menggiring kamu ke sini!"


"Ini pasti ulah papa!" Yusuf mulai kesal dan geram dengan keusilan papanya.


"Bukan! Ini ide dari Si Kembar! Waktu itu mereka mendengar percakapan Kakek Krishna dan Kakek Danu. Mereka tidak terima kalau kamu diremehkan. Maka dari itu mereka mengusulkan ide ini!"


"Hais! Kedua bocah memang tidak berubah dari dulu! Senang sekali bermain-main dan jahil!" Yusuf hanya geleng-geleng kepala mengingat kelakuan kedua adik kembarnya.


Para rombongan meninggalkan gudang. Mereka kembali ke kediaman Wirabuana. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Setelah sampai Cicit langsung membawa suaminya ke kamarnya.


Cicit mulai melepas pakaiannya. Yusuf yang lupa diri juga ikut melepas pakaiannya. Kemudian memeluk istrinya.


"Kamu mau ngapain, Cup?"


"Lah! Kamu gimana sih? Kamu yang ngajak masa malah nanya balik aku mau ngapain?!"


"Ucup sayang! Aku ini masih datang bulan!" Yusuf langsung terdiam. Otaknya langsung loading. Pada akhirnya dia ingat kalau istrinya masih haid.


"Terus aku harus gimana sayang? Ini Si Junior udah on! Sayang tolong dong!" Wajah Yusuf berubah mengenaskan.


Cicit akhirnya melayani keinginan suaminya dengan cara lain. Setelah setengah jam berjibaku, akhirnya Yusuf bisa tenang juga. Kini mereka bersiap untuk tidur. Tak lupa Cicit memasang alarm takut kesiangan.


Kring!!! Suara jam weker telah berbunyi. Cicit bangun lebih dulu. Sebenarnya Yusuf juga mendengar suara jam weker tetapi dirinya masih malas untuk bangun.


"Bangun sayang! Sebentar lagi subuh! Kata ayah kita mau solat subuh berjamaah. Kamu jadi imamnya!"


Mendengar kata solat subuh berjamaah dan menjadi imam, sontak membuat tubuhnya langsung bangun. Ini pertama kalinya mereka menginap di rumah Cicit. Apalagi selama ini Yusuf belum pernah menunjukkan kemampuannya di depan ayah mertuanya. Yusuf segera masuk ke kamar mandi. Setelah selesai dia langsung memakai pakaian yang telah disiapkan Cicit.


Benar saja saat keluar kamar, ayah mertua, kakek, dan papanya sudah rapi. Mereka menuju gazebo di belakang rumah. Mereka solat subuh di sana. Yusuf menjadi imam untuk solat subuh.


"Cup! Sini!" Bima memanggil Yusuf selepas doa selesai.


"Ada apa yah?" Ucup masih takut-takut karena selama ini ayahnya selalu berwajah datar di depannya. Meski dia biasa melihat wajah datar ayahnya kalau di kantor, cuma kalau lihat wajah ayah Bima yang datar itu beda rasanya. Kayak gak bisa salah kalau ada di depannya. Kalau salah kayaknya bakal ada sinar laser yang muncul.


Bima menjelaskan secara singkat prosesi pedang pora yang akan dihelat nanti. Ayah mertuanya itu juga mengatakan bahwa pedang pora itu bukan untuk dirinya melainkan untuk kakek buyutnya Hendra Atmaja. Yusuf sangat terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau kakek buyutnya dulu seorang tentara. Bima juga akhirnya mengatakan bahwa dirinya sangat bangga memiliki menantu seperti dirinya. Yusuf sangat senang dengan pujian dari mertuanya itu.


Kini pasutri itu berada di sebuah gedung serba guna milik TNI. Mereka kini sedang memegang figura berisi foto mending kakek dan nenek buyut. Mereka akan menjalani prosesi pedang pora untuk menghormati dan menjalankan janji yang telah dibuat dulu.

__ADS_1


Yang menjadi petugas adalah para jendral sepuh yang dulu telah berjanji untuk melakukan pedang pora bagi alm. Hendra Atmaja. Meski sudah sangat berumur mereka tetap gagah dalam balutan baju dinasnya. Prosesi demi prosesi telah dijalankan. Untuk acara hiburan terakhir adalah tarian ala tentara yang dipersembahkan oleh para The Mantan Squad untuk pasutri yang tengah bahagia. Acara pagi itu berlangsung lancar tanpa gangguan.


Bagaimana acara malam nanti ya? Deg-degan gak?? 😁😁😁


__ADS_2