BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 20. The Wedding Day


__ADS_3

Malam itu, setelah makan malam, Yusuf meminta ijin kepada Bima untuk berbicara dengan Cicit secara pribadi. Bima mengijinkan mereka bicara berdua di teras. Meski sudah resmi bertunangan, Bima masih belum memercayai Yusuf. Maklumlah, rasa posesif Bima masih sangat besar terhadap Cicit. Akhirnya Bima diam-diam menguping dari balik pintu ruang tamu.


Mereka duduk di kursi teras. Lampu teras menerangi mereka. Rasa canggung masih mendominasi. Akhirnya Cicit putuskan untuk bicara lebih dulu.


"Kamu dapat dari mana semua data kami?" Cicit penasaran.


"Dari situs resmi pemerintah, dong! Masa kami mencuri data. Kan ada NIK kamu di KTP. Dari situ kan bisa ditelusuri."


"Kirain kamu nge-hack data orang! Jadi, waktu kamu bilang gak ada waktu untuk aku waktu itu, kamu lagi sibuk menyiapkan hal ini?" Yusuf mengangguk mantap.


"Kamu sudah bertumbuh dan berkembang begitu banyak bahkan melampaui aku. Kalau ingat dulu, rasanya masih tidak percaya kalau yang di hadapanku sekarang ini adalah Ucup yang dulu." Cicit mengingat wajah Ucup remaja dulu.


"Kamu juga sudah banyak bertumbuh dan berkembang. Gak sangka kamu begitu kuat sampai bisa mengalahkan 30 orang." Yusuf tertawa kecil begitu juga dengan Cicit.


"Cit, ah bukan Sri! Terima kasih karena kamu sudah setia dan menungguku meski tak ada kata yang mengikat. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu saat itu. Sekarang aku lebih bersyukur lagi karena aku bisa menemukanmu dan segera menjadikanmu istriku."


"Bukankah kita sama! Kamu juga begitu setia menunggu dan bahkan terus mencariku sampai ke beberapa desa. Aku sangat tersanjung!" Cicit tersenyum sambil memandang Yusuf.


"Dari mana kamu tahu?" Yusuf penasaran.


"Ups! Keceplosan!" Cicit tanpa sadar mengatakan hal rahasia.


"Jangan-jangan kamu ya yang sudah menyusup ke komputerku?" Yusuf curiga pasalnya beberapa waktu lalu Joni bilang ada yang masuk ke komputer Yusuf tapi tidak mengambil data apapun.


"Ketahuan deh! Maafkan aku ya! Waktu itu aku hanya ingin memastikan apakah kamu adalah Ucup yang aku cari." Cicit menundukkan kepalanya. Dirinya merasa malu karena sudah ketahuan.


"Sudah tidak apa-apa! Lagi juga aku sudah tahu kalau itu kamu! Joni melakukan penelusuran balik dan mendapatkan asal alamat IP kamu! Jadi tidak masalah!" Cicit lega karena Yusuf tidak mempermasalahkannya.


"Oh ya! Ini ada sesuatu yang mau aku berikan sama kamu! Tadinya mau aku jadikan mas kawin yang unik tapi dipikir-pikir masa mas kawinnya begitu, nanti malah dikira tidak menghargai. Jadi aku kasih saja sekarang." Yusuf mengeluarkan awetan bakwan dari dalam saku jasnya.


Cicit yang melihat awetan itu jadi terpana. Dirinya tidak menyangka bahwa pria di depannya masih menyimpan bakwan buatannya.


"Itu adalah barang paling berharga bagiku! Karena dari situlah semua kisah kita dimulai. Mulai besok dan seterusnya, kamu mau kan membuatkanku bakwan setiap hari!" Yusuf menatap mata Cicit dengan lembut.


"Tentu saja!" Cicit menjawab mantap. Wajahnya merona.


"Kamu cantik dilihat dari sisi manapun! Andai saja kita sudah halal, aku tidak segan untuk memelukmu saat ini juga!" Yusuf mengatakan itu tanpa sadar.


Wajah Cicit makin merona. Ada perasaan bahagia tak terkira saat mendengar ucapan Yusuf barusan. Di balik pintu ada yang tidak senang mendengar ucapan Yusuf. Bima sengaja batuk untuk mengingatkan mereka.


"Uhuk... uhuk... uhuk!"


"Hais! Ayahmu tahu banget ya waktu untuk menginterupsi!" Cicit hanya tertawa.

__ADS_1


"Ya sudahlah! Sudah malam juga. Sebaiknya kami pulang. Besok masih banyak hal yang harus kita jalani!"


Yusuf berdiri dari kursi kemudian berjalan masuk ke dalam hendak memanggil keluarganya. Cicit mengekor di belakang Yusuf. Saat melewati pintu terlihat Bima masih berdiri di sana. Yusuf hanya melirik saja kemudian jalan terus hingga ke ruang keluarga. Cicit berhenti di pintu. Dia melihat ayahnya di sana. Matanya melotot ke arah Bima. Tangan Cicit dengan sigap mencubit pinggang ayahnya.


"Ayah ini! Apa-apaan sih? Pakai nguping segala! Gak baik tahu!" Cicit memarahi ayahnya.


"Aww! Sakit! Ayah kan cuma khawatir nanti kamu diapa-apakan sama dia!" Bima memang khawatir.


"Tapi gak gitu juga kali yah! Yusuf itu bukan laki-laki seperti yang ayah kira! Tadi ayah dengar kan apa yang dibilang Yusuf. Dia tidak akan menyentuh Cicit kalau belum halal! Itu artinya dia sangat menghormati dan menghargai Cicit. Cincin ini saja ayah yang pakaikan! Apa masih belum cukup yah?" Cicit benar-benar kesal dengan Bima. Wajahnya memberengut. Kekhawatiran Bima kali ini memang berlebihan.


"Maafkan ayah ya! Ayah hanya masih belum menerima jika putri ayah satu-satunya akan pergi dari ayah. Ayah jadi sedih kalau ingat itu! Putri yang ayah besarkan dan jaga baik-baik akan jadi istri orang. Sungguh ayah masih sulit menerima ini." Tanpa sadar air mata Bima menetes.


Cicit yang melihat ayahnya sedih langsung memeluknya. Cicit juga akhirnya ikut menangis dalam pelukan ayahnya. Bima mengusap lembut rambut anaknya. Memberikan kehangatan untuk putrinya.


"Mulai besok kamu akan jadi istri Ucup! Laki-laki yang kamu pilih! Jadilah istri dan ibu yang baik. Rawat dengan baik suami dan anak-anakmu nanti! Sesekali pulanglah ke rumah!" Bima tak bisa berkata-kata lagi.


"Baik ayah! Nasihat ayah akan selalu Cicit ingat dan laksanakan!"


Pemandangan itu dilihat juga oleh Yusuf dan Laras. Laras berpesan kepada Yusuf.


"Begitulah Bima! Sejak dulu sebenarnya dia sangat menyukaimu tapi sebagai ayah dia ingin menguji kelayakan kamu untuk putrinya. Saya harap kamu mengerti!"


"Saya sangat mengerti bu! Papa juga dulu begitu! Mungkin nanti juga saya akan seperti itu."


"Iya bu! Saya akan ingat dan laksanakan pesan ibu! Itu juga yang berlaku di keluarga kami. Papa dan mama juga selalu mengajarkan seperti kepada anak-anaknya."


Malam itu Yusuf pulang bersama keluarganya ke vila. Sebelum itu, Yusuf sempat menitipkan kotak berisi baju pengantin dan perhiasan kepada Laras.


Keesokan paginya kediaman Laras disibukkan dengan persiapan pernikahan. Rahmi kini sedang merias Cicit. Harun dan Rahmi sampai sekitar pukul 10 malam. Rahmi merias Cicit dengan riasan natural. Tak lupa memadupadankan dengan hijab yang akan dipakai. Yusuf memberikan satu set pakai pengantin muslim untuk Cicit lengkap dengan hijabnya. Secara tersirat Cicit mengerti maksud Yusuf. Cicit tidak masalah dengan itu karena memang sudah lama Cicit ingin berhijab. Alasannya belum menunaikan niatnya karena takut Ucup tidak mengenalinya.


Setelah satu jam berjibaku akhirnya Rahmi selesai merias Cicit. Cicit terlihat sangat cantik dengan balutan hijab. Bima yang melihat juga terpesona.


"Anak ayah cantik banget pakai hijab! Dari mana pakaian pengantin ini? Perasaan ayah tidak pernah membelikan baju model begini!" Bima memuji Cicit.


"Itu Yusuf yang kasih! Tuh lihat calon mantu baik begitu, jangan dipersulit lagi! Dia juga sangat menjaga kehormatan Cicit!" Laras memuji Yusuf.


"Iya Laras ku sayang! Aku mengerti!"


Sekitar pukul 09.00, mereka sudah sampai di kantor KUA. Di sana juga keluarga Yusuf sudah menunggu. Yusuf terpana saat melihat Cicit. Matanya tak berkedip sampai Mama Aiu menyenggol lengannya pun, Yusuf tetap belum sadar. Akhirnya Mama Aiu menjewernya. Barulah Yusuf tersadar.


"Kamu itu ya! Disenggol-senggol dari tadi gak sadar juga! Rasakan itu! Jaga mata kamu! Belum sah juga!" Mama Aiu jadi mengomeli Yusuf.


"Maaf ma, maaf!" Semua orang tertawa melihat tingkah Yusuf termasuk Cicit.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada di dalam kantor. Pak penghulu juga sudah siap di tempatnya. Yusuf, Bima, Joni, dan Arsha sudah berada di meja penghulu. Cicit sengaja belum disandingkan di samping Yusuf karena belum sah.


"Baiklah! Sebelum ijab kabul dimulai, saya periksa dulu rukun dan syarat nikahnya!" Pak penghulu mengecek seluruh kelengkapan surat. Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani Bima. Bima pun segera menandatanganinya.


"Baik! Semua sudah lengkap! Mempelai pria dna wanita sudah hadir, wali sudah ada! Saksi dan mas kawin juga sudah siap! Bisa kita mulai sekarang. Pak Bima, apa bapak mau menikahkan sendiri atau diwakilkan?" tanya Pak Penghulu.


"Saya nikahkan sendiri saja, pak!"


"Baiklah kalau begitu! Ijab kabul bisa kita mulai sekarang! Silakan Pak Bima!"


"Bismillahirrohmaanirrohiim! Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Citra Srikandi Wirabuana binti Bimasena Arya Wirabuana dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat 25 gram dan satu set peralatan memanah dibayar tunai!" Bima mengucapkan ijab dengan tegas dan lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Citra Srikandi Wirabuana binti Bimasena Arya Wirabuana dengan mas kawin tersebut tunai!" Yusuf mengucapkan kalimat kabul dengan mantap dan lantang.


"Bagaimana para saksi?" Pak Penghulu bertanya.


"Sah!" Arsha dan Joni menjawab dengan kompak.


"Alhamdulillah sah ya! Nak Citra silakan kemari! Duduk di samping Mas Yusuf!" Cicit dengan dibantu Laras duduk di samping Yusuf.


"Mbaknya silakan mencium tangan suaminya!"


Cicit mencium tangan Yusuf. Yusuf membalas mencium kening Cicit. Wajah Cicit merona menahan malu. Ini pertama kalinya ada laki-laki yang menyentuh dirinya.


"Mas dan mbaknya silakan tanda tangani buku nikahnya!" Mereka menandatangani buku nikah.


Setelah itu acara ditutup dengan doa dan nasihat pengantin oleh penghulu. Setelah selesai mereka dibawa ke hotel milik keluarga Dinata.


Perjamuan kecil sudah disiapkan oleh Surya Dinata. Mereka semua berkumpul di ballroom yang sudah disiapkan. Aneka hidangan sudah tersaji. Yusuf mengambilkan beberapa makanan untuk istrinya.


"Sri sayang! Makan ini!" Yusuf menyodorkan sesendok nasi kepada Cicit. Cicit membuka mulutnya dan memakannya. Kini giliran Cicit yang menyuapi Yusuf. Mereka saling menyuapi makanan. Bima yang melihat jadi cemburu. Bima yang hendak duduk satu meja dengan mereka langsung ditarik Laras menjauh.


"Kamu itu ya! Masih aja mau ganggu! Biarkan saja mereka! Toh sudah halal! Apa kamu gak mau menyuapi aku?" Laras merayu Bima. Bima yang memang sudah cinta mati dengan Laras langsung mengangguk lalu mengajak Laras ke meja lain. Mereka pun saling menyuapi.


Di meja lain, Andre dan Aiu juga sedang menikmati kemesraan yang ditampilkan pasangan pengantin baru.


"Ai sayang! Apa kamu bahagia sekarang?"


"Iya mas! Aiu bahagia sekarang! Melihat Ucup bisa menikah dan mendapatkan istri yang cantik dan juga baik! Gak sangka juga kalau Ucup bisa seromantis itu sama perempuan!"


"Iya! Mas juga gak sangka! Ai sayang, nanti kita "ehem-ehem" ya? Kan dah lama gak gitu?!" Andre mesam-mesem saat bicara hal itu. Melihat Yusuf yang mesra dengan Cicit. Jiwa latahnya juga bangkit.


"Kamu itu kayak dah setahun aja gak begituan! Padahal baru tadi malam juga!"

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di satu meja. Mereka membahas tentang pesta pernikahan Yusuf dan Cicit.


__ADS_2