
Waktu sudah menunjukkan pukul 4.30. Tidak ada pergerakan dari anak-anak. Pintu kamar belum ada yang terbuka. Mereka masih terbuai mimpi. Cicit sudah menunggu di lantai bawah. Gadis itu akan menemani anak-anak untuk solat subuh di masjid.
Lima menit sudah berlalu. Belum ada pergerakan dari anak-anak. Sepertinya mereka mengabaikan aturan baru yang sudah dibuat Cicit. Sepuluh menit lagi waktu Subuh tiba. Jika tidak ada pergerakan juga makan akan ketinggalan solat Subuh.
Cicit teringat dengan alarm darurat yang dipasang di rumah itu. .Gadis berambut panjang itu juga sudah mulai kesal karena diremehkan. Dia berjalan ke arah alarm itu dan membunyikannya.
"Jangan salahkan aku menjadi ratu kejam! Kalian yang meminta ini, bukan!"
Setelah membunyikan alarm dengan santai Cicit berjalan ke ruang tengah tempat awal dia menunggu. Duduk santai sambil memegang buku.
Suara gaduh mulai terdengar di lantai atas. Ada yang berteriak, "Gempa! Gempa!" Ada yang membawa bantal. Ada yang membawa buntalan. Mereka berlarian ke sana kemari. Mereka pun mulai menuruni tangga. Cicit hanya melirik saja. Saat mereka sudah turun, mereka berlari ke arah pintu dan akan keluar.
"Kalian mau kemana? Kok buru-buru banget?" Cicit masih santai duduk santai di sofa. Matanya masih tertuju pada buku di tangannya.
Anak-anak yang mendengar suara Cicit langsung berhenti seketika. Mereka berbalik menghadap Cicit.
"Kak Cicit kenapa masih disini? Ayo kak lari! Ada gempa!" Arul masih terlihat cemas.
"Gempa? Gempa apa? Saya tidak merasakan gempa! Bukankah kalian yang menciptakan gempa itu?"
"Itu tadi alarm bunyi! Kalau alarm bunyi kan ada bencana! Masa kakak gak... " Zack yang sudah menyadari maksud Cicit menghentikan omongan Arul.
"Stop Rul! Benar yang Kak Cicit bilang! Kita yang sudah buat gempa!"
"Maksud Bang Zack apa sih?" Arul masih tidak mengerti.
"Bagus kalau kamu mengerti! Jadi, seharusnya kalian tahu kan apa yang harus dilakukan sekarang?"
"Baik, kak! Semuanya tengkurap! Kita push up 10 kali!" Zack memberi perintah.
"Tunggu! Zack, kamu push up 20 kali, yang dibawah umur 10 tahun 5 kali saja. Sisanya 10 kali! Kamu tahu kan alasan saya menambah hukumanmu?!"
"Iya kak!"
__ADS_1
Mereka push up sesuai dengan apa yang diminta Cicit. Hukuman sudah dilakukan. Kini Cicit meminta mereka untuk segera wudhu dan mengambil peralatan solat. Bagi yang beragama nasrani, mereka diminta melakukan doa pagi bersama Ibu Nia.
"Saya tunggu disini 3 menit lagi! Kalau kalian terlambat, akan ada hukuman lagi setelah solat Subuh!"
Mereka bergegas kembali ke kamar dengan berlari. Cicit memanggil Ibu Nia. Cicit meminta Ibu Nia untuk membangunkan Zily yang tidur sambil berdiri.
"Zil... Zily! Ayo bangun! Kita doa pagi yuk!"
"Zily masih ngantuk ma! Bentar lagi!" Anak itu mengigau.
Ibu Nia meminta dua anjing kesayangannya Bara dan Biri untuk membangunkan tuannya. Kedua anjing itu menggonggong dan menjilati wajah Zily. Zily yang tertidur itu jadi terbangun.
"Hentikan Bara, Biri! Iya, aku bangun!"
Setelah Zily bangun, Ibu Nia mengajaknya ke kamar. Di kamar Ibu Nia ada patung Yesus dan juga Al Kitab yang biasa dibacanya setiap pagi.
Cicit melihat jam di tangan kirinya. Waktunya tinggal satu menit lagi. Cicit berteriak., "Tinggal satu menit lagi!" Mereka yang mendengar langsung lari terbirit-birit menuju lantai bawah. Mereka tidak mau kena hukuman lagi. Setelah sampai di bawah mereka langsung berbaris rapi.
"Wah! Bagus sekali! Sepertinya kalian cepat belajar juga ya! Sekarang kita ke masjid sebentar lagi azan Subuh!"
Kini mereka berada di halaman. Cicit meminta mereka meletakkan peralatan solat di teras. Zack memimpin mereka membentuk barisan. Cicit kagum pada Zack yang sudah tahu maksudnya tanpa diperintah. Zily juga sudah bergabung bersama yang lainnya.
"Kalian tahu apa alasan saya membunyikan alarm tadi?"
"Karena ada gempa!" Arul masih mengira kalau alarm tadi adalah alarm gempa.
"Karena kami tidak mengikuti aturan dan jadwal yang sudah kakak buat! Kami minta maaf!" Kali ini Zack menjawab mewakili teman-temannya.
"Siapa yang membuang kertas ini semalam?" Cicit menunjukkan kertas yang dipungutnya. Kertas itu berisi jadwal dan peraturan yang dibuat Cicit untuk mereka. Disitu juga ditulis kata "Bullshit!"
"Kalau tidak ada yang mengaku makan kalian semua saya hukum! Saya hitung sampai tiga, kalau tidak ada yang mengaku, kalian semua saya hukum jalan jongkok!"
"Satu!" mereka masih diam.
__ADS_1
"Dua!" Mata mereka saling melirik satu sama lain. mencari siapa pelakunya.
"Ti....!" ucapan Cicit dipotong seseorang.
"Saya kak!" Kirana mengacungkan tangannya.
"Bagus! Kemari kamu!" Kirana maju ke depan. Kini dia berhadapan dengan Cicit.
"Mengapa kamu membuang dan menulis kata bullshit di kertas ini!"
"Karena saya menganggap semua peraturan yang tertera disitu hanya bullshit! Semua hanya hiasan saja. Sama seperti yang sudah kami terima sebelumnya. Semua aturan hanya mainan. Guru yang masuk ke sini hanya mengejar Bang Yusuf saja tidak peduli pada kami!"
Cicit mengusap kasar wajahnya. Dirinya tidak menyangka bahwa kelakuan guru sebelumnya sudah membuat mereka muak lebih dulu. Dia tidak bisa menyalahkan anak-anak ini juga.
"Bukankah kalian selalu membuat mereka tidak lulus? Kenapa bisa?" Cicit jadi penasaran.
"Dulu, waktu pertama rumah singgah didirikan, kami dibawa Bang Yusuf kemari. Sebenarnya kami sangat berterima kasih telah mengajak kami kemari dan memberikan kami seorang guru pembimbing. Kami pikir guru itu sangat peduli pada kami. Ternyata itu hanya kedok saja. Di depan Bang Yusuf dia menunjukkan kasih sayangnya tapi kalau Bang Yusuf tidak ada, kami tidak dipedulikan. Sampai dari kami ada yang sakit juga tidak peduli. Saat itu saya menelepon Bang Yusuf di tengah malam sambil menangis. Bang Yusuf datang dan membawa Izal ke rumah sakit. Saat itu Bang Yusuf tahu kalau guru itu tidak peduli pada kami! Abang langsung memecat guru itu dan membuang semua pakaiannya keluar. Sejak itu Bang Yusuf memberi kuasa pada kami untuk memberi ujian akhir. Jika kami menerima makan Bang Yusuf juga menerima. Begitulah kak ceritanya!" Zack menutup ceritanya.
"Ya Allah! Ada juga orang seperti itu! Kalian harus tahu! Saya mengemban amanah besar dari Pak Yusuf untuk mendidik dan membimbing kalian sampai kalian mandiri. Kalian tahu kan tujuan rumah singgah ini didirikan?" Mereka tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk saja.
"Rumah ini hanya persinggahan kalian. Sebagai tempat singgah kalian menuju kemandirian kalian. Makanya Pak Yusuf ingin kalian benar-benar belajar. Beliau ingin kalian hanya fokus belajar dan mengejar cita-cita kalian. Kalian sudah difasilitasi disini. Kalian tidak perlu lagi mengamen di jalanan. Pak Yusuf sudah menjamin pendidikan, makan, dan tempat tinggal kalian. Membuat kalian nyaman. Mempersiapkan kalian untuk bisa mandiri ketika dewasa nanti. Ketika kalian sudah siap keluar dari rumah singgah ini." Mereka semua menunduk mendengar ucapan Cicit.
"Apa kalian ingin menghancurkan harapan Pak Yusuf? Beliau ingin kalian yang duduk di bangku sekolah fokus dengan belajar kalian. Kalian tidak perlu mencari uang. Ada masanya nanti kalian mencari uang dan penghidupan sendiri. Beliau ingin kalian disini belajar. Makanya saya buat semua aturan itu. Jika nanti kalian sudah bisa disiplin. Saya berencana akan mengadakan tes bakat sehingga tahu bakat kalian dan mudah untuk mengarahkannya. Pak Yusuf juga sudah menyetujui itu. Jadi aturan yang ada di kertas ini bukan bullshit!"
"Maafkan kami kak!" Kirana membuka suara. Anak yang lain juga mengikuti.
"Saya maafkan! Saya harap kalian bisa mematuhi semua aturan itu jadi tak perlu ada hukuman. Manusia itu sudah ditakdirkan untuk berbuat salah tapi bukan berarti harus membuat salah terus kan! Setidaknya kita dapat meminimalisir kesalahan. Mulai hari ini kalian harus mengikuti semua jadwal itu! Ya sudah kita mulai olahraga pagi!"
Cicit memimpin olahraga pagi itu. Anak-anak mengikuti semua gerakan Cicit. Cicit memang sudah merancang semua kegiatan untuk mereka sesuai dengan permintaan Yusuf. Yusuf hanya ingin mereka belajar dan tidak berkeliaran lagi di jalanan. Mendidik mereka sampai saatnya mereka siap mandiri.
Beberapa fasilitas olahraga dan permainan sedang disiapkan Yusuf seperti kolam renang, taman bermain, area panahan, tempat outbond sederhana, bahkan sampai pelatihan anjing. Itu untuk keselamatan Zily.
Di antara semua anak, Zily memang agak istimewa. Zily ditemukan Zack sedang menangis di tepi jalan. Saat itu Zily menangis sambil memeluk kedua anjingnya. Zack menghampirinya. Zily yang melihat Zack langsung memeluk dan memanggilnya papa kemudian pingsan.
__ADS_1
Saat sadar, Zily tidak mau dibawa Yusuf ke rumah orang tua Yusuf. Zily hanya mau bersama Zack, yang dipanggilnya papa. Yusuf memang curiga dengan latar belakang Zily. Menurutnya Zily ini kemungkinan anak orang kaya karena memiliki anjing Siberian Husky yang sangat terawat. Kemungkinannya lagi dirinya terpisah dengan orang tuanya. Oleh karenanya Zily tinggal disini bersama Zack. Yusuf bermaksud melatih Bara dan Biri tidak hanya menjadi penjaga Zily tetapi juga menjaga semua anak. Sampai saat ini Yusuf masih mencari tahu keberadaan orang tua Zily. sk