
Hampir dua jam mereka membahas masalah pesta pernikahan. Akhirnya disepakati bahwa pesta akan dilakukan 2 kali, yaitu di Jakarta dan di Kota B. Alasannya relasi yang banyak dan juga dari kalangan yang berbeda, jadi tidak mungkin jika pesta hanya satu kali. Pesta pertama akan dilakukan di Kota B dengan tema militer akan dilaksanakan dalam 2 minggu lagi. Pesta kedua akan dilakukan di Jakarta 2 minggu setelah pesta pertama.
Setelah diskusi selesai, Cicit dan Yusuf dibawa menuju ke kamar pengantin. Ucup memberikan tipe untuk pelayan yang mengantarnya. Kini dua sejoli itu sudah berada di dalam kamar. Yusuf menggandeng tangan Cicit dan mengajaknya duduk di sofa. Wajah Cicit hanya tertunduk saja sejak tadi. Dirinya masih gugup dan canggung untuk seruangan dengan laki-laki.
"Sri! Kamu cantik sekali dengan hijab ini! Aku punya permintaan, bisakah kamu seterusnya berhijab? Kamu hanya boleh melepas hijabmu di hadapanku!"
"Iya! Sebenarnya sudah lama aku ingin berhijab tapi belum juga ku lakukan karena belum bertemu kamu. Aku takut kamu tidak mengenaliku kalau sudah berhijab! Sekarang aku bisa berhijab dengan tenang."
"Sri! Bolehkah aku memeluk dan menciummu?" Yusuf khawatir kalau Cicit menolak permintaannya.
"Iya! Silakan saja! Sekarang kita sudah halal! Kamu boleh melakukan apapun padaku!" Yusuf sangat senang dengan perkataan Cicit. Tanpa basa-basi Yusuf langsung memeluk Cicit. Cicit menyambut pelukan Yusuf.
Ya Allah! Ternyata begini ya rasanya peluk perempuan yang sudah sah jadi hak milik. Sangat menyenangkan dan menenangkan. Yusuf.
Rasanya beda ya dengan saat dipeluk ayah. Ada rasa terlindungi yang berbeda. Cicit.
Setelah agak lama mereka melepaskan pelukannya. Yusuf memandang wajah Cicit dengan lembut. Tangannya menyentuh dagu Cicit. Yusuf mendekatkan wajahnya. Cicit yang paham maksud Yusuf tidak menampiknya. Gadis itu membiarkan Yusuf mendekatkan wajahnya. Mata Cicit refleks terpejam. Yusuf menempelkan bibirnya di bibir Cicit. Menyalurkan kehangatan lewat sentuhannya. Cicit juga menikmati sentuhan itu. Ciuman pertama bagi mereka berdua. Yusuf melepas perlahan ciumannya.
"Maaf, jika tidak profesional! Ini ciuman pertamaku!" Yusuf berkata jujur.
"Begitupun denganku! Itu juga ciuman pertamaku!" Yusuf sangat bahagia bahwa yang mengambil ciuman pertama Cicit adalah dirinya.
"Boleh nambah gak?" Cicit tertawa sambil mengangguk. Yusuf kembali mencium Cicit.
__ADS_1
Ya Allah! Ternyata ciuman bikin nagih. Pantas saja kalau belum halal itu dibilang banyak dosanya. Karena semuanya bikin ketagihan. Yusuf.
Tak lama berkumandang azan zuhur. Yusuf dan Cicit pun segera membersihkan diri kemudian solat zuhur berjamaah. Setelah solat mereka kembali duduk di kursi.
"Habis ini kita mau ngapain?" Cicit bertanya dengan wajah polosnya.
Nah loh! Dia nanya mau ngapain? Ini kode atau apa ya? Boleh gak ya kalau minta "itu"? Yusuf.
" Hmm... Sri sayang! Itu... Gimana bilangnya ya?" Yusuf ragu mengutarakan maksudnya.
"Itu apa?" Kamu kalau ngomong yang jelas dong!" Cicit tidak mengerti maksudnya Yusuf.
Yusuf mendekatkan wajahnya ke telinga Cicit. Suaranya agak dikecilkan.
Yes! Ini saatnya mengamalkan ilmu yang diajarkan papa! Yusuf.
Semalam sebelum tidur, Yusuf mendatangi Andre. Yusuf meminta pencerahan soal malam pertama. Berbeda dengan Andre yang Omes (Otak Mesum) Yusuf tidak pernah sekalipun menyentuh dunia itu. Dia tidak mengerti dan paham dengan hal-hal terkait hubungan suami istri.
Akhirnya Andre memberikan pelajaran singkat tentang organ reproduksi wanita dan hal-hal terkait hubungan suami istri. Andre juga mempertontonkan video "itu" untuk referensi. Andre berpesan hanya boleh sekali itu saja Yusuf menonton, tidak ada lain kali. Yusuf mengangguk paham. Andre juga berpesan untuk selalu menjaga syahwat dimanapun berada kecuali di hadapan istrimu.
Setelah Yusuf pergi, Andre langsung mencari Aiu. Gara-gara mengajari Yusuf tadi, Andre jadi naik hasratnya. Andre merayu-rayu Aiu agar mau melakukannya. Akhirnya Andre berhasil.
Kembali ke pasangan pengantin baru. Yusuf mulai mengerjakan apa yang diajarkan papanya. Cicit digendong menuju ranjang. Yusuf merebahkan tubuh Cicit di kasur. Yusuf membelai wajah mulus Cicit. Mengelus kedua lengannya. Kemudian mencium bibirnya. Meski tangannya sedikit gemetar, Yusuf tak gentar untuk melanjutkan aksinya. Tubuh Cicit juga sama gemetar nya dengan tangan Yusuf. Melihat itu Yusuf berhenti.
__ADS_1
"Apa kamu takut? Papa bilang saat hubungan pertama kali pasti sakit! Apa kamu mau berhenti?" Cicit tak tega melihat wajah Yusuf yang terlihat sedih. Cicit memeluk suaminya.
"Ya, aku takut karena ini pertama kalinya buatku. Ini juga pertama kalinya ada laki-laki yang menyentuh tubuhku. rasa gugup itu pasti ada. Tapi bagaimanapun juga mau sekarang atau nanti hal seperti ini pasti harus dilakukan! Maka dari itu, bersikap lembutlah!" Yusuf senang Cicit tidak menolaknya. Mereka kembali berciuman. Setelah saling mengutarakan perasaan kini mereka sangat rileks.
Yusuf mulai membuka kancing piyama Cicit perlahan. Tampaknya pemandangan yang selama ini selalu dihindari. Yusuf memberikan stempel di sana. Yusuf juga membuka bajunya. Cicit melihat roti sobek yang menggiurkan. Tanpa sadar tangannya menyentuhnya. Yusuf tersenyum senang karena Cicit juga menginginkannya. Cicit tertunduk malu saat ketahuan.
Kini mereka sudah saling melepas penghalang di antara mereka. Yusuf menarik selimut untuk menutupinya.
"Aku tidak berpengalaman! Aku minta maaf jika nanti menyakitimu!" Cicit mengangguk tanda mengerti. Mereka pun memulai ritual siang pertama.
Azan Ashar berkumandang. Cicit terbangun dari tidurnya. Saat menguap, Cicit melihat Yusuf sedang memandanginya.
"Selamat sore istriku!" sapa Yusuf dengan senyum lebarnya. Cicit terkejut melihat tampilan Yusuf yang bertelanjang dada. Dirinya lebih terkejut lagi saat melihat dadanya terlihat tanpa penutup apapun.
"Aaaa... Apa yang terjadi?" Cicit mengingat kembali apa yang telah terjadi. Wanita itu telah ingat semuanya. Gadis itu baru saja melepas mahkotanya dengan terhormat. Cicit mengintip ke bagian bawah selimut. Ada bercak darah di sana dan tercium bau mani.
"Terima kasih istriku sayang! Terima kasih kamu sudah menjaganya selama ini dan membiarkanku mengambilnya!" Cicit tersanjung dengan pujian Yusuf. Dia berinisiatif mencium Yusuf. Yusuf tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Boleh nambah gak?" Yusuf meminta dengan pose yang menggemaskan. Membuat Cicit tak bisa menolaknya. Cicit mengangguk sambil menyelipkan rambutnya ke telinga.
Sebelum memulai lagi, Yusuf membisikkan sesuatu di telinga Cicit.
"Selain ciuman, ternyata berhubungan seperti ini juga bikin ketagihan! Kamu siap-siap saja ya! Selain itu ada hal lain yang bikin nagih, yaitu... mengatakan cinta padamu, Sri! I love you, Sri!" Bisikan Yusuf membuat tubuh Cicit meremang. Padahal itu bukan pertama kalinya Cicit mendengar kata cinta darinya. Mereka melanjutkan kegiatan sore itu.
__ADS_1