BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab. 15 Kunjungan Camer 2


__ADS_3

Sejak mengetahui panggilan Yusuf adalah ucup, Cicit merasakan hal aneh dalam dirinya. Ada perasaan senang tak terkira. Meski dirinya belum memeriksa kebenarannya, tapi Cicit merasa bahwa Ucup yang dicarinya selama ini adalah Yusuf. Setidaknya jika itu benar maka tidak perlu lagi menyembunyikan perasaannya. Jujur saja Cicit juga terpesona akan ketampanan dan kebaikan hati Yusuf. Tapi karena di dalam hatinya masih ada Ucup, gadis itu terus menyembunyikannya.


Malam itu Cicit membuka kembali laptopnya. Gadis itu mulai mencari info tentang Yusuf. Semua hal tentang Yusuf. Itu dilakukannya untuk memastikan bahwa Yusuf adalah Ucup. Intinya, Cicit melakukan peretasan ke semua hal yang berhubungan dengan Yusuf. Sudah 15 menit berlalu sejak Cicit mulai meretas tapi belum bisa mengakses ke data Yusuf. Ada password yang belum terpecahkan. Sudah berbagai kata dimasukkan tetapi belum ada yang cocok.


Cicit menengadahkan kepalanya ke atas. Sejenak dia berpikir. Sebenarnya sejak tadi gadis itu kepikiran untuk menggunakan namanya tetapi tidak dia lakukan karena tidak mungkin seorang Yusuf akan berbuat begitu. Akhirnya sekarang dia memutuskan untuk mencobanya. Jemari gadis mengetikkan 3 huruf terdepan dari nama tengahnya. Tidak disangka 3 huruf itu adalah passwordnya.


Ada perasaan senang di hati Cicit saat ini. Tidak menyangka bahwa namanya digunakan untuk password. Cicit berhasil masuk ke dalam komputer Yusuf. Gadis itu mulai mendapatkan informasi yang diinginkannya. Sampai akhirnya dia menemukan hal yang dicarinya. Pembuktian tentang siapa diri Yusuf sebenarnya. Ada hal lain lagi yang membuat dirinya tersanjung adalah foto dirinya saat memakai kostum memanah yang Yusuf ambil diam-diam saat di hutan.


Foto itu diberi judul "Calon istri masa depanku". Cicit tersenyum melihat foto itu. Meski hanya tampak belakang saja tetapi dengan teknik foto dan kamera yang bagus menghasilkan gambar yang sangat bagus.


Setelah puas melihat-lihat isi komputer Yusuf, gadis itu merebahkan dirinya di ranjang. Matanya belum terpejam. Senyum menghiasi wajahnya sejak tadi. Dari situ juga Cicit tahu bahwa untuk menjadi seorang di posisi tertinggi ternyata butuh perjuangan juga. Yusuf meski telah menjadi sang pewaris Winata Grup tidak serta merta menjadikannya Presdir begitu saja. Pria itu memulainya dari nol. Mulai dari Cleaning Service, pegawai biasa, hingga akhirnya naik menjadi manajer, asisten direktur, dan sekarang diangkat menjadi presiden direktur. Cicit merasa bangga pada Yusuf.


Tak hanya itu saja, Cicit juga menemukan tulisan-tulisan Yusuf yang menggambarkan perasaannya kepada Sri. Mulai dari saat pertama bertemu sampai kegalauan Yusuf dalam mencari Sri yang tak kunjung ketemu. Cicit sangat senang karena selama ini perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.


Cicit mengirimkan pesan kepada Yusuf untuk membicarakan hal yang tertunda tetapi Yusuf tidak dapat mengabulkan permintaannya.


Kepada: Yusuf Mahardika Winata


Pak Yusuf bisakah kita bertemu untuk membahas pertanyaan bapak kemarin? Saya jadi kepikiran soalnya.


Tak lama kemudian balasan pesan datang.


Dari: Yusuf Mahardika Winata


Mohon maaf Cit, saya tidak bisa bertemu denganmu untuk sementara waktu. Banyak urusan kantor yang harus diselesaikan sebelum Jumat. O ya, keluargamu naik apa kemari? Nanti biar saya jemput.


Kepada: Yusuf Mahardika Winata


Ayah bilang mau naik kereta api. Mereka akan sampai di Stasiun Gambir kira-kira pukul 17.30. Kalau bapak mau jemput, kita bertemu di sana saja.


Dari Yusuf Mahardika Winata


Oke!


Setelah itu tidak ada pesan lagi yang masuk. Cicit segera memejamkan matanya.


Hari-hari terus berlalu sampai akhirnya Hari Jumat tiba. Cicit sudah memberitahu Bu Nia juga kakek dan nenek kalau dirinya akan menjemput orang tuanya di stasiun. Cicit pergi setelah solat ashar. Meski stasiun tidak terlalu jauh dari rumah singgah tapi waktu sore akan sangat padat dan macet karena jam pulang kerja.


Meski berangkat lebih awal, nyatanya Cicit sampai di stasiun sekitar pukul 17.10 menit. Cicit memasuki stasiun. Gadis mengirim pesan pada ibunya. Bertanya sudah sampai mana. Laras membalas pesan Cicit. Katanya, sudah sampai di Manggarai. Cicit menunggu di pintu kedatangan.


Lima menit kemudian terdengar pengumuman bahwa kereta dari Kota B sudah sampai. Mata Cicit tertuju ke arah pintu kedatangan. Memperhatikan satu per satu orang-orang yang turun dari tangga. Sampai akhirnya Cicit mendapati sosok yang dirindukannya selama ini.


"Ayah! Ibu! Kakek!" Cicit berteriak sambil berlari ke arah mereka. Cicit langsung memeluk ibunya. Laras yang melihat Cicit berlari ke arahnya langsung menyambutnya. Ada tangis harus antara keduanya. Bima yang menyaksikannya juga hampir menangis. Cicit kemudian berpindah memeluk ayahnya. Bima mengelus puncak kepala Cicit. Sekarang giliran Krishna yang memeluk Cicit.


"Kakek kangen sama Cicit" Jendral Krishna tak bisa menyembunyikan rasa rindunya.

__ADS_1


"Iya kek! Cicit juga kangen!"


Dari kejauhan tampak seorang pria sedang memperhatikan mereka. Pria itu adalah Yusuf. Sebenarnya Yusuf sudah sampai sejak pukul 17.00. Yusuf juga melihat Cicit yang sampai pukul 17.10. Hanya saja dirinya tidak langsung bertemu Cicit. Pria itu sedang memandangi Cicit dari tadi. Sekarang dirinya menghampiri keluarga yang sedang reuni itu.


"Assalamualaikum!" Yusuf menyapa mereka.


"Waalaikumsalam!" Cicit dan Laras menjawab salam bersamaan.


Laras sampai harus mendongakkan kepalanya untuk melihat laki-laki yang menyapanya. Begitu juga dengan Bima dan Krishna.


Sialan! Ni anak kok jadi lebih tinggi dariku. Makan apaan coba? Bima.


"Saya Yusuf, bu! Saya datang khusus menjemput ibu sekeluarga." Yusuf mencium tangan Laras, kemudian Bima, dan Krishna. Wajah Bima terlihat kecut sejak kedatangan Yusuf. Maklumlah ayah mana yang rela anak gadisnya akan diambil laki-laki lain. Mengingat hal itu membuat Bima jadi makin kesal.


"Terima kasih nak Yusuf! Jadi merepotkan saja!" Laras membalas dengan senyuman.


"Tidak merepotkan bu! O ya, orang tua saya kirim salam untuk kalian. Mereka minta maaf karena tidak bisa menemani bapak dan ibu selama disini." Yusuf menyampaikan pesan Mama Aiu.


"Iya tidak apa-apa!"


"Kalau begitu mari kita langsung pulang saja! Biar koper ibu saya yang bawakan!" Yusuf langsung mengambil alih koper yang dipegang Laras. Mereka berjalan menuju parkiran. Selama menuju parkiran, Laras berbisik kepada Bima.


"Gimana rasanya melihat orang yang lebih tinggi dari kamu?" Laras meledek Bima.


"Biasa aja! Gak gimana-gimana?!" Bima menjawab dengan nada datar. Laras tertawa kecil. Wanita paruh baya itu dapat melihat dengan jelas rasa kesal di wajah suaminya itu. Anak yang dulu dikatai kurus dan pendek kini berubah menjadi sangat tinggi dan kekar. Wajahnya juga sangat tampan.


"Cit, kamu di belakang saja sama ayah dan ibu. Biar kakek yang duduk di depan!" Bima memberi perintah. Yusuf hanya diam dan memperhatikan. Itu juga bukan suatu masalah baginya.


Yusuf paham dengan sikap ayah Cicit. Dulu juga papanya bersikap seperti itu kepada calon menantunya. Apalagi anak kembarnya menikah bersamaan.


Sabar Cup! Calon mertua lagi mengujimu! Yusuf.


Hanya sepuluh menit perjalanan saja akhirnya sampai di rumah singgah. Saat turun dari mobil mereka disambut oleh para pelayan, kakek dan nenek, juga anak-anak. Para pelayan dengan cekatan langsung menurunkan barang-barang dari dalam mobil. Bima, Laras, dan Jendral Krishna terkejut dengan penyambutan itu. Begitu juga dengan Cicit.


"Bapak yang minta mereka melakukan ini?" Cicit bertanya karena penasaran.


"Tidak! Sepertinya mereka bertindak sendiri. Mereka hanya ingin menyambut orang tuamu saja!" Yusuf memberikan penjelasan karena memang dirinya tidak meminta hal itu.


Yusuf mempersilakan masuk. Kakek dan Nenek langsung menyambut mereka dan mengajak mereka masuk. Mereka masuk ke dalam rumah dan mempersilakan duduk di ruang tamu. Barang-barang sudah dimasukkan ke dalam kamar. Karena sangat ramai akhirnya Yusuf membubarkan mereka.


"Anak-anak! Kalian masuk dulu ya! Siap-siap sana untuk solat magrib!" Yusuf memberi perintah.


"Yah Bang Ucup! Baru juga jam segini! Kami kan mau kenalan sama papa mamanya Kak Cicit!" Arul memberi alasan.


"Tidak ada tapi-tapi! Nanti habis makan malam kalian boleh kenalan sama keluarganya Kak Cicit. Sekarang mereka baru sampai mau istirahat dulu!" Yusuf tetap pada pendiriannya. Akhirnya anak-anak pergi ke kamar mereka. Hanya Zily dan kedua anjingnya yang masih di sana.

__ADS_1


"Zily! Kok masih disini?" tanya Yusuf.


"Zily kan gak ikutan solat! Jadi Zily boleh kan disini?" Yusuf menepuk jidatnya. Susah memang kalau berhadapan sama anak satu ini.


"Zily sayang! Mainnya nanti saja ya bareng sama temen-temen yang lain. Meski Zily tidak ikut solat tapi Zily harus solidaritas dong sama yang lain! Oke?" Yusuf akhirnya bisa membujuk Zily. Zily akhirnya pergi ke kamarnya bersama Bara dan Biri.


"Bapak, ibu, kakek, silakan istirahat dulu. Kamarnya sudah disiapkan! Mbak, tolong ajak keluarga Non Cicit ke kamarnya ya!" Yusuf meminta salah satu pelayan untuk menunjukkan kamar. Cicit mengekor di belakang ibunya. Begitu juga dengan Yusuf yang mengekor di belakang Cicit.


"Kamu ngapain kok ngekor aja dari tadi?" Bima bertanya dengan nada sengit.


"Kebetulan kamar saya yang paling ujung itu, pak! Jadi saya juga mau ke sana. Maaf, pak! Apa bapak lagi datang bulan? Kok sensi banget sama saya?! Yusuf meledek Bima sambil berlalu.


" Awas kamu ya!" Bima sangat kesal diledek begitu.


"Udah ah Bim! Kamu juga salah nanya tuh baik-baik ini malah sengit gitu nadanya!" Laras menyalahkan Bima.


"Iya Bima! Kamu jangan gitu juga kali! Ya kalau papa digituin juga bakal papa balas kayak tadi!" Jendral Krishna membela Yusuf.


"Iya nih ayah! Ngapain sih ayah sengit gitu?" Cicit juga ikut-ikutan membela Yusuf.


Setelah itu mereka bersiap untuk solat magrib. Kali ini mereka tidak ke masjid. Mereka solat berjamaah di gazebo belakang. Setelah selesai solat, makan malam mulai dihidangkan. Keluarga Cicit, Yusuf, kakek, nenek, para pelayan, dan anak-anak sudah berkumpul di gazebo untuk makan malam.


Semua menu sudah dihidangkan. Menu makan malam kali ini sangat banyak. Anak-anak juga sangat antusias. Ada beragam sayur mulai dari sop, sayur asem, tumis capai, dll. Aneka masakan ayam dan ikan juga terhidang. Tak lupa sambel dan beragam lalapan, tak ketinggalan jengkol dan pete juga hadir. Zily yang baru melihat penampakan jengkol dan pete jadi penasaran.


"Bang Ucup ini apa? Kok panjang terus banyak bijinya? Nah yang ini juga apa?" Zily memegang pete di tangan kanannya dan jengkol di tangan kirinya.


"Yang di tangan kanan kamu itu pete sedangkan yang di tangan kiri itu jengkol!"


"Ini enak?" Zily penasaran dengan rasanya.


"Buat abang sih enak! Gak tahu kalau buat kamu? Kalau penasaran coba saja! Cuma kalau makan itu nanti mulutnya jadi bau!" Yusuf menjelaskan.


"Ya sudah! Kita mulai saja makan malamnya. Zack kamu pimpin doa ya!" Yusuf meminta Zack memimpin doa.


"Sebelum kita makan mari berdoa menurut agama fan kepercayaan masing-masing! Mulai!" Semua diam dan berdoa.


"Selesai!" Zack mengakhiri doa makannya.


"Silakan pak, bu!" Yusuf mempersilakan orang tua Cicit untuk memulai lebih dulu.


Laras mengambilkan nasi untuk Bima beserta sayur dan lauk-pauk kesukaan Bima. Tak ketinggalan lalapan jengkol pete juga masuk ke dalam piring Bima. Setelah Laras memulai yang lain juga mulai mengambil makanan. Yusuf menyendokkan nasi ke piringnya. Dia mengambil ikan bakar, ayam goreng, juga sayur asem ke dalam piringnya. Tak lupa sambal terasi dan sepapan pete rebus ia tambahkan ke dalam piringnya.


Bima tak menyangka bahwa laki-laki di hadapannya itu juga tidak membenci pete yang katanya makanan orang kampung. Bima memperhatikan Yusuf yang makan dengan lahap. Yusuf tidak malu memakan jengkol dan bahkan sampai nambah beberapa kali.


Et dah! Ni anak makannya banyak banget! Kayak seminggu gak makan! Bima.

__ADS_1


"Pak! Jangan bengong aja! Silakan dimakan! Kalau ada yang kurang bilang saja!" Yusuf berbasa-basi dengan Bima. Bima hanya mengangguk saja. Kemudian melanjutkan makannya. Laras yang melihat tingkah Bima hanya tertawa kecil saja.


__ADS_2