
Hari menjelang sore. Matahari mulai condong ke ufuk barat. Meski begitu suasana semakin panas. Bukan karena sinar matahari tetapi karena Cicit menjadi trending topic di internet. Meski demikian Yusuf dan keluarga masih santai saja. Kini mereka sedang sibuk fitting baju pengantin yang telah disiapkan. Kedua baju pengantin yang didesain sendiri oleh Kirana kini sedang dicoba oleh Cicit.
"Kirana, kamu hebat banget! Ini bagus banget lho! Kok bisa pas gini? Kapan kamu ngukur kakak? Perasaan gak ada kamu minta ukuran kakak?" Cicit heran darimana Kirana dapat ukurannya.
"Dari Bang Ucup!" Cicit terkejut mendengar pengakuan Kirana.
"Yang bener?" Masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Bener dong! Sebetulnya hari itu Kirana telepon kakak tapi yang angkat Bang Ucup! Mau minta kakak datang untuk pengukuran. Tapi kata Bang Ucup gak usah! Bang Ucup cuma kasih tahu 3 ukuran penting habis itu sisanya aku disuruh ikuti ukuran baju yang biasa kakak pakai. Udah gitu aja!"
"Tapi kamu hebat lho! Meski cuma dikasih tahu ukurannya aja kamu bisa buat baju yang bagus terus pas! Kakak kagum dan bangga sama kamu!" Cicit memeluk Kirana.
"Udah jangan lama-lama pelukannya!" Ucup menarik tangan Cicit hingga pelukannya terlepas.
"Ih, Bang Ucup ganggu aja deh! Kirana kan kangen sama Kak Cicit! Sepi tahu bang gak ada Kak Cicit! Sekali-kali Kak Cicit dibolehin nginep ngapa bang? Tapi Kak Cicit aja! Abang gak usah!" pinta Kirana sambil nyengir karena yakin Yusuf pasti tidak akan menyetujui.
"Kalau nginap ya mesti sepaket lah! Gak bisa satu doang! Lah sendal aja mesti ada sepasang baru enak dipakai!"
"Ih Bang Ucup mah pelit!" Kirana memanyunkan bibirnya.
"Udah jangan manyun-manyun! Ntar makin tambah jelek tuh muka!" Yusuf tertawa senang karena sudah menjahili adik asuhnya.
"Ih Bang Ucup nyebelin! Kak Cicit, lihat tuh kelakuan Bnag Ucup!" Kirana mengadu kepada Cicit meminta pembelaan.
"Cup! Kamu apaan sih? Ya, nanti kapan-kapan Kakak sama Bang Ucup nginap ya! Nanti kita buat barbekyu!" Cicit menyetujui permintaan Kirana yang entah kapan terealisasi.
"Yeai! Kakak memang yang terbaik! Gak kayak yang itu tu!" sambil mulutnya menunjuk ke arah Yusuf.
"Biarin! Yang penting udah laku!" Yusuf menjulurkan lidahnya.
"Kalau bukan karena aturan abang, Kirana yakin pasti ada aja yang nembak! Kan abang sendiri yang bilang, kami gak boleh pacaran!" Kirana balas menjulurkan lidahnya.
"Udah ah! Yang, ayo kita pulang!" Yusuf menarik tangan istrinya untuk segera keluar dari ruang fitting.
"Lah ngapain pulang bang? Disini aja bang! Kan pestanya juga besok pagi!" Kirana meminta agar mereka tidak pulang. Tujuannya agar bisa lebih lama dengan Cicit.
"Urusan abang dong mau ngapain di rumah! Rahasia! Anak kecil gak bakal paham!" Yusuf langsung mengajak pergi Cicit setelah mengatakannya.
Mereka turun melalui lift menuju lobby. Tak lama mobil sampai. Kali ini Yusuf mengemudikan mobilnya sendiri. Berselang sepuluh menit setelah meninggalkan hotel tiba-tiba mobilnya dipepet mobil lain. Tidak hanya satu tetapi tiga mobil menghimpit mobilnya. Yusuf berusaha mengendalikan mobilnya dengan baik. Suara benturan tak terhindarkan lagi. Cicit sekuat tenaga berpegangan.
"Siapa mereka?" tanya Cicit dalam ketegangan.
"Tidak tahu! Ada kemungkinan mereka suruhan Rachel!" Yusuf hanya berasumsi saja.
Rachel? Apa dia tega jika terjadi sesuatu dengan Ucup? Cicit.
Yusuf masih berusaha mengendalikan mobilnya dan berusaha keluar dari kungkungan mereka. Yusuf membanting setirnya ke kanan dan ke kiri agar bisa keluar dari kungkungan. Yusuf segera menghubungi Joni untuk meminta pertolongan. Joni segera memenuhi perintah bosnya itu.
Untuk dapat keluar dari kungkungan mereka, Yusuf memacu kendaraannya lebih cepat. Cara menyetirnya tidak lagi santai. Segala cara dia lakukan agar terlepas dari kejaran mereka.
"Sial! Seharusnya aku tadi mendengarkan omongan Kirana!" Yusuf menyesal.
"Sudahlah Cup! Sebaiknya kita harus cari cara agar keluar dari kejaran mereka!" Cicit masih berpegangan kuat pada pegangan mobil.
"Kamu bertahanlah! Aku akan mencari cara agar bisa lepas!" Cicit hanya mengangguk saja.
Sayang seribu sayang, ketika ada celah untuk bisa kabur, tanpa mereka sadari sebuah mobil menabrak mobil mereka dari arah depan.
Buummm! Suara tabrakan terdengar hebat. Kedua pasutri itu pingsan.
"Di mana aku?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Yusuf saat siuman.
"Sri! Sri! Sri!" Yusuf memanggil istrinya.
"Tenanglah bos! Kita ada di rumah!" Joni berusaha menenangkan bosnya.
"Mana istriku, Jon?" Yusuf memegang lengan Joni.
"Maaf, bos! Saat saya tiba hanya ada bos saja di kursi depan! Saya tidak melihat Nyonya Bos!" Joni berbicara dengan hati-hati.
"Apa? Sialan! Siapa yang berani bermain-main denganku? Berani menyentuh istriku maka bersiap-siaplah menemui ajal!" Yusuf berteriak kencang. Emosinya sudah memuncak.
"Ini bos! Tadi saya menemukan kertas ini di dashboard mobil. Ini seperti nomor telepon!" Joni memberikan kertas itu kepada bosnya.
__ADS_1
Yusuf menerima kertas itu kemudian membacanya. Joni sekarang juga kamu lacak keberadaan Cicit. Joni langsung mengerjakan perintah tuannya.
"Itu kertas apa bos?"
"Ini koordinat Cicit!" Yusuf memberitahu. Tatapannya sangat tajam, dingin, dan suaranya datar.
"Sudah ketemu bos! Ini koordinatnya!" Joni memberitahu titik koordinat keberadaan Cicit. Koordinat yang diberikan Joni cocok dengan yang ada di kertas.
"Baiklah! Ayo kita siap-siap!"
"Kita mau ke mana bos?"
"Ke mall! Tentu saja kita harus menyelamatkan istriku, Joncom!" Yusuf sangat kesal dengan pertanyaan tidak bermutu Joni.
"Joncom itu apa bos?" Yusuf memutar bola matanya menghadap Joni. Matanya melotot lebar. Sudah sangat terlihat amarah di mata Yusuf.
"Joni Oncom!" Suara Yusuf menggelegar.
"Siap bos!" Joni akhirnya ketakutan juga mendengar suara bosnya.
"Kau! Benar-benar ya! Mau ku kurangi angka nol di rekeningmu nanti?" Yusuf mengancam Joni dengan ancaman serius.
"Siap! Tidak bos!"
"Apa papa dan mama tahu kejadian ini?"
"Tidak tuan! Saya belum memberitahu."
"Bagus! Jangan beritahu mereka! Aku tidak ingin mereka cemas! Sekarang jam berapa?"
"Jam sepuluh malam bos!"
"Lima menit lagi ku tunggu kamu di helipad!" Yusuf segera pergi meninggalkan Joni.
"Halo! Semua siap!" Setelah mengatakan itu, Joni mematikan hapenya. Dia segera menyusul tuannya menuju helipad.
Lokasi Cicit berada di luar kota, jika pergi dengan mobil akan lebih lama sampai, akhirnya Yusuf menggunakan helikopter untuk menuju ke sana. Joni sudah masuk ke dalam helikopter. Joni segera memakai perlengkapan untuk terbang. Yusuf memutuskan untuk mengemudi helikopter. Stelah semua siap, Yusuf mulai proses take off. Perlahan helikopter mulai melayang di atas tanah. Setelah mencapai ketinggian yang aman akhirnya helikopter melaju ke arah tujuan. Tidak ada pembicaraan selama perjalanan. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di lokasi tujuan. Setelah menurunkan helikopter di lapangan tak terurus yang tak jauh dari lokasi, mereka segera menyusun strategi.
Posisi mereka saat ini tidak terlalu jauh dari lokasi Cicit disandera. Yusuf kini sudah siap dengan semua persenjataan. Mulai dari pistol, granat, senapan, pisau, dll. Peralatan canggih juga dipakai mulai dari alat komunikasi, jam bius, rompi anti peluru terbaru, dll.
"Siap bos!"
"Yusuf mulai memindai lokasi dengan alat pemindai lokasi yang dibawanya. Dari alat itu diketahui telah banyak jebakan yang dipasang juga posisi penjaga yang menjaga sandera. Jumlah penjaganya lumayan banyak.
Untuk menonaktifkan jebakan secara bersamaan, Yusuf sengaja melempar granat ke arah hamparan tanah Luas yang sudah dipasang jebakan. Tujuannya untuk memicu kerja jebakan secara bersamaan sehingga bisa dimatikan bersamaan.
Benar saja, saat granat meledak, satu jebakan meledak diikuti dengan jebakan lainnya. Setelah semua jebakan mati, Yusuf dan Joni segera maju. Mereka berjalan saling membelakangi. Tujuannya agar mengetahui pergerakan dari depan maupun belakang.
Dor! Yusuf menembak musuh yang ada di depannya. Meski gelap, Yusuf dapat melihatnya dengan alat seperti teropong yang memiliki penglihatan malam dan pendeteksi suhu.
Kepala Yusuf menengadah ke atas. Dia melihat ada dua musuh bersembunyi di atas pohon.
Dor! Dor! Terdengar dua suara tembakan.
Dor! Dor! Dor! Joni juga sudah mulai menembak musuh yang ada di hadapannya.
Mereka maju terus sambil menembaki musuh. Akhirnya mereka sampai di tempat penyanderaan. Itu sebuah gudang tua yang besar dan tidak dipakai untuk waktu lama.
Yusuf memindai gudang itu. Hasil pindahan menunjukkan lebih banyak penjaga di dalam gudang. Sekitar 30-an lebih orang.
"Jon! Kita berpencar! Kamu bereskan dulu yang di luar. Aku akan masuk ke dalam! Jika sudah selesai, susul aku!" Joni hanya mengangguk saja.
Joni mulai menyerang untuk mengalihkan perhatian musuh. Saat perkelahian terjadi, Yusuf mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam.
"Target sudah masuk! Bisakah aku istirahat?"
"...."
Joni mengangkat tangannya ke atas memberi perintah untuk berhenti. Mereka berkumpul lalu beristirahat.
"Jon! Kamu dimana? Kok lama sekali?" Yusuf yang sudah di dalam tidak melihat kedatangan Joni setelah 5 menit masuk.
"Maaf bos! Mereka banyak sekali! Bantuan terus berdatangan bos! Bos urus sendiri saja yang di dalam! Saya mengatasi yang di luar!" Joni berpura-pura ngos-ngosan. Setelah itu komunikasi terputus.
__ADS_1
"Maaf ya bos! Saya tidak bisa membantu lagi! Tunjukkan kemampuanmu dan jangan permalukan aku sebagai gurumu!"
Setelah bicara seperti itu, Joni memerintahkan anak buahnya untuk menyeduh kopi. Mereka bersantai.
Sementara itu, Yusuf mulai kewalahan mengatasi serangan demi serangan. Kini dia hanya tinggal melawan 5 musuh saja sebelum bisa membebaskan sandera.
Ciiaaat! Brukk! Seorang musuh berhasil dilumpuhkan. Yusuf memasang kudda-kudanya lagi, bersiap untuk menyerang ataupun menerima serangan. Keempat musuh menyerang bersamaan. Yusuf menghindarinya dengan sempurna. Kemudian mulai membalas mereka satu per satu.
Sebuah pukulan menyerang wajah Yusuf tetapi berhasil ditangkis. Yusuf membalasnya dengan tinju ke arah perut kemudian saat musuh mulai lemah, pria bertubuh jangkung itu membantingnya ke lantai.
Tiga musuh yang tersisa dia hadapi dengan tendangan beruntun. Yusuf mengambil ancang-ancang, kemudian melompat ke udara dan memposisikan kakinya dalam posisi menendang.
Dug! Dug! Dug! Ketiga musuh jatuh. Mereka tidak bisa bangun lagi. Sebelum menendang, Yusuf sudah menghidupkan daya listrik di sepatunya. Meski tidak besar tetapi cukup untuk membuat sengatan kecil yang mengejutkan.
Yusuf langsung berlari ke atas menuju tempat sandera berada. Saat Yusuf hendak membebaskan istrinya, dirinya menyadari adanya keanehan. Pertama dari baju yang dipakai. Lalu proporsi tubuhnya juga beda. Yusuf terdiam dan tidak melanjutkan aksinya. Pria itu segera mengambil pistol di pinggangnya dan meletakkannya di kepala sandera.
"Katakan! Siapa kamu sebenarnya? Dimana istriku?"
"Sayang! Ini aku, istrimu!" Yusuf mendengar suara Cicit dengan jelas tetapi dia tidak mau percaya begitu saja.
"Jangan bercanda lagi! Tunjukkan siapa dirimu?" Yusuf geram kemudian membuka penutup kepala. Saat dibuka, sandera masih memakai topeng lagi. Yusuf mundur sambil menodongkan pistolnya ke arah sandera.
"Di mana istriku? Jangan sampai aku hilang kesabaran!"
"Ya ampun! Kamu memang sungguh tidak sabaran!" Akhirnya suara bariton dari musuh terdengar juga.
"Sudah ku peringatkan! Jangan membuatku hilang kesabaran! Aku sudah memasang beberapa peledak di gudang ini saat aku masuk! Jika tidak memberitahu dimana istriku, maka jangan salahkan aku jika gudang ini ku ledakkan!"
Joni yang sedang menyeruput kopi jadi terbatuk karena tersedak. Dia terkejut tidak menyangka bahwa anak didiknya akan melakukan hal ekstrem. Joni langsung menghubungi Yusuf.
"Hei bocah gila! Apa maksudmu dengan meledakkan tempat ini?"
"Aku memang sudah merencanakannya! Jika tidak ku dapati istriku di sini maka akan ku lenyapkan juga tempat ini!"
"Dimana saja kamu pasang peledaknya?"
"Di sepanjang jalur yang ku lewati tadi! Kamu juga bisa memindainya! Kau mau apa?"
"Tentu saja mematikan peledaknya!" Joni sangat geram dengan tindakan Yusuf.
"Kenapa harus dimatikan? Biarkan saja!"
"Apa kau gila? Jika ketahuan publik, hancur reputasimu!"
"Aku tidak peduli! Jika mereka mengembalikan istriku maka aku akan mematikan peledaknya! Jika tidak, maka akan ku ledakkan!" Yusuf tetap mengancam.
Pembicaraan itu tentu saja didengar juga oleh orang yang ada dalam ruangan khusus. Seorang tua di ruangan itu menyuruh orang untuk memeriksa kebenarannya melalui CCTV. Benar saja, di sepanjang jalan yang dilewati Yusuf telah dipasang peledak.
"Dasar bocah gila!" umpat kakek tua itu.
"Sudahlah! Kini kita memang harus mengakui kemampuannya! Dia memang layak!" ucap orang tua lainnya.
"Ya! Kau benar! Dia sudah menunjukkannya sejak tadi! Aku mengaku kalah!"
"Nak! Bujuklah suamimu ya! Kami masih mau hidup!"
"Baiklah! Para kakek!" Cicit keluar ruangan menuju tempat sandera. Saat sampai wanita itu melihat suaminya masih bertarung dengan musuh terakhirnya. Musuhnya tampak sudah kepayahan bergerak. Yusuf masih akan menyerangnya tetapi terhenti ketika wanita yang dicintainya berteriak.
"Ayah! Ucup! Hentikan!" Yusuf langsung mematung di tempat. Kepalanya dia putar perlahan ke arah sumber suara. "A... apa?? A.. A.. Ayah?" suaranya tergagap. Pria yang musuhnya tadi akhirnya membuka topengnya. Tampaklah wajah ayah mertuanya. Yusuf semakin bersalah. Apalagi dia hendak meledakkan tempat itu.
Mati aku! Yusuf.
Cicit yang melihat tampang gugup suaminya saat ini hanya bisa tertawa. Wanita itu menghampiri suaminya dan meminta alat kendali peledaknya. Yusuf dengan patuh memberikannya begitu saja. Cicit langsung menonaktifkan semua peledak. Akhirnya semua bisa bernapas lega. Yusuf masih diam tidak bergerak di posisinya tadi. Pria itu sangat takut saat ini. Ketakutan terbesarnya adalah kemarahan mertuanya yang melihat kegilaannya tadi hendak meledakkan tempat itu.
Sang mertua, yang tak lain adalah Jendral Bima mendekati menantunya itu. Yusuf makin ketakutan. Rasa takut itu kemudian menghilang saat Bima memeluk Yusuf.
"Terima kasih! Terima kasih karena kamu sudah membuktikan bahwa kamu adalah pria yang layak menjadi suami dan pelindungnya!"
"Ayah tidak marah karena aku akan meledakkan tempat ini?" Bima menggeleng.
"Jika ayah di posisimu juga akan melakukan hal yang sama!" Yusuf akhirnya lega. Dia akhirnya bisa bertemu istri tercintanya. Yusuf memeluk erat Cicit.
"O ya, sebenarnya ini hanya sebuah drama penculikan saja!" kata ayah enteng.
__ADS_1
"What?!!"