
Langit masih terlihat gelap meski benang-benang putih telah menghiasinya. Sepasang suami istri telah selesai menjalankan kewajibannya. Mereka menaiki mobil untuk kembali ke kediamannya. Saat sampai matahari mulai tampak di ujung timur. Para pelayan sudah beraktivitas seperti biasanya. Mereka menundukkan kepala untuk menghormati kedua tuan mereka.
Sesampainya di kamar, si istri segera menyiapkan pakaian untuk suaminya. Kemudian turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak lupa bakwan kesukaan sang suami juga dibuatkan. Cicit membawakan sarapan untuk mereka berdua ke dalam kamar. Yusuf minta untuk sarapan di kamar pagi ini.
Setelah Yusuf selesai mandi, Cicit segera mandi dan bersiap untuk bertemu dengan Bram. Kini pasutri itu sedang menikmati sarapan di balkon. Pak Im juga dipanggil untuk melaporkan apa saja yang terjadi selama mereka tidak ada. Pria tua itu melaporkan bahwa Rachel dan Mona pergi sekitar 9 malam dan kembali ketika tengah malam melalui pintu rahasia.
Selesai sarapan, Pak Im segera membereskan sisa sarapan di balkon. Pasutri itu keluar kamar dan menuruni tangga dengan bergandengan tangan. Saat sampai di bawah ternyata Rachel sedang duduk di ruang tamu. Rachel sengaja bangun pagi dan duduk di sana untuk memulai perang. Wanita itu sengaja mengambil koran lama dimana terdapat berita tentang Cicit yang dikabarkan sudah dinodai saat belia.
"Wah... wah... wah! Sungguh hebat ya Nyonya Winata ini! Meski sudah ternoda masih bisa masuk ke kediaman Winata!" Rachel menghempaskan koran yang dibacanya ke atas meja.
Pasutri itu acuh saja tak menggubris omongan Rachel. Wanita itu menghentikan mereka karena merasa geram sudah diabaikan.
"Tunggu!" Pasutri itu akhirnya berhenti.
"Kamu wanita kotor seenaknya saja tinggal di rumah ini! Apa kamu tidak malu?" Dengan sombongnya Rachel menghina Cicit. Rachel mengira bahwa Yusuf akan membelanya nanti.
"Pak Im!" Yusuf memanggil Pak Im dengan nada suara tinggi. Ros yang masih berjalan di koridor segera mempercepat langkahnya setelah mendengar suara Yusuf. Pak Im segera datang menghampiri Yusuf.
"Saya tuan muda!" Pak Im menundukkan kepalanya dengan suara gemetar. Baru kali itu Pak Im mendengar tuan muda memanggilnya dengan suara tinggi.
"Kamu ambil barang-barang wanita ini dan usir dia keluar dari rumah ini bersama dengan pengawalnya!" Yusuf sangat marah mendengar kata-kata Rachel barusan.
"Baik tuan muda!" Pak Im segera menuju kamar Rachel untuk mengeluarkan barang-barangnya.
"Tunggu! Seharusnya wanita ini yang keluar dari rumah ini bukan saya! Keberadaannya sudah mengotori rumah ini!" Rachel makin menantang. Yusuf sudah hampir kehilangan kesabaran. Cicit masih berusaha menenangkan Yusuf dengan mengelus punggung suaminya.
"Pak Im kenapa lama sekali!" Yusuf masih marah.
"Sudah selesai tuan! Ini tas mereka berdua!"
"Panggil pengawal seret mereka keluar!" Pak Im segera memanggil pengawal untuk menyeret mereka. Beberapa pengawal datang menghampiri. Mereka segera memegang tangan Rachel dan menyeretnya keluar. Ros sang pengawal berusaha melawan para pengawal untuk menyelamatkan majikannya.
Rachel meronta saat diseret keluar. "Lepaskan! Bukan aku yang harusnya keluar tapi wanita ular itu!" Rachel masih bersiteguh bahwa dirinya benar. Setelah bisa lepas wanita itu berlari ke arah Yusuf dan terus memaki Cicit. Yusuf sudah habis sabar hingga menampar wanita berambut coklat itu.
Plak!
"Apa kau ingat apa yang dikatakan papa saat itu? Jika benar putri dari Keluarga Wirabuana itu ternoda maka aku, Yusuf Mahardika Winata akan tetap menikahinya jika tidak ada satu orang lelaki yang menikahinya! Satu hal yang harus kau tahu! Orang yang menodainya adalah aku!" Yusuf mengatakan hal itu dengan dingin dan penuh amarah. Rachel ternganga mendengar omongan Yusuf. Gadis itu telah gagal memprovokasi dan berakhir dengan pengusiran.
"Seharusnya kau melihat siaran konferensi pers kami bukan? Atau kau sengaja membuatku marah pagi ini? Satu lagi, kau dicoret dari daftar tamu di pesta besok!" Rachel merasa bodoh. Gadis itu tidak menyangka kalau Yusuf akan mengusirnya begitu saja.
"Mengapa kau begitu tega mengusirku? Aku sudah banyak berkontribusi untuk Winata Grup, inikah balasannya?"
"Memangnya kenapa jika kau bekerja untuk Winata Grup? Kami membayarmu bukan? Bukankah selama ini juga kau berhutang banyak pada kami? Kau itu hanya tamu di rumah ini! Tamu yang kurang ajar pada tuan rumahnya boleh diusir kapan saja! Pak Im segera bereskan gadis itu! Saya tidak mau melihatnya ada di rumah ini lagi!"
"Baik tuan!" Pak Im meminta pengawal untuk membawa Rachel pergi beserta pengawalnya.
__ADS_1
Rachel mengakui kesalahannya dan meronta minta agar tidak diusir.
Dasar bodoh dan tidak sabaran! Ros.
Suasana hati Yusuf sangat buruk pagi itu. Joni memang diperintahkan tidak menjemput pagi itu karena harus pergi mengambil hasil tes DNA Zily dan Bu Nadia.
"Apa kamu masih mau pergi ke kantor?"
"Aku sudah tidak mood untuk ke kantor! Kenapa kamu diam saja tadi? Kenapa kamu...?" Yusuf tak bisa meneruskan kata-katanya karena sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Yusuf tidak melepaskan kesempatan itu. Pria jangkung itu membalas ciuman Cicit.
Maksud hati hanya ingin menenangkan harimau yang marah, ini malah aku yang dimakan! Cicit.
Alhamdulillah! Rejeki suami soleh! Yusuf.
Cicit hampir kehabisan napas. Akhirnya wanita berhijab itu segera mengakhiri ciumannya. Yusuf tersenyum melihat istrinya yang ngos-ngosan.
"Kamu mulai nakal ya! Tapi aku suka kok!" Yusuf menggoda Cicit.
"Kamu itu ya mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Yusuf tertawa lepas. Amarahnya sudah reda. Cicit bersyukur suaminya sudah tidak marah lagi.
"Kenapa kamu diam saja dan tidak membalas?" Yusuf tetap membahasnya lagi.
"Sebelum aku membalas sudah pasti kamu lebih dulu marah! Jadi untuk apa lagi aku membalas?" Yusuf membenarkan hal itu. Kepalanya manggut-manggut.
"Kalau begitu kita ke hotel XX saja, ke tempatmu akan bertemu Bram!"
"Hotel itu milik kita! Tadi saat berjalan ke mobil aku sudah memberitahu papa kalau mengusir Rachel dari rumah. Aku juga sudah memberitahu semua grup untuk tidak memberi akses masuk ke manapun di dalam Winata Grup." Tadi memang terlihat Yusuf menelepon seseorang saat membawanya berjalan ke mobil.
"Apa tindakanmu tidak berlebihan, bagaimana kalau dia berbuat ulah lebih jauh lagi?" Cicit merasa khawatir.
"Tidak masalah! Jika itu terjadi kita akan tetap menang!"
Benar saja apa yang dikatakan Yusuf terjadi. Kini Rachel kelimpungan mencari hotel. Hotel XX tempat yang dia rencanakan untuk merekam pertemuan Cicit dan Bram tidak memberi akses masuk. Rencananya hampir saja gagal. Di detik terakhir, Rachel meminta wartawan yang disewanya untuk masuk ke hotel dan merekam mereka. Gadis itu juga memanggil wartawan dan menyebarkan berita bahwa dirinya diusir dari kediaman Winata oleh Nyonya Winata. Sontak berita itu langsung menjadi trending topic.
Meski demikian, pihak Yusuf tidak segera mengklarifikasi berita itu. Andre yang digeruduk wartawan hanya mengatakan, "Silakan besok malam kalian datang ke pesta resepsi maka kalian akan tahu kebenarannya!"
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30. Seorang pria dengan jas rapi masih duduk di restoran. Pria itu masih menunggu orang yang akan ditemuinya. Tak lama seorang wanita berhijab datang menghampirinya.
"Assalamualaikum! Maaf Bram saya terlambat!" Cicit menyapa Bram.
Pria berjas itu terperangah melihat kedatangan wanita muda itu. Mereka sudah tidak bertemu selama 17 tahun. Cicit sudah banyak berubah. Kini wanita itu sudah berhijab. Satu hal yang tidak berubah, kecantikannya tetap mempesona. Bram tersadar dari lamunannya saat Joni menyapanya.
"Selamat pagi Tuan Bram! Saya Joni yang menemani Nyonya Cicit!" Bram menjabat tangan Joni.
"Maaf, Tuan Joni! Bisakah kami ngobrol berdua saja? Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap Nyonya Cicit!" Joni juga paham dan duduk menjauh dari mereka.
__ADS_1
"Hai Cicit! Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu kamu tetap cantik seperti dulu."
"Kabarku baik Bram! Terima kasih pujiannya!"
"Cit, aku... aku minta maaf atas perbuatanku dulu! Maafkan aku karena terlambat untuk meminta maaf padamu! Aku sangat menyesal, Cit! Aku tidak bermaksud seperti itu!" Bram menundukkan wajahnya.
"Sudahlah Bram! Itu sudah berlalu! Aku juga minta maaf karena saat itu tidak membiarkanmu menemuiku untuk meminta maaf. Aku juga salah! Aku sudah memaafkanmu!"
"Ku dengar kamu sudah menikah? Apa itu benar?"
"Ya itu benar! Aku sudah menikah dengan pangeran kecilku! Kamu ingat kan waktu aku cerita tentang pangeran kecilku?" Bram mengangguk.
"Apakah alasan kamu menolakku karena pangeran kecilmu itu?"
"Ya! Itu betul! Memang terdengar aneh dan kekanakan tapi itulah kenyataannya! Lagi pula saat itu aku memang ingin sendiri. Tapi itu sudah berlalu. Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah menikah?"
"Belum! Aku terlalu sibuk mengerjakan proyek pembuatan obat di lab! Tidak ada waktu untuk cinta!"
"Seharusnya kamu lebih meluangkan waktu untuk mencari wanita!" Bram hanya tertawa kecil.
"Bagaimana kabar paman dan bibi?"
"Mereka baik-baik saja!" Wajah Bram murung saat menceritakan mereka.
"O ya kamu besok datang ya di resepsi pernikahanku! Ini undangan untuk kamu! Ajak paman dan bibi juga!"
"Insya allah!" Joni menghampiri mereka. Mereka jadi canggung karena kedatangan Joni.
"Maaf Nyonya! Waktu yang diberikan tuan muda sudah habis! Sebaiknya kita pergi!" Joni kembali berdiri di belakang Cicit.
"Waduh! Sayang sekali ya Bram! Kita sambung besok saja ya! Sekalian saya perkenalkan dengan suamiku!"
"Tidak apa-apa Cit! Akan ku usahakan datang besok!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Cicit pergi bersama Joni. Bram masih terduduk di kursinya. Pria itu masih menatap kepergian Cicit. Kini Cicit sudah kembali ke kamar bersama Joni. Joni melaporkan bahwa selama Cicit bicara dengan Bram ada orang mencurigakan yang mengamati dan merekam pertemuan mereka.
"Biarkan saja! Kita lihat saja pasti sebentar lagi akan menjadi trending topic!" Yusuf tidak menggubris laporan Joni.
Benar saja, tidak lama Papa Andre telepon bahwa ada video tentang pertemuan Cicit dengan seorang laki-laki. Di situ juga dikatakan bahwa Nyonya Winata bertemu dengan kekasih lamanya. Berbagai headline bermunculan di internet. Tapi pihak Yusuf tetap diam. Mereka lebih fokus pada persiapan pesta.
Di hotel XY, seorang wanita sedang tertawa puas melihat berbagai headline yang terpampang di internet.
__ADS_1
"Rasakan itu! Hahaha! Besok tinggal kita lihat bagaimana kamu akan bertemu semua orang, Nyonya Winata?! Hahahaha!" Rachel tertawa keras.