BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 3. Leika


__ADS_3

Malam itu seorang gadis sedang duduk sendiri di teras paviliun. Memandang jauh ke langit malam. Tampak rembulan memancarkan sinarnya yang lembut. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Beberapa kali dia menghela napas. Hatinya masih merasa bersalah tetapi tidak ada cara lain lagi. Tangannya menggenggam sebuah benda kecil berbentuk lingkaran yang menyimpan kenangan 15 tahun yang lalu. Benda kecil itu juga yang menjadi alasan baginya untuk pergi.


15 tahun yang lalu...


"Bu, hari ini biar Cicit saja yang buat bakwannya! Ibu hanya perlu melihat saja! Kalau ada yang salah tinggal kasih tahu!" pinta gadis jangkung itu kepada sang ibu. Ibunya hanya mengangguk saja.


Selama ini Cicit memang rajin membantu ibu di dapur. Meski ibu tidak mengajarinya tetapi dia tahu bahwa Cicit sudah banyak belajar selama ini. Cicit memang mempunyai kemampuan belajar visual yang tinggi. Hanya dengan melihat saja dia sudah mampu mengerjakan berbagai hal tanpa perlu diajari.


Setengah jam berlalu, bakwan sudah tersaji di meja. Kini giliran ibu yang akan mencicipi dan menilai bakwan buatan Cicit. Ibu memanggil ayah dan adik laki-laki Cicit untuk mencicipi bakwan buatannya.


"Ayah! Cakra! Ayo sini! Kita cicipi bakwan buatan Cicit!"


Tak lama dua orang pria tampan menghampiri mereka. Keduanya duduk di meja makan.


"Hari ini Cicit buat bakwan! Kita cicipi dan beri nilai untuk bakwan buatan Cicit!"


Ayah, ibu, dan Cakra mengambil masing-masing satu bakwan. Mereka memasukkan ke mulut dan mulai mengunyah perlahan. Tak cukup satu gigitan mereka mengunyah lagi hingga bakwan di tangan mereka habis. Mereka terdiam. Cicit yang melihat mereka diam jadi cemas. Gadis itu berpikir jangan-jangan bakwannya tidak enak atau mereka sakit perut karena bakwan buatanku. Ketiga orang di depannya mulai tertawa kecil setelah melihat ekspresi Cicit yang cemas dan takut. Tiba-tiba saja mereka kompak berkata, "Selamat Cicit bakwan buatanmu enak banget! Hahaha!"


Cicit yang mendengar hal itu jadi terkejut. Tanpa sadar gadis itu memeluk ibunya dan mulai menangis.


"Lho, kok nangis?" ucap Laras, sang ibu sambil mengusap air mata Cicit.


"Cicit pikir bakwannya gak enak terus kalian sakit perut makan bakwan buatan cicit!"


"Maafkan kami ya nak! Bakwan buatan Cicit sangat enak! Ibu bangga karena Cicit berhasil membuat bakwan enak untuk pertama kalinya!"


"Sebenarnya ini bukan yang pertama Cicit buat bakwan. Cicit sudah pernah berlatih beberapa kali. Setelah yakin dengan rasanya baru bisa dipamerkan ke ayah dan ibu!"


"Tetap saja kami bangga, nak. Karena kamu membuat ini tanpa minta diajari ibumu, kan? Kamu belajar sendiri!" ayah Bima menambahkan.


"Iya kak! Ini enak banget! Besok buat lagi ya biar bisa dijual di sekolah! Seribu satu!" Cakra ikutan berkomentar.


"Ya sudah kalian berdua siap-siap ya! Hari ini kita akan latihan berburu. Siapkan semua peralatan dan perlengkapan. Ayah tunggu 5 menit lagi!"


"Siap komandan!"


Tak sampai 5 menit mereka telah siap. Satu keluarga pergi ke hutan di belakang rumah. Mereka telah dibagi menjadi dua tim. Tim orang tua dan tim anak. Target mereka adalah gambar hewan yang telah dipasang di hutan. Seperti halnya berburu yang asli, mereka harus mengambil hewan buruan dimanapun lokasinya. Waktu mereka 1 jam. Setelah satu jam hasilnya akan dihitung dan ditentukan pemenang beradasarkan jumlah hewan buruan yang didapat.


"Kalian sudah siap?" Bima membuka acara latihan pagi itu.


"Siap komandan!"

__ADS_1


"Baiklah! Tanpa basa-basi lagi kita mulai saja perburuan ini! Bismillahirrahmanirrahim! Goooo!"


Cicit dan Cakra sudah lebih dulu masuk hutan. Mereka sangat antusias dengan kegiatan latihan tersebut. Kakak beradik itu mulai membuat strategi untuk mengumpulkan target mereka. Cicit memerintahkan Cakra untuk bergerak ke arah barat sedangkan dirinya ke timur. Alat komunikasi dan navigasi sudah terpasang. Mereka pun terpisah.


Sementara itu, kedua orang tua mereka masih bersantai di belakang rumah. Bima mulai menerbangkan drone untuk mengawasi kedua anak mereka. Laras memantau hasil tangkapan gambar drone melalui laptop. Tampak di layar kedua anak mereka berpisah. Cakra sudah mulai menembakkan panahnya. Beberapa target sudah berhasil didapat. Cicit masih bergerak ke arah timur. Cicit sengaja menyuruh Cakra ke barat karena medan di sana tidak sesulit di area timur. Cicit masih terus mencari target yang tersembunyi.


Hampir sepuluh menit mencari, akhirnya Cicit melihat target di atas pohon. Gambar seekor tupai terpasang di ketinggian 10 meter. Pertama, Cicit membidik sasaran dengan panahnya. Dalam waktu kurang dari sedetik panah sudah tertancap pada target. Kini hanya tinggal mengambil target. Inilah yang tak disukai Cicit. Lebih enak berburu dengan hewan asli karena setelah dipanah hewan tersebut jatuh dan tinggal ambil saja. Kali ini Cicit harus berusaha ekstra untuk mendapatkan hewan buruan.


Gadis itu menyiapkan peralatan memanjat. Setelah semua siap, gadis itu mulai memanjat. Tak sampai 5 menit sudah mencapai target. Gadis itu tak lekas turun. Dia berdiam dulu di cabang pohon. Gadis itu mulai membuka bekal berupa bakwan dan mulai memakannya.


"Ras, lihat anak gadismu! Sudah istirahat saja!" celetuk Bima.


"Bima sayang! Apa kamu gak tahu kalau anak gadismu itu sudah mengetahui semua letak target buruannya?"


"Bagaimana mungkin? Aku meletakkannya bahkan ditempat yang tersembunyi. Hanya terlihat sedikit saja bagiannya."


"Itulah mereka! Kamu gak lihat jam yang dipakai Cicit tadi! Jam itu bahkan bisa memindai target berjarak hanya 10 meter dari pengguna! Coba perhatikan sejak masuk area Cicit selalu melihat ke arah jam tangannya. Aku lihat di layar jamnya selalu dalam posisi memindai. Lagipula sepertinya dia tahu kalau kamu hanya memasang sedikit hewan buruan di area timur." jelas Laras.


"Hadeuh! Kecolongan lagi, deh!" Bima mengusap wajahnya.


"Hahaha...! Sudah gak usah marah-marah! Lagipula Cicit melakukan itu karena khawatir sama Cakra! Meski Cakra itu laki-laki tapi di usianya yang sekarang masih suka ceroboh. Cicit hanya takut Cakra celaka karena kecerobohannya. Coba kamu lihat di area barat! Cakra sangat senang dengan buruannya. Kamu tahu sendiri tenaga Cakra itu besar tapi tidak seperti Cicit yang berpikir dulu sebelum bertindak. Dia hanya melihat target saja, dan berpikir mendapatkan target dengan cara apapun tanpa berpikir keselamatan dirinya. Memang usia Cakra dan Cicit hanya terpaut 3 tahun, tapi kondisinya tentu jauh berbeda. Cicit terlalu sayang dengan adiknya."


"Paling itu anak nyasar, Bim! Hari ini kan memang ada kunjungan dari anak SMP kota J ke hutan konservasi yang disebelah utara. Pak Kades bilang ke aku kemarin. Tapi aku suka anak itu, Bim! Tampan! Cocok sama Cicit!" Ibu dua anak itu tersenyum.


"Kamu apaan sih? Mikirnya jauh banget! Lihat saja anak itu badannya tidak berisi dan lebih pendek dari Cicit!" Bima tak mau anak anak gadisnya dekat dengan laki-laki.


"Tapi memang ganteng, kok! Terus tajir! Lihat deh itu kan kamera keluaran Leika terbaru yang kamu mau, tapi karena saking mahalnya kamu gak jadi beli!" ledek Laras.


"Itu karena aku masih mikir anak-anak butuh biaya! Kalau masih lajang saja sudah ku beli Si Leika itu!" Bima tak mau kalah.


"Iya... iya... aku percaya!" Laras masih tertawa kecil melihat tingkah Bima.


"Aku mau ke sana! Mau ajak Cicit pulang!" Bima bergegas hendak masuk hutan.


"Gak usah Bim! Kita lihat saja dari sini! Anakmu itu sudah 15 tahun. Sudah remaja! Kita tak perlu seperti itu. Lagipula kalau anak itu macam-macam, Cicit bisa mengatasinya. Percayalah Bim!" Laras menahan Bima yang hendak pergi.


"Baiklah!"


Sementara itu, Cicit yang sedang menikmati bekalnya menjadi waspada karena mendengar suara langkah kaki. Gadis itu melihat ke bawah dan didapatinya seorang anak laki-laki tengah celingukan ke sana-kemari. Gadis itu tak lantas turun. Dia mengamati dari atas pohon. Anak laki-laki itu berjalan ke segala arah tetapi kembali lagi ke tempat Cicit berada. Setelah sepuluh menit mengamati akhirnya Cicit paham kalau anak laki-laki itu tersesat.


Anak laki-laki itu kelelahan. Pemuda bertopi itu duduk melantai di atas dedaunan. Kakinya ditekuk dan kepalanya tertunduk. Suara langkah kaki membuatnya ketakutan. Sampai suara lembut mengejutkannya. Kepalanya mendongak ke arah sumber suara. Mata mereka bertemu. Mata pemuda itu mengamati dalam sosok di hadapannya. "Eh, ternyata wadon!" Dalam hatinya bersyukur bertemu dengan makhluk yang satu spesies dengan dirinya meski beda kelamin.

__ADS_1


"Kamu nyasar ya?" Pemuda itu hanya mengangguk. Tak ada suara dari mulutnya saking lemasnya. Tak lama perutnya berbunyi. Sungguh sangat memalukan tapi apa daya itu memang kenyataan.


"Nih, makan aja bakwannya! Aku punya banyak, kalau masih lapar makan saja semua!" pemuda itu tersenyum malu.


"Enak! Ini buatan kamu?"


"Bukan! Itu buatan ibuku! Wah ibumu pandai memasak sama seperti mamaku! Sebaiknya kamu belajar sama ibumu biar nanti kalau kamu nikah disayang sama suamimu!"


Cicit menunduk malu. Wajahnya memerah. Sedangkan di seberang sana ada seorang pria yang tengah menahan amarah karena anak gadisnya digoda. Sedangkan sang ibu hanya tersenyum.


"Kenapa bisa nyasar?"


"Keasikan ngejar Kupu-kupu Batik Kertas! Aku mau potret untuk diberikan ke mamaku nanti! Gak sadar terpisah dari rombongan. Hape ku juga ada di bus. Jadi gak bisa menghubungi teman atau guru."


"Makanya kamu itu kalau beli peralatan yang multifungsi. Cari kamera yang ada navigasi nya juga! Jadi gak bakal nyasar!" Yang dinasehati hanya cengar-cengir saja.


"Sepertinya kamu lapar banget ya! Ya sudah ini buat kamu semua!"


"Terima kasih! Bilang sama ibumu masakannya enak! Kapan-kapan aku mau makan masakannya lagi!"


"Iya, nanti ku sampaikan! Sekarang ku antar kamu bertemu teman dan gurumu. Ikuti aku dari belakang!" Pemuda itu hanya mengangguk.


"Apa kamu berhasil memotret kupu-kupunya?"


"Belum! Fokus ku hilang karena tutup lensanya jatuh. Aku jadi mencari tutup lensa dan tersesat."


"Sayang sekali ya! Kamu jadi tidak bisa menunjukkannya pada mamamu!"


"Tidak apa-apa! Soalnya berhasil menemukan kupu-kupu yang lebih cantik dari Batik Kertas!"


"Wah syukurlah kalau begitu! O ya kita sudah sampai! Kamu hati-hati ya!"


"Terima kasih! O ya namaku Ucup! Namamu siapa?"


"Panggil saja aku Sri!"


Dalam perjalanan pulang tanpa sengaja Cicit menginjak sebuah benda. "Ini kan?" Cicit berlari cepat ke perbatasan hutan, tapi sayang busnya sudah pergi. Hari itu mereka berpisah dengan meninggalkan sebuah kenangan.


Cicit masih menggenggam benda itu. Dalam hatinya berkata apa kita bisa bertemu lagi? Terdengar suara ayah Bima memanggil Cicit. Bima tak tahan melihat pemandangan indah antara anaknya dan pemuda itu, apalagi saat Bima tahu bahwa Ucup telah memotret anak gadisnya dari belakang dan berkata telah menemukan kupu-kupu cantik. Ingin rasanya Bima datang dan menghajar anak laki-laki itu.


Cicit tersadar dari lamunannya saat angin mulai berhembus kencang. "Ucup, kamu dimana?" Angin yang semakin kencang memaksa Cicit untuk segera masuk kamar.

__ADS_1


__ADS_2