BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 50. Resepsi: Bertemu Kembali (4)


__ADS_3

Suasana pesta masih menyelimuti ballroom hotel. Andre masih sibuk menyapa tamu undangan yang rata-rata adalah kolega bisnis. Tamu yang datang sangat banyak karena pesta ini merupakan pesta yang dihelat dia keluarga besar, yaitu Keluarga Winata dan Dinata. Belum lagi para kolega dari Natakusuma dan juga Wardhana. Tentu saja pernikahan ini sangat memberi keuntungan besar bagi kedua keluarga dalam memperluas jaringan bisnis.


Sementara itu, di kamar Ros dirawat, dua lelaki beda umur sedang bersiap untuk melakukan misi penyelamatan. Magnolia bersedia memberitahu lokasi Mawar berada dengan syarat mereka juga harus menyelamatkan satu orang lagi dan membantunya untuk sembunyi di luar negeri. Yusuf setuju dengan syarat yang diajukan. Mungkin jika tidak ada pesta sudah pasti Cicit juga akan ikut serta dalam misi.


Kedua orang itu sudah siap. Yusuf memerintahkan sepuluh pengawal untuk pergi bersama Firman dan Cakra. Magnolia sudah memberitahu lokasi keberadaan Mawar juga sistem keamanan yang dipakai di tempat itu. Gadis itu juga memberitahu di kamar mana Mawar berada dan juga orang yang akan diselamatkan bersama Mawar. Magnolia memberitahu kebiasaan yang dilakukan bibinya saat malam juga kondisinya yang memakai kursi roda. Orang yang akan diselamatkan selanjutnya kondisinya agak spesial. Pria itu sudah agak tidak waras. Gadis itu mengingatkan untuk berhati-hati dalam membawanya.


Persiapan telah selesai. Firman dan Cakra berpamitan. Yusuf memberikan fasilitas mobil anti peluru dalam misi ini.


"Kalian harus hati-hati! Tetap berkomunikasi denganku, Cakra!" Cicit mengingatkan Cakra. Pria muda itu hanya mengangguk tanda paham. Yusuf sudah memberitahu pengawalnya agar mengikuti perintah Cakra dan Firman.


"Jika pria itu menolak untuk dibawa kalian bisa gunakan ini!" Magnolia memberikan sebuah suntikan berisi obat penenang.


"Tidak perlu! Kami punya cara sendiri. Tenang saja itu tidak akan melukainya." Cakra menjawab dengan santai.


"Baiklah! Aku percaya dengan kalian!" Magnolia memasukkan kembali suntikan itu ke dalam tas.


Firman dan Cakra akhirnya pergi. Bima dan Laras juga kembali ke ballroom. Yusuf sejak tadi penasaran dengan Cicit. Wanitanya tampak asik mengutak-atik tabletnya.


"Kamu lagi apa sih yang?"


"Nih, lihat saja!" Cicit memperlihatkan proses peretasan sistem keamanan.


"Ini dimana?"


"Tentu saja di lokasi yang akan Cakra kunjungi!" Cicit memperlihatkan senyum sumringah karena peretasan berhasil.


"Kamu memang yang terbaik!" Yusuf tersenyum sambil membelai kepala istrinya.


Lima jam telah berlalu, sekarang sudah pukul satu tengah malam. Pesta sudah berakhir 3 jam yang lalu. Semua orang belum tidur. Mereka berkumpul di ruang pertemuan. Wajah mereka tampak cemas, terutama Laras. Meski sudah sering menjalankan misi tetap saja kekhawatiran seorang ibu tidak bisa ditutupi.

__ADS_1


Menurut prediksi Cicit seharusnya mereka sudah sampai dari satu jam yang lalu. Tetapi hingga kini barang hidung mereka belum terlihat. Dua jam lalu komunikasi masih terhubung, entah mengapa setengah jam setelahnya Cakra tidak dapat dihubungi. Cicit sudah berusaha menghubungi Cakra dengan segala cara tetapi hasilnya nihil.


"Cup, kita susul saja ya?" Cicit memohon karena khawatir.


"Tenanglah dulu! Ku rasa mereka sudah dalam perjalanan kembali. Kita tunggu saja dulu ya sebentar lagi!" Yusuf memeluk istrinya untuk menghilangkan rasa cemasnya.


Setengah jam berlalu, Cicit mulai kehilangan kesabarannya.


"Cup, ayolah! Ini sudah setengah dua pagi dan mereka belum kembali! Ayolah kita susul mereka ya!" Cicit membujuk suaminya. Yusuf juga tidak tega melihat kegelisahan di wajah istri dan ibu mertuanya.


"Baiklah! Ayo kita bersiap! Joni, siapkan semuanya!" Cicit tersenyum.


"Baik, tuan muda!" Joni segera menyiapkan semua kebutuhan.


Pukul dua pagi semua persiapan sudah selesai. Kali ini Bima dan Laras juga ikut turun tangan.


"Baiklah! Komando ada di tangan saya! Semua harus ikut perintah saya!" Bima memberikan arahan.


Saat mereka akan pergi tiba-tiba saja pintu ruang pertemuan terbuka. Membuat seisi ruangan terkejut. Magnolia yang sedari tadi tak henti-hentinya berdoa sambil mondar-mandir juga ikut terkejut. Magnolia segera berlari ke arah pintu begitu melihat orang yang datang.


"Bibi Mawar!" tangis Magnolia pecah. Magnolia menangis di pangkuan bibinya. Firman dan Cakra telah kembali dengan membawa Mawar.


"Terima kasih keponakanku yang cantik!" Mawar tersenyum bahagia.


"Lalu dimana dia?" Magnolia bertanya tentang orang yang satunya lagi.


"Dia....!" Firman menggantung ucapannya. Bingung mau mengatakan apa.


"Kalian sudah berjanji padaku kalau akan membawanya juga kan?! Lalu dimana dia?" Magnolia kembali bertanya. Firman dan Cakra saling beradu pandang. Bingung bagaimana mengatakannya.

__ADS_1


Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Seorang pria masuk ke dalam ruangan.


"Aku disini, sayang!" Pria itu tersenyum.


Suara bas pria itu menyadarkan Magnolia. Tubuh Magnolia berputar. Matanya membelalak mendapati sosok yang dirindukannya. Gadis itu lebih terkejut lagi saat mendapati kondisinya berbeda dari biasanya.


"Benarkah ini kamu?" Magnolia masih tidak percaya.


Pria itu berjalan mendekati Magnolia. Kemudian menarik tangannya dan memeluknya.


"Tentu saja ini aku, suamimu!" Semua orang di ruangan itu kembali terkejut. Mereka tidak percaya kalau Magnolia sudah menikah.


"Frans sayangku!" Magnolia membalas pelukannya. Menangis sejadinya dalam pelukannya. Semua terharu dengan pemandangan itu. Frans berulang kali mengelus punggung dan menciumi puncak kepala istrinya.


Setelah semua terkendali, Cakra mulai menceritakan alasan keterlambatan mereka.


"Tadi kami hampir ketahuan ketika akan keluar dari tempat itu. Beruntung Frans menunjukkan jalan lain. Ternyata jalan itu memutar dan membutuhkan waktu lebih lama." Semua lega mendengar penjelasan Cakra.


"Kenapa kamu tidak bersama mereka?" Magnolia bertanya-tanya.


"Seandainya aku langsung menemuimu, aku jamin kamu tidak akan mengenaliku dan menolakku." Frans menjelaskan.


"Kenapa begitu?" Magnolia penasaran.


"Kamu kan tahu penglihatanku tidak baik apalagi kalau sudah malam. Tadi aku terperosok ke dalam sawah. Semua lumpur menempel di wajah dan tubuh. Kalau aku bertemu denganmu dalam keadaan seperti itu, apa kamu akan mengenaliku? Yanga da kamu jijik padaku. Saat sampai tadi, aku langsung ke lobi hotel, memesan kamar tanpa memberitahu mereka. Makanya mereka bingung saat kamu bertanya." Magnolia hanya tersenyum mendengar penjelasan Frans.


"O ya kenapa selama ini kamu membohongiku? Berpura-pura gila!" Magnolia kembali geram mengingat hal itu.


"Jika ibumu tahu aku tidak gila, kira-kira apa yang akan dia lakukan? Pasti kamu yang menjadi sasarannya. Lagipula aku masih harus menyembuhkan bibimu. Memang aku sudah mereka suntik dengan obat itu. Tetapi sebelum disuntik aku sudah meminum penawarnya. Jadi saat obat itu masuk langsung dinetralisir. Sebenarnya aku tidak sengaja mendengar rencana ibumu. Jadi aku menyiapkan segalanya. Maafkan aku karena tidak lebih awal memberitahumu. Kamu kan tahu sendiri di tempat itu sinyalnya kadang hilang timbul. Sekarang kamu sudah tahu kan. Jadi, jangan marah lagi!" Frans kembali merangkul istrinya.

__ADS_1


Semua sudah bertemu dengan keluarganya. Kini tinggal mengambil langkah selanjutnya.


Kira-kira langkah apa ya? Tetapi sebelum itu, Author mengucapkan selamat tahun baru 😀🎉🎉 Semoga di tahun 2022 ini semakin lebih baik lagi dan semakin sukses. Mohon maaf ya hampir dua minggu gak up, anak author yang paling kecil sakit. Ini masih ada satu bab resepsi lagi ya. Terima kasih semuanya 😊😊😊


__ADS_2