BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 24. Kebenaran Ari (2)


__ADS_3

Adzan Ashar berkumandang. Waktu sudah menunjukkan sore hari. Yusuf mengajak istrinya untuk solat Ashar. Begitu juga dengan Joni. Selepas solat mereka tidak langsung pergi. Yusuf mengajak mereka untuk berteduh di bawah pohon. Sebenarnya sejak datang ke rumah Ari, Yusuf merasa ada hal aneh dengan Ari. Hanya saja dirinya tidak berani mengungkapkannya. Entah mengapa juga setiap kali mengingat Ari, dirinya merasakan firasat buruk yang mendekat.


"Jon, siapa diantara orang-orangmu yang berada di daerah sekitar sini?" Yusuf berusaha melakukan tindakan preventif atas firasatnya itu.


"Ada apa bos? Kok tiba-tiba...?" ucapan Joni langsung dipotong Yusuf.


"Siapa Jon?" Kali ini Yusuf berkata dengan penuh penekanan.


Joni yang melihat wajah Yusuf berubah seram jadi takut. "Jajang bos!"


"Suruh dia kemari dalam waktu 10 menit. Sekarang juga!"


"Siap bos!" Joni langsung menghubungi Jajang. Beruntung nya Jajang sedang berada tidak jauh dari rumah sakit. Jajang langsung menuju lokasi yang ditetapkan. Cicit merasa heran dengan tingkah suaminya. Dia menahan diri untuk bertanya. Sebaiknya nanti saja jika sudah kembali ke kamar.


Lima menit berlalu, Jajang sudah sampai di hadapan Joni.


"Ada apa Jon? Kok tumben panggil saya?" Jajang penasaran tujuan Joni memanggilnya.


"Si bos mau kasih tugas buat kamu! Langsung ngadep Si Bos aja deh!" Joni dan Jajang langsung menemui Yusuf.


"Ada yang bisa saya bantu, bos?" Jajang langsung to the point.


"Kamu awasi pasien di kamar bersalin VIP di kamar 305! Saya mau laporan lengkap tanpa kecuali! Jika ada serangan langsung evakuasi mereka ke tempat biasa! Jika kamu butuh orang lagi lakukan saja!" Joni terkejut saat Yusuf mengatakan pasien di ruangan 305. Ari dan keluarga berada di ruangan itu. Joni bertanya-tanya dalam hati alasan Yusuf melakukan tindakan itu.


"Siap bos!"


"O ya 3 hari lagi jika tidak ada halangan mereka akan pulang. Kawal mereka dengan selamat dan lindungi mereka dari jauh!" Yusuf mengingatkan perihal kepulangan Keluarga Ari.


"Siap bos!"


"Ya sudah kamu boleh pergi!" Jajang langsung pergi melaksanakan tugasnya.


Cicit merasa ada alasan kuat Yusuf melakukan itu. Dia akan bertanya padanya ketika di kamar nanti. Setelah itu mereka langsung pulang ke hotel. Sebelum berangkat, Yusuf bertanya hal penting juga kepada Joni.


"Jon, persiapan besok bagaimana? Sudah beres?"


"Siap! Beres bos! Tinggal tunggu bos datang saja!"


"Bagus! Bonus bulan ini saya gandakan!"

__ADS_1


"Terima kasih bos!"


Joni langsung melajukan mobil menuju hotel Dinata. Hampir dua jam perjalanan akhirnya sampai di hotel. Waktu sudah hampir menunjukkan waktu magrib. Mereka langsung menuju kamar masing-masing. Belum lagi Cicit sempat bertanya tentang sikap Yusuf tadi mereka sudah dipanggil oleh para sesepuh di ruang makan. Cicit jadi urung bertanya. Yusuf paham maksud pemanggilan mereka.


"Kalian kemana aja? Gak bilang-bilang lagi!" Mama Aiu yang membuka dengan nada omelan khas emak-emak.


"Habis ikut balapan ma sama Sri!" Bima yang sedang makan semangka jadi terkejut. Beruntungnya tidak tersedak.


"Cicit!" Bima langsung bersuara agak tinggi. Cicit yang mendengar suara ayahnya hanya cengar-cengir saja. Pasalnya Cicit sudah berjanji tidak akan ngebut saat mengendarai mobil.


"Maaf yah! Tadi lagi kepepet soalnya, hehe!" Cicit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Alasan! Kamu kan sudah janji! Kamu...!" Omelan Bima langsung dipotong Yusuf.


"Ayah Bima! Ada alasan mengapa Sri melakukan itu? Jika bukan karena keahlian Cicit mungkin kami akan terlambat untuk bertemu dengan orang penting!" Bima membela Cicit.


"Orang penting? Siapa?" Bima penasaran siapa orang yang dimaksud.


"Ari Wardhana dan Sindi Azahra!" Jawaban Yusuf sontak membuat semua orang terkejut. Mereka terkejut karena setahu mereka Sindi sudah meninggal.


"Bagaimana mungkin? Bukankah Sindi sudah meninggal?" Jendral Krishna belum percaya dengan apa yang dia dengar.


"Itu benar kek! Nenek Sindi masih hidup! Ari Wardhana yang kami temui tadi bukanlah Ari yang biasa berkeliaran di majalah!" Cicit kembali membuat mereka terkejut.


"Cicit minta maaf tidak bercerita kepada ayah, ibu, dan kakek karena permintaan Paman Ari. Selama ini mereka hidup dengan tenang dan damai di tempat yang tersembunyi. O ya hari ini juga kami membantu istri Paman Ari melahirkan!"


Untuk menguatkan info yang disampaikan Cicit, Yusuf menunjukkan foto saat mereka berkumpul setelah makan siang. Krishna dan Doni melihat foto tersebut. Mereka akhirnya percaya dengan yang dikatakan Yusuf.


"Jika yang berkeliaran selama bukan Ari asli, lantas siapa dia?" Bima jadi bingung. Meski mereka saudara jauh dan Bima juga tidak terlalu dekat, tetapi tetap saja ada rasa iba terhadap mereka setelah mendengarkan cerita Cicit 5 tahun lalu.


"Kemungkinan dia Dika Setiawan, meski belum sepenuhnya pasti, tapi instingku bilang begitu!" Yusuf berasumsi.


"Hais! Keluarga Setiawan!" Pak Surya menggeleng-gelengkan kepalanya saking tidak percaya jika waktu bahkan tidak bisa menghapus dendam.


"Ada apa Surya?" tanya Krishna penasaran.


"Apa kamu sudah lupa dengan kematian Budi Setiawan dan rekannya Mr. Vincent yang dipenjara seumur hidup?" Pak Surya mencoba mengingatkan Krishna kembali tentang peristiwa yang terjadi 30 tahun lalu itu.


"Astaghfirullah! Padahal waktu sudah berlalu begitu lama, mengapa dendam tidak hilang juga?" Bima teringat kembali dengan misinya bersama Laras 30 tahun lalu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi 30 tahun lalu?" Adrian penasaran dengan peristiwa itu.


"30 tahun lalu kami kehilangan sahabat kami, Budi Setiawan. Dengan kematian Budi Setiawan dan tertangkapnya orang tua Budi membuat semua bisnis Keluarga Setiawan hancur. Selain itu juga ada investor asal Amerika yang ditangkap dan dijatuhi hukuman seumur hidup, Mr. Vincent atas kasus perdagangan manusia dan narkoba!" Pak Surya menjelaskan dengan singkat.


"Sepertinya akan ada badai kembali!" Andre menyiratkan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Oleh karena itu Ucup meminta Joni untuk mengadakan reuni minggu depan! Bukankah sudah lama sekali kita tidak berkumpul! Ucup berharap Kakek Surya, Kakek Krishna, ayah dan ibu juga hadir! Mudah-mudahan semua bisa hadir. Bukan, semua wajib hadir! Jon, tambahkan di undangan Urgent tingkat 5!"


"Siap bos!"


"O ya Paman Doni, saya merasa ada aneh ketika melihat Ari! Saya pernah bertemu dengan Singgih Wardhana. Saya merasa heran mengapa wajah Ari tidak mirip dengan Singgih? Mereka terlihat orang yang sangat berbeda!"


"Kamu benar! Mereka memang tidak mirip! Lebih tepatnya Ari memang bukanlah anak Singgih!" Wajah Doni menerawang mengingat kejadian berpuluh tahun lalu.


"Ketika Singgih dan Sindi menikah, aku hanya melihat wajah Sindi yang bahagia! Aku hanya merasa keputusan Singgih menikahi Sindi tak lain hanya ingin membuatku marah! Singgih mengira jika aku sudah ditolak Sindi. Kenyataannya sebaliknya. Sindi sudah ku tolak. Aku memberi tahu bahwa ada seseorang yang sangat mencintainya. Sindi salah mengira Singgihlah orangnya. Padahal orang yang ku maksud adalah Hengki Gunawan. Saat pernikahan mereka, Hengki datang dan melihat mereka dari balkon. Tak disangka bahwa Singgih sudah menyiapkan rencana besar untuk mendepakku dari Keluarga Wardhana dengan membuat skandal. Malam itu tanpa kami sadari, minuman ku sudah dimasukkan obat perangsang. Begitu juga dengan minuman Sindi. Tanpa disengaja Hengki yang sedang bersedih malah meminum minumanku. Setelah itu kami kembali ke kamar masing-masing." Doni berhenti sejenak dan meneguk segelas air putih.


"Ketika Subuh tiba, Doni merangsek masuk ke kamarku! Dia seperti orang bingung! Aku bertanya padanya. Dia mengatakan jika dirinya sudah tidur dengan Sindi dan menodainya. Dia bercerita kalau setelah kami berpisah, dirinya bertemu dengan Sindi yang sedang terhuyung-huyung. Akhirnya Hengki memapah Sindi ke kamarnya. Hengki bercerita entah mengapa saat itu tubuhnya juga merasa tidak nyaman. Melihat Sindi yang juga menempel padanya, tanpa sadar mereka melakukannya. Saat adzan Subuh berkumandang, Hengki langsung bangun dan tersadar berada di samping Sindi tanpa busana. Dia langsung berpakaian dan berlari ke kamarku. Bahkan saat Singgih ingin memergoki Sindi, Hengki sudah tidak ada di tempat. Rencana Singgih gagal! Dua minggu kemudian aku mendengar jika Sindi hamil! Aku bisa yakin itu anak Hengki karena paginya setelah pernikahan mereka, Singgih langsung pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis dan baru kembali 3 minggu kemudian. Sindi selalu menganggap bahwa Singgih adalah ayah dari anaknya tanpa tahu kebenarannya." Pak Doni menundukkan kepalanya setelah bercerita. Dia merasa kasihan dengan Sindi dan Hengki.


"Kenapa Hengki bisa tidak tahu tentang Ari? Bukankah jika dilihat dari wajahnya saja sudah pasti mirip dengannya?" Andre penasaran.


"Setelah kejadian itu Hengki pergi tanpa jejak. Aku saja kesulitan menghubunginya. Mungkin karena perasaan bersalahnya itu, dia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Sindi tanpa tahu yang sebenarnya terjadi." Pak Doni selama ini sudah berusaha mencari Hengki tetapi belum juga ada hasil.


"Sudah, tidak perlu dicari lagi! Kemungkinan dia akan datang dengan sendirinya!" Yusuf berasumsi lagi.


"Kenapa begitu?" Pak Doni penasaran dengan omongan Yusuf.


"Mungkin Cicit dan Joni tidak menyadari bahwa sejak kita keluar dari hotel sudah ada orang yang mengikuti. Aku sudah bersiap jika mereka hendak membuat masalah. Ku tunggu-tunggu sepertinya mereka tidak mengambil tindakan. Mereka hanya mengamati. Mereka bereaksi ketika melihat Ari dan Sindi keluar dari gubuk. Tapi mereka tidak juga berencana untuk menyerang. Ada kemungkinan Pak Hengki sudah melihat foto Ari palsu di majalah. Kemungkinan juga Pak Hengki hendak mencari kakek tetapi kabar berita mengatakan bahwa kakek sudah tiada. Jadi mereka hanya bisa mengintai Keluarga Wirabuana." Yusuf menjelaskan asumsinya.


"Semoga saja begitu!" Pak Doni berharap jika memang benar begitu adanya.


"Kakek Doni tenang saja! Ucup sudah minta orang untuk melindungi Ari dan keluarga!" Doni merasa lega setelah mendengar hal itu.


"Itu baru anak papa!" Andre memuji tindakan Yusuf.


"Itu baru menantuku!" Bima tidak mau kalah.


Cicit juga merasa lega karena semua hal yang ingin ditanyakan sudah mendapatkan jawabannya tanpa bertanya.


"O ya pa! Papa gak mau ikut acara besok di kantor?"

__ADS_1


"Gak lah! Papa masih liburan sama mamamu di sini! Pastikan mereka tahu siapa bosnya!" Andre mengingatkan Yusuf.


"Siap!"


__ADS_2