
Malam sudah larut. Seluruh penghuni rumah singgah sudah terlelap. Hanya Cicit saja yang masih terjaga. Setelah makan malam tadi banyak hal yang dipikirkan Cicit. Terutama soal perasaannya dengan Ucup. Jujur saja, sejak mengenal Yusuf, Cicit merasa ada perasaan lain di hatinya. Perasaan yang sama yang selama ini dia jaga untuk Ucup.
Gadis itu bahkan terheran saat dia merasa cemburu tadi. Yusuf adalah orang yang baru dikenalnya sebulan ini. Entah mengapa Cicit merasa telah mengenalnya sangat lama? Terkadang Cicit merasa melihat Ucup dalam diri Yusuf. Kadang pertanyaan apa jangan-jangan Yusuf adalah Ucup? suka muncul dalam benaknya.
Saat ini gadis berambut panjang itu sedang memikirkan ucapan Pak Andre. Cicit terkejut mendengar kenyataan bahwa Yusuf tidak bisa move on dari masa lalunya sama seperti dirinya. Yang menjadi pikiran Cicit adalah bakwan. Tidak mungkin nama orang adalah bakwan. Apa ada hubungannya dengan bakwan? Dulu aku pernah memberikan bakwan untuk Ucup. Jangan-jangan betul Ucup adalah Yusuf. Aku harus menyelidikinya dengan benar.
Di tempat lain, seorang pria juga sedang galau sama seperti Cicit. Pria itu terus mengingat semua kejadian tadi. Kadang tersenyum kadang mengerutkan kening, kadang muram. Sama seperti Cicit, Yusuf jadi penasaran dengan apa yang diucapkan papanya, Andre. Apalagi saat mendengar kata Leika. Kalau dipikir-dipikir nama Leika itu kan cocoknya buat perempuan. Masa cowok namanya Leika. Tapi, Leika juga nama merk kamera. Seingatku, dulu kameraku kehilangan tutup lensa. Gara-gara itu aku harus mencari penggantinya.
Jika mengingat perkataan Andre bahwa Cicit tidak bisa move on dari masa lalunya, Yusuf benar-benar sangat cemburu. Yusuf begitu cemburu kepada laki-laki yang dicari oleh Cicit. Andai saja laki-laki itu adalah aku, betapa beruntungnya dicintai Cicit selama itu. Cicit adalah gadis yang ingin ku nikahi jika saja dia belum ada yang punya. Cicit oh cicit! Mengapa engkau sampai bisa membuatku segalau ini? Andai saja Sri adalah kamu, aku pasti akan langsung menikahimu. Apa ku dekati saja ya? Haduh kalau seperti itu aku malah terlihat seperti playboy, bagaimana jadinya jika Sri ketemu nanti? Ah, sudahlah! Tidur saja dulu. Besok harus ke rumah singgah melihat perkembangan belajar anak-anak.
Minggu pagi kali ini sangat cerah. Langit begitu biru dengan sedikit sapuan awan putih. Matahari juga sangat gagah memancarkan sinarnya. Setiap hari minggu adalah waktu bagi Cicit untuk melaporkan hasil belajar anak-anak kepada Yusuf. Kehadiran Cicit di rumah singgah tidak hanya guru juga pengawas untuk anak-anak. Cicit tidak hanya memantau dari sisi akademis tetapi juga sisi psikologis dan kesehatan anak-anak. Cicit harus memberikan laporan harian kegiatan anak-anak kepada Yusuf. Juga laporan mingguan yang merupakan rangkuman kegiatan selama seminggu. Setiap minggu Yusuf datang untuk bertanya langsung tentang kegiatan kepada anak-anak. Intinya memastikan bahwa yang dilaporkan Cicit adalah benar.
Selama dua minggu sejak permintaan anak-anak untuk berkebun dan beternak serta menjahit mulai terlihat hasil belajar mereka. Anak-anak mulai bingung dengan hasil belajar mereka. Saat mereka meminta untuk beternak. Yusuf langsung membangun peternakan skala kecil untuk ayam petelur. Yusuf juga membelikan 100 ekor induk ayam petelur. Dengan perawatan yang sudah diajarkan dalam waktu singkat ayam-ayam itu mulai menghasilkan telur. Awalnya untuk konsumsi sendiri karena telur masih sedikit. Sekarang semua induk sudah mulai bertelur jadi telur yang dihasilkan juga sudah banyak. Anak-anak kebingungan hendak dikemanakan telur-telur itu.
Lain lagi dengan anak-anak yang belajar berkebun. Yusuf membangun rumah hidroponik untuk mereka. Kebetulan tanah di halaman belakang masih luas jadi bisa digunakan untuk menanam sayuran. Ada dua jenis sayuran yang ditanam, yaitu kangkung dan bayam sebagai awal percobaan. Kangkung dan bayam yang ditanam sudah mulai besar. Dalam 3 minggu ke depan sudah mulai bisa dipanen. Jika untuk konsumsi sendiri tentu sangat berlebih. Oleh karena itu, anak-anak meminta Cicit untuk bicara kepada Yusuf agar membolehkan mereka menjual hasil panennya.
Begitu juga dengan anak-anak yang ikut kursus menjahit. Yusuf membelikan semua keperluan menjahit mulai dari mesin jahit, mesin obras, hingga bahan-bahan berkualitas serta benang-benangnya. Minggu pertama mereka diajarkan membuat pola dasar pakaian dan mulai mencoba menjahit berdasarkan pola yang dibuat. Mereka cepat menyerap pelajaran sehingga tidak heran dalam waktu satu minggu mereka sudah mulai pandai menjahit.
Minggu berikutnya mereka diminta membuat pola sendiri dan menjahit baju berdasarkan pola yang mereka buat. Hasilnya sangat bagus. Jika kegiatan diteruskan maka baju yang dihasilkan nantinya akan banyak. Bukan mereka tidak ingin memakai baju buatan sendiri. Masalahnya setiap bulan mereka selalu dibelikan baju oleh Yusuf. Kini lemari mereka sudah penuh. Mereka juga berpikir untuk menjual hasil jahitan mereka.
Yusuf biasanya datang sebelum sarapan dimulai. Cicit dan anak-anak sekarang sedang berada di halaman depan untuk bersih-bersih. Saat Yusuf datang Cicit sedang menyapu daun-daun yang berserakan. Pagi ini Cicit memakai setelan kaos berwarna coklat susu dengan rambut dicepol. Yusuf memandanginya dari pintu pagar. Pria itu tersenyum melihat Cicit. Kemudian berjalan menghampiri Cicit.
"Assalamualaikum!" Yusuf menyapa sambil tersenyum dengan memperlihatkan gigi putihnya.
"Waalaikumsalam!" Cicit menjawab salam Yusuf. Setelah kegalauan tadi malam, Cicit merasa canggung jika berhadapan dengan Yusuf. Untuk mengurangi rasa canggung nya, Cicit memanggil anak-anak. Anak-anak langsung mengerumuni Yusuf seperti semut yang mendatangi gula.
__ADS_1
"Bang... Bang Ucup kapan datang?" tanya Arul yang penasaran soalnya sejak tadi dia membersihkan rumput dekat pagar tapi tidak melihat Yusuf datang.
Cicit yang mendengar nama Ucup jadi berbalik badan. Awalnya dia hendak ke kamar untuk mengambil laporan. Jantungnya berdetak kencang. "U... Cup? Bukankah namanya Yusuf?" Cicit sangat penasaran. Tetapi dia melanjutkan niatnya ke kamar untuk mengambil laporan.
Kini mereka berada di ruang makan. Semua sudah berkumpul termasuk Cicit. Mereka sarapan bersama. Setelah sarapan, anak-anak langsung menjalani aktivitas masing-masing. Ada yang langsung ke kandang ayam, ada yang ke rumah hidroponik, ada yang ke ruang jahit, ada juga yang menonton TV dan lain sebagainya.
Kini Cicit dan Yusuf tinggal berdua saja di ruang tamu. Cicit memberikan hasil laporan mingguan kepada Yusuf. Yusuf membaca laporan itu dan menandatanganinya yang berarti laporan telah selesai.
"Begini Pak Yusuf! Anak-anak meminta kepada saya agar bapak memberikan ijin untuk menjual hasil ternak, kebun, dan jahitan mereka. Bagaimana menurut bapak?"
"Cit, bisa tidak jangan formal sekali seperti itu. Kita kan seumuran. Kamu panggil saya Yusuf atau kamu bisa panggil saya Ucup! Anak-anak juga biasa panggil saya Bang Ucup!"
Cicit terkejut mendengar Yusuf untuk memanggilnya dengan nama Ucup. Ucup?! Apakah ini Ucup yang ku cari? Pikirnya dalam hati.
"Kok kamu terkejut gitu? Apa nama Ucup begitu spesial ya?" ledek Yusuf sambil tertawa kecil.
"Terus Leika itu siapa?" Yusuf jadi penasaran. Saat Cicit akan menjelaskan datang Zily bersama Bara dan Biri.
"Bang, sini deh! Zily mau kasih lihat kemampuan Bara dan Biri yang baru." Perhatian Yusuf jadi teralihkan. Mereka akhirnya pergi ke halaman belakang. Tepatnya ke arena pelatihan anjing. Zily memperlihatkan hasil pelatihan anjing kepada Yusuf. Yusuf sangat senang karena pelatihan tahap awal berhasil. Yusuf memuji Zily dan mengusap kepala Bara dan Biri.
Tak lama setelah itu datang anak-anak yang lain untuk pamer hasil belajar mereka. Yusuf mengikuti mereka semua. Memang tujuan utama Yusuf datang untuk melihat hasil belajar mereka. Pembicaraan mereka jadi terjeda.
Sementara itu pagi hari di kediaman Jendral Krishna sangat tidak biasa karena kedatangan tamu. Tamunya tidak lain adalah keluarga Laras. Ayah, ibu, dan Shaka datang ke kediaman Jendral Krishna. Setelah sarapan pagi mereka berkumpul di ruang tamu.
"Ayah sudah dengar dari Krishna kalau Cicit kabur. Apa sebaiknya Papa tolak saja permintaan perjodohan ini ya?" Pak Surya mengawali pembicaraan.
__ADS_1
"Mungkin lebih baik begitu!" Jendral Krishna menimpali.
"Kalian berdua bisa tidak sabtu besok ikut ayah menemui rekan bisnis ayah itu untuk membahas perjodohan ini?"
"Tidak bisa yah! Laras sudah janji akan berkunjung ke tempat Cicit. Lagipula tidak enak kalau dibatalkan sepihak. Mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk kami. Lagipula kami ke sana juga kan mau lihat calon mantu." Laras menolak ajakan ayahnya.
"Calon mantu? maksudnya?" tanya Pak Surya.
"Itu loh yah Si Ucup! Yang pernah Laras ceritakan waktu itu. Ternyata orang yang dicari Cicit selama ini ya atasannya Cicit itu. Hanya saja Cicit belum tahu. Ternyata dia sudah semakin ganteng saja." Laras menjelaskan dengan detil.
"Aku belum Terima dia jadi calon mantu ya!" Bima masih ngotot belum mau mengakui Yusuf sebagai calon mantu.
"Ternyata nama aslinya bagus juga, Yusuf Mahardika Winata! Heran juga kenapa nama panggilannya jadi Ucup ya?" Laras penasaran dengan nama panggilan Ucup itu.
Kok namanya mirip sama nama cucunya Adrian ya? Apa mungkin orangnya sama? Tapi belum tentu juga. Ada juga orang yang namanya sama tapi wajahnya beda. Pak Surya.
"Berarti kemarin itu Shaka gak salah lihat dong! Seminggu yang lalu waktu Shaka jalan-jalan di mall Shaka kayak lihat Kak Cicit. Tapi Shaka ragu apa itu Kak Cicit atau bukan. Soalnya ngelihatnya juga dari jauh." Shaka kali ini memastikan kebenaran bahwa yang dilihatnya kemarin betul-betul Cicit.
"Kapan kalian berangkat?" tanya Pak Surya.
"Jumat sore yah! Biar bisa lebih lama sama Cicit!"
"Ya sudah kalau gitu sampaikan salam ayah untuk Cicit. Bilang sama dia, jangan kabur lagi! Kakek minta maaf! Perjodohannya akan dibatalkan." Pak Surya menitip pesan untuk Cicit.
"Siap laksanakan, yah!"
__ADS_1
"Bude, kalau sudah sampai kirim pesan ke Shaka ya! Nanti Shaka juga mau ketemu Kak Cicit!" Laras mengangguk tanda mengiyakan.
Meski umur Shaka lebih tua, Shaka tetap memanggil Cicit dengan kakak, karena Cicit merupakan anak dari kakak ibunya.