BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 30. Si Cuckoo dan Monyet Gunung


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 20.30. Dua sejoli masih asik dengan cerita mereka. Yusuf masih terbaring di pangkuan istrinya. Tangannya memegang dan membelai tangan Cicit. Sesekali dia menciuminya.


Sementara di lain tempat, seorang pria tua memasuki rumah utama. Sesuai tugasnya lelaki tua itu memeriksa detail setiap pekerjaan pekerja. Tak lupa dia memeriksa dapur yang tadi digunakan nyonya. Lelaki itu tersenyum melihat kondisi dapur yang bersih dan rapi. Pria itu memuji sang nyonya muda, "Memang pantas menjadi Nyonya Winata!" Pujian itu bukan tanpa sebab.


Pria tua itu sudah memasuki Kediaman Winata sejak Tuan Muda Andre remaja. Dulu, dia menggantikan ayahnya yang juga seorang Kepala pelayan. Satu hal yang pria itu selalu kagumi dari para nyonya di Kediaman Winata adalah kemandirian para nyonya. Mulai dari Mama Lulu, Mama Aiu bahkan sang nyonya baru juga sama. Para nyonya senior tak pernah lupa untuk membereskan dapur setelah digunakan. Begitu juga dengan Cicit yang baru beberapa hari menjadi Nyonya Winata.


Kembali ke kamar pengantin. Pengantin baru masih mesra di peraduannya. Cerita mereka masih berlanjut.


"Lalu siapa Si Cuckoo dan Monyet Gunung?" Cicit sangat penasaran dengan 2 wanita itu.


"Aku akan menceritakan tentang Monyet Gunung dulu! Kalau cerita Cuckoo panjang sekali!" Pandangan Yusuf menerawang ke langit-langit kamar.


"Monyet Gunung atau nama aslinya adalah Intan Dewi Kusuma adalah anak kedua Keluarga Kusuma. Kakaknya bernama Nara Maulana Kusuma. Aku dan Nara dilahirkan di hari yang sama hanya jamnya saja berbeda. Nara lahir setelah aku lahir!" Yusuf berhenti sejenak karena melihat ekspresi aneh dari Cicit.


"Kenapa kamu pasang wajah seperti sedang memikirkan sesuatu?"

__ADS_1


"Ketika kamu menyebut nama Nara, aku jadi teringat dengan teman kampusku dulu. Namanya juga Nara. Tapi mungkin itu orang yang berbeda."


"Memangnya ada apa antara kamu dan Nara?" Yusuf jadi penasaran.


"Nara dulu pernah menyatakan perasaan padaku tetapi ku tolak! Dia sebenarnya tidak satu fakultas denganku. Dia mengambil jurusan bisnis. Kami bertemu saat aku dikepung oleh orang suruhan seseorang yang aku tidak tahu siapa. Sebenarnya aku tidak butuh bantuan tetapi Nara saat itu langsung menghajar mereka. Ku biarkan saja. Setelah selesai aku berterima kasih padanya! Nyatanya masih ada satu orang yang tertinggal dan hendak menyerang Nara. Aku refleks langsung menghajar pria itu. Entah Nara merasa kagum atau bagaimana padaku setiap hari selalu mengikutiku. Puncaknya dia menyatakan perasaan dan melamarku. Aku katakan padanya terima kasih atas perasaannya padaku. Tetapi aku sudah mencintai seseorang. Meski saat ini aku belum bertemu lagi dengannya, hatiku ini ingin setia padanya. Jadi maafkan aku! Itu saja!" Yusuf yang mendengar cerita Cicit langsung bangkit dan mencium bibirnya.


Yusuf melepaskan ciumannya dan mencium kening Cicit. "Terima kasih sudah setia selama ini! Aku mencintaimu, Sri!" Pernyataan itu sontak membuat Cicit terpesona. Wajahnya memerah karena senang. Cicit juga membalasnya, "Aku juga mencintaimu, Ucup sayang!" Cicit membalas ciuman Yusuf. Mereka menikmati momen itu dengan perlahan.


"Sudah hentikan! Jika terus berlanjut bisa bahaya!" Cicit tertawa mendengar ucapan suaminya. Yusuf berbaring lagi di pangkuan istrinya.


"Sekembalinya aku ke bis tanpa di duga Intan duduk di sebelahku dan menyatakan perasaannya padaku. Aku menolaknya. Ku katakan padanya, "Terima kasih Intan untuk perasaanmu pada kakak. Maaf, kakak sudah menyukai dan mencintai gadis lain!" Aku melihat Intan sangat sedih tetapi aku juga tidak bisa berpura-pura mencintainya hanya untuk menjaga perasaannya. Memang kejam tapi dia juga harus tahu bahwa cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Dia bertanya padaku, "Siapa gadis itu? Apakah teman sekolahku?" Ku jawab, "Bukan! Gadisku adalah seorang pemanah cantik dan kuat. Gadis yang baru saja ku temui di hutan! Dia seperti Srikandi! Meski tidak tahu apa nanti bisa bertemu lagi atau tidak, hati kakak sudah terpaut padanya!" Gadis itu tidak menyerah, "Berarti kakak juga menyukai Monyet Hutan, kenapa tidak pilih aku saja, aku kan Monyet Gunung!" Aku sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. Ku katakan padanya, "Intan Dewi Kusuma Si Monyet Gunung, kamu dan dia jelas beda! Meski dia Monyet Hutan tetapi bagi kakak dia seperti Katnis Everden, dia juga pintar masak! Ini bakwan dia yang buat! Kamu itu bahkan tidak bisa memasak!" Susah sekali membuatnya menyerah. Dia bilang akan belajar memasak untukku. Sampai akhirnya aku harus mengatakan dengan keras bahwa sampai kapanpun perasaanku untuknya tidak berubah. "Intan dengarkan kakak. Perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan. Mungkin Intan senang jika kakak terima Intan dengan terpaksa tetapi itu tidak bertahan lama. Kakak tidak senang. Yang namanya mencintai itu harus ikhlas dan harus saling. Jika hanya sendiri untuk apa. Kita tidak akan bahagia. Intan itu sama seperti Aisy dan Maira untuk kakak. Kakak sudah menganggap Intan sebagai adik sendiri. Semoga Intan mengerti dan suatu hari nanti Intan bertemu dengan pria yang benar-benar Intan cintai dan mencintai Intan. Meski kakak tidak tahu apakah akan berjodoh atau tidak dengannya, perasaan kakak padanya tidak bisa dibohongi. Kakak akan terus mencarinya sampai dapat."


"Memang sangat kejam perkataanku saat itu. Tetapi dia harus belajar untuk menyerah. Gadis itu selalu menyatakan perasaannya setiap kali bertemu denganku bahkan pernah sekali dia hendak menciumku tetapi berhasil ku tepis. Aku benar-benar marah saat itu. " Intan Dewi Kusuma! Jaga sikap dan kehormatanmu! Aku bukan lelaki yang akan luluh hanya dengan sentuhan. Jangan samakan dirimu dengan gadis ****** di luaran sana! Kamu itu gadis bermartabat! Jangan hanya karena perasaan semu itu, kamu berubah menjadi ******. Aku memang bodoh karena terperangkap dengan cinta yang tidak jelas. Tetapi cintaku untuk Sri itu tulus! Kau harus ingat perkataanku ini bahkan jika Sri sudah menikah saat bertemu nanti, aku akan rela menunggu jandanya! Aku tidak akan melaporkan hal ini kepada kakak atau ayahmu. Jadi ku mohon berhentilah mengejarku! Carilah kebahagianmu sendiri!"


"Terkadang aku merasa bersalah karena telah bersikap keras dan kasar padanya. Tapi mau bagaimana lagi dia harus tahu dan menerima kenyataan. Setelah itu ku dengar dia pergi ke pesantren untuk menenangkan diri. Dua tahun lalu dia menikah dengan lelaki pilihannya. Semenjak itu dia sering mengataiku bujang lapuk! Jika mengingat dia mengataiku bujang lapuk, aku jadi ingin menjitak kepalanya! Intan tidak bahaya! Yang perlu kamu waspadai dan hadapi adalah Si Cuckoo!" Yusuf mengakhiri ceritanya tentang Monyet Gunung.

__ADS_1


"Kamu jangan pernah mengalah kalau bertemu Si Cuckoo nanti! Dia sering mengaku-aku kalau dirinya adalah Nyonya Winata masa depan. Aku muak sekali padanya! Kalau bukan untuk memancing musuh sebenarnya keluar kami tidak akan pernah memasukkan dia ke rumah ini. Bahkan Si Kembar saja jijik padanya. Mereka sering mengeluh kapan sih musuhnya muncul? Aisy dan Maira capek begini terus! Haduh! Ngomongin Si Kembar aku jadi kangen sama mereka!"


"Kamu pernah dengar istilah mengalah untuk menang! Jika itu tidak menyangkut tentang kamu mungkin aku akan mengalah saja. Tetapi jika tujuan dia adalah kamu! Maka jangan harap bisa menang dariku!"


"Bagaimana kalau tujuan sebenarnya dia adalah aku? Apa kamu akan mengalah? Dia ingin menjadi Nyonya Winata! Dia pasti akan menjatuhkanmu dengan berbagai cara. Meski dia dibesarkan di keluarga Winata kami tidak pernah memberikan nama Winata padanya."


"Haid! Kupingmu ini hanya cantelan atau apa? Kan sudah ku katakan jika tujuan dia adalah kamu, maka jangan harap bisa menang dariku. Itu artinya tidak akan membiarkan dia mengambil dariku. Paham tidak Yusuf Mahardika Winata!"


"Siap! Sangat paham, Nyonya Winata!"


"Kamu belum cerita siapa dia? Cepat ceritakan jangan buat aku jadi penasaran!"


"Sabar dulu sayang! Aku minum dulu ya, haus nih dari tadi ngomong mulu!" Yusuf mengambil air putih yang sudah tersedia di nakas dekat tempat tidur lalu meminumnya. Setelah itu kembali ke pangkuan Cicit.


"Begini ceritanya!"

__ADS_1


Masih penasaran? Ikuti terus lanjutannya ya! ☺☺☺


__ADS_2