
Sudah seminggu aku berada di rumah singgah. Rumah yang sangat besar dengan banyak kamar di dalamnya. Fasilitas yang lengkap sangat membuat nyaman. Selain diriku dan anak-anak jalanan, ada juga pelayan yang dipekerjakan di rumah ini juga sepasang kakek nenek yang tinggal di paviliun.
Saat pertama memasuki rumah aku melihat ada kakek dan nenek yang sedang duduk di teras. Mereka tersenyum padaku dan aku membalasnya. Aku penasaran dengan keberadaan kakek-nenek itu.
"Siapa kakek-nenek itu?"
"O... mereka adalah pemilik rumah ini sebelumnya."
"Mengapa mereka berada di sini? Apa yang terjadi dengan mereka?"
"Kamu sangat cerdas ya!? Bisa menebak kalau sudah terjadi sesuatu pada mereka." Cicit hanya diam. Wajahnya sedikit tersipu. Yusuf menghela napas dalam sebelum bercerita. Dia mengajak Cicit untuk duduk sebelum bercerita.
"Mereka adalah pemilik rumah ini sebelumnya. Saya membeli rumah ini karena tertarik dengan jumlah kamar yang banyak. Saya juga heran rumah tinggal punya banyak sekali kamar. Kakek Ahmad menjelaskan bahwa awalnya mereka sengaja membuat banyak kamar untuk anak-anak mereka kelak. Tetapi pada kenyataannya, mereka hanya dikaruniai satu orang anak saja."
Yusuf menyandarkan punggungnya di kursi dan menerawang ke langit, mengingat kejadian hari itu.
Sore itu, setelah transaksi berhasil, sepasang orang tua itu sudah bersiap untuk pergi ke rumah anaknya yang berada di Kota A. Mereka hanya membawa tas berisi baju. Rencananya mereka akan naik kereta api. Karena rasa empati, Yusuf meminta Joni dan supirnya untuk mengantar mereka. Awalnya kakek dan nenek menolak, setelah dibujuk akhirnya mereka mau juga diantar.
"Setelah mengantar jangan langsung pergi, tunggu, dan lihat apa yang terjadi! Perasaanku mendadak tidak enak." pinta Yusuf sambil berbisik kepada Joni.
Yusuf melepas jas dan mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya. Jas dan dompetnya disimpan dalam mobil. Bos besar itu akan pulang dengan kendaraan umum. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Kota A.
Sementara itu, pria yang biasa dipanggil Ucup itu sedang mencoba berbagai makanan yang dijajakan penjual di depan rumah. Pria itu juga meminta makanan untuk dibawa pulang. Yusuf biasa membeli makanan untuk papa, mama, dan juga para pelayan yang bekerja di rumah. Rencananya, untuk sementara waktu anak-anak asuhnya akan makan di sana sebelum menemukan koki untuk masak di rumah singgah. Yusuf juga punya rencana untuk meremajakan gerai makanan di sepanjang jalan menuju rumah singgah agar lebih rapi dan bersih.
Yusuf pulang dengan menggunakan taksi. Makanan yang dibelinya diletakkan di bagasi. Supir taksi membantunya memasukkan makanan ke bagasi. Kemudian mempersilakan Yusuf masuk ke dalam mobil.
"Maaf, pak! Saya heran kenapa bapak berpenampilan lusuh begitu padahal bapak kan jika dilihat-lihat seperti seorang bos. Soalnya tadi saya lihat, bapak sampai meminjam sepatu tukang bakso yang jelek, sedangkan sepatu bapak dititipkan pada tukang bakso. Terus bapak memberi uang juga untuk jasa penitipan. Kenapa bapak berbuat begitu?" Supir taksi bertanya karena heran melihat kelakuan Yusuf.
Yusuf tersenyum pada pria tua itu sebelum menjawab pertanyaannya. Dia juga mengulurkan tangannya kepada supir taksi dengan maksud untuk berkenalan. Supir taksi yang bingung menjabat juga tangannya.
"Perkenalkan saya Yusuf Mahardika Winata! Ini kartu nama saya! Saya beruntung bertemu supir baik seperti bapak. Dulu, saya pernah hampir dirampok oleh supir taksi karena berpenampilan parlente. Alhamdulillah saya masih selamat. Akhirnya saya putuskan jika naik taksi atau kendaraan umum lainnya lebih baik berpenampilan biasa saja, kalau perlu tampil seperti gembel, hahaha....! Kadang ada juga yang bertanya bapak tinggal di perumahan mewah ya? Saya jawab saja, tidak! Saya hanya disuruh majikan beli makanan dan diharuskan pulang pakai taksi. Biasanya setelah itu mereka akan diam. Bapak ini berbeda makanya saya berani memperkenalkan diri."
"O... begitu ya pak! Sekarang ini memang banyak penjahat, pak! Saya juga narik taksi gak sampai malam sekali. Takut dibegal. Setelah mengantar bapak, saya akan pulang."
"Iya pak, betul! Itu ada nomor hape saya di kartu jika bapak butuh bantuan bapak bisa menghubungi saya."
"Terima kasih pak!
Perjalanan yang memakan waktu setengah jam sudah berakhir. Dua orang pelayan dan satpam membantu mengeluarkan makanan dari bagasi. Yusuf membayar ongkos taksi sesuai argo. Saat akan menutup bagasi, supir itu melihat dua bungkus makanan tertinggal. Kemudian memanggil Yusuf.
" Pak, tunggu! Itu makanannya masih ada yang tertinggal!"
Yusuf menghampiri pak supir. "Itu untuk bapak! Cepat pulang dan makanlah bersama anak dan istri bapak!"
"Terima kasih pak!"
Ada air mata yang menetes dari supir taksi itu. Kemudian semburat senyum terlihat di wajah bapak itu. Saat tiba di rumah, supir taksi itu biasa memeriksa mobil sebelum turun. Memeriksa apakah ada barang penumpang yang tertinggal. Betapa terkejutnya pria itu saat melihat amplop di bangku penumpang. Di atas amplop itu tertulis "Ini untuk bapak supir". Bapak itu menangis merasa terharu dan bersyukur atas rejeki yang diterimanya. Pak supir kemudian turun dan menjumpai anak dan istrinya.
" Alhamdulillah bu, bapak dapat rejeki! Ini ada makanan dan juga uang. Bapak dikasih sama penumpang barusan. Coba ibu buka amplopnya!"
Kedua matas istrinya melotot saat mendapati uang yang begitu banyak dalam amplop. Sang istri menghitung jumlah uang itu.
"Pak, ini gak salah ya pak? Lima juta pak! Lima juta! Ya Allah gusti! Hatur nuhun! Alhamdulillah! Pak, ini bisa bayar kontrakan kita yang nunggak, juga uang sekolah Hendra. Lebihnya masih banyak pak! Bisa untuk jualan lagi! Ya Allah gusti! Semoga penumpang tadi makin banyak rejekinya." Sang istri menangis saking senangnya. Beban mereka beberapa bulan ini menghilang dengan bantuan Yusuf.
__ADS_1
Yusuf mengirimkan pesan pada mama Aiu agar menyiapkan uang dalam amplop. Saat pak supir sibuk menurunkan makanan, Yusuf meletakkan uang di bangku.
Di sisi lain di Kota A, sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah besar. Joni dan supir turun dari mobil. Mereka membukakan pintu untuk kakek dan nenek. Joni memencet bel. Tak lama keluar seorang pria muda berusia sedikit lebih tua dari Yusuf. Pria itu berlari dan membukakan pintu. Setelah melihat siapa yang datang, pria itu langsung mencium tangan kakek dan nenek.
"Lho, pak, katanya naik kereta api? Lah ini siapa?"
"Seharusnya begitu, nak! Cuma yang beli rumah bapak bersikeras mengantar bapak sampai ke sini. Ini Mas Joni asistennya Pak Yusuf, yang beli rumah bapak."
Joni bersalaman dengan menantu kakek itu. Tiba-tiba saja seorang perempuan datang dan berbicara dengan suara keras.
"Bapak sama ibu ngapain datang kemari?"
"Saya yang meminta mereka untuk datang dan tinggal bersama kita."
"Tinggal di sini? Sama kita?"
"Iya! Memangnya kenapa? Bapak dan ibu kan sudah tua, biar mereka tinggal di sini. Lagi juga anak-anak senang kok kalo kakek dan neneknya ada di sini."
"Kamu kenapa gak diskusi dulu sama aku?"
"Kenapa harus diskusi, mereka kan orang tua kamu, masa kamu gak senang mereka di sini?"
"Iya, aku gak senang mereka di sini! Bikin repot aja!"
Sontak kata-kata wanita muda itu menyayat hati nenek. Air mata menetes di pipi yang sudah keriput itu. Pertengkaran terjadi antara anak dan menantunya. Karena sudah malam dan tidak enak hati dengan tetangga, akhirnya kakek memutuskan untuk pergi.
"Sudahlah nak! Tidak usah bertengkar lagi! Bapak dan ibu akan pergi saja dari sini. Assalamualaikum!"
"Pak! Tunggu! Jangan pergi, pak!"
Kakek dan nenek berjalan meninggalkan pasangan muda itu. Air mata mengalir deras dari kedua mata mereka. Hati mereka sakit mengingat perkataan putri mereka. Saat mereka tiba di gerbang, Joni langsung membawa mereka masuk ke mobil.
Saat sang menantu membawa nenek memasuki halaman, Joni meminta supir untuk menggeser mobilnya melewati gerbang. Kemudian Joni menelepon Yusuf saat pertengkaran mulai terjadi. Yusuf memerintahkan Joni untuk membawa mereka ke kediaman Winata malam itu.
"Ini rumah siapa nak?" Kakek bingung karena bukan hotel yang ada di depan matanya.
"Ini rumah Pak Yusuf kek!"
"Kenapa kita ke sini, kan saya minta diantar ke hotel?"
"Ini perintah Pak Yusuf! Malam ini, bukan untuk sementara waktu bapak tinggal di sini!"
Tak lama Yusuf, Papa Andre dan Mama Aiu keluar. Mereka mencium tangan kakek nenek dan menyambut dengan hangat.
Keesokan harinya, sang menantu sudah tiba di rumah mertuanya. Pria itu kebingungan karena tidak mendapati ayah dan ibu mertuanya. Seorang tukang gorengan yang sejak tadi memperhatikan pria itu bertanya, "Bapak cari siapa?"
"Pemilik rumah ini, Pak Ahmad! Kenapa mereka tidak ada. Gerbangnya pun dikunci."
"Oh, Pak Ahmad! Setahu saya rumah ini sudah dijual kemarin. Saya dengar Pak Ahmad mau tinggal sama anaknya di kota A, makanya rumah ini dijual. Saya juga lihat kemarin Pak Ahmad diantar sama supir yang beli rumah ini."
"Kalau boleh tahu siapa yang beli rumah ini?"
"Ini pak, kebetulan kemarin Pak Yusuf memberikan saya kartu nama. Pak Yusuf minta saya menjaga rumah ini. Kebetulan saya kan jualannya di rumah sendiri. Dia minta kalau ada apa-apa, saya disuruh melapor."
__ADS_1
Sang Menantu yang bernama Rian itu menelepon Yusuf.
"Assalamualaikum! Perkenalkan, saya Rian, menantu Pak Ahmad! Saya dapat nomor bapak dari tukang gorengan depan rumah. Apakah bapak dan ibu saya ada bersama bapak?"
"Waalaikumsalam, Pak Rian! Ya... mereka ada bersama saya."
"Saya minta alamat bapak. Saya ingin bertemu bapak dan ibu. Saya ingin bicara!"
"Baiklah! Ini alamat saya, Jl. Kenangan Indah nomor 10. Perumahan Sakinah Mawaddah."
"Terima kasih".
Rian segera pergi setelah kedua mertuanya pergi. Dia tidak membawa mobil karena penglihatannya yang buruk jika malam tiba. Pria itu minta diantar supir ke stasiun dan naik kereta api menuju kota J. Meski memiliki supir, Rian tidak diantar karena sang supir harus mengantar jemput anaknya ke sekolah.
Setelah perjalanan 30 menit, akhirnya sampai di rumah Yusuf. Satpam yang sudah diberitahu sebelumnya langsung mengantarkan Rian ke dalam rumah. Pelayan mengantarkan Rian ke ruang makan.
"Bapak! Ibu!"
Pak Ahmad dan Bu Ahmad terkejut melihat menantunya. Mereka berdua berdiri dan menghampiri menantunya. Rian langsung bersimpuh di hadapan keduanya. Meminta maaf atas perlakuan istrinya.
"Maafkan Rian, pak! Rian tidak bisa mendidik Sinta dengan baik!"
"Bangunlah nak! Itu bukan salahmu! Itu salah kami yang tidak benar mendidiknya! Sudah! Jangan salahkan dirimu!"
"Tapi, bu...!"
"Sudah... sudah! Kalian makan dulu nanti dibicarakan lagi!" Andre menyela omongan Rian.
Mereka kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapan. Setelah sarapan Yusuf membawa mereka ke ruang tamu untuk berbicara. Yusuf meminta Joni mengundurkan jadwal jika ada meeting pagi ini. Beruntung nya tak ada jadwal penting sampai nanti siang.
"Bapak kenapa tidak beritahu saya kalau rumah sudah dijual? Nanti bapak akan tinggal dimana? Apa saya beli lagi saja rumah bapak?"
"Kami memang sengaja tidak ingin memberitahu kalian, biar jadi surprise. Tapi malah kami yang terkejut."
"Pak Yusuf, bagaimana kalau saya beli kembali rumah itu?"
"Maaf, Pak Rian, Tidak bisa! Saya membeli rumah itu untuk rumah singgah bagi anak jalanan. Saya sudah bilang kepada anak asuh kalau mereka tak perlu lagi tidur di jalanan. Mulai besok mereka akan tinggal di sana. Hari ini saya sudah memesan jasa kebersihan dan telah meminta pelayan untuk merapikan tempat itu."
"Begini saja, Pak Rian. Bagaimana kalau Pak Ahmad dan Bu Ahmad tinggal di paviliun. Bukankah ada paviliun di rumah itu?" Yusuf memberikan ide.
"Pak Ahmad dan ibu juga tak perlu membayar sewa apapun. Saya ingin kalian berdua menjadi kakek dan nenek bagi anak asuh. Bagaimana?"
tawar Yusuf lagi.
"Benarkah? Kami boleh tinggal di sana lagi?"
"Benar, pak! Bukankah kalian membangun banyak kamar karena ingin punya banyak anak? Sekarang kalian punya cucu yang banyak. Bagus bukan?!"
"Iya betul, pak!" Bu Ahmad sangat antusias.
"Baiklah jika itu keinginan bapak!" jawab Rian.
"Pak Rian juga bisa membawa anak-anak bapak jika ingin berkunjung. Rumah itu akan selalu terbuka untuk Pak Rian sekeluarga!"
__ADS_1
"Terima kasih Pak Yusuf!"