BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 27. Nyonya Winata (2)


__ADS_3

Matahari sudah merangkak naik. Udara di luar begitu panas. Bagi mereka yang bekerja di luar ruangan, udara panas itu sudah membasahi pakaian mereka. Berbeda dengan di luar, di ruangan khusus Presdir Winata Grup sangat dingin. Meski suhu AC dipasang 17°C suasana panas masih menyelimuti sejoli yang kini sedang berbincang di ranjang.


"Kamu sengaja ya membiarkan perempuan itu masuk?!" Cicit mulai menyelidik.


"Betul! Aku sengaja! Dia harus tahu Nyonya Winata!" Yusuf tidak menampik.


"Dia juga harus tahu kalau Nyonya Winata tidak bisa diprovokasi atau ditindas!" Yusuf melanjutkan.


"Ya... ya! Intinya kamu ingin aku menunjukkan taring, bukan?!" Cicit langsung to the point.


"Kamu memang pintar! Pantas menjadi pendampingku!" Yusuf menjawil dagu Cicit.


"Sudah mau zuhur, sebaiknya kita bersih diri! Setelah ini aku mau pulang ke rumah singgah!"


"Kita mandi bersama ya?" Yusuf meminta dengan pose menggemaskan.


"Nggak mau! Itu cuma modusmu aja! Nanti yang ada mandinya bisa 2 jam. Sudah kamu duluan saja! Badanku masih lelah!"


"Aku janji gak akan macam-macam kok! Aku mau solat zuhur berjamaah! Beneran deh!" Yusuf mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.


"Ya sudah! Awas ya kalau nanti kamu bohong! Gak ada jatah seminggu ini!" Yusuf langsung menelan ludahnya. Wanitanya sungguh tidak bisa diberi janji palsu atau janji candaan. Dia benar-benar harus menepati janjinya. Lagi pula dia jadi teringat pesan ayahnya untuk tidak berhubungan di kamar mandi karena di sana sarangnya setan. Dirinya juga tidak mau anaknya nanti tercemari oleh setan.


Setelah selesai mandi adzan zuhur berkumandang. Mereka solat berjamaah dengan khusyuk. Pasutri itu kembali ke ruang kerja direktur. Joni sudah menunggu di sana. Tak lupa hidangan santap siang juga tersaji di meja.


"Kamu sudah solat, Jon?" Seperti biasa Yusuf selalu mengingatkan bawahannya untuk solat. Bahkan di setiap waktu solat, suara kumandang adzan selalu diperdengarkan di setiap lantai.


"Sudah bos!" Joni mengangkat ibu jarinya.


"Setelah makan siang, aku mau ke rumah singgah! Kamu di sini saja membereskan apa yang perlu dibereskan! Nanti malam Cicit akan pulang ke rumah. Apa semuanya sudah siap?"


"Sudah beres bos!"


"Bagus! Jika kerjamu bagus, bonus bulan ini akan digandakan!"


"Tenang saja bos! Tidak akan mengecewakan!"


Setelah makan, sesuai janji, Yusuf membawa Cicit pulang ke rumah singgah. Cicit akan mengambil pakaian dan barang-barang lainnya. Mobil sudah memasuki pelataran rumah singgah. Cicit heran melihat suasana yang begitu hening dan tenang. Biasanya siang begini anak-anak banyak beraktivitas di halaman depan.


Mobil sudah berhenti di halaman. Yusuf membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya kepada Cicit.


"Kok tumben sepi?" Yusuf hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Cicit. Yusuf menggandeng tangan Cicit masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya Cicit saat Yusuf membuka pintu rumah.


"Selamat datang Nyonya Winata!" Semua penghuni rumah singgah berbaris memberikan penyambutan. Kakek nenek juga ikut dalam barisan. Cicit menatap wajah Yusuf. Dirinya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya. Yusuf hanya mengangguk saja sambil tersenyum.


"Kalian apaan sih? Kakak kan jadi malu!"


"Kakak gak perlu malu! Kami senang akhirnya kakak bisa menikah dengan Bang Ucup! Kami juga senang karena kakak yang jadi Nyonya Winata!" Karina memberikan buket bunga sebagai ucapan selamat. Mereka saling berpelukan.


Setelah itu Karina membawa Cicit dan Yusuf ke halaman belakang. Di sana sudah terdapat spanduk besar ucapan selamat menikah. Anak-anak sudah menyulap halaman belakang menjadi tempat pesta. Zily memasangkan mahkota bunga di kepala Cicit dan Yusuf. Mereka berdua digiring Bara dan Biri menuju podium untuk memberikan kata sambutan.


"Assalamualaikum! Selamat Siang semua! Bang Ucup mengucapkan banyak terima kasih atas pesta yang kalian buat! Bang Ucup senang sekali bisa merayakan kebahagiaan bersama kalian. Tenang saja kalian akan tetap abang undang di pesta pernikahan nanti. Dua kali pesta! Jadi kalian semua harus datang ya! Semua sudah abang atur kalian hanya perlu hadir!"


"Horeeee! Bisa makan enak yang banyak!" teriak anak-anak. Sekarang giliran Cicit yang memberikan sambutan.


"Kak Cicit juga ucapkan terima kasih untuk hadiah pestanya! Kalian sangat baik dan berharga untuk kakak! Meski kakak sudah gak tinggal di sini kalian tetap harus disiplin seperti biasa! Kakak akan tetap datang setiap hari untuk mengajar seperti biasa! O iya kakak mau laporan perencanaan untuk bazaar mingguan! Nanti kalian serahkan ya setelah acara!"


"Kak Cicit, lagi pesta masih juga ingat bazaar!" Zack membalas Cicit. Cicit hanya tertawa saja.


"Baiklah! Sambutannya sudah selesai! Kini saatnya kita melihat persembahan untuk kedua mempelai! Ayo semuanya duduk yang rapi! Filmnya sudah mau dimulai!" Zack memberi perintah agar anak-anak segera di posisi masing-masing.


Semua orang sudah tenang di posisinya. Zack mulai menghidupkan proyektor dan juga sudah terhubung dengan laptop. Tak lama gambar mulai tampak di layar putih berukuran besar di hadapan mereka.


Film yang mereka tonton sebenarnya kumpulan video dari mulai Cicit datang ke rumah singgah hingga mereka menikah. Berbagai ekspresi muncul saat Cicit ujian masuk rumah singgah.

__ADS_1


"Aduh! Aku kan yang jadi korban!" Arul tiba-tiba nyeletuk. Semua orang yang mendengar jadi tertawa.


"Kak Cicit udah kayak pendekar aja ya! Bisa ngeles sana-sini!" Dodi berceloteh sambil memeragakan gaya Cicit menghindari jebakan.


Setelah itu, mereka menampilkan video kegiatan di rumah singgah mulai dari memasak, berkebun, menjahit, dll. Termasuk juga adegan saat Yusuf selalu mencuri pandang dan mengintip Cicit.


"Aduh! Ketahuan deh kalau suka ngintip!" Yusuf menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.


"Jadi, selama ini kamu sering ngintipin aku ya?!" Cicit menaikkan sebelah alisnya meminta penjelasan.


"Ampun nyonya! Hamba bersalah! Habis nyonya cantik banget sih! Membuat pandangan abang gak bisa berpaling!" Yusuf mengagumkan kedua tangannya di depan dada untuk minta maaf.


Cicit yang mendengar gombalan Yusuf tak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya hanya bisa tertawa lalu mencium pipi Yusuf dengan tiba-tiba. Yusuf bahagia mendapat serangan itu.


"Aduh neng! Abang bisa ketagihan kalau begini! Tambah lagi dong!" Yusuf makin tidak tahu malu. Anak-anak tertawa melihat tingkah Yusuf. Wajah Cicit langsung memerah mendengar omongan Yusuf.


"Bang Ucup gak tahu malu ih!" Arul nyeletuk. Anak-anak tertawa lagi.


"Nah sekarang yang ditunggu-tunggu nih!" Zack meminta mereka duduk kembali karena video yang ditunggu sudah akan dimulai.


Video yang dimaksud adalah video saat ijab kabul. Suasana hari tercipta dalam video itu. Di sana terlihat bagaimana saat Yusuf dengan mantap dan lantang mengucap janji yang membuat arasy berguncang.


"Kalian dapat dari mana video itu?" Yusuf penasaran.


"Dari Bang Joni lah! Kami yang meminta Bang Joni buat videonya!" Zack menjelaskan.


"Nah sekarang waktunya kita makan!" Zily menyela. Bahkan Zack yang membawakan acara saja belum mengatakan itu. Anak-anak yang mendengar kata makan langsung berhamburan menuju meja prasmanan. Mereka langsung mengambil makanan yang tersedia.


Saat mereka makan, Yusuf membawa Cicit pergi masuk ke dalam rumah. Zack yang melihat mereka akan pergi langsung bertanya, "Mau kemana bang?"


"Mau ke dalam sebentar! Nanti balik lagi ke sini!"


"Jangan buru-buru pulang bang! Acara masih panjang!" Yusuf hanya mengangguk mengerti.


"Ucup sayang! Ada apa sih? Kok tiba-tiba bawa aku masuk segala! Kamu jangan aneh-aneh ya! Anak-anak masih ada di sini!" Cicit mengingatkan Yusuf.


"Siapa yang mau aneh-aneh? Sini! Kamu apa gak merasakan kalau kita kayak lagi diawasi?" Cicit menggelengkan kepalanya.


"Diawasi? Maksudmu ada yang mengintai?" Yusuf menganggukkan kepala.


Mereka terus berjalan menuju ke posisi si pengintai. Saat tiba di lokasi, Yusuf dan Cicit menemukan seorang wanita yang sedang mengintip ke halaman belakang. Dia tersenyum saat melihat ke arah sana. Wanita itu juga tidak sadar kalau sudah ketahuan. Cicit mendekati wanita itu dan membekap mulutnya. Wanita itu meronta minta dilepaskan. Cicit membawa wanita itu ke kamarnya bersama Yusuf. Setelah di dalam kamar, Cicit melepaskan bekapannya.


"Katakan siapa kamu sebenarnya?" Yusuf langsung bertanya to the point.


Wanita itu gelagapan karena sudah ketahuan. Wanita berambut panjang itu bingung dan juga takut. Melihat ketakutan di wajah wanita itu, Cicit langsung mengambil alih.


"Ibu! Lihat saya! Ibu siapa? Kenapa ibu mengintip seperti tadi?" Cicit bertanya dengan lembut.


"Sa... Sa... Sa... ya... hanya melihat acara kalian yang seru!"


"Ibu, bisakah ibu berkata jujur? Saya tahu ibu berbohong! Jika ibu jujur saya janji akan coba bantu ibu!" Cicit berusaha meyakinkan ibu itu untuk berkata jujur.


Tiba-tiba saja ibu itu bersimpuh di hadapan Cicit dan memegangi kakinya. Air matanya tumpah begitu saja.


"Maafkan saya nak! Saya hanya ingin melihat anak saya!" Yusuf dan Cicit terkejut dengan pernyataan ibu itu. Mereka saling berpandangan.


"Siapa anak yang ibu maksud?"


"Zily!" Yusuf dan Cicit benar-benar sangat terkejut mendengarnya.


"Kamu ibunya Zily?" Yusuf sangat penasaran dengan wanita di hadapannya.


"Ya! Saya ibu kandungnya!" Yusuf makin terkejut karena menurut Zily ibunya sudah membuangnya.

__ADS_1


"Zily bilang ibu kandungnya sudah membuangnya!"


"Itu bukan saya! Wanita itu sudah menyamar menjadi diriku! Hari itu saat suamiku pergi ke luar kota dan Zily sedang di rumah neneknya, wanita gila itu datang ke rumah lalu membekap mulutku dengan obat bius. Saat sadar aku sudah berada di tempat kumuh. Aku berusaha mencari jalan pulang. Saat tiba di sana aku melihat wanita itu sudah menjadi diriku. Dia menyamar menjadi aku. Aku sadar sudah tak ada jalan. Aku hanya bisa mengawasi dari jauh!" Ibu itu menjeda ceritanya.


"Suatu hari aku melihat wanita itu membawa Zily dan kedua anjingnya pergi ke taman bermain. Tak ku sangka ternyata dia meninggalkan Zily di sana. Aku tidak berani mendekati Zily takut dia membenciku jika melihatku. Aku hanya membelikan makanan saja sambil mencari tempat berlindung untuknya. Sampai akhirnya aku melihat rumah ini dan melihat seorang pemuda keluar dari sini. Aku memberitahunya bahwa ada anak kecil yang membawa 2 anjing sedang sekarat. Aku bersyukur kalian mau membawa dan merawatnya. Sudah beberapa bulan ini aku tidak melihatnya. Aku mencari pekerjaan dan akhirnya diterima di perusahaan katering yang sekarang sedang kalian nikmati makanannya. Tak menyangka jika kliennya adalah kalian. Aku senang melihat Zily hari ini. Dia sangat sehat dan ceria." Ibu Zily menutup ceritanya.


Yusuf menatap Cicit. Cicit mengerti maksud tatapan Yusuf. Cicit menjamin bahwa ibu itu tidak berbohong.


"Ibu tunggu di sini sebentar ya! Jangan ke mana-mana!" Cicit membawa Yusuf keluar kamar.


"Aku tidak melihat kebohongan di matanya saat bercerita tadi. Jika tidak percaya kita bisa lakukan tes DNA! Bukankah kamu juga sedang mencari keluarga Zily? Aku ingat, Zily pernah cerita waktu dia dibuang dulu ada ibu yang selalu membelikan makanan untuknya. Hanya saja ibu itu selalu menutup wajahnya. Jadi, Zily tidak bisa berterima kasih." Cicit membuka obrolan.


"Kamu benar juga! Sebaiknya memang melakukan tes DNA untuk memastikannya. Setidaknya ada kemajuan untuk masalah Zily! Aku minta tolong, besok kamu bawa Zily dan ibu itu untuk tes!"


"Siap!" Kini mereka masuk kembali ke kamar.


"Ibu, kami akan bantu ibu untuk menyelesaikan masalah ini! Besok ibu bisa datang ke rumah sakit X untuk melakukan tes DNA? Kami perlu bukti jika ibu benar ibunya Zily! Jika ada bukti kami bisa bantu ibu kembali bersama Zily. Bagaimana?" Cicit menawarkan solusi.


"Iya! Saya bersedia!" Ibu Zily sangat senang mendengar Cicit mau membantunya.


"Kalau boleh tahu siapa nama ibu?" Yusuf penasaran dengan ibu itu karena sepertinya dia pernah melihat ibu itu sebelumnya.


"Namaku Nadia Wijaya. Istri dari Roger Waltz!" Yusuf pernah mendengar nama Waltz. Itu merupakan partner kerja untuk proyek yang akan datang.


"Pak, bisakah kalian memberikan kue ini untuk Zily? Saya membuatnya sendiri! Hari ini ulang tahun Zily!" Yusuf menerima kue tersebut. Ibu Zily pamit karena sebagian rekan katering akan pulang.


Yusuf dan Cicit kembali ke halaman belakang sambil membawa kue ulang tahun Zily.


"Ayo semuanya kumpul! Abang bawa kue! Zily kemari! Ini abang bawakan kue ulang tahun untuk Zily!" Zily langsung menghambur ke pelukan Yusuf.


Cicit membuka bungkus kue itu. Zily melihat kue ulang tahun yang cukup besar dengan gambar 2 anjing di atas kue itu. Zily jadi teringat pada permintaannya kepada mamanya untuk ulang tahunnya tahun ini. Dia minta dibuatkan kue ulang tahun dengan gambar 2 anjing di atasnya.


Mama? Zily.


Zily langsung membuat permohonan. Setelahnya langsung memotong kue dan memakannya. Rasa yang sama yang pernah dia rasakan saat memakan kue buatan mamanya. Zily tanpa sadar menangis dan memanggil mamanya.


"Mama!" Yusuf yang melihat Zily menangis langsung memeluknya. Yusuf bersama Cicit membawa Zily ke dalam rumah. Anak-anak yang lain diminta untuk tetap di sana dan melanjutkan pesta.


Kini mereka ada di ruang tamu. Yusuf mendudukkan Zily di sofa. Cicit mengusap air mata Zily.


"Bang? Abang beli dimana kuenya?" Zily bertanya tiba-tiba.


"Abang pesan sama katering sekalian!"


"Tadi mama ke sini ya?" Yusuf dibuat terkejut sekaligus bingung mau menjawab. Cicit yang melihat kepanikan di wajah suaminya langsung bertanya kembali.


"Kenapa Zily pikir mama ke sini?"


"Soalnya kue itu sama dengan kue yang Zily minta sebelum pergi ke rumah nenek. Rasanya juga sama dengan kue buatan mama yang biasa Zily makan!" Mendengar jawaban Zily, Cicit makin tidak bersedia berbohong. Sebelum itu dia harus memastikan sesuatu.


"Apa Zily benci sama mama?"


"Zily benci sama mama yang membuang Zily tetapi Zily tidak benci sama mama yang membuat kue ini!" Cicit masih agak bingung dengan pernyataan Zily.


"Maksud Zily gimana?"


"Bang Ucup! Sebenarnya Zily tidak dibuang! Zily yang tidak mau ikut pulang!"


"Maksudnya gimana?" tanya Yusuf sambil memangku Zily.


"Waktu itu setelah Zily selesai buang air. Zily dengar mama lagi telepon dengan seseorang. Mama bilang kalau mau meninggalkan Zily di taman bermain. Zily sempat pikir mama jahat. Tapi Zily tahu kalau itu bukan mama, waktu wanita itu bilang, " Buang ibunya saja mudah apalagi buang anaknya. Nanti kan tinggal bilang kalau Zily hilang. Sudah dicari gak ketemu! Dengan begitu sudah tidak ada lagi pengganggu antara aku dan Mas Roger. Makanya waktu itu Zily sembunyi. Cuma salahnya Zily waktu itu, Zily gak bawa uang untuk kabur. Akhirnya Zily jadi gembel! Untung ada abang yang nolong Zily!" Yusuf memeluk Zily dengan erat.


Akhirnya permasalahan Zily mendapati titik terang.

__ADS_1


__ADS_2