
Langit pagi itu begitu cerah. Birunya langit berpadu dengan kuningnya mentari menambah semangat pagi itu. Lain di langit lain lagi di langit-langit rumah Keluarga Wirabuana. Suasana mencekam sangat terasa di ruang tamu kediaman Wirabuana. Seorang jendral besar menampakkan ekspresi kemarahan.
Sebuah kertas teronggok di atas meja. Sepasang suami istri duduk di hadapan sang Jendral untuk disidang. Setelah hampir sebulan lamanya akhirnya sang Jendral mengetahui bahwa cucu kesayangannya kabur dari rumah. Tanpa aba-aba emosinya langsung naik dan berteriak.
"Bimaaa!" Sang Jendral berjalan begitu cepat menuju ruang tamu sambil membawa secarik kertas.
Bima dan Laras yang berada di kamar terkejut mendengar teriakan papa.
"Papa kenapa, Bim? Kok teriak-teriak?"
"Gak tahu! Kita lihat saja!"
Pasutri itu segera keluar kamar dan menuju ruang tamu tempat terakhir suara Sang Jendral terdengar. Saat datang Bima melihat secarik kertas di atas meja. Bima sudah tahu alasan papanya berteriak. Mereka duduk di sofa.
"Apa ini Bima? Kenapa kalian tidak beritahu papa kalau Cicit kabur dari rumah? Kalau Cicit kenapa-kenapa gimana?" Rasa khawatir muncul di wajah Sang Jendral yang sudah keriput.
"Papa sudah baca isi surat Cicit?" Sang Jendral hanya menggeleng.
"Papa belum baca semuanya."
"Kalau gitu baca dulu sampai habis! Dengan begitu papa akan tahu alasan kami tidak mencarinya."
Sang Jendral membaca surat Cicit dengan seksama. Pria tua itu menghela napas kasar.
"Tapi bukan berarti gak bisa dilacak kan?"
"Kami sudah berusaha pa. Kali ini Cicit benar-benar menutup akses. Kami sudah telepon berkali-kali tapi tidak tersambung. Emailnya juga sudah berusaha kami buka tapi tidak berhasil juga. Beberapa temannya juga sudah kami hubungi tapi tidak ada yang tahu kemana Cicit pergi. Terakhir kami hanya bisa mengikuti kemauan Cicit!" Bima menghela napas kasar.
"Apa kalian sudah berbicara tentang perjodohan ini dengan Cicit sebelumnya?"
"Boro-boro kami bicara, Cicitnya saja sudah pergi sebelum kami bertanya."
"Darimana dia tahu?"
"Cucu papa itu sudah menyadap semua alat komunikasi di rumah ini! Tentu saja dia tahu semua informasi yang masuk!"
"Cucu ku memang hebat! Tapi bukan berarti kalian diam saja dan tidak memberitahu papa!" Emosi Sang Jendral kembali memuncak.
"Kalau papa dikasih tahu dari awal mau berapa pasukan yang akan papa kerahkan untuk mencari Cicit. Lagipula Cicit bukan penjahat. Bima dan Laras hanya bisa menghormati dan mengikuti kemauan Cicit saat ini. Biarkan dia mencari apa yang dia inginkan! Lagipula Cicit sudah dewasa dan punya bekal survival yang bagus. Jadi Cicit pasti akan aman!"
"Tapi ini aneh! Kenapa Cicit harus kabur? Harusnya kan dia bisa menolak!" Sang Kakek penasaran.
"Entahlah! Mungkin dia trauma!" jawab Bima asal.
"Kamu mau menyalahkan papa?"
"Bukan begitu pa! Hanya saja Bima tidak tahu apa yang membuat Cicit pergi?"
"Memangnya berapa pria yang mau dikenalkan sama Cicit?"
"Cuma satu pa! Itu juga cucu dari rekan bisnis papa Surya! Katanya, cucu rekan bisnis papa Surya juga bujang lapuk. Belum pernah pacaran! Papa Surya baru bertanya apa kami bersedia mengenalkan Cicit ke cucu mereka? Papa Surya juga gak akan memaksa jika Cicit tidak bersedia. Eh, belum juga ditanya malah kabur!" Bima tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya karena sikap Cicit.
Laras hanya tertawa kecil mendengar ucapan Bima. Bima yang melihat Laras tertawa mengerutkan dahinya.
"Kamu kenapa tertawa, Ras? Apa yang lucu?"
"Yang lucu itu kamu! Sudah tiga puluh tahun jadi ayah masa masih gak ngerti juga apa keinginan anakmu itu! Anakmu itu lagi mencari cintanya di masa lalu!" ucap Laras sambil santai menyeruput teh.
"Apa?!"
Tak hanya Bima, Kakek Krishna juga terkejut mendengar ucapan Laras. Untung saja mereka tidak sedang minun teh. Kalau ya, sudah pasti ada adegan teh mancur.
"Jangan bilang kalau kepergian Cicit untuk mencari Si Kurus itu!!?" Laras hanya tersenyum.
"Ras, siapa Si Kurus?" Jendral Krishna penasaran.
Laras tidak menjawab. Wanita paruh baya itu kembali ke kamarnya. Tak lama kemudian datang kembali ke ruang tamu dengan membawa laptop. Laras mencari file di laptop itu. Kemudian memperlihatkannya kepada Jendral Krishna.
"Ini lho pa Si Kurus! Ganteng kan?"
Bima yang mendengar Laras mengatakan ganteng langsung melengos. "Ganteng apanya?"
Jendral Krishna menonton video yang sudah tersimpan selama 15 tahun itu. Kepalanya mengangguk-angguk.
"Kalau Si Kurus ini yang dicari papa sih setuju!"
"Papa juga kenapa sih mesti setuju sama Si Kurus?"
"Kamu lihat dong bagaimana dia memperlakukan Cicit. Meski belum kenal tapi dia bisa memperlakukan wanita dengan baik. Apalagi dia jujur bilang masakan Cicit enak! Dia bilang juga Cicit seperti kupu-kupu. Cantik! Siapa dia? Papa akan cari Si Kurus itu!"
"Dia itu genit pa! Masih kecil sudah pintar merayu!" Bima masih tidak setuju.
__ADS_1
"Dia gak genit kok! Kalau papa lihat, dia itu tipe cowok gentle! Dia hanya berkata jujur!
" Itu benar pa! Dia memang gentle! Bahkan sudah pernah melamar Cicit!" ucap Laras santai.
"Apa?! Yang betul Ras?"
"Betul pa!"
"Wah hebat! Papa akan cari Si Kurus itu! Siapa namanya?"
"Namanya Ucup pa!"
"Hahahaha...! Namanya lucu ya!"
"Bukan lucu pa! Tapi katrok!" Bima makin kesal karena Laras berbicara tentang Ucup.
"Kok bisa Ucup datang melamar?"
"Begini ceritanya... "
Lima belas tahun yang lalu
Satu bulan setelah kejadian itu, Yusuf pergi berlibur ke villa milik Kakek Adrian. Villa itu baru dibeli Adrian sebulan lalu. Melihat nama desa yang sama dengan tempat ekplorasi waktu itu, Yusuf berniat mencari gadis yang telah menolongnya.
Yusuf remaja bahkan sudah menyiapkan bunga dan bahkan cincin untuk gadis itu. Entah apa yang sudah merasukinya tapi kedua barang itu sudah disiapkannya.
Yusuf berjalan menyusuri desa. Setiap melewati rumah dia selalu bertanya tentang gadis bernama Sri itu.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam! Ada yang bisa dibantu nak?" tanya seorang ibu yang sedang menjemur padi.
"Bu, apa di desa ini ada yang bernama Sri? Saya sedang mencari gadis bernama Sri."
"Sri? Gak ada mas! Disini tidak ada gadis bernama Sri! Yang ada mah Neneng, Rina, Uci! Itu kayaknya nama Jawa ya?" jawab Si ibu.
"Oh begitu! Terima kasih!"
Yusuf masih tidak menyerah. Setiap rumah dia tanya tentang Sri. Sampai akhirnya dia sampai di warung. Yusuf beristirahat sejenak di warung itu. Tak disangka, Bima dan Laras juga berada di situ. Laras yang menyadari keberadaan Yusuf mencolek lengan Bima.
"Bima sayang, lihat deh ada calon mantu!"
"Sudah tahu!" Bima sudah melihatnya lebih dulu. Kemudian membuang wajahnya ke samping.
"Ibu memanggil saya?"
"Iya! Duduk di sini saja! Di sini masih kosong." Yusuf melihat sekitar. Memang betul semua tempat duduk sudah penuh hanya di tempat itu saja yang kosong.
"Terima kasih bu!" Yusuf duduk di bangku di hadapan Laras dan Bima.
"Kamu lelah sekali ya? Tadi saya lihat kamu mendatangi setiap rumah, kamu sedang apa?" Laras penasaran.
"Saya sedang mencari seorang gadis. Namanya Sri! Saya sudah bertanya ke setiap rumah tapi tidak ada yang namanya Sri. Apa gadis itu bukan dari desa ini ya?" Yusuf bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu mencarinya?"
"Ada 2 alasan. Pertama ingin berterima kasih. Kedua ingin melamarnya jadi istri."
Bima yang mendengar hal itu seketika naik pitam. Beruntung Laras berhasil meredamnya.
"Coba jelaskan kedua alasanmu itu!" pinta Laras.
"Sebentar bu! Saya minum dulu, haus! hehehe!" Yusuf menuang air dari teko di depannya dan meminumnya langsung.
"Alhamdulillah! Pak, gado-gadonya 1 gak pedas ya! Kita lanjut lagi ya bu! Sri sudah menolong saya waktu tersesat di hutan jadi harus berterima kasih!"
"Terus kenapa kamu mau melamar dia? Bukankah kamu baru kenal! Kok bisa yakin?"
"Karena dia cantik!" Telinga Bima memerah mendengar laki-laki memuji anaknya.
"Karena itu saja?" tanya Laras lagi.
"Bukan karena itu! Sri cantik itu fakta tak terbantahkan! Saya tertarik dengan kepribadiannya yang tegas, kuat, berani, lembut, pemalu, dan juga dia pandai memasak! Dia juga pandai memanah! Seperti Katnis Everden!"
"Kamu gak takut sama dia?"
"Kenapa takut? Karena Sri kuat? Saya suka perempuan berkarakter seperti Sri! Kalau Sri kuat makan saya harus lebih kuat darinya!"
"Kamu kuat dari mananya? Kurus begitu!" Bima meremehkan.
"Mungkin saat ini saya masih belum kuat tapi suatu saat nanti, demi Sri, saya akan menjadi lebih kuat! Bukan, tidak hanya demi Sri, demi diriku juga, papa, mama, semuanya!"
__ADS_1
"Kenapa kamu mau melamarnya sekarang? Gak takut ditolak?" Bima menakutinya.
"Kalau ditolak ya usaha lagi sampai diterima!"
"Muka tembok!" ledek Bima.
"Biarin! Papa bilang jika kita punya niat baik harus disegerakan! Lebih cepat lebih baik! Lagipula lusa saya harus terbang ke Jepang untuk kuliah di sana sampai S2! Maka dari itu sebelum pergi saya harus melamar Sri! Kalau bisa sih langsung nikah!" Mata Bima seketika langsung melotot.
"Kalau sekarang kamu gak ketemu Sri, apa yang kamu lakukan?" tanya Bima.
"Saya akan terus mencarinya sampai kapanpun! Sampai saya ketemu dengan Sri!" Yusuf menjawab dengan mantap.
"Pede sekali kamu! Seolah-olah kamu itu pria setia! Kita tidak akan pernah tahu takdir hidup seseorang seperti apa. Berjodoh dengan siapa? Kenapa kamu yakin sekali? Bisa saja pas kamu ketemu nanti Sri sudah menikah. Apa kamu mau jadi pebinor?"
"Kalau seperti itu saya hanya perlu memperkuat doa saja bahwa Sri hanya akan berjodoh dengan saya! Tenang saja pak, kami ini keturunan keluarga bucin. Gak mungkin selingkuh! Kalau nanti takdir berkata lain ya mungkin saya baru akan menyerah. Saya gak mau jadi pebinor! Tapi kalau menunggu jandanya Sri ya boleh juga sih! hehehe!" Bima terdiam.
"Itu apa yang di kantong celanamu? Menyembul gitu hampir jatuh!" Yusuf melihat ke arah kantong celananya. Barang penting miliknya hampir jatuh. Dia mengambil barang itu dan meletakkannya di meja. Kemudian membuka kotaknya. Terlihat benda berupa lingkaran dengan satu mata di tengahnya.
"Wah! Cantik sekali cincinnya!" puji Laras.
"Iya! Ini untuk Sri! Kalau dia menerima lamaran saya, cincin ini untuknya!"
"Cincin hasil uang orang tua saja bangga!" Bima mencibir.
"Tidak pak! Cincin ini hasil usaha saya sendiri. Sejak bertemu Sri saya membuka usaha pembuatan aksesoris dari resin dan awetan sintetis. Alhamdulillah dalam sebulan ini banyak permintaan dan omzetnya naik. Ini salah satu contoh produk awetan saya!" Yusuf mengeluarkan bakwan awetan miliknya.
"Bakwan?!!" Mata Bima terbelalak melihat bakwan yang diawetkan. Dirinya hampir saja tertawa.
"Ini bakwan buatan Sri! Saya awetkan sebagai kenang-kenangan!" Yusuf memandangi bakwan itu dengan penuh senyuman.
Bima diam tak bisa berkata-kata lagi. Di dalam hatinya merasa terharu melihat seorang remaja laki-laki di hadapannya berjuang begitu keras demi anaknya. Tetapi tetap saja rasa posesif terhadap anaknya tak bisa dikalahkan. Dirinya masih belum bisa menerima jika anaknya hendak diambil pria lain.
Tiba-tiba handphone Yusuf berdering. Papa memanggil. Tertulis jelas di layar handphone.
"Assalamualaikum pa! Yusuf ada di warung gado-gado! Iya pa sebentar lagi pulang!" Yusuf menutup telepon.
"Pak, gado-gadonya tambah 10 bungkus lagi ya!"
"Saya makan dulu ya pak!" Bima menganggukkan kepala.
Setelah selesai makan pesanan Yusuf juga selesai.
"Kok cepat sekali pak?"
"Iya nak! Tadi bapak sekalian bikin banyak bumbunya. Kalau jam segini kan memang ramai jadi sekalian aja bikin banyak. Jadi pelanggan gak kelamaan nunggunya."
"Sayang sekali pencarian harus berakhir di sini! Pak, ini uangnya. Sekalian punya bapak dan ibu ini ya! Kembaliannya ambil saja! Saya buru-buru!" Yusuf mengeluarkan 5 lembar uang seratus ribu.
"Pak, bu, saya permisi dulu! Terima kasih atas bincang-bincangnya. Berasa kayak lagi disidang calon mertua! Tapi mungkin begitu kali ya kalau ketemu orang tua Sri sebenarnya. Hahaha!" Yusuf mengambil plastik berisi gado-gado. Tak lupa memberi salam sebelum pergi.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawab Bima dan Laras.
"Eh, nak! ini cincinnya ketinggalan!" Bima mengambil kotak itu dan bergegas keluar warung. Sayangnya Yusuf sudah pergi dengan menaiki mobil. Akhirnya cincin itu disimpan Bima.
Kembali ke masa sekarang.
"Begitu pa ceritanya!" Laras mengakhiri cerita.
"Kalian kenapa gak bilang sih kalau Cicit itu sudah ada yang melamar. Kan papa gak perlu bikin kontes kayak kemarin. Papa tinggal cari aja Si Ucup itu! Kamu gak tanya dia tinggal dimana?"
"Gak kepikiranlah sama Bima, pa! Yang dipikirin sama Bima cuma gimana caranya nolak laki-laki yang mau ngambil anak perempuannya!" Laras sengaja mengatakan itu untuk meledek Bima.
"Ya iyalah! Enak saja anak bau kencur mau ngajak nikah anak orang! Sembarangan sekali!" ucap Bima melipat kedua tangannya.
"Iya bau kencur tapi kencur super!" Laras membalas kata-kata Bima.
"Berarti anak laki-laki itu tidak tahu nama Cicit selain Sri?" tanya Jendral Krishna.
"Tidak tahu!" jawab Bima malas.
"Hahahaha! Itu artinya Cicit juga menyukai anak itu! Dulu papa pernah mau panggil Cicit dengan Sri saja! Cicit gak mau! Dia bilang yang boleh manggil Sri hanya suami Cicit saja! Kalau Cicit memberitahu nama nya Sri. Itu artinya Cicit sudah jatuh cinta sama Ucup!"
"Sekarang Cicit mencari Si Ucup! Belum tentu juga Ucup melakukan hal yang sama. Semua orang bisa berubah kan?" Bima meragukan Ucup.
"Tapi menurutku Ucup beda! Dia pasti juga mencari Cicit!" Laras membela Ucup.
"Buktinya dia tidak mencari ke desa lagi kan?"
"Mungkin dia mencari ke desa lain." Bela Laras lagi.
__ADS_1
"Sudahlah! Yang penting sekarang kita cari Cicit dulu!" Jendral Krishna menengahi mereka.