BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 11. Kangen


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan Mama Aiu tadi sore, Cicit memutuskan untuk berkomunikasi kembali dengan orang tuanya. Gadis berambut panjang itu mengambil kembali hape yang ada di dalam tasnya. Tombol power ditekan, tak lama layar hape hidup dan bermunculan pesan-pesan yang dikirim ayah dan ibunya. Cicit membaca satu per satu pesan itu. Tanpa sadar air matanya jatuh. Rasa rindu juga haru bercampur jadi satu. Akhirnya Cicit berani untuk menghubungi orang tuanya.


Ring.... Ring... Ring... Suara panggilan telepon di hape Laras. Laras yang saat itu sedang berada di ruang tamu bersama Bima dan Papa Krishna sangat senang saat melihat nama orang yang menelepon. Ibu dua anak itu langsung mengangkat panggilan itu. Tak lupa memencet tombol loudspeaker agar terdengar oleh Bima dan Papa Krishna.


"Assalamualaikum anak ibu yang cantik!" Bima dan Krishna langsung mendekati Laras begitu mendengar Laras mengatakan anak ibu yang cantik.


"Waalaikumsalam ibu! Bu... Cicit kangen sama ibu!" Air mata Cicit jatuh begitu saja. Rasa rindu selama satu bulan ini begitu tak terbendung.


"Kamu cuma kangen sama ibu saja? Sama ayah gak kangen?" Cicit terkejut saat mendengar suara Bima.


"Sama kakek gak kangen juga?" Jendral Krishna tidak mau kalah.


Cicit tidak menyangka jika ayah dan kakeknya berada di situ. Air matanya makin jatuh.


"Cicit juga kangen sama ayah dan kakek! Ayah ganti ke video call saja ya! Cicit mau lihat wajah ayah, ibu, dan kakek!" Cicit langsung menekan tombol video agar bisa melihat ayah dan ibunya.


Tak lama panggilan video tersambung. Cicit melihat ayah, ibu, dan kakeknya di layar. Rasa bahagia tergambar jelas di wajahnya. Rasa rindu selama sebulan ini membuncah begitu saja. Air matanya tak berhenti mengalir.


"Ayaaah! Ibuuu! Kakek! Cicit kangen sama kalian! Hiks... Hiks... Hiks! Maafkan Cicit, yah, ibu, kakek!" Cicit menangis sesenggukan. Rasa bersalah juga kangen bercampur jadi satu.


"Ayah, ibu, dan kakek sudah memaafkanmu! Kamu kan bisa bicara baik-baik tentang masalah ini! Toh kami juga tidak akan memaksamu jika tidak berkenan!" Laras berkata dengan lembut tapi tegas.


"Iya bu! Maafkan Cicit! Habis kalau Cicit bilang mau cari Ucup pasti nanti ayah gak bakal kasih ijin!" Wajah Cicit menunduk tak berani menatap Bima. Suaranya juga terdengar sedih dan kecil.


Bima menghela napas kasar. "Maafkan ayah nak! Bukannya tidak kasih ijin, tapi itu kan sudah 15 tahun berlalu, mau cari dimana? Kamu hanya tahu namanya saja. Ucup. Nama Ucup banyak. Bukankah kamu sudah periksa sendiri tidak ada dari sekian nama Ucup yang sesuai dengan penggambaran Ucupmu! Ayah hanya tidak ingin kamu membuang waktumu untuk masa lalumu!"


"Cicit ngerti yah memang agak mustahil. Tapi perasaan Cicit ini gak bisa bohong! Cicit ingin memastikan perasaan ini. Meski nanti kenyataan akan berbeda. Cicit akan terima dan menyerah pada saat itu. Tapi, untuk sekarang ini, Cicit mohon, ijinkan Cicit untuk mencari Ucup! Lagipula Mama Aiu sudah bilang akan membantu Cicit." Cicit masih bersikeras dengan pendiriannya. Akhirnya hal yang ingin dikatakannya selama ini tersampaikan.


"Siapa Mama Aiu? Haduh, ibu jadi cemburu nih!"


"Mama Aiu itu ibunya yang punya rumah singgah. Tempat Cicit tinggal sekarang. Tadi sore kami berbincang. Mama Aiu mau Cicit jadi menantunya. Cicit bilang kalau ada orang yang disukai. Mama Aiu tidak marah malah mau membantu Cicit menemukan Ucup."


"Kok bisa?" Laras penasaran dengan Mama Aiu yang tidak marah saat ditolak.


"Mama Aiu bilang cinta tidak bisa dipaksakan! Jika tidak mau ya sudah! Gitu katanya, bu! Mama Aiu bijak banget, sama kayak ibu! Gak kayak yang di samping ibu itu tu! Ngeremehin banget sama yang namanya Ucup!" Cicit menyindir Bima.


"Oh gitu! Kapan-kapan ibu mau ketemu sama Mama Aiu! Kayaknya bakalan cocok deh! Oh ya, kamu tinggal di mana? Mama mau ke sana!" Laras sangat penasaran dengan Aiu.


"Cicit tinggal di rumah singgah di Jakarta, bu. Cicit mengajar anak jalanan di sini, bu! Gajinya besar banget bu! Cicit dapat tempat tinggal juga makan gratis! Pokoknya fasilitasnya oke banget! Ownernya baik banget bu! Ganteng lagi!" Cicit sangat senang saat bercerita tentang rumah singgah.


"Kalau ibu mau ke sini boleh sih tapi Cicit harus kasih tahu Pak Yusuf dulu! Soalnya kan dia yang punya tempat ini! Kalau dia kasih ijin, nanti Cicit kasih tahu ibu! O ya bu, di depan rumah singgah banyak orang jualan makanan. Makanannya enak-enak! Kalau ibu datang nanti kita makan di sana ya!" Cicit bercerita dengan senang hati.


"Benarkah? Wah kayaknya seru deh!" Laras tersenyum menanggapi anaknya yang bercerita seperti anak kecil. Cicit yang seperti itulah yang dirindukan Laras selama sebulan ini.


"Ayah boleh ikut kan? Ayah sudah lama gak jalan-jalan nih?!" Bima meminta untuk ikut.


"Kakek juga mau dong! Kakek juga kangen sama cucu kakek yang satu ini! Gak ada kamu sepi!" Kakek merayu Cicit agar bisa ikutan juga.


"Papa apa-apaan sih!? Ikut-ikutan aja deh!" Bima tak terima jika papanya juga ikut.

__ADS_1


"Ya udah deh, ayah sama kakek juga boleh ikut! O ya yah, di sini ada arena memanah juga! Cicit bisa ngajarin anak-anak memanah! Ada kolam renang juga arena outbond. Pokoknya seru deh! Pak Yusuf baik banget deh yah! Dia menampung anak jalanan di sini, ngasih pendidikan gratis, gak ngebolehin mereka di jalanan lagi. Pak Yusuf cuma mau mereka fokus mempersiapkan diri untuk masa depan. Mereka diberi bekal gak hanya akademisnya, tapi juga skill lainnya juga. Kalau gak ada Ucup mungkin Cicit udah jatuh cinta sama Pak Yusuf!" Cicit keceplosan.


"Emang seganteng apa Yusuf itu? Masih gantengan ayah kan?! Pasti ayah masih lebih keren dari Yusuf itu kan?!" Bima tak terima anak perempuannya memuji laki-laki lain di hadapannya.


"Ayah masih ganteng sih meski udah ada keriputnya! Haha!" Cicit meledek ayahnya.


"Kamu itu ya! Awas aja ya kalau ketemu nanti! Ayah kasih pelajaran nanti!" Bima membalas ledekan anaknya. Suasana yang sangat dirindukan Bima kembali lagi.


"Eh, kamar kamu besar banget ya! Terus bagus gitu! Kok kayaknya, kamu diperlakukan spesial deh sama Yusuf itu?" Kini giliran kakek yang meledek Cicit.


"Ish kakek apaan sih?! Biasa aja kok kek!" Cicit merasa malu, wajahnya menunduk, pipinya merona.


Mereka terus berbincang dan bercanda selama satu jam. Melepas kerinduan selama sebulan. Percakapan berhenti saat Cicit mendengar suara ketukan pintu.


"Ya, sebentar! Yah, Cicit mau buka pintu dulu, jangan dimatikan dulu!" Cicit bergegas membuka pintu. Cicit terkejut saat melihat siapa yang mengetuk pintunya. Terlebih saat ini dia sedang memakai piyama.


"Ada apa Pak Yusuf?" Mendengar nama Yusuf disebut Bima penasaran dengannya. Belum lagi Yusuf menjawab pertanyaan Cicit, Bima sudah lebih dulu menyela.


"Siapa itu, Cit?" Yusuf terkejut mendengar suara laki-laki. Hatinya agak panas. Cicit yang melihat ekspresi Yusuf langsung menjelaskan.


"Maaf, Pak Yusuf! Itu suara ayah saya! Saya sedang video call dengan mereka." Hati Yusuf sedikit lega.


"Maaf, saya mengganggu!" Yusuf jadi tidak enak hati.


"Cit, kamu bicara sama siapa?" Bima tak berhenti penasaran karena dia mendengar suara laki-laki. Cicit jadi tak enak hati karena ke-kepo-an ayahnya. Karena kesal dengan sikap ayahnya, akhirnya Cicit mengganti kamera depan dengan kamera belakang, sehingga menampilkan wajah Yusuf yang berdiri di depan pintu.


"Maaf, Pak Yusuf! Ayah saya kepo! Pengen tahu Pak Yusuf!" Cicit sangat tidak enak hati kepada Yusuf.


Ketemu calon mertua, hihihi. Yusuf.


"Sini hape kamu, biar saya bicara sama orang tua kamu!" Yusuf mengambil hape Cicit dan mengaktifkan kembali kamera depan. Kini mereka saling berhadapan.


"Assalamualaikum! Perkenalkan saya Yusuf Mahardika Winata! Saya pemilik rumah singgah tempat Cicit bekerja." Yusuf tersenyum menampilkan gigi putihnya yang rapi.


"Waalaikumsalam! Ya ampun! Seperti nama kamu, kamu ganteng banget!" Laras tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Bima sangat cemburu melihat Laras memuji Yusuf. Yusuf hanya tersenyum dipuji Laras.


"Saya Laras, ibunya Cicit! Ini Bima, ayah Cicit! Yang itu Kakek Krishna! Kamu ada perlu apa sama Cicit?" Laras langsung to the point.


"Maaf sebelumnya. Saya diminta mama untuk menjemput Cicit ke rumah. Mama mengajak Cicit untuk makan malam di rumah. Apakah bapak dan ibu mengijinkan?" Yusuf meminta ijin kepada Laras dan Bima.


Saat itu Bima hendak menjawab tidak tetapi cubitan Laras lebih cepat dari kecepatan suara Bima. Bima berhenti, tidak jadi menjawab. Berbeda dengan Cicit yang saat ini sedang merasakan debaran jantungnya yang berdetak sangat cepat. Cicit merasa aneh dengan dirinya saat ini.


"Ya, silakan! Nanti tolong diantar lagi ya! Btw, kami sekeluarga ingin berkunjung ke tempat Cicit, apakah dibolehkan?" Laras langsung gerak cepat untuk meminta ijin berkunjung.


"Ya, bu! Saya akan antar Cicit pulang kembali! Saya juga mengijinkan ibu sekeluarga untuk berkunjung. Kapan ibu akan ke sini? Biar kami siapkan tempat nanti. Ibu mau menginap di sini atau di hotel? Biar saya siapkan nanti." Yusuf senang karena orang tua Cicit akan berkunjung. Entah kenapa Yusuf merasa pernah merasakan momen yang sama seperti saat ini. Tapi dirinya tidak ingat.


"Terima kasih banyak nak Yusuf! Gak usah repot-repot! Kami akan berkunjung Sabtu depan. Kami menginap di situ saja bersama Cicit. Cicit bilang makanan yang di jual di depan rumah singgah enak-enak. Jadi biar kami coba nanti!" Laras jadi bersemangat untuk segera pergi.


"Oh, baiklah kalau begitu! Nanti saya beritahu pelayan kalau ibu sekeluarga akan datang. Saya akan minta mereka menyiapkan kamar untuk kakek dan juga ibu. Kalau begitu Sabtu besok ibu, Cicit, dan keluarga juga anak-anak rumah singgah silakan makan gratis di semua gerai makanan di depan rumah singgah. Itu sebagai bentuk ucapan terima kasih saya untuk kerja keras Cicit yang sangat luar biasa. Berkat Cicit perilaku anak-anak menjadi lebih baik. Terima kasih karena ibu sudah melahirkan anak yang begitu hebat!" Yusuf berterima kasih dengan tulus.

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu sungkan untuk itu! Itu sudah merupakan tugas dan tanggungjawab Cicit! Kalau begitu kita sudahi saja percakapan ini? Kasihan mama kamu menunggu lama! Salam untuk mama kamu ya! Assalamualaikum!" Laras mematikan panggilan video.


Yusuf memberikan kembali hape Cicit. Cicit menerima hape itu. Cicit senang karena Yusuf sudah memberikan ijin keluarganya untuk berkunjung.


"Pak Yusuf terima kasih untuk ijinnya. Terus saya minta maaf atas ketidaksopanan keluarga saya tadi!" Cicit menundukkan wajahnya karena malu.


"Kamu kenapa berkata begitu? Wajar saja jika orang tuamu bersikap seperti itu. Itu tandanya mereka sayang padamu. Lagipula wajar sikap mereka seperti itu jika ada laki-laki tiba-tiba berdiri di depan kamar anaknya. Saya juga akan melakukan hal yang sama kalau di posisi mereka. Sudahlah! Tidak apa-apa! Kamu segera ganti baju ya! Saya tunggu di teras!" Yusuf berlalu pergi meninggalkan kamar Cicit.


Cicit sebenarnya merasakan debaran jantungnya sangat cepat saat Yusuf meminta ijin pada ayah ibunya tadi. Padahal minta ijin untuk pergi makan malam tetapi rasanya seperti minta ijin ketika dilamar. Cicit segera berganti baju.


Setelah percakapan itu, Bima mencoba mengingat-ingat dimana dirinya pernah bertemu dengan Yusuf. Meski agak beda tetapi sensasinya tetap sama.


"Kamu kenapa, sayang? Sepertinya kamu mengingat sesuatu ya?" Laras mencoba menebak.


"Kamu memang paling mengerti aku! Aku seperti pernah bertemu dengan anak itu tapi di mana ya?" Bima masih belum mengingatnya. Laras masuk ke kamar kemudian keluar lagi dengan membawa sebuah benda.


"Mungkin kamu akan mengingatnya setelah melihat benda ini!" Laras meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja. Bima melihat kotak itu dan masih tidak ingin mempercayai kenyataan. Bima menoleh ke arah Laras mencoba untuk mencari jawaban bahwa itu tidak benar. Pria paruh baya itu melihat Laras mengangguk bahwa apa yang dipikirkannya adalah kebenaran.


"Ya Allah! Apa ini memang sudah takdir?" Bima masih berusaha untuk percaya.


"Bagaimana? Apa kamu sudah terpesona atau terkesima melihat penampilannya sekarang?" Laras meledek Bima.


Bima harus akui bahwa perkiraannya selama ini adalah kesalahan. Anak yang dulu dia hina sebagai orang lemah kini telah menjadi sangat kuat dan tampan. Berbeda dari saat dia dulu kecil. Mendengar dari apa yang dikatakan Cicit bahwa saat ini pria itu sudah sangat sukses. Pria kecil itu menepati ucapannya dulu. Pria itu juga sangat sopan dan tahu bagaimana bersikap di depan orang tua.


"Apa sekarang kamu menyesal?" Laras meledek lagi. Bima masih terdiam.


"Ada apa sih? Kayaknya seru nih!" Jendral Krishna sangat penasaran dengan apa yang terjadi saat dirinya ke kamar kecil tadi. Pasalnya setelah kembali dari kamar kecil, pria tua itu mendapati wajah anaknya yang berubah menjadi aneh.


"Ini lho pa! Bima masih gak mau mengakui calon mantu!" Laras berbicara tanpa basa-basi.


"Calon mantu? Siapa? Yang mana?" tanya Jendral Krishna makin penasaran.


"Ya ampun papa! Itu yang barusan ngobrol sama kita! Siapa lagi kalau bukan Yusuf Mahardika Winata alias Ucup! Lelaki yang dicari Cicit selama ini!" Laras mengungkapkan kebenaran secara terang-terangan. Sejak awal Laras melihat Yusuf, meski hanya satu kali bertemu langsung, Laras tak mungkin lupa wajahnya.


"WHAT?!! Seriusan!" Wajah Jendral Krishna langsung tersenyum sumringah.


"Ya Allah! Beneran?" Laras hanya mengangguk.


"Laras tidak mungkin salah mengenali orang meski sudah 15 tahun berlalu. Itu memang Ucup!"


"Ya Allah! Pantas saja Cicit menolak 30 calon yang papa kasih, ternyata Ucup seganteng itu! Kecilnya aja ganteng pas gede malah makin ganteng! Kalau gitu kita kasih tahu Cicit saja!" Jendral Krishna sangat bersemangat.


"Jangan dulu pa! Biar waktu yang mempertemukan mereka. Lagipula Laras harus menguji calon mantu. Apakah sudah lebih kuat atau belum?"


"Betul kata Laras! Kita jangan kasih tahu dulu. Bima juga harus menguji Ucup dulu. Lagian Bima masih lebih ganteng, iya kan sayang?" Tangan Bima menowel dagu Laras.


"Kamu emang ganteng tapi sayang sudah keriput!" ledek Papa Krishna.


"Papa lebih keriput lagi!" Bima tidak mau kalah.

__ADS_1


"Wajar lah kan sudah tua! Hahaha!" Bima makin kesal dengan jawaban ayahnya.


Sepertinya aku salah menilaimu dulu. Kini kamu sudah berubah menjadi lebih kuat bahkan tubuhmu lebih tinggi dari Cicit. Aku belum akan mengakuimu jika kamu belum lulus semua ujian dariku. Bima.


__ADS_2