BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 38. Aksi Cuckoo


__ADS_3

Malam mulai semakin larut. Rembulan terus memancarkan separuh sinarnya. Membuat dunia tak lagi gelap. Seorang pria tua masih bekerja di rumah besar Kediaman Winata. Seperti biasanya pria itu akan mengecek setiap sudut rumah sebelum meninggalkannya untuk istirahat.


"Apa yang sedang anda lakukan di sini, Nona Rachel?" Suara Pak Im membuat Rachel terkejut.


"Tidak ada pak! Saya sedang menunggu Tuan Muda!" Rachel gelagapan karena ketahuan.


"Tuan Muda dan Nyonya Muda tidak ada di kamar. Mereka pergi ke luar dan tidak akan kembali!"


"Ke mana mereka pergi?"


"Saya tidak tahu nona! Tuan Muda tidak memberitahu!"


"Ya sudah! Saya kembali ke kamar!" Pak Im hanya mengangguk saja.


Sialan! Udah capek berdiri dari tadi gak tahunya malah gak ada! Kenapa sih sial banget hari ini? Rachel.


Gadis berambut coklat itu tidak kembali ke kamarnya. Dia bergegas menuju rumah belakang, ke kamar Mona. Penghuni rumah belakang tidak ada yang masih terjaga. Semuanya sudah tertidur karena esok akan bangun pagi sekali untuk bekerja.


Tok... tok... tok...


Mona terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan pintu. Gadis itu berjalan menuju pintu dengan mata masih setengah terpejam.


"Siapa?" orang di depan pintu tidak menjawab. Gadis itu segera membukakan pintu. Matanya langsung terbelalak saat melihat sosok di hadapannya. Sosok itu langsung membekap mulutnya dan mendorong masuk ke dalam kamar.


Ssstttt! "Diamlah!" Mona hanya mengangguk. Rachel melihat penjuru kamar. Kamar seorang pelayan saja hampir sama dengan kamar tamu yang dia tempati. Hanya berbeda ukuran dan fasilitas saja.


"Ada apa nona kemari? Jika perlu dengan saya, anda kan cukup panggil saja!" Rachel masih menatap seluruh isi ruangan. Matanya tertuju pada sebuah figura di nakas samping tempat tidur. Terlihat foto seorang wanita tua yang tak lain adalah ibunya Mona.


"Siapa wanita di foto itu?" Rachel bertanya tanpa rasa bersalah.


"Itu ibu saya. Berkat kebaikan anda ibu bisa bertahan! Terima kasih nona!" Mona berkata dengan tersenyum. Tangannya mengepal kuat.


Dasar pembunuh! Kau telah membunuh ibuku dan bertanya tanpa rasa bersalah. Mona.


Mona sangat geram melihat gadis di hadapannya. Jika bukan karena perintah Cicit yang memintanya untuk bersabar, mungkin saat ini dirinya sudah membunuh gadis berambut coklat itu.


"Kau bersiaplah! Ikut denganku!"


"Kita mau ke mana nona?" Mona mengambil sweater dan syal. Angin malam ini begitu dingin.


"Sudah, diamlah! Kau hanya perlu ikut denganku!" Mona akhirnya diam dan tidak bertanya lagi. Gadis itu mengikuti nonanya di belakang.


Kedua gadis itu pergi melalui pintu rahasia. Rachel mengira bahwa hanya dirinya yang tahu perihal pintu itu. Padahal sejak dia menuju rumah belakang, Pak Im sudah memantaunya. Pria tua itu segera melaporkannya kepada Tuan Muda Yusuf.


Di tempat lain, sepasang suami istri tengah menikmati semangkuk sekuteng di halaman sebuah rumah. Sebuah pesan masuk di hape Yusuf.


"Yang, Pak Im bilang Rachel keluar bawa Mona!" Yusuf masih menyuap sesendok sekuteng ke dalam mulutnya.


"Oh!" Cicit masih asik menikmati sekuteng.


"Kok kamu cuma Oh gitu aja sih? Kamu gak penasaran mereka ke mana?"


"Penasaran kok! Paling-paling merek ke tempat penyanderaan!" Cicit menjawab santai.


"Apa kamu yakin?"


"Yakin dong! Apa lagi yang akan dia lakukan kalau bukan menjalankan rencananya terhadap Bram. Kan dari tadi dia gagal tuh memprovokasi kamu!"


"Ada benarnya juga! Tapi kenapa dia ajak Mona?"


"Paling dia cuma iseng aja! Gak ada yang temenin!"


"Kan ada pengawalnya?"


"Kalau pengawalnya diajak, kan jadi ketahuan kalau dia pergi. Tapi kalau yang diajak pelayan kan siapa juga yang bakal curiga? Apalagi pelayan di rumah kebanyakan sudah pada tidur jam segini."


"Iya juga ya! Apa kamu tahu mereka ke mana?"


"Kita akan segera tahu! Kamu lihat hapeku saja. Aku sudah pasang penyadap dan GPS di kancing sweater yang biasa dipakai Mona. Kamu lihat yang berkedip itu. Itu Mona! Orang yang aku minta sudah kamu siapkan?"


"Sudah dong sayang! Tinggal tunggu perintah saja!"


Tak lama hape Cicit berbunyi. Tanda notifikasi pesan masuk. Ada email masuk dari Bram. Yusuf membuka email itu.

__ADS_1


Malam ini aku minta untuk bertemu orang tuaku. Memastikan keselamatan mereka. Dia memintaku datang ke sebuah gudang di pinggiran kota.


Yusuf membaca pesan itu. Kemudian bertanya pada istrinya akan membalas apa?


"Bilang saja Ok!" Yusuf menuliskan kata Ok! untuk membalas pesan Bram.


Cicit sebenarnya sudah mengirim orang untuk mengawasi Bram.


Sementara itu, di dalam sebuah taksi.


"Nona, mengapa nona mengajak saya?" Mona masih penasaran mengapa Rachel mengajaknya.


"Tidak ada, hanya iseng saja kalau harus pergi sendiri!"


Taksi berhenti di depan sebuah rumah sakit. Mona pikir Rachel minta ditemani ke rumah sakit. Rupanya mereka hanya berganti kendaraan. Saat keluar dari taksi, sudah ada mobil yang menunggu mereka. Mereka menaiki mobil itu kemudian bergerak menuju daerah pinggiran kota.


Saat sampai di sana, seorang pria muda sudah sampai sejak lima belas menit yang lalu. Rachel dan Mona turun dari mobil dan menghampiri pria itu.


"Mana ayah dan ibuku?" Bram sudah tidak sabar.


"Santai saja dulu! Orang tuamu masih hidup!" Rachel menepuk kedua tangannya tanda agar pengawal membawa kedua orang tua Bram.


Tak lama datang dia orang pengawal membawa mereka. "Lihat! Mereka masih hidup kan?!" Bram langsung menghampiri kemudian memeluknya. Keduanya tidak dapat bicara karena mulutnya dilakban. Bram membisikkan sesuatu di telinga ibunya.


"Ibu tenanglah! Akan ada yang datang menyelamatkan ibu! Percaya dengan Bram! Ibu jangan bicara apapun sampai saat itu tiba!" Ibu Bram hanya mengangguk.


"Baiklah! Apa maumu sekarang?"


"Simpel saja! Kamu pergi dan temui Nyonya Winata! Bukankah kamu sangat merindukannya selama ini?"


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Itu urusanku! Kau kerjakan saja perintahku jika mereka ingin selamat!"


"Aku tidak punya nomornya. Aku tidak tahu bagaimana menghubunginya?"


"Mona! Berikan nomor Nyonya Winata padanya!" Mona mengeluarkan hapenya dan mencari nomor Cicit. Setelah ketemu dia memberikannya kepada Rachel. Rachel melihat nama yang tertera di layar bertuliskan Nyonya Muda. Rachel memberikan hape Mona kepada Bram.


"Kami hanya mengikuti perintah Pak Im saja, nona! Karena Nyonya Besar tidak ada di rumah maka semua urusan rumah menjadi tanggungjawab Nyonya Muda. Pak Im meminta semua pelayan untuk menyimpan nomor Nyonya Muda. Jika Nyonya Muda membutuhkan sesuatu bisa langsung menghubungi kami sesuai bidang kerja kami!" Mona menjelaskan.


"Ooo begitu!"


Tak lama Bram mengembalikan hape Mona. Rachel meminta Bram untuk langsung menelepon Cicit. Bram melakukan dua panggilan tapi tidak dijawab. Rachel tetap meminta dia menelepon lagi. Akhirnya panggilan ketiga berhasil.


"Halo! Assalamualaikum!" Bram menyapa lebih dulu.


"Waalaikumsalam! Ini siapa ya?" Mendengar suara Cicit setelah sekian lama tentu membuat Bram sangat senang. Tapi tak lagi menimbulkan desiran seperti dulu.


"Ini aku, Cit! Bram!"


"Bram? Bram siapa?" Cicit pura-pura tidak tahu. Padahal saat ini, Yusuf juga sedang mendengarkan percakapan mereka. Yusuf meminta Cicit untuk mengeraskan suaranya.


"Brama Kumbara, Cit! Anak Prabu Angling Darma!" Kamu masih ingat kan?!"


"O... anaknya Om Prabu ya?!" Suara Cicit berubah seketika. Kemudian mematikan panggilan teleponnya. Cicit sengaja mematikan panggilan itu. Tujuannya agar lebih dramatis saja.


"Dia mematikan teleponnya! Ku rasa dia masih belum melupakan masa lalu! Ini akan sulit untuk menemuinya!"


"Telepon lagi! Bujuk dia untuk bertemu! Atau... Kau ingin melihat mereka tiada sekarang?" Bram mencoba menghubungi kembali. Sampai 5 kali panggilan baru dijawab lagi oleh Cicit.


"Ku mohon Cicit! Jangan tutup dulu teleponnya!"


"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau datang lagi?"


"Aku hanya ingin minta maaf padamu saja! Selama ini aku merasa bersalah padamu! Ku mohon Cicit! Biarkan aku meminta maaf padamu secara langsung!"


Ku mohon Cicit! Jangan mempersulitku lagi. Aku tidak ingin orang tuaku kenapa-napa! Bram.


"Aku tidak bisa! Aku sudah menikah sekarang! Jika aku pergi maka aku harus memberitahu suamiku! Itu juga belum tentu dia akan memberi ijin atau tidak!"


"Ku mohon Cicit! Please! Aku hanya ingin tenang di sisa hidupku tanpa rasa bersalah lagi! Kata dokter hidupku tidak akan lama lagi! Jadi ku mohon penuhi permintaanku!" Bram sangat memohon pada Cicit.


Hening tak ada suara. Bram cemas menunggu.

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan meminta ijin pada suamiku. Aku mengabarimu besok pagi! Berdoa saja semoga dia mengijinkan!"


"Bisakah kamu bertanya sekarang padanya?"


"Dia sudah tidur. Kamu sudah tidur tadi. Aku terbangun karena mendengar suara telepon. Aku tidak mau mengganggu tidurnya!"


"Ku mohon Cicit! Biarkan aku tidur tenang malam ini!"


"Baiklah akan ku coba!" Panggilan masih terhubung. Cicit membangunkan suaminya. Padahal itu hanya akting mereka saja. Bram dan semua orang yang ada di situ bisa mendengar percakapan mereka.


"Yang bangun yang! Ucup sayang bangun dong! Aku mau ngomong bentar aja!" Yusuf akhirnya terbangun (pura-pura). Sejatinya mereka masih ada di teras depan.


"Apa sih yang? Kamu masih pengen lanjut lagi? Aku sih pengen tapi besok kita banyak kegiatan jadi harus istirahat cepat!" Semua yang mendengar wajahnya memerah karena malu mendengar percakapan pasutri itu.


Sialan! Mereka malah pamer kemesraan! Rachel.


Ya Ampun Cicit! Plis kamu jangan mempersulit aku lagi! Bram.


"Aku bangunin kamu bukan untuk ngomongin jatah! Aku mau minta ijin besok mau ketemu teman lama, boleh gak?"


"Teman lama? Cewek atau cowok?"


"Cowok!"


"Kamu mau selingkuh?"


"Kamu itu apa-apaan sih? Kalau mau selingkuh ngapain juga aku minta ijin segala! Boleh atau gak? Kalau gak boleh kamu mesti puasa lagi!"


"Kamu kok ngancemnya gitu sih?! Ya udah aku ijinin! Tapi jangan lama-lama ya! Kamu cuma boleh ngobrol 5 menit aja! Besok Joni yang bakal ngawal kamu!"


"Oke siap, bos!"


Tak lama Cicit bicara lagi dengan Bram.


"Halo Bram! Suamiku dah kasih ijin! Mau ketemu di mana?"


"Di hotel XX saja! Aku menginap di sana!"


"Baiklah! Besok pukul 08.00 pagi ya kita ketemu di sana! Assalamualaikum!" Cicit langsung menutup teleponnya.


"Kamu sudah dengar kan!"


"Sial! Kenapa Si Ucup itu protektif banget sama Cicit!" Rachel geram melihat Yusuf yang sangat protektif dan posesif terhadap Cicit.


Bagus Tuan Muda! Tidak semudah itu Cuckoo! Mona.


"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kamu gimanapun caranya hanya boleh ngobrol berdua tanpa Joni!"


"Akan ku usahakan!"


Setelah itu mereka membubarkan diri. Sementara itu pasutri yang sudah menyelesaikan aktingnya kini berada di kamar. Mereka membaringkan tubuh di ranjang empuk. Yusuf memeluk istrinya dari belakang.


"Yang! Jujur saja aku cemburu tadi lihat kamu bicara dengan teman laki-lakimu dulu! Apalagi besok kamu bakal ketemu dia!"


"Terima kasih kamu sudah cemburu! Itu tandanya kamu sangat mencintaiku! Ini semua hanya permainan untuk menyenangkan Cuckoo saja! Lagipula Bram sudah berkeluarga."


"Ucup sayang! Kamu jujur deh, kenapa sejak Rachel datang, kamu protektif banget sama aku! sampai-sampai buat bakwan aja harus ditemani kamu!"


"Kamu benar Sri! Jujur saja ada rasa takut kehilangan yang begitu besar! Mengingat dulu dia begitu nekat mencelakaimu saat SMP, aku khawatir dia akan nekat juga padamu sekarang. Kau tahu sayang, 15 tahun kita terpisah dan saling menahan rasa, aku tidak rela jika harus kehilanganmu begitu cepat! Aku ingin bersamamu untuk beberapa puluh tahun lagi." Yusuf memeluk istrinya dengan erat kemudian mencium pucuk kepalanya.


"Iya aku paham kok! Aku juga merasakan hal yang sama denganmu! Aku ingin semuanya cepat berakhir tetapi sayangnya ini tidak akan berakhir begitu cepat!"


"Kenapa? Bahkan papa menanyakan apakah aku ikhlas jika pesta kita jadi medan perang? Ku jawab aku ikhlas!"


"Papa hanya mewanti-wanti jika ada kemungkinan terburuk saja! Ku rasa tujuan papa besok adalah mengembalikan Cuckoo pada induknya! Itu tentu saja untuk meng-counter serangan Rachel padaku! Mengembalikan Rachel adalah hal terbaik! Dengan begitu kita bisa bertarung secara terang-terangan! Lagipula Magic Girl belum beraksi bukan?!"


"Kamu kok bisa tahu tentang Magic Girl?"


"Tahu dong! Apa sih tentang kamu yang aku belum tahu? Sayang... Kamu?"


"Tolong ya! Tapi jangan olah raga lagi ya?!"


"Oke!"

__ADS_1


__ADS_2