BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 42. Persiapan perang


__ADS_3

Resepsi pernikahan ala militer telah selesai digelar. Semua kembali ke Jakarta. Di perjalanan, Yusuf memeriksa berita populer hari itu. Benar saja, istrinya menjadi trending topic. Banyak berita negatif tentang dirinya. Yusuf sangat geram melihat hal itu. Jika bukan untuk serangan nanti malam, sudah sejak lama dia akan bertindak.


Cicit yang penasaran melihat ke arah hape suaminya. Dia tidak menyangka kalau dirinya menjadi trending topic. Cicit membaca berita itu. Wanita itu membaca semua headline tentang dirinya.


"Wow! Amazing yah! Si Rachel sungguh pandai membuat rencana! Cup, sepertinya pengagummu itu pantang menyerah ya! Lihat saja, dia bahkan sungguh percaya diri untuk menjadi penggantiku! Apa kamu mau sama dia?" Cicit menggoda suaminya.


"Sri ku sayang! Apa kamu masih meragukan cintaku? Aku lebih baik jadi bujang lapuk daripada harus menikah dengannya! Aku bahkan rela jika aku harus menunggu jandamu Sri! I love you, Sri!" Yusuf mencium tangan istrinya dengan penuh cinta.


"Gombal!"


"Seriusan Sri! Tanya saja ayahmu atau ibumu. Tanya pada mereka apa aku pernah mengatakan hal yang barusan ku katakan atau tidak. Mereka pasti akan menjawab iya!" Cicit hanya tersenyum malu mendengar penjelasan suaminya.


"Jon, nanti kamu tolong berhenti di sekitaran alun-alun kota ya! Aku kangen sama bakso yang dijual di situ. Dekat situ juga ada masjid. Jadi gampang kalau mau solat zuhur nanti!"


"Siap, nyonya bos!"


"Yang, kamu mau solat nanti? Bukannya kamu masih datang bulan?"


"Sudah selesai kok! Tadi pagi aku periksa sudah tidak keluar lagi. Jadi ya aku mandi wajib sekalian."


"Tapi aku gak lihat kamu di barisan?"


"Aku solat di kamar. Awalnya ku pikir masih haid. Makanya aku dahulukan kamu dulu. Pas kamu udah pergi, aku masuk kamar mandi, eh ternyata sudah gak keluar lagi. Ya sudah aku mandi wajib terus solat deh di kamar. Mau ikut berjamaah ternyata sudah selesai."


"Oh gitu! Alhamdulillah!"


"Kok kamu ngucap alhamdulillah?" Cicit heran dengan ekspresi suaminya itu.


"Aku senang lah! Itu artinya aku dah bisa buka puasa!" Yusuf tersenyum puas sedangkan Cicit menepuk jidatnya tidak menyangka dengan alasan yang dikemukakan suaminya.

__ADS_1


Tak lama mereka tiba di alun-alun kota. Mereka menyantap bakso yang diinginkan Cicit. Tukang bakso yang sudah hapal dengan pesanan Cicit langsung membuatkan seperti biasanya. Sebuah mangkok bakso berukuran besar menjadi wadah pesanan Cicit.


"Silakan non!" Tukang bakso menyuguhkan bakso kepada Cicit.


"Terima kasih pak!" Mata Cicit sudah berbinar melihat semangkuk bakso itu.


"Non ke mana saja kok baru kelihatan lagi? Itu pacarnya Non ya?" Menunjuk ke arah Yusuf dengan jempolnya.


"Saya cari suami pak! Nah ini suami saya!"


"Aih! Si Non mah hebat! Punya suami ganteng banget! Beruntung atuh Si Mas dapat Non Cicit! Semoga langgeng! Sakinah Mawaddah Warahmah!" Tukang bakso ikut bahagia dengan pernikahan mereka.


Setelah selesai makan dan solat zuhur mereka melanjutkan perjalanan kembali. Di tengah perjalanan terdengar suara dering telepon dari hape Cicit. Cicit mengangkat panggilan itu.


"Halo!"


".... "


"Siapa yang telepon yang?" Yusuf penasaran dengan si penelepon.


"Orang yang ku minta untuk membebaskan orang tua Bram. Mereka bilang Paman Angling Darma dan istri sudah aman. Jadi, kita bisa melanjutkan rencana. Tadi Bram sms, dia bilang punya hadiah kejutan untuk Rachel!"


"Aku penasaran dengan hadiahnya!" Yusuf masih berpikir tentang hadiah Bram untuk Rachel. Pastinya itu bukan hadiah yang menyenangkan.


Kini mereka telah sampai di hotel tempat acara resepsi akan digelar nanti malam. Mobil mereka tidak masuk lewat pintu depan melainkan pintu belakang. Mobil terparkir di area khusus keluarga. Mereka masuk ke dalam hotel dengan menggunakan lift khusus. Jadi tidak ada seorangpun yang tahu kedatangan mereka. Saat keluar dari lift Yusuf berpesan kepada Joni.


"Jon, tolong katakan pada papa, aku mau istirahat dulu! Aku akan menemui mereka jam 4 sore nanti! Jangan ada yang ganggu!" Cicit hanya diam saja. Dia sudah bisa menebak maksud suaminya.


"Siap bos!" Joni segera pergi ke kamar Andre untuk menyampaikan pesan. Setelah itu dia kembali ke kamarnya. Tadi Rania sudah memberi kabar kalau mereka sudah berada di hotel. Joni membalas agar putranya dititipkan dulu kepada papanya.

__ADS_1


"Emangnya bos doang yang mau buka puasa, aku juga mau dong!" Dengan penuh senyum dan semangat Joni bergegas menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Yusuf langsung mengunci pintu. Kemudian langsung memeluk istrinya.


"Sri, aku kangen! Aku mau buka puasa boleh kan?" Belum sempat Cicit menjawab, bibirnya sudah dibungkam dengan sebuah ciuman. Ciuman penuh cinta dan hasrat. Tak hanya itu, tangan Yusuf juga sudah bergerilya kemana-mana. Menelusup dan menjelajah tubuh Cicit. Tubuh Cicit kegelian dengan sentuhan suaminya. Tak bisa dipungkiri, Cicit juga merasakan hal yang sama dengan Yusuf. Akhirnya Cicit hanya berusaha menerima dan menikmati setiap sentuhannya. Tak disia-siakan waktu 2 jam itu digunakan untuk "buka puasa".


"Sayang! Aku sangat takut saat ini! Aku takut semua di luar kendali. Yang lebih ku takutkan adalah kehilangan dirimu!" Pria jangkung itu memeluk tubuh istrinya dengan erat. Saat ini mereka sedang beristirahat setelah berjibaku dalam peluh.


"Aku juga takut! Yakin dan percayalah bahwa Allah akan melindungi kita!" Cicit balas pelukan suaminya dengan erat juga.


"Oh iya aku sudah menyiapkan peralatan tempur terbaru untukmu. Itu ada baju pelindung yang bisa memproteksi seluruh tubuh. Ya semacam kulit buatan gitu tetapi bisa menahan peluru dan sangat fleksibel juga ringan." Yusuf segera bangun kemudian mengambil barang yang dimaksud. Cicit sangat bahagia melihat barang yang dimaksud.


Setelah itu mereka segera mandi dan bersiap untuk bertemu semua keluarga. Rapat persiapan strategi tempur akan dimulai. Setelah semua berkumpul, rapat yang dipimpin Bima segera dimulai.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


"Alhamdulillah! Akhirnya kita dapat berkumpul kembali. Saya akan memaparkan strategi pengamanan malam ini! Setiap tamu yang hadir akan dicek di pintu masuk berdasarkan undangan yang mereka terima. SOP standar berlaku di sana. Semua barang yang membahayakan akan disita. Ada kemungkinan Si Cuckoo akan datang langsung karena melihat dari dukungan publik sangat tinggi. Ada kemungkinan juga dia akan lebih dulu kemudian disusul oleh Jordan Vincent. Saya sudah memasukkan tenaga keamanan di dalam pesta. Mereka akan berbaur dan melindungi target masing-masing. Ketika terjadi chaos, mereka akan langsung mengevakuasi target masing-masing! Satu hal lagi, jika situasi sudah tidak terkendali yang paling penting adalah menyelamatkan keluarga masing-masing! Selanjutnya saya serahkan kepada Ibu Ari!"


"Terima kasih Pak Bima! Semua CCTV sudah dalam kondisi on! Kami juga memasang kamera tersembunyi cadangan jika jalur utama dirusak. Kami juga sudah menyediakan alat komunikasi yang sudah dimodifikasi menjadi aksesoris. Silakan kalian mengambil satu! Kita akan saling berkomunikasi melalui alat ini! Semua bentuk serangan balik sudah kami siapkan dalam flashdisk ini! Tinggal nanti Andre dan Yusuf yang akan mengeksekusi!"


"Aku punya tambahan tapi itu nanti saja jika diperlukan! Ya aku mau lihat dulu serangan Si Cuckoo itu bagaimana? Baru akan pikirkan apakah ini diperlukan atau tidak?" Cicit memberikan tambahan.


"Bisa kami lihat dulu?" Ari ingin melihat dulu apa yang ada pada Cicit.


"Tidak bisa! Nanti saja aku akan masukkan sendiri! Sebetulnya ini hanya sebuah kebetulan ketika aku mencari tahu tentang dia! Jika diperlihatkan sekarang akan tambah panjang ceritanya! Sebaiknya nanti saja!" Cicit malah membuat semua orang penasaran.


"Penyakit kepo kamu kumat lagi ya!?" Ayah Bima menyindir Cicit. Cicit hanya tersenyum malu.

__ADS_1


"Baiklah! Kami percaya kamu!"


"Baiklah karena sudah tidak ada yang perlu dibahas, kita bubar saja dan mulai pertunjukkannya!" Andre menutup rapat itu. Setelah itu mereka menuju pos masing-masing. Mengecek persiapan pesta.


__ADS_2