
Masih di hari yang sama, setelah Yusuf meninggalkan kediaman Winata, pria bertubuh tinggi itu tidak pergi ke kantor. Joni mengantarnya ke hotel untuk acara pagi ini bersama Andre dan Mama Aiu. Andre telah merencanakan konferensi pers pagi ini.
Pria paruh baya itu sengaja mengumumkan pernikahan Yusuf dan Cicit sebagai gendrang perang. Dia ingin lihat setelah berita itu keluar siapa saja yang akan bereaksi dan bergerak. Meski resepsi pernikahan akan jadi medan perang, itu sudah resiko. Andre sudah cukup bersabar selama ini, musuh yang ditunggu sudah menampakkan wujudnya. Jadi tunggu apa lagi?!
Ruang konferensi sudah siap. Para wartawan juga sudah datang dan duduk dengan tertib. Andre, Aiu, dan Yusuf sudah memasuki ruangan. Joni juga tak ketinggalan selalu berada di samping Yusuf. Tanpa basa-basi Andre langsung memulai konferensi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Selamat pagi! Salam sejahtera untuk kita semua! Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan wartawan pada konferensi pagi ini. Dalam konferensi ini saya akan mengumumkan pernikahan putra sulung kami, Yusuf Mahardika Winata dengan Citra Srikandi Wirabuana, putri Jendral Bimasena Arya Wirabuana. Akad nikah sudah dilaksanakan senin kemarin. Untuk merayakan kebahagiaan ini kami mengundang rekan sekalian untuk hadir dalam resepsi pernikahan pada Sabtu malam di hotel ini." Andre telah selesai mengumumkan berita.
Tiba-tiba seorang wartawan tunjuk tangan meminta ijin untuk bertanya. Andre memberi ijin dengan menganggukkan kepala.
"Begini Pak Andre, saya ingin mengonfirmasi berita yang beredar kemarin dan menjadi trending topic. Di lini masa online beredar berita bahwa putri Jendral Wirabuana sudah tidak suci lagi. Apakah berita itu benar? Jika benar, apa hal itu tidak membawa dampak buruk bagi perusahaan bapak?"
"Biar saya jawab! Sebelumnya saya tanya kapan berita itu muncul?" Meski geram Yusuf tetap tenang menghadapi wartawan.
"Rabu dini hari!" jawab wartawan itu.
"Baiklah! Saya akan katakan berita itu benar adanya. Istri saya memang sudah tidak perawan di hari berita itu turun karena saya sudah buka segelnya di hari Senin." Sontak semua orang melongo mendengar jawaban Yusuf. Mereka tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari mulut Yusuf.
"Ta... Tapi menurut berita itu, Nona Citra dikabarkan sudah tidak suci sejak berusia belia. Apa Nona Citra melakukan operasi?" wartawan itu terus mencecar dengan pertanyaan lain bertujuan untuk membenarkan berita tersebut.
"Saya pastikan bahwa istri saya, Citra Srikandi Wirabuana masih perawan saat menikah dengan saya! Tidak ada operasi atau semacamnya seperti yang dikatakan berita! Jika setelah konferensi ini masih terdengar berita itu lagi atau kalian yang di sini menulis berita bohong, maka kalian akan merasakan kemarahan saya! Terakhir, mau bagaimanapun Cicit sebelumnya saya akan tetap menikahinya karena saya mencintainya!" Yusuf bicara dengan tegas. Ancamannya bukan main-main. Wartawan itu menelan ludah. Ada gurat ketakutan di wajahnya.
Yusuf Mahardika Winata memang dikenal sebagai orang yang ramah, baik, tegas, dan bicaranya pedas serta ceplas-ceplos. Dia tidak suka jika kebaikannya disalahartikan atau disalahgunakan. Jika berani mengganggunya maka dia tidak segan untuk menghancurkan lawannya.
Pernah kejadian ada seorang wanita, anak dari salah satu rekan bisnis yang hendak jatuh. Yusuf berbaik hati menolongnya. Ternyata wanita itu salah paham dengan kebaikan Yusuf. Wanita itu mengumumkan kepada wartawan bahwa dirinya dan Yusuf sedang berkencan. Yusuf tidak senang dengan berita itu. Pria itu sudah meminta kepada ayah gadis itu agar mengklarifikasi tetapi tidak diindahkan. Akhirnya, Yusuf menarik semua investasi dan saham yang ada di perusahaan itu. Akibatnya perusahaan itu mengalami kerugian besar kemudian bangkrut. Yusuf tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"Apa ada pertanyaan lagi? Jika tidak ada kita akhiri saja pertemuan ini. Jangan lupa untuk hadir di resepsi nanti! Terima kasih!" Yusuf mengakhiri pertemuan.
Andre menghampiri Yusuf dan memberikan pujian. "Jawaban hebat! Papa bangga! Hahaha!" Andre merangkul bahu Yusuf.
"Iya dong pa! Anak siapa dulu coba?" Yusuf menimpali.
"Kalian ini bisa tidak memberikan jawaban yang lebih halus?" Mama Aiu menjewer telinga Andre dan Yusuf.
"Ampun ma! Tapi itu jawaban jujur ma!" Yusuf membela diri.
"Betul itu ma!" Andre ikut membela Yusuf.
"Ya betul tapi kan bisa gitu pakai bahasa halus!" Mama Aiu menghela napas tidak tahu lagi mau berbuat apa dengan anak dan suaminya. Mereka kalau sudah keluar somplaknya gak bisa dicegah.
"Sudahlah ma! Biar jelas semua! Daripada itu ada hal lain yang lebih penting! Itu Si Cuckoo bentar lagi pulang! Mau gimana itu?" Andre mengalihkan pembicaraan.
"Itu biar Cicit saja yang mengurusnya! Mama mau tinggal di hotel saja sampai resepsi nanti! Lagipula untuk resepsi ini kan butuh pengawasan mama!" Aiu sudah malas berhadapan dengan Rachel dan tidak ingin berurusan dengannya lagi.
Sementara itu di sisi dunia lain, waktu masih menunjukkan pukul 21.00 waktu setempat. Seorang wanita muda melempar gelas ke lantai. Emosi wanita itu memuncak setelah menonton siaran konferensi pers yang digelar Andre.
"Sialan! Apa hebatnya wanita itu dibandingkan aku? Kita lihat saja siapa yang akan tertawa di akhir?" Rachel tertawa keras setelahnya.
Wanita itu kemudian menghubungi seseorang. "Apa pria itu sudah ditemukan?"
"Ya Nona!"
"Bawa dia untuk bertemu denganku besok sebelum ke bandara!"
"Siap nona!"
Setelah menelepon pengawalnya, Rachel menelepon Mona. Mona yang saat itu sedang bersama Cicit meminta ijin untuk menjawab telepon. Cicit mengiyakan dan meminta Mona untuk mengeraskan suaranya.
"Halo, Nona Rachel!"
"Mona, kamu dimana? Kenapa lama sekali mengangkat teleponku?"
"Maaf, nona! Tadi aku sedang di rumah utama, aku harus mencari tempat aman sebelum mengangkat telepon. Sekarang sedang di halaman belakang. Di sini aman! Ada perintah apa nona?"
"Kamu bereskan kamarku! Saya akan segera pulang!"
"Maaf, nona! Kamar Nona Rachel yang mana? Kamar tidur di lantai atas atas semuanya sudah terisi. Hanya tersisa beberapa kamar tamu di lantai bawah saja!"
"Maksudmu sudah terisi apa?"
"Maksud saya, kamar tidur di lantai atas hanya ada 4 kamar, kamar tuan dan nyonya besar, kamar tuan muda, dan kamar nona kembar! Bukankah sejak rumah ini dibangun kembali nona belum pernah pulang. Jadi saya tidak tahu kamar nona yang mana?"
__ADS_1
Sialan! Bahkan mereka tidak memberiku kamar pribadi. Rachel.
"Ya sudah nanti saya bilang sama tante agar menyiapkan kamar untukku!"
Tut... tut... tut... Panggilan langsung ditutup.
"Bagaimana ini nyonya? Nona Rachel akan segera pulang? Saya harus bagaimana?" Semenjak mengetahui kebohongan Rachel dan tahu kalau dia adalah pembunuh ibunya, dirinya sudah tidak mau lagi bekerja untuknya.
"Kamu harus bersikap seperti biasanya saja. Biarkan dia mengira kalau kamu masih di bawah kendalinya. Sisanya biar kami yang mengurus. Akan ada hukuman bagi siapa saja yang berbuat jahat, tak terkecuali dia! Yang terpenting bukti sudah di tangan. Hanya perlu membuat dia mengakuinya!" Cicit menyeringai.
Saatnya untuk pembalasan, Rachel! Cicit.
Rachel segera menelepon Mama Aiu untuk memberitahu kepulangannya.
"Assalamualaikum, Tante Aiu! Tante, Rachel sudah lihat konferensi persnya om! Rachel mau pulang untuk datang ke resepsi Yusuf. Rachel akan tinggal di rumah sementara ini, boleh kan?" Rachel mencoba merayu Aiu.
"Waalaikumsalam! Oo... kamu sudah lihat konferensi persnya ya! Ya sudah nanti tante minta Cicit untuk menyiapkan kamar untuk kamu! Kapan kamu take off?"
"Mungkin besok pagi, jam 7.00 waktu sini, tan!"
"O... gitu! Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya! Assalamualaikum!" Aiu segera mengakhiri pembicaraan.
"Kamu sudah dengar kan Cup! Jadi, tolong kamu bilang sama Cicit untuk menyiapkan kamar buat dia!" Yusuf hanya mengangguk saja.
"Mama pokoknya tenang saja! Bakal Ucup bikin dia kesal setengah mati!"
"Cup, kok Cicit gak ikut ke sini?"
"Tadi dia ijin pergi sama Mona ma! Katanya mau menunjukkan kebenaran ke Mona!"
"Jadi si pengkhianat itu Mona? Mama gak sangka!"
"Mama jangan marah dulu sama dia! Dia juga gak tahu kalau sudah ditipu sama Si Cuckoo! Kalau Cicit bilang Mona sudah kena hipnotis. Ingatan dia saat diselamatkan orang dulu itu ada diganti gitu! Yang sebenarnya nolongin Mona kan Dr. Fadli, tapi karena dihipnotis maka Mona mengira Rachel yang sudah nyelamatin dia! Karena merasa hutang budi, Mona mau jadi mata-mata. Itu juga Si Rachel janji mau menyembuhkan penyakit ibunya Mona, eh gak tahunya malah dibunuh sama Si Rachel! Yang lebih parah ma! Si Cuckoo itu minta Mona ngirim uang setiap bulannya 5 juta untuk biaya obat ibunya. Si Rachel benar-benar jahat sekali!"
"Astaghfirullah! Mama udah gak sabar untuk kasih dia pelajaran!" Mama Aiu jadi geram setelah mendengar cerita putranya.
"Tenang saja ma! Sabtu besok kita beraksi!" Andre meyakinkan Aiu kalau Sabtu besok adalah waktunya.
"Kamu sudah ikhlas kan kalau resepsi jadi medan perang?"
"Kalau itu kamu gak usah khawatir! Kakek Krishna yang menjamin keamanannya. Lagipula undangan untuk mereka kan untuk acara malam hari. Bukan untuk acara pagi!"
"Btw, kamu tahu darimana cerita itu? Mama lihat kamu dari tadi gak ada telepon Cicit?"
"Ucup udah pasang penyadap di mobil dan tas Cicit! Jadi bisa dengar semuanya!"
"Wah, kamu hebat ya!"
Di tempat lain, dua orang wanita sedang berjongkok di hadapan sebuah gundukan tanah yang kini telah dirapikan rumputnya. Cicit masih menemani Mona di makam ibunya. Nyonya Winata itu membantu pelayannya membersihkan makam. Kemudian menaburkan bunga dan tidak lupa berdoa untuk arwah Ibu Ratih.
"Bu, maafkan Mona yang bodoh ini! Mona telah salah mempercayai orang! Mona malah mencelakai ibu!" Isak tangis masih terdengar dari mulut Mona. Penyesalan mendalam dia sampaikan kepada jasad yang sudah bersatu dengan bumi.
"Mulai sekarang Mona janji tidak akan percaya kepada Nona Rachel lagi! Mona akan mengabdi setia kepada Nyonya muda selama sisa hidupku!" Mona sudah membulatkan tekadnya.
"Kamu tidak boleh begitu! Kelak kamu harus bahagia bersama dengan orang yang kamu cintai!"
"Apa nyonya masih membenci saya?"
"Saya tidak benci dengan Mona! Tapi saya hanya ingin kamu bisa bahagia suatu hari nanti. Kamu pasti akan menemukan cintamu dan hidup bersamanya! Jika demikian kamu tidak bisa di samping saya terus!"
"Kalau gitu saya tidak mau menikah biar saya bisa sama nyonya!"
"Husss! Mana boleh begitu! Jika sudah waktunya nanti kamu tidak boleh menolak kebahagiaan yang datang padamu! Sebelum itu terjadi kamu boleh tinggal di sampingku!" Mona mengangguk lalu tersenyum.
Malam hari di kediaman Winata.
Pasutri muda sedang bersantai di balkon. Cicit sengaja tidak menutup rambutnya karena baru saja keramas. Melihat istrinya di balkon, Yusuf menyusulnya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Yang, kamu dah selesai ya datang bulannya?" Cicit menggeleng mantap.
"Tapi kamu udah keramas gitu. Papa pernah bilang kalau mama keramas kalau sudah selesai haid." Cicit tertawa mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
"Ucup sayang! Kamu kok polos banget sih! Istrimu ini belum selesai haid. Aku keramas ya karena sudah waktunya keramas. Apalagi tadi habis bepergian jauh."
"Yah! puasa lagi deh!" Yusuf jadi murung.
"Kamu lagi "ingin" ya?" Yusuf mengangguk.
"Aroma shampomu juga pose kamu mengeringkan rambut sangat memesona! Jadinya begini deh!"
"Ya sudah biar aku bantu ya!" Yusuf tersenyum senang.
Setelah satu jam Cicit menemani Yusuf olahraga, kini mereka kembali duduk di balkon.
"Ku pikir kamu akan pakai teknik pijat ternyata malah olahraga."
"Bisa saja pakai teknik itu, tapi aku khawatir kamu akan kecanduan dan main sendiri kalau aku tidak ada. Itu sama saja aku menjerumuskanmu melakukan dosa. Kalau olahraga kan aman."
"Benar juga kamu! Istriku memang paling pintar! Btw, Mama Minta kamu menyiapkan kamar untuk Si Rachel!"
"Sudah aku siapkan kok di kamar tamu bawah."
"Bagus! Kemungkinan besok pagi dia akan sampai! Bagaimana persiapan kamu?"
"Sudah lumayan kok bahkan untuk skenario terburuk juga sudah siap! Sayang, aku boleh minta orang untuk melakukan penjagaan dan pengawalan?"
"Kamu mau dikawal? Kok tumben?"
"Bukan aku! Aku dapat email dari Bram! Dia kirim sinyal SOS di email itu! Dia hanya minta tolong agar aku menjaga 3 orang, anak, istri, dan abang iparnya. Mereka akan sampai 2 jam lagi!"
"Kenapa tiba-tiba begitu?"
"Dia tidak cerita detail! Dia hanya minta aku menjaga mereka! Itu juga dia mengirim ke email yang lama. Aku merasa kedatangan Bram ada kaitannya dengan Rachel! Bagaimana? Boleh kan?"
"Baiklah! Aku akan minta Joni mencarikan seseorang untuk menjaga mereka. Kirimkan foto dan profil mereka padaku agar orang yang menjemput mereka tidak salah!" Cicit segera mengirimkan foto keluarga Bram kepada Yusuf.
Pukul 06.00 pagi di suatu bandara internasional, di USA.
Seorang pria tampan sedang menunggu di kursi tunggu lounge. Pria itu bersikap santai seperti penumpang lainnya. Pria berkulit putih itu masih asik membaca koran saat seorang wanita muda telah sampai dan duduk di hadapannya. Entah sengaja atau tidak. Pria itu tidak menghiraukan kehadiran Rachel sampai wanita itu menyapanya.
"Selamat pagi Tuan Brama!" sapa Rachel. Bram menurunkan koran yang dia baca dan melihat ke arah wanita di depannya.
"Maaf nona! Anda siapa? Saya sedang menunggu seseorang yang ingin bertemu denganku!"
"Aku adalah orang yang kau tunggu!" Bram meletakkan kembali koran yang dibacanya ke tempatnya.
"Baiklah! Apa maksud nona dengan tahu masa lalu saya yang membuat saya harus bersembunyi di sini?" Bram langsung to the point.
"Bukankah kamu yang telah menodai teman perempuanmu saat SMP dulu? Citra Srikandi Wirabuana! Kamu masih ingat nama itu?"
"Kau! Apa maumu? Siapa kau sebenarnya?" Bram langsung emosi saat gadis itu menyebut nama Cicit.
"Aku Rachel Maria Kaisar! Aku adalah gadis baik yang memberimu permen waktu itu! Hahaha!"
"Kau!" Bram langsung emosi dan ingin menyerang Rachel. Beruntung pengawalnya berhasil mengamankan Bram.
"Aku hanya ingin kamu hadir di resepsi pernikahannya nanti dan mengatakan kalau Nyonya Winata itu telah ternoda olehmu!" Jika kau melakukan itu maka aku akan melepaskanmu! Sayang sekali orang-orang bekerja untukmu sudah pergi lebih dulu, aku jadi tidak bisa menyandera mereka! Tapi tenang saja ayah dan ibumu sudah ditanganku!" Mata Bram melotot.
"Kurang ajar!"
"Para pelayanan itu tidak berharga dibanding keluargamu! Makanya kau harus patuh ya! Hahaha!" Rachel kemudian pergi.
Bram mencoba menghubungi keluarganya tetapi tidak ada yang mengangkat telepon darinya.
"Sialan!" Bram memukul tembok dengan keras.
Pria itu kemudian mengirim email kembali kepada Cicit perihal orang tuanya yang disandera.
"Yang, Bram ngirim email lagi, udah kamu baca?" Cicit hanya menggeleng. Saat ini Yusuf sedang mengecek hape Cicit.
"Sini deh! itu tandanya SOS lagi!" Yusuf meminta Cicit untuk mendekat. Cicit membuka email itu.
"Astaghfirullah! Si Rachel ini jahat banget sih! Papa mamanya Bram disandera!"
__ADS_1
"Sepertinya dia berencana menggunakan Bram untuk merusak reputasimu di resepsi nanti!" Cicit mengangguk setuju. Cicit membalas email Bram. Wanita muda itu mengatakan akan membantu Bram menemukan orang tuanya dan akan menjaga anak serta istrinya. Bram yang membaca email dari Cicit sedikit tenang.
Perempuan sialan! Lihat saja aku akan membuat kau membayar atas apa yang kau lakukan 17 tahun lalu! Bram.