
Setelah pertanyaan yang tak terjawab di Hari Minggu itu, keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai Cicit mengirimkan pesan kepada Yusuf perihal kedatangan orang tuanya yang dipercepat.
Dari: Cicit
Assalamualaikum Pak Yusuf! Saya ingin memberitahukan bahwa keluarga akan berangkat Jumat sore. Kemungkinan akan sampai ketika waktu makan malam. Terima kasih.
Setelah mendapat pesan itu, Yusuf memerintahkan Joni untuk memberitahu pelayan untuk mempersiapkan semuanya di Hari Jumat. Yusuf juga tidak lupa membalas pesan Cicit.
Kepada: Cicit
Terima kasih infonya. Saya sudah meminta pelayan untuk menyiapkan semuanya di Hari Jumat.
Yusuf segera pulang ke rumah untuk membicarakan kedatangan orang tua Cicit ke rumah singgah. Dia lupa untuk bercerita tentang hal itu ketika makan malam kemarin. Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Yusuf mulai membuka pembicaraan.
"Ma, Jumat besok keluarga Cicit akan datang ke rumah singgah."
"Bagus dong! Berarti Cicit menuruti saran mama untuk menghubungi keluarganya." Aiu menjawab santai. Tetapi ada yang tersedak setelah mendengar itu. Yusuf sedang minum teh saat Mama Aiu bicara tadi.
"Ada apa sebenarnya?" Yusuf sangat penasaran. Pasalnya setelah Mama Aiu bicara dengan Cicit kemarin, Yusuf belum sempat bertanya lagi.
"Cicit itu kabur dari rumah karena mau dijodohkan sama kakeknya. Dia kabur demi Si Leika! Bahkan selama kabur belum menghubungi keluarganya. Kemarin Mama kasih saran untuk menghubungi mereka. Sepertinya mereka sudah baik-baik saja!"
"Kabur? Perjodohan? Astaghfirullah! Aku tidak tahu kalau Cicit kabur demi menghindari perjodohan."
"Kamu salah! Dia kabur demi mencari Si Leika!" Mama Aiu membuat penegasan.
"Mama salah! Yang dicari itu Ucup bukan Leika! Cicit sendiri yang bilang sama Ucup! Terus Si Leika itu siapa?" Yusuf berharap mamanya memberitahu tentang Leika.
"Ucup? Bukannya Leika ya? Apa mama salah dengar ya? Perasaan kemarin dia gak sebut nama Ucup kok. Kemarin itu Cicit menunjukkan barang yang ditinggalkan sama Leika kok! Disitu jelas-jelas tertulis nama Leika!" Mama Aiu pura-pura bingung.
"Wah kamu senang dong karena masuk daftar pencarian Cicit!" Kini giliran Papa Andre yang meledek.
"Ya ada senangnya juga sih! Cuma masih penasaran sama Si Leika tadi. O ya pa, Jumat besok ayah, ibu, dan kakeknya Cicit akan menginap di rumah singgah. Gimana kalau kita menginap di sana juga?"
"Wah kebetulan banget ya kita gak bisa ikutan!" Andre memberi harapan palsu.
"Yah papa, kirain tadi bisa ikutan!" Yusuf agak kecewa.
"Habis tadi Kakek Adrian menyuruh papa sama mama datang ke villa untuk membicarakan perjodohan kamu sama cucu dari rekan bisnisnya."
"Apa? Ucup mau dijodohin? Kan dah ada kesepakatan kalau Ucup tidak mau dijodohkan. Kenapa bisa muncul ide begitu sih? Ah sebal!" Wajah Yusuf memberengut.
"Kamu tenang saja! Kedatangan papa sama mama ke sana mau menolak perjodohan itu. Karena sepertinya anak papa sudah kecantol sama Ibu Guru Cicit!" Nadre tidak segan meledek anaknya. Sampai-sampai wajah Yusuf memerah menahan rasa malu.
"Ih papa bisa aja! Kan masih ada Sri, pa!" Yusuf mengalihkan pembicaraan.
"Apa kamu yakin sama Sri? Sudah 15 tahun kamu cari tapi belum ketemu. Memang yang namanya Sri banyak tapi yang bisa memanah itu tidak ada. Papa tahu semuanya. Kamu tetap mencari meski kamu sedang di Jepang sana. Sudah cukuplah Cup! Lebih baik kamu lihat yang di depan mata saja. Kamu renungkanlah baik-baik!" Andre memberikan kebimbangan yang besar di hati Yusuf.
"Nantilah pa! Nanti Ucup akan pertimbangkan saran papa!" Yusuf sedikit mengalah kali ini.
"Vila yang mau dikunjungi nanti vila di Desa Cigenting ya? Yang di kota B itu kan?"
__ADS_1
"Iya! Kenapa?" Andre bertanya sambil menyuapkan kacang ke dalam mulutnya.
"Seingat Ucup itu nama desanya sama dengan yang ada di alamat Cicit. Kemarin Ucup sempat minta Joni untuk membawakan CV Cicit, terus Ucup baca, nama desanya sama. Ucup juga sudah minta Joni untuk mencari latar belakang Cicit. Ternyata Cicit dari keluarga militer. Ayah dan kakeknya seorang jendral. Ibunya juga mantan KOWAD."
"Teruskan! Papa mau dengar!"
"Nama kakeknya Jendral Krishna Wirabuana. Ayahnya Bimasena Arya Wirabuana. Ibunya Larasati Humaira Dinata. Cicit juga punya adik laki-laki, namanya Cakra Prabu Wirabuana. Adiknya juga masuk militer. sekarang pangkatnya sudah Letkol."
"Beugh! Sungguh keluarga yang menarik!" Papa Andre berdecak kagum.
"Iya pa! Soalnya waktu pertama ketemu, Joni pernah bilang bahwa perawakan Cicit seperti pernah berlatih di militer meski dia bukan orang militer."
"Kamu hati-hati sama Cicit! Jangan sampai bikin dia marah! Papa rasa kalau dia marah kamu bisa dihajar sama dia!"
"Udah kejadian pa! Ucup dicubit sampai meninggalkan bekas merah. Untung jas Ucup tebal, kalau gak bisa berdarah mungkin."
"Kok bisa kamu dicubit?" Mama Aiu penasaran.
"Itu semua gara-gara mama sama papa yang kalau ngomong suka ceplas-ceplos. Ngapain sih pakai ngomongin makan banyak segala? Meski itu fakta yang namanya cewek kan malu kalau disinggung soal itu di pertemuan pertama. Gimana sih?" Yusuf jadi bersungut ketika mengingat kejadian kemarin.
"Hahahaha! Maaf! Habis mama rasanya kayak udah kenal lama banget sama Cicit jadi lupa kalau itu makan malam pertama. Hahahaha!" Mama Aiu sangat santai menjawab membuat Yusuf jadi makin kesal.
"Ih mama ini ya!" Yusuf membuang wajahnya ke kiri.
"Iya mama Minta maaf! Titip salam ya untuk keluarga Cicit. Berarti nanti kamu nginap dong di rumah singgah?"
"Pastinya ma! Masa ada tamu penting begitu Ucup gak temenin. Lagipula Ucup merasa pernah melihat ayah dan ibu Cicit sebelumnya deh! Tapi dimana ya?"
"Beneran pa! Ucup gak mungkin salah ingat. Dimana ya? Hmmm...!" Ucup masih berusaha mengingatnya.
Tiba-tiba saja, "Ah! Ucup ingat sekarang!" Perkataan Ucup itu membuat kaget Papa Andre yang sedang minum susu. Alhasil susunya tumpah ke bajunya. Ucup tertawa melihat papanya kebasahan karena tumpahan susu.
"Terus saja tertawa!" Andre jadi kesal karena bajunya yang basah. Mama Aiu mengelap sisa tumpahan. Lalu pergi ke kamar untuk mengambil baju baru.
"Maaf, pa! Ucup kan gak sengaja! Ucup ingat pernah ketemu mereka waktu dulu ketika Ucup mencari Sri untuk pertama kalinya di Desa Cigenting! Ucup ketemu mereka di warung gado-gado. Itu lho pa! Gado-gado dari warung Nek Mun yang enak itu! Iya Ucup ketemu mereka di sana! Tahu gak pa! Ucup masa ditanya-tanya sama ayahnya Cicit karena calon mertua nanya calon mantu gitu."
"Kok bisa? Emangnya nanya apa aja?" Andre penasaran.
"Ayahnya Cicit bilang emangnya kamu yakin mau melamar Sri sekarang? Kamu bahkan belum ketemu sama orangnya. Memangnya kamu yakin bisa setia? Kita tidak tahu takdir jodoh gimana nanti. Apa kamu mau terus ngejar seandainya nanti Sri sudah sama orang lain. Apa kamu mau jadi pebinor?"
"Melamar? Kamu beneran waktu itu mau melamar?"
"Iya beneran lah pa! Ucup bahkan sudah bawa cincin segala. Sayang cincinnya hilang. Kan kata papa kalau kita punya niat baik harus disegerakan."
"Hebat! Betul itu! Terus kamu jawab apa?"
"Yakinlah pak! Wah kalau saya ketemu orangnya sekarang, saya jaminkan bahwa saya akan setia. Saya ini dari keturunan keluarga bucin! Tapi jika nanti kami tidak berjodoh, saya akan menyerah! Gak mau jadi pebinor! Tapi kalau nunggu jandanya boleh juga! Ayahnya Cicit juga bilang kalau Ucup kurus dan tidak kuat! Katanya tidak cocok untuk Sri!" Yusuf terdiam tiba-tiba. Wajahnya memucat. Papa Andre dan Mama Aiu yang melihat wajah Yusuf berubah tiba-tiba jadi cemas.
"Kamu kenapa kok tiba-tiba diam?" Andre cemas melihat Yusuf yang tiba-tiba terdiam.
"Ya Allah pa! Kok Ucup bodoh banget ya! Ucup gak sadar kalau sebenarnya Ucup sudah menemukan Sri sejak lama."
__ADS_1
"Maksudmu?" Andre tidak paham maksud ucapan Yusuf.
"Pa, ternyata orang tua Cicit adalah orang tua Sri! Berarti Cicit adalah Sri, pa!" Yusuf sangat bersemangat sekarang.
"Kok kamu yakin banget kalau Cicit adalah Sri?"
"Iya pa! Soalnya ayahnya Cicit pernah bilang kan kalau Ucup ini kurus dan tidak kuat! Tidak cocok untuk Sri! Lagi juga cuma orang tua Sri yang bisa mengatakan hal itu! Pantas saja Ucup ditanya-tanya kayak gitu. Benar kan pa?"
"Hmmm... bisa jadi! Tapi kamu harus memastikannya sendiri!" Andre memberi saran.
"Kalau gitu besok pas keluarga Cicit datang, Ucup akan melamar lagi pa!" Yusuf sangat bersemangat sekali.
"Kamu yakin? Gak takut ditolak lagi?" Kini Mama Aiu meyakinkan.
"Gak lah ma! Kalau ditolak ya usaha lagi sampai diterima. Lagi juga Ucup sama Cicit, eh Sri! Kan sama-sama suka!"
"Lawan kamu orang militer lho!" Mama Aiu menakut-nakuti.
"Kalau orang militer kenapa? Kita pebisnis juga punya cara sendiri. Iya kan, pa!"
"Nah itu baru anak papa! Papa akan dukung!" Andre juga sangat senang bahwa kelak Cicit akan menjadi menantunya.
"Nah! Kalau gitu kamu harus pastikan bahwa Cicit harus menjadi menantu Keluarga Winata!" Mama Aiu juga mendukung.
"Siap bos!"
"Kenapa Cicit pakai nama Sri segala sih?" Yusuf masih penasaran.
"Mungkin karena kamu telah dianggap spesial sama dia, makanya dia ingin dipanggil Sri bukan Cicit!" Mama Aiu hanya menebak saja.
"Oh gitu ya ma! Berarti Ucup sangat spesial dong!" Yusuf tersenyum lebar.
"Kamu sebaiknya persiapkan diri kamu dengan baik. Jika kamu bisa mengingat mereka. Tidak mungkin mereka tidak mengingat kamu! Ada kemungkinan kamu akan diuji lagi kali ini! Sebaiknya jangan mengecewakan mereka!" Andre memberi saran lagi.
"Siap papa bos! Nanti Ucup minta latihan dan saran tambahan sama Joni! O ya pa! Kemarin waktu Joni menyerahkan info tentang keluarga Cicit ada yang aneh sama dia. Ucup sekilas melihat dia tersenyum saat membaca data riwayat hidup Cicit. Apa Joni ada hubungannya dengan keluarga Cicit?"
"Dulu waktu papa bertanya sama Joni tentang keluarganya, dia bilang masih ada keluarga jauh. Cuma saat ini dia mau menyelesaikannya sendiri. Gak mau merepotkan mereka. Dia juga bilang meski dia tidak minta bantuan pun, mereka pasti sedang mencarinya. Keluarga jauhnya juga orang militer. Ya kemungkinan itu pasti meski hanya 0,1%."
"Wah gawat ini urusannya! Kalau benar Joni masih keluarga Cicit, ada saat dimana nanti Ucup harus diuji sama dia!" Yusuf agak cemas.
"Apa kamu takut?"
"Ya gak lah! Masa takut sama Joni! Cuma kan masa murid melawan gurunya?"
"Ya gak apa-apa dong! Itu untuk menunjukkan seberapa besar kemampuan kamu! Guru juga perlu menguji muridnya apalagi kalau menyangkut keponakan yang mau dilamar, hihihi!" Mama Aiu makin menakut-nakuti.
"O ya Cup! Jangan lupa Jumat besok suruh Joni untuk menginap di sini! Jaga kandang biar Si Pengganggu tidak datang!"
"Tenang aja pa! Beres itu! Ucup ke kamar dulu ya pa, ma!" Yusuf pergi meninggalkan mereka berdua.
Sesampainya di kamar Yusuf tidak langsung tidur. Pria bujang lapuk itu tersenyum terus. Dirinya tidak menyangka bahwa wanita yang dicarinya selama ada bersamanya sebulan ini. Yusuf sangat bersyukur bahwa Cicit adalah Sri.
__ADS_1