BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 32. Rahasia Cicit


__ADS_3

17 tahun yang lalu.


Seorang gadis belia berusia 13 tahun siap memulai masa remajanya. Parasnya yang cantik, berkulit putih, dan berambut panjang tentu menjadi incaran para lelaki. Ditambah lagi dengan status istimewa sebagai putri jendral, lelaki mana yang tak tertarik padanya. Dialah Citra Srikandi Wirabuana. Gadis periang dan supel juga ramah.


Cicit remaja tak pernah pilih-pilih teman. Gadis itu berteman dengan semua orang dari berbagai kalangan. Dari semua temannya ada satu orang laki-laki yang paling dekat dengannya. Namanya Brama Kumbara biasa dipanggil Bram. Anak seorang pengusaha rekan bisnis Surya Dinata. Bram memang memiliki perasaan khusus terhadap Cicit.


Bram memang sangat dekat dengan Cicit. Semua orang mengatakan mereka pasangan yang serasi. Banyak yang mendoakan mereka jadi pasangan sungguhan. Berkat dorongan dan doa dari teman-temannya Bram akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Cicit.


Siang itu, setelah mengantar Cicit sampai di rumahnya, Bram memberitahu Cicit agar besok siang bertemu di atap sekolah. Ada hal penting yang ingin disampaikan. Cicit hanya mengangguk tanda paham. Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum! Ibu! Cicit sudah pulang!" Cicit memanggil ibunya seperti biasa. Tak lama Laras datang menghampiri Cicit yang baru pulang sekolah.


"Waalaikumsalam!" Cicit mencium tangan Laras.


"Anak ibu kok senyum-senyum gitu? Ada apa nih? Apa ada hubungannya dengan Bram yang ngantar kamu sampai di gerbang?" Laras langsung to the point. Ibu dua anak itu penasaran dengan sikap Bram yang biasanya hanya di mobil saja tiba-tiba turun sampai ke gerbang.


"Ih ibu ngintip ya?! Hahaha! Itu bu, Si Bram besok siang minta Cicit untuk ketemu di atap sekolah. Katanya ada hal penting yang mau disampaikan?"


"Oh gitu!"


"Paling-paling mau menyatakan perasaan!" Tiba-tiba Bima datang dan ikut nimbrung pembicaraan ibu dan anak itu.


"Ih ayah! Datang-datang langsung nimbrung aja nih! Sok tahu deh ayah!"


"Tahu dong! Ayah kan dah sering perhatikan gerak-geriknya. Ayah juga tahu dia suka sama kamu! Kamu gimana? Suka gak sama dia? Jangan PHP-in perasaan orang!" Bima memberi nasihat.


"Ih siapa juga yang mau PHP-in orang!"


"Berarti kamu suka sama dia?" Bima mencoba menerka.


"Yang bilang benci dia siapa yah? Cicit tidak ada perasaan melebihi perasaan teman. Cicit akan berterima kasih untuk perasaannya tetapi untuk saat ini Cicit hanya ingin berteman saja. Cicit belum ingin menjalin hubungan cinta dengan siapapun. Cicit masih ingin bebas!"


"Begitu ya? Ayah kira bakal punya calon mantu!" Bima meledek putri satu-satunya.


"Cicit gak mau nikah muda yah! Lagi juga hati Cicit tidak bergetar ketika bersama Bram. Itu artinya dia bukan jodoh Cicit!"


"Memangnya kamu tahu siapa jodoh kamu?" Bima menantang anaknya.


"Ya gak tahu lah yah! Hanya saja hati Cicit bilang dia bukan jodohku! Gitu! Btw, kok ayah sudah pulang?"


"Besok ayah ada dinas luar kota. Ibu juga ikut sama ayah. Jadi besok Kakek Krishna akan kemari untuk temani kamu dan Cakra."


"O ya besok kalau kamu menolak Bram, tolak dengan cara yang baik ya!" Laras berpesan pada putrinya.


"Siap Nyonya Jendral!" Cicit melakukan penghormatan kepada ibunya.


"Kamu ada-ada saja!" Mereka semua tertawa melihat tingkah Cicit.


Keesokan harinya, seperti biasanya Laras dan Bima mengantar kedua anaknya pergi ke sekolah. Bima mengantar Cakra lebih dulu baru mengantar Cicit. Mobil sudah berhenti di depan gerbang sekolah. Gadis dengan kuncir kuda itu segera turun. Cicit mencium tangan ayah dan ibunya kemudian mengucapkan salam.


Ketika hendak masuk ke dalam sekolah sekali lagi Laras mengingatkan putrinya. "Kamu harus bicara baik-baik ya?!" Cicit hanya menganggukkan kepala saja kemudian segera masuk karena belum sudah berbunyi.


Mobil Bima dan Laras sudah menempuh hampir separuh perjalanan. Tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung. Entah mengapa perasaan Laras juga tiba-tiba berubah. Rasa khawatir kini melanda dirinya. Dirinya menjadi tidak tenang. Bima yang melihat kecemasan di wajah istrinya ingin bertanya padanya. Sayangnya sering suara telepon lebih dulu berbunyi. Bima segera mengangkat panggilan itu.


"Baik! Baik! Siap, komandan!"


"Siapa yang telepon, Bim?"


"Komandan! Dia bilang pertemuan diundur minggu depan! Jadi kita bisa pulang!"


"Alhamdulillah! Bim, sekarang juga kita putar balik! Segera ke sekolah Cicit, Bim! Sejak tadi perasaanku tidak enak, Bim! Ku mohon, cepatlah!" Laras memohon dengan wajah sangat memelas. Kecemasan makin terlihat di wajahnya. Bima meminta supir untuk lebih cepat lagi melakukan mobilnya.


Sang Jendral merangkul istrinya dalam pelukannya. Berusaha memberikan rasa hangat dan tenang. Baru kali ini Bima melihat Laras secemas dan sepanik itu. Ada apa sebenarnya?

__ADS_1


Sementara itu, waktu yang ditunggu telah tiba. Cicit sudah datang seperti yang diminta Bram. Cuaca mendung sudah menyelimuti langit sekolah. Seorang gadis duduk di bangku panjang.


"Si Bram lama banget deh! Ini mendungnya mana udah gelap banget! Lima menit lagi kalau gak datang, aku kembali saja ke kelas!" Cicit melihat jam di tangannya. sudah 10 menit dia menunggu.


Tak lama kemudian Bram datang. Cicit cemberut melihat kedatangannya.


"Jam berapa ini? Kalau janji harus tepat waktu!" Cicit mengomel karena keterlambatan Bram.


"Maaf deh! Udah jangan cemberut lagi! Nanti cantiknya hilang!" Bram merayu Cicit.


"Udahlah cepetan mau ngomong apa sih? Waktunya sudah mau habis nih!" Cicit masih belum reda marahnya.


Cicit terkejut karena tiba-tiba Bram menggenggam tangannya. Cicit melepaskan genggaman Bram.


"Jangan pegang-pegang! Kita bukan muhrim!" Cicit mulai malas dengan Bram.


"Cit, aku sudah lama suka padamu! Mau gak kamu jadi pacarku?" Akhirnya Bram mengungkapkan perasaannya.


"Bram, terima kasih untuk perasaan yang kamu miliki untukku. Maaf banget untuk saat ini aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Aku masih ingin bebas tanpa terkait ikatan apapun. Aku ingin kita berteman saja!" Cicit sudah mengatakannya dengan baik.


"Aku sudah menjawab, Bram! Kalau gitu aku balik ke kelas dulu ya! Sebentar lagi bel!" Cicit menuju pintu tetapi pintu itu terkunci. Cicit menghampiri Bram. Memintanya membuka pintu.


"Bram, buka pintunya! Jangan bercanda deh! Sebentar lagi bel masuk!" Cicit terkejut saat menatap mata Bram yang kemerahan. Cicit mulai ketakutan saat Bram mendekatinya dengan sikap yang aneh.


Cicit berjalan mundur ketika Bram perlahan mendekatinya. Kini posisi Cicit terpojok. Dia tidak bisa lagi mundur. Bram mendekatinya dan mencengkeram bahu Cicit. Cicit mulai kesakitan.


"Sakit, Bram! Lepaskan!" Cicit berusaha keluar dari cengkeraman Bram.


"Sakit, kan! Kamu tahu sakitnya hatiku waktu kamu menolakku tadi? Kenapa Cit? Kenapa kamu tolak aku? Aku kurang apa, Cit?" Emosi Bram mulai tak terkendali.


"Kamu tidak kurang apapun, Bram. Aku memang belum ingin berpacaran dengan siapapun. Aku ingin bebas menapaki masa remajaku tanpa dirusuhi hal-hal percintaan. Hanya itu saja. Jika kamu ingin menjalin hubungan, cari saja gadis lain yang punya keinginan sama denganmu." Cicit bicara sambil menahan sakit di pundaknya.


"Apa katamu? Cari gadis lain? Kamu pikir begitu mudah berganti perasaan? Sepertinya kamu tidak tahu seberapa dalam perasaanku. Baiklah aku akan menunjukkan padamu!" Bram kini benar-benar kehilangan kewarasannya.


"Tolong! Tolong!" Air matanya mulai mengalir deras.


"Bram kamu tega sekali padaku!"


"Salahkan dirimu yang menolakku! Kamu berteriak pun percuma! Tidak akan ada yang datang! Kita memang ditakdirkan untuk bersama. Hahahaha!" Bram tertawa puas. Cicit menangis terisak sambil meronta.


Bram menarik Cicit dengan kuat. Menyeretnya menuju kursi panjang. Bram membaringkan Cicit dengan paksa di sana. Cicit masih berusaha untuk bangkit tetapi usahanya digagalkan Bram.


"Ayah! Ibu! Tolong Cicit!" Cicit menangis semakin kencang. Bram tidak menghiraukannya. Pikirannya sudah dirasuki *****.


Bram masih berusaha untuk mencium Cicit dan ingin melakukan hal lainnya. Tiba-tiba saja terdengar suara tendangan yang begitu keras dari arah pintu.


Duaaakk!! Pintu berhasil dibuka.


Seorang pria berusia 40an tahun berlari kencang dan menerjang pemuda itu. Bima benar-benar murka kali ini. Ayah mana yang tidak marah melihat anak gadisnya akan dinodai. Bima memukuli Bram. Laras langsung menghampiri anak gadisnya dan langsung memeluknya. Gadis periang itu menangis kencang dalam pelukan ibunya.


"Dasar bajingan! Apa yang kau lakukan pada anakku? Kenapa tega kau lakukan itu pada Cicit?" Bima masih terus menghajar Bram. Bram mulai merasakan kesakitan.


"Ampun om! Ampun! Sakit om! Sakit!" Bram mengaduh kesakitan. Sejurus kemudian Laras melihat mata Bram yang memerah. Laras curiga melihat hal itu. Ibunda Cicit meminta suaminya untuk berhenti memukuli Bram Ada yang tidak beres dengan Bram.


"Bima hentikan! Dia sedang tidak sadar!" Laras berteriak dengan kencang. Bima yang mendengar langsung berhenti memukul. Bima menghampiri Laras dan putrinya.


"Apa katamu? Dia tidak sadar?"


"Iya! Kamu lihat matanya yang memerah itu! Bukankah itu tanda kalau dia sedang dalam pengaruh sesuatu? Apa kamu mencium bau alkohol?" Bima menggeleng.


"Itu artinya dia sedang dalam pengaruh obat." Bima terkejut mendengarnya. Ayah dia anak itu jadi bingung.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bima.

__ADS_1


Bima sedih sekali melihat kondisi putrinya. Bima memeluk dan mencium kening putrinya.


"Ayah! Cicit takut yah!" Hati Bima terasa teriris mendengar suara Cicit yang bergetar ketakutan. Bima merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menyelamatkan putrinya.


Bram yang mulai sadar mendekati Cicit dan orang tuanya. Dia merasa bingung dengan apa yang telah terjadi.


"Om Bima? Tante Laras? Ada apa ini? Kenapa badanku sakit semua? Cicit kamu kenapa?" Bram belum sadar sepenuhnya.


Cicit yang melihat Bram langsung menjerit ketakutan. Cicit meronta dan tak terkendali.


"Pergi! Pergi kamu! Jangan mendekat! Aaaaa! Ayah tolong Cicit!"


Laras tak kuasa menahan tangisnya. Putrinya yang periang jadi seperti itu. Bima segera memeluk Laras dan putrinya. Membawa mereka dalam dekapannya. Tak lama Wakil Kepala Sekolah datang dengan beberapa guru. Wakepsek datang setelah mendapat laporan dari satpam bahwa Jendral Bima datang tetapi mereka langsung ke arah atap sekolah dengan terburu-buru. Bima menelepon ajudannya yang berada di bawah. Memerintahkannya untuk mengamankan CCTV dan Bram. Setelah itu Bima langsung membawa Cicit pulang sedangkan Bram dibawa ajudan menuju markas untuk dilakukan pemeriksaan sesuai perintah Bima.


Di kejauhan tampak seorang gadis tersenyum lebar melihat kehancuran Cicit.


"Siapa suruh kamu bersaing denganku? Tidak ada yang boleh mendapatkannya selain aku!" Gadis itu menyeringai.


Dalam beberapa jam Bima sudah mengetahui hasilnya. Benar perkiraan Laras, ditemukan sejumlah kecil dosis obat dalam darah Bram. Bram masih tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian ajudan memberinya kesempatan untuk melihat rekaman CCTV di atap sekolah. Bram sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia sangat menyesal. Dia sadar bahwa Cicit kini sangat membencinya. Bram merasa pantas untuk dibenci.


Bram juga diinterogasi oleh ajudan Bima. Bram menceritakan bahwa sebelum bertemu Cicit, ada seorang gadis yang memberikannya sebuah permen. Dirinya sangat gugup saat itu lalu gadis itu memberikannya permen untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ketika ditanya siapa gadis itu, Bram hanya menggeleng. Pemuda itu tidak mengenal gadis itu. Sepertinya gadis itu dari kelas berbeda.


Bima memang sengaja tidak membawa Bram ke polisi. Alasannya sudah jelas bahwa Bram dipengaruhi seseorang. Setelah pemeriksaan selesai Bram dikembalikan ke keluarganya. Keluarga Bram sangat terkejut setelah diberitahu kenyataannya. Mereka meminta maaf kepada Cicit dan keluarganya. Keluarga Bram memutuskan untuk tinggal di luar negeri sementara waktu. Sampai kepergian Bram, Cicit tidak pernah mau bertemu dengannya. Trauma masih membayangi Cicit remaja.


Cicit sangat pemurung saat ini. Gadis itu hanya mengurung diri saja di kamar. Pikirannya kosong dan terkadang masih suka menjerit ketakutan. Laras tidak tega melihat putrinya saat ini.


"Bim, Cicit Bim! Kenapa Cicit jadi begitu? Aku tidak tega melihat Cicit!" Air mata Laras mengalir untuk ke sekian kalinya. Bima menenangkan Laras dengan memeluknya.


"Sabar Ras! Kita pasti bisa melewati cobaan ini! Cicit pasti akan sembuh!" Tak hanya Laras, Bima juga sangat sedih dan terpukul, tetapi tidak mungkin dia ikut menangis.


Sementara itu, di tempat lain, seorang gadis memasuki rumah besar dengan hati riang. Dengan santainya gadis itu berkata, "Om, tadi di sekolah ada kejadian memalukan. Ada putri Jendral yang diperkosa temannya sendiri. Kasian deh! Kalau gak salah dia itu anaknya Jendral Wirabuana!" Andre yang mendengar itu sangat terkejut tetapi berusaha menyembunyikannya dan tetap bersikap tenang.


"Oh gitu!" Andre pura-pura tidak peduli.


"Kamu itu sepertinya senang sekali ya melihat orang menderita!" Yusuf langsung to the point. Rachel langsung terdiam tak mampu membalas.


"Cup, jika gadis tadi tidak ada yang mau menikahi karena dipandang kotor, kamu mau gak nikah sama dia?" Andre sengaja memancing emosi Rachel.


"Tentu saja mau yah! Itu bukan kemauannya! Aku yakin tidak mudah baginya melewati hidup setelah itu. Daripada dengan wanita ular lebih baik dengan wanita kotor sekalian!" Andre tersenyum senang mendengarnya. Rachel mengepalkan tangannya. Gadis itu sangat kesal.


Gadis sialan! Kamu benar-benar jahat, Rachel! Tidak ku sangka memang benar kamu yang menguping pembicaraanku dengan kepala sekolah. Kamu bahkan mencelakai gadis yang bahkan tidak ada hubungannya dengan kami. Sampai kapanpun tidak akan ku biarkan kamu menguasai apapun dari keluarga Winata! Baik harta ataupun putraku. Andre.


"Begitulah ceritanya, Cup! Aku yakin dia pasti akan menyerangku dengan itu. Makanya aku beritahu kamu dulu!" Cicit selesai menceritakan rahasianya kepada Yusuf.


"Iya sayang! Aku sebenarnya sudah mengetahuinya! Ayahmu menceritakan kepada kami di malam sebelum ijab qabul kita. Ayahmu juga menanyakan apakah aku keberatan? Ku jawab aku tidak keberatan. Lagipula kamu kan masih utuh. Di situ juga papa minta maaf kepada ayahmu. Karena kejadian itu tentu tidak akan terjadi jika bukan karena andil papa."


"Apa maksudmu?" Cicit jadi bingung.


"Si Cuckoo menguping pembicaraan papa dengan kepala sekolah. Sebenarnya papa hanya bercanda saja. Papa bilang ingin mencarikan pasangan untukku dari keluarga militer agar kami lebih kuat. Kepala sekolah bilang kalau di sekolah ada putri dari Jendral Wirabuana. Mungkin kami bisa berjodoh. Tanpa diduga ternyata Si Cuckoo benar-benar menargetkan kamu. Dia tahu kamu akan bertemu dengan Bram. Dia memberikan Bram obat yang membuat lelaki itu jadi berbuat jahat padamu."


"Lalu apa yang dikatakan ayah?"


"Ternyata ayahmu sudah tahu bahwa selama ini Keluarga Winata mencari Keluarga Wirabuana untuk meminta maaf. Itu Kepala sekolah yang bercerita saat bertemu ayahmu secara tidak sengaja setahun lalu. Ayah Bima sudah memaafkan kami. Kalau tidak mungkin aku dan kamu gak jadi ijab qabul."


"Ya Allah tidak disangka ya bahwa serangkaian peristiwa itu telah menghubungkan kita. Mungkin ini yang disebut takdir! Kamu yang ternyata Pangeran Kecilku juga orang yang bahkan mau menikahiku meski aku kotor, kamu juga Ucup yang ku cari selama ini. Ya Allah, aku bersyukur mendapatkanmu, Ucup sayang!"


"Aku juga sayang! Aku bersyukur kamu menjadi istriku! Ya sudah ayo kita istirahat, besok akan banyak kegiatan! Besok aku akan ikut ke rumah sakit."


"Kamu gak ke kantor?"


"Gak! Aku kan masih cuti! Lusa aku baru masuk lagi!"


Ikuti terus ya kelanjutannya ☺☺☺

__ADS_1


__ADS_2