BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 16. Kunjungan Camer 3


__ADS_3

Acara makan malam telah selesai bertepatan dengan kumandang azan isya. Mereka solat isya berjamaah. Setelah itu, sebagian anak kembali ke kamar masing-masing, sebagian lagi bermain di halaman belakang. Jendral Krishna sudah bertemu dengan teman seusianya. Beliau ngobrol dengan kakek dan nenek. Kini tinggal Yusuf, Cicit, Laras, dan Bima yang masih berada di gazebo. Laras mulai membuka pembicaraan.


"O ya nak Yusuf, kami belum memperkenalkan diri! Saya Laras, ibunya Cicit. Ini Bima, suami saya dan ayah dari Cicit!" Laras memegang bahu Bima saat memperkenalkannya.


"Iya bu! Maaf! Kedua orang tua saya tidak berada di sini. Meski mereka tidak ada. Saya akan tetap memperkenalkan juga. Sebentar ya, saya akan tunjukkan foto mereka. Mama saya Aiu Natakusuma, putri dari Adrian Natakusuma, Natakusuma Grup. Papa saya Andreas Putra Winata, putra dari Hadi Winata, Winata Grup!" Yusuf menunjukkan foto Aiu dan Andre kepada mereka.


"Mama kamu cantik ya! Papa kamu juga ganteng! Pantas saja kamu juga jadi ganteng kayak gini!" Bima berdehem keras mendengar Laras memuji Yusuf.


"Aku masih lebih ganteng! Kalian itu para pebisnis sering ya melakukan perjodohan untuk menguatkan aliansi bisnis? Sepertinya ayah dan ibumu juga begitu ya?" Bima bicara asal saja karena kesal.


"Secara umum seperti itu! Tetapi tidak berlaku di keluarga besar kami. Kakek buyutku pernah berpesan agar semua keturunannya dapat memilih jodohnya sendiri, mau dari kalangan manapun dia berasal. Mama dan papa juga punya kisah sendiri. Bahkan awalnya mama tidak tahu kalau dirinya anak Adrian Natakusuma karena telah hilang sejak kecil. Mama besar di panti asuhan. Ketika bertemu papa, akhirnya bisa bertemu dengan orang tua kandungnya. Saya tidak bisa menyangkal opini om tentang perjodohan di kalangan pebisnis. Itu memang benar adanya." Yusuf menjawab dengan santai.


"Maaf! Kami tidak ada maksud untuk menyinggung!" Laras jadi canggung karena ulah Bima.


"Tidak masalah Bu Laras! Saya senang karena lebih baik bertanya langsung daripada menebak-nebak yang belum tentu benar." Yusuf tersenyum sambil mengatakan hal tersebut.


"Oh iya! Saya baru ingat! Dulu sekali, saya pernah bertemu dengan bapak dan ibu kalau tidak salah! Kemarin waktu video call memang tidak terlalu jelas wajah bapak dan ibu. Sekarang setelah bertemu saya benar-benar yakin kalau orang yang saya temui dulu adalah bapak dan ibu!" Yusuf sangat bersemangat mengungkit hal itu.


"Kalian pernah bertemu? Kapan?" Cicit penasaran dan sangat ingin tahu. Rasanya selama ini mereka tidak pernah cerita apapun.


"Saya bertemu dengan orang tuamu 15 tahun yang lalu saat datang ke Desa Cigenting untuk mencari seseorang. Kamu tahu warung gado-gado yang ada di desa itu kan? Nah kami tak sengaja bertemu di sana!" Cicit mengangguk saat ditanya tentang warung gado-gado.


"Kamu ke desa itu mau apa?" Cicit mulai bertanya.


"Saat bertemu dengan orang tuamu itu kunjungan kedua. Saat pertama aku ke sana untuk studi tur di hutan di desa itu. Kunjungan kedua untuk mencari gadis yang sudah menyelamatkanku saat tersesat di hutan. Saya mau bilang terima kasih juga mau melamar dia untuk jadi istri di masa depan." Yusuf bicara tanpa basa-basi. Sontak membuat Laras, Bima, dan Cicit terkejut bukan main. Bukannya Bima dan Laras tidak tahu hal itu, tetapi Yusuf bicara terlalu cepat dan di hadapan Cicit pula.


Anak kurang ajar! Kenapa dia ngomongnya jujur banget sih? Di depan Cicit lagi! Bagaimana kami menjelaskan nanti? Cicit sudah tahu kalau kami menyembunyikan ini sangat lama. Dia bisa marah nanti. Haduh! Bima.


Cicit yang baru tahu bahwa dulu Yusuf pernah mencari dirinya jadi tersipu. Apalagi tujuannya untuk melamar. Hal itu membuat Cicit makin tersipu malu. Cicit yang tahu bahwa orang tuanya menyembunyikan hal itu darinya membuat dirinya meradang. Lima belas tahun mencari dan selama itu juga menahan perasaan tanpa tahu petunjuk lainnya. Itu suatu penderitaan yang besar. Kedua orang tuanya bahkan tidak memberitahu apapun.


"Teruskan cerita kamu! Saya mau dengar!" Cicit makin ingin mendengar cerita itu dari Yusuf.


"Satu hal yang tidak berubah dari ayahmu dari dulu sampai sekarang selalu jutek dan sensi dengan saya. Tapi tidak masalah! Itu wajar! Saya ngerti kenapa ayahmu begitu! Bahkan saya sudah pernah lihat yang lebih seram dari ayahmu. Kamu tahu gak waktu ngobrol dulu saya berasa kayak disidang sama calon mertua, hehe. Bahkan saya dibilang gak cocok sama Sri karena saya kurus dan pendek! Ayahmu juga bertanya tentang keyakinan saya memilih Sri! Bahkan jika saya tidak bisa mendapatkan Sri, saya akan tunggu jandanya! Dulu, saya merasa aneh kenapa ayahmu bersikap seperti itu. Tetapi setelah melihat sikap papa saat kedua adik kembar saya menikah, saya paham maksudnya." Yusuf menghela napas sebentar kemudian lanjut bicara.


"Bagi seorang ayah, putrinya sangatlah berharga. Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Maka pastinya tidak akan ada ayah yang rela melihat putrinya mencintai pria lain selain dirinya. Begitu juga dengan Pak Bima yang tidak rela melepas putrinya untuk laki-laki lain. Tentu harus dipastikan bibit, bobot, bebetnya, kalau kata orang Jawa. Makanya saya sangat paham dengan sikap Pak Bima. Tapi bukan berarti saya akan menyerah. Baik dulu ataupun sekarang, saya akan terus mengejar Sri! Oleh karena itu, ijinkan saya melamar anak bapak, Citra Srikandi Wirabuana alias Cicit alias Sri untuk menjadi istri saya!" Yusuf berkata to the point sambil membuka sebuah kotak cincin di hadapannya.


Bima yang mendapat serangan tiba-tiba jadi terkejut. Tidak hanya Bima, Jendral Krishna, kakek dan nenek, Laras, dan bahkan Cicit sendiri juga terkejut. Jendral Krishna langsung menuju tempat Bima untuk bergabung. Pasalnya saat Yusuf mengatakan lamaran tadi suaranya sangat lantang.


Sialan! Ini anak kurang ajar pergerakannya cepat banget! Gak pake basa-basi langsung tembak aja! Bima.


Jendral Krishna yang baru datang bergabung langsung memeluk Yusuf dan menepuk-nepuk bahunya.


"Hebat! Saya suka gayamu! Bahkan ayahnya Cicit saja tidak se-gentlemen kamu saat melamar Laras!" Kata-kata Jendral Krishna sangat menusuk di hati Bima. Jleb! Kira-kira begitu suaranya. Hal itu makin membuat Bima meleleh tak berdaya.


Papa ngapain juga sih pakai buka kartu segala! Bikin aku jadi gak punya muka! Niatnya mau garang malah jadi meleleh! Haduh! Bima.


"Tunggu! Bapak apa-apaan sih? Main melamar tiba-tiba? Bukannya bapak ada orang yang disukai? Apa bapak yakin kalau saya adalah Sri yang bapak cari?" Cicit mulai menguji Yusuf. Bima yang mendengar itu seperti mendapat angin segar. Bima senang karena Cicit mulai memihak padanya.

__ADS_1


Rasakan itu! Anak kurang ajar! Hahahaha! Bima.


"Saya sangat yakin kalau kamu adalah Sri yang saya cari selama ini. Pertama, bakwan ini! Rasa bakwan yang kamu buat dari 15 tahun yang lalu tetap sama. Tidak berubah sama sekali! Kedua, yang membuat saya yakin kamu adalah Sri karena kata-kata ayahmu itu. Saat Pak Bima mengatakan apakah saya cocok dengan Sri? Sri itu kuat, sedangkan kamu kurus, pendek. Kamu tidak cocok dengan Sri. Hanya orang yang kenal dekat dengan Sri yang bisa mengatakan hal itu. Sudah pasti kalau ayahmu adalah ayah Sri. Lagipula setiap kali melihat kamu aku seperti melihat Sri di dalam dirimu. Satu lagi bukti yang tidak bisa dibantah. Zack! Tolong kamu ambilkan barang yang ada di atas kasur ya! Cepat ya!" Zack langsung berlari ke kamar Yusuf dan mengambil barang dimaksud.


Zack yang sudah kembali segera meletakkan barang itu di atas meja.


"Ini bang barangnya!" Zack meletakkan dengan sangat hati-hati.


"Terima kasih, Zack!"


"Saya yakin kamu punya pasangannya kan? Si Leika yang kamu bilang waktu itu!" Yusuf menengadahkan telapak tangannya meminta barang yang dimaksud kepada Cicit.


Cicit mengambil barang tersebut dari dalam kantung celananya. Cicit memang sudah bersiap untuk bertanya tentang Leika kepada Yusuf tapi tidak menyangka jika Yusuf sudah mengetahuinya lebih dulu. Cicit memberikannya kepada Yusuf. Yusuf pun memasangkan penutup lensa itu di lensa kameranya.


"Nah, pas kan! Kalau pasangannya memang gak akan salah! Bagaimana? Apa kamu masih tidak percaya dengan saya?" Kini Yusuf mendesak Cicit.


Cicit hanya terdiam saat sudah terpojok seperti itu. Dirinya bingung harus berbuat apa. Sungguh Cicit tidak menyangka bahwa Yusuf akan memberikan serangan tiba-tiba seperti itu.


"Apa kamu masih ragu dengan yang saya katakan?" Cicit hanya menggeleng.


"Terus kamu kenapa? Maaf, kalau saya jadi buru-buru seperti ini. Saya teringat omongan mama yang mengatakan bahwa kamu akan dijodohkan. Makanya saya berusaha secepat mungkin agar tidak kehilangan kamu lagi. Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar. Saya tidak rela jika harus berpisah lagi. Makanya selagi ada kesempatan saya harus memanfaatkan dengan baik!" Cicit masih terdiam. Laras memegang pundak Cicit. Seolah berkata katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Cicit menghela napas.


"Kecepatanmu di luar prediksiku. Ku pikir malam ini kita tidak akan membahas hal ini. Aku memprediksi kemungkinannya besok malam. Tetapi semua diluar kendaliku. Kamu memang sudah banyak berubah. Ucup kurus nan pendek sudah tidak ada lagi. Kemampuanmu juga sepertinya sudah banyak berkembang. Aku hanya terkejut hingga tak bisa berkata-kata lagi. Seperti yang kamu katakan, lima belas tahun bukan waktu yang sebentar. Aku juga tidak berniat untuk melepasmu lagi. Hanya saja kali ini kamu harus menghadapi ayahku dan kakekku! Jika kamu berhasil menang dari mereka maka aku juga akan menerima!" Cicit akhirnya mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


"Tunggu!" Tiba-tiba saja seseorang menyela saat Yusuf akan berbicara.


"Cakraaa!" Cicit langsung memeluk pria itu. Mereka saling berpelukan.


"Kamu tidak cemburu melihat gadismu memeluk pria lain?" Cakra mencoba memprovokasi.


"Apakah aku harus cemburu dengan calon adik iparku?" Yusuf menjawab dengan santai. Cakra tak menyangka jika Yusuf tahu kalau dirinya adik Cicit. Yusuf menghampiri Cakra. Sama seperti ayah dan kakeknya, dia juga harus mendongak saat melihat Yusuf.


"Bang! Abang makan galah ya! Kok bisa tinggi banget!" Yusuf hanya tertawa melihat tingkah Cakra. Pria perwira itu terlihat polos sekali.


"Gak makan galah cuma makan tiang pancang aja!" Yusuf pun makin menimpali.


"Ehem... ehem...!" Bima berdehem. "Urusan masih belum selesai!" lanjutnya lagi.


"Saya belum bisa menerima lamaranmu sampai kamu bisa menang dari saya! Saya tidak akan pernah memberikan Cicit kepada orang lemah! Besok pagi kita bertanding! Kamu harus mengalahkan kami bertiga besok! Jika kamu menang saya akan merestui! Jika kalah kamu harus mundur!" Bima menantang Yusuf.


"Baik! Siapa takut?!" Yusuf menunjukkan semangatnya.


Tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon. Yusuf melihat layar hapenya. Tertulis nama mamanya di sana. Yusuf mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum ma!" Wajah Yusuf tiba-tiba berubah.


"Apa?!! Apa mama gak bisa kompromi lagi? Kan dulu sudah ada perjanjian kalau Ucup tidak akan dipaksa ikut perjodohan. Tolonglah ma! Ucup lagi berjuang di sini untuk Cicit!" Yusuf mulai terlihat kesal dan emosi.

__ADS_1


Laras dan Cicit khawatir melihat ekspresi Yusuf yang berubah tiba-tiba. Cicit memberanikan diri bertanya.


"Kamu kenapa?" Cicit cemas melihat Yusuf.


"Tadi mama telepon, katanya perjodohan nya tidak bisa dibatalkan. Jika dibatalkan akan membuat kerugian yang sangat besar di kedua belah pihak." Bima tertawa kecil melihat Yusuf.


"Nah! Sudah ku bilang kan! Kalian itu para pebisnis selalu saja mementingkan keuntungan." Sindiran Bima.


Yusuf berusaha tenang dalam menghadapi Bima meski kepanikan melanda dirinya.


"Besok pagi saya akan bertanding dengan bapak, kakek, dan Cakra! Jika menang bapak harus merestui saya jadi menantu bapak! Saya tidak peduli dengan perjodohan itu. Kalau perlu saya akan menikahi Cicit besok juga!" Yusuf tidak gentar dengan gertakan Bima.


"Besar juga nyalimu! Kita buktikan saja besok!"


Tak lama, suara dering telepon terdengar lagi. Kini hape Laras yang berbunyi. Laras mengangkat telepon dari Pak Surya.


"Assalamualaikum yah! Ada apa ayah tiba-tiba telepon?" Laras juga cemas pasalnya di waktu ini juga ayahnya sedang membahas perjodohan Cicit.


"Tolong katakan pada Cicit, kakek minta maaf karena tidak bisa menolak perjodohan itu. Mereka menginginkan Cicit. Katakan juga besok malam kita bertemu di rumah lama. Ada undangan dari calon besan. Ya sudah itu saja. Assalamualaikum!"


Laras terasa sangat lemas setelah mendapat telepon itu. Laras jadi tidak tega memberitahu Cicit. Wanita paruh baya itu sangat memikirkan perasaan Cicit saat ini. Bima yang melihat Laras lemas begitu langsung memeganginya. Yusuf pun tak kalah cemas.


"Ada apa bu?" Cicit bertanya karena khawatir.


"Cit, maafkan kakekmu ya! Tadi kakek Surya telepon, katanya pihak mereka tetap ingin melanjutkan perjodohan. Kakek sudah berusaha tapi mereka tetap menginginkan kamu, nak! Besok malam mereka ingin ketemu di rumah lama!"


Sontak semua orang yang ada disitu terkejut. Bima juga bingung harus berbuat apa.


"Kenapa harus ada hal mengganggu? Buat kesal saja!" Yusuf mulai emosi. Dia menelepon Joni untuk memeriksa siapa yang mengganggu urusannya.


"Jon, apa si pengganggu itu membuat ulah lagi kali ini? Jika iya, maka besok pagi aku ingin dengar keluarga mereka bangkrut! Kamu cari tahu siapa yang mengganggu dan beri mereka pelajaran!"


"Sayangnya bukan si pengganggu yang biasanya bos! Aku akan cari tahu siapa dia? Sekalian memberi pelajaran padanya!" Joni berusaha menahan tawa.


Joni sebenarnya sudah tahu siapa pengganggunya. Siapa lagi kalau bukan Andre. Sebelum Yusuf telepon, Andre sudah lebih dulu memberitahu rencananya kepada Joni.


Bima dan Krishna yang mendengar pembicaraan Yusuf jadi tahu sisi dirinya yang lain.


Ni anak kalau marah serem juga ya! Kuat juga dia kalau bisa bikin bangkrut dalam semalam. Bima.


Yusuf hampir melempar hapenya karena kesal. Rencananya berantakan hanya gara-gara pengganggu. Rasa kesal Yusuf ternyata menarik perhatian Bima. Bima tahu bahwa saat ini Yusuf sedang kesal dan marah karena semua rencananya berantakan. Ada rasa kagum saat Yusuf mengatakan akan terus maju demi mendapatkan Cicit. Melihat tekad Yusuf yang begitu besar terhadap Cicit akhirnya Bima bisa sedikit berlapang dada. Bima menghela napas dalam.


"Nak Ucup! Sebaiknya besok tidak usah bertanding saja! Besok pagi kami harus kembali ke Kota B. Jika kamu masih menginginkan Cicit, maka ikutlah dengan kami besok dan hadapilah musuhmu secara langsung. Rebut Cicit kembali!" Bima bicara dengan tenang dan berwibawa.


Tanpa berpikir panjang Yusuf langsung mengiyakan permintaan Bima. "Siap! Laksanakan!" Cicit sangat senang dengan keputusan Bima. Meski ada penghalang lagi dalam hubungannya dengan Yusuf, kini Cicit merasa bisa melewatinya karena Ucup yang dicarinya telah kembali.


Malam ini betul-betul malam yang menguras emosi bagi Cicit dan Yusuf. Semua rasa berkumpul jadi satu. Bahagia bertemu kembali dengan orang terkasih. Sedih karena ada pengganggu. Cemas dengan ketidakpastian. Malam ini keduanya akan sulit terpejam. Masalah besar akan menanti mereka esok.

__ADS_1


__ADS_2