
Lima menit telah berlalu. Kini giliran Yusuf dan Joni yang masuk. Drone telah diterbangkan lima menit lalu. Para orang tua sedang menonton pertunjukkan di ruang keluarga. Dalam kesempatan ini, Jendral Krishna bertanya tentang Joni kepada Andre.
"Nak Andre, saya penasaran dengan Joni? Sepertinya dia bukan banci tulen?! Perawakannya itu seperti pernah berlatih di militer."
"Jendral Krishna memang hebat! Tebakan jendral memang benar. Dia memang pernah masuk dunia militer. Lebih tepatnya salah satu pasukan elit." Andre memuji kehebatan sang Jendral.
"Bisa tolong ceritakan detailnya!"
"Kejadian itu terjadi 5 tahun lalu. Satu minggu sebelum Yusuf menggantikan saya. Kami berdua sedang dalam perjalanan pulang dari Kota C. Saat melewati tikungan, Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara ledakan yang besar. Tak lama kemudian ada sesuatu melayang dan menimpa mobil kami. Kami turun dan memeriksa keadaan. Ternyata ada tubuh manusia yang jatuh. Badannya penuh luka. Sepertinya dia terlempar karena ledakan bom tadi. Kami periksa napasnya. Dia masih hidup. Akhirnya kami segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Setelah mendapat perawatan darurat, kami membawanya ke Jakarta untuk melakukan pengobatan lanjutan. Setelah dia sadar, dia hanya melamun, terkadang sering mengigau saat tidur. Dia menyebut-nyebut nama Rania dan juga nama Setiawan. Saat menyebut nama Rania dia sangat sedih. Sebaliknya saat menyebut nama Setiawan dia sangat marah. Akhirnya kami putuskan untuk membawanya ke psikiater. Dalam setahun akhirnya dia sembuh. Dia meminta kami untuk mempekerjakannya. Dia bilang juga akan balas dendam atas kematian istri dan anaknya. Waktu itu saya pernah bertanya apakah ada keluargamu yang lain? Joni hanya bilang tidak ingin melibatkan mereka. Sejak itu juga Yusuf dilatih Joni hingga sekarang." Andre menceritakan semuanya.
"Kalau boleh tahu siapa nama lengkap Joni?"
"Joni Wardhana! Ada apa Pak Krishna menanyakan hal ini?" Andre sangat penasaran.
"Surya! Akhirnya kita menemukannya!" Tanpa sadar air mata Jendral Krishna menetes. Bima bingung melihat ayahnya yang tiba-tiba sedih begitu.
"Papa kenapa?" Bima cemas melihat kondisi papanya.
"Papa baik-baik saja! Akhirnya sepupuku ditemukan." Jendral Krishna mengelap air matanya. Bima jadi semakin bingung dengan perkataan ayahnya.
"Maksud papa apa?"
"Kamu masih ingat adik mamamu, Doni Wardhana?"
"Iya! Bima ingat! Dia yang menikah waktu umurnya 40 tahun kan? Ada apa dengan Paman Doni?" Bima masih penasaran.
"Joni adalah adalah anaknya! Orang yang papa cari selama 5 tahun belakangan ini. Papa memang tidak memberitahumu tentang hal ini karena kamu masih aktif menjabat. Semuanya belum pasti saat itu, jadi papa hanya diam saja untuk melihat perkembangannya."
"Tunggu sebentar! Joni Wardhana yang papa maksud adalah Joni Wardhana dari pasukan elit yang menghilang saat tugas, bukan?" Bima mencoba mengingat.
"Berita yang beredar memang seperti itu tetapi kenyataan di lapangan berbeda. Joni tidak menghilang saat tugas tetapi saat di rumahnya. Rumahnya hancur berkeping-keping. Yang ditemukan hanya 2 jasad saja, yaitu jasad pamanmu dan istrinya Joni, Rania. Papa dan Surya sudah mencarinya selama 5 tahun ini tapi belum menemukannya. Ternyata dia bersembunyi di Keluarga Winata!"
"Jika Joni pelatih Yusuf berarti pertarungan kali ini sudah bisa dipastikan!" Bima memberikan prediksinya.
"Kamu dengar saja sendiri apa yang mereka bicarakan. Lihat saja bagaimana Yusuf sangat lihai memasang alat dan jebakan." Jendral Krishna kini menatap layar di depannya. Mereka mulai menyaksikan apa yang sedang dilakukan Yusuf.
"Pak Andre, kenapa bapak mengijinkan Yusuf berlatih militer? Setahun saya, sebelum Joni menghilang, dia merupakan salah satu instruktur paling kejam di pelatihan pasukan elit." Bima penasaran alasan Andre mengijinkannya.
"Ada dua alasan. Pertama untuk keselamatan Yusuf sendiri. Kedua karena Yusuf selalu ingin menjadi lebih kuat dari Sri! Sejak pulang dari studi tur itu, dia banyak berubah. Anak yang tadinya susah makan jadi anak yang doyan makan, suka berolahraga, dan menekuni banyak ilmu bela diri juga mulai menyukai berbagai jenis olahraga, seperti memanah, berkuda, dan menembak. Kehadiran Joni hanya untuk memolesnya saja. Meski pelatihan yang diberikan Joni sangat keras, Yusuf tetap menjalaninya. Semua itu agar lebih kuat dari Sri! Hari ini tinggal kita lihat bagaimana hasil latihannya selama ini!"
"Pantas saja dia tidak merasa takut saat jumlah orang yang harus dikalahkan sebanyak 36 orang!" Bima berdecak kagum.
"Pak Bima salah! Bukan 36, tapi 37 orang!"
"Mengapa begitu?"
"Karena satu orang lagi kelak harus dilawannya setelah Yusuf menyelesaikan ke-36 orang itu. Siapa lagi kalau bukan Joni!"
"Hahaha! Baguslah kalau begitu! Jadi makin seru!"
Di sudut lain, seorang gadis sejak tadi selalu tersenyum saat mendengar cerita para tetua. Terlebih saat mendengar alasan Ucup mengikuti pelatihan hanya demi dirinya. Kini sedang ada musim semi dalam hati Cicit.
Di layar tampak dua orang sedang berjalan menuju tengah hutan. Salah satunya sedang memasang alat-alat jebakan, sedangkan satunya lagi hanya mengekor sambil mengunyah makanan. Mulutnya hanya mengeluarkan kata semangat saja.
"Hari ini kamu mau order apa?" Yusuf bertanya pada Joni.
"Seperti biasa! 36 ayam panggang dalam 15 menit!" Joni berkata masih menggunakan mode banci.
"Siap! Akan segera disajikan!"
Bima yang mendengar percakapan itu jadi bergidik ngeri.
Gila! 15 menit untuk menangkap mereka! Joni sangat tidak masuk akal! Bima.
__ADS_1
Sejak mendengar ucapan Joni itu, Bima tidak melihat Yusuf mengerjakan apapun. Dia hanya terlihat berjalan dan sesekali melihat ke atas pohon. Terkadang menyentuh tanah. Sekarang hal aneh malah dilakukannya. Bukannya mencari target, mereka berdua malah duduk di tengah hutan. Setelah duduk sebentar, Yusuf mengumpulkan kayu dan ranting. Dia menyalakan api unggun. Pria itu juga membuat alat panggangan sederhana. Tak lama dia mengeluarkan benda yang dibungkus aluminum foil kemudian mengeluarkan isinya. Bima dan yang lainnya melotot melihat isinya yang tak lain adalah ayam berbumbu kuning.
Yusuf mulai memasang ayam di alat panggangan.
"Semua sudah siap!" Yusuf memandang ke arah Joni seolah menunggu perintah.
"Ya sudah! Kamu mulai panggang saja!" Yusuf pun mulai memanggang ayam itu. Aroma nya menyeruak kemana-mana. Tak lama kemudian terdengar suara teriakan.
"Satu ayam panggang sudah siap!" Yusuf mulai menghitung ayam panggangnya.
Bima yang mendengar hal itu mulai mengerutkan keningnya. Masih tidak percaya. Dia mulai melihat tampilan drone lainnya. Matanya hampir saja keluar melihat yang terjadi. Dirinya masih tidak percaya bagaimana Yusuf melakukannya. Satu orang berhasil masuk perangkap. Kini dia tergantung terbalik.
Tak lama terdengar lagi suara 2 orang berteriak. Mereka terperangkap dalam jaring. Yang membuat Bima heran, Para Mantans Squad ini telah menyebar sebelumnya. Bagaimana bisa mereka malah mendekati lokasi Yusuf dengan sendirinya? Bima masih berpikir.
Kini yang terlihat, Yusuf masih mengipas-ngipas bara api yang terbentuk. Yusuf juga masih menghitung jumlah suara yang terdengar.
"Sepuluh!" Yusuf mengatakan itu sambil memutar ayam dalam panggangan.
Bima terkejut dibuat Yusuf. Belum ada 5 menit sudah sepuluh orang yang berhasil dijerat. Yusuf semakin cepat mengipas bara api. Semakin cepat Yusuf mengipas semakin banyak suara yang terdengar. Tujuh menit berlalu sudah 30 orang berhasil tertangkap.
Tersisa 6 orang lagi. Yusuf melihat radar. Lokasi mereka sangat dekat. Pria berbaju hitam itu meminta ijin untuk menangkap ayam.
"Jon, kamu tunggu sini! Jaga ayamnya jangan sampai gosong! Saya mau menangkap ayam dulu!"
"Siap bos! Jangan lama-lama bos! Kalau bisa 3 menit selesai!"
"Siap! Mungkin lebih cepat juga bisa!" Yusuf meninggalkan Joni sendiri. Joni asik membolak-balik ayam panggang. Dia juga berjoget-joget sambil mendengarkan lagu Bang Jago.
Bima masih menonton di layar. Posisi The Brothers Squad memang tidak jauh dari tempat Yusuf. Mereka masih menyebar dengan maksud menyergap target. Tapi tak disangka, satu per satu anggota mulai jatuh. Bima tidak terlalu melihat pergerakan yang terjadi. Bima hanya melihat tiba-tiba mereka sudah terjatuh. Dalam waktu kurang dari satu menit, Yusuf berhasil melumpuhkan mereka berenam.
Yusuf membawa mereka berenam ke markasnya. Mereka masih dalam kondisi pingsan. Yusuf mengikat tangan dan kaki mereka.
"Gimana? Bagus gak tangkapan saya?"
"Si bos memang hebat!" Joni memuji hasil kerja Yusuf.
"Ya sudah! letakkan dulu ayamnya. Sekarang bantu saya untuk mengumpulkan ayam yang lainnya!"
"Oke bos, siap!"
Mereka menyusuri hutan untuk mengumpulkan anggota Para Mantans Squad. Satu per satu anggota dikeluarkan dari jebakan. Mereka digiring menuju markas. Keenam orang tersebut mulai sadar. Kini mereka berbaris dengan rapi. Setelah itu para skuad itu mengakui kekalahan mereka. Saat mulai akan santai tiba-tiba saja ada garpu melayang ke arah Yusuf. Yusuf berhasil menghindar.
"Jon, jangan bercanda deh! bahaya tahu!" Yusuf memperingatkan Joni.
"Siapa yang bercanda, bos? Joni serius kok! Joni kan cuma mau lihat hasil latihan murid Joni! Apa pantas atau tidak dengan Non Cicit?" Joni masih mengeluarkan suara gemulainya.
"Kamu mengujiku, Jon?"
"Tentu saja!" Tiba-tiba Joni mengeluarkan suara basnya dengan tegas. Sontak para skuad yang ada disitu terkejut. Mereka tidak menyangka jika Joni bisa menjadi macho. Joni mulai melempari Yusuf dengan berbagai benda. Yusuf berhasil menghindar.
"Hanya begitu saja, Jon?" Yusuf mengejek Joni.
Joni melepas topi dan kaca mata hitamnya. Kini tampak wajah Joni yang tampan dan tegas. Joni mulai melakukan serangan cepat kepada Yusuf. Yusuf berhasil menghindari serangan-serangan Joni. Mereka yang menonton langsung sangat terpukau.
Tiba-tiba salah satu anggota ada yang mendekati ayam panggang. Anggota itu terkejut tatkala melihat dua pisau melayang ke arahnya. Beruntung pria itu berhasil menghindar.
"Jangan ada yang berani menyentuh ayam itu, jika tidak mau nyawa melayang!" Suara mereka kompak terdengar.
Setelah itu mereka melanjutkan kembali pertarungan mereka. Tubuh mereka sudah sama-sama terluka. Hanya wajah saja yang masih mulus. Mereka memang sengaja tidak mau melukai wajah.
Sementara itu di rumah utama, mereka sibuk menganalisis cara yang dilakukan Yusuf.
"Bagaimana Yusuf bisa menangkap mereka?" Bima penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja karena jebakan yang dipasangnya!" Cicit menjawab pertanyaan Bima.
"Bukankah dia sejak awal tidak melakukan itu?"
"Ayah salah! Sejak awal masuk hutan Ucup sudah mulai memasang jebakan. Sebelumnya dia sudah menemukan mereka dengan menggunakan radar. Melihat posisi mereka, Ucup mulai memasang jebakan mengikuti pola sebaran mereka. Untuk memancing mereka menuju perangkap, Ucup menggunakan ayam bakar. Cicit rasa ada zat yang ditambahkan ke dalam api bakaran. Zat yang tidak memengaruhi rasa ayamnya tetapi mampu merangsang indra orang yang menciumnya. Aroma yang tercium oleh para skuad membuat mereka melupakan target utama dan mengikuti insting alami mereka. Mereka digiring menuju jebakan. Saat melewati jebakan mereka tidak sadar sudah terjebak. Kira-kira begitu."
"Tapi dari tadi ayah tidak melihat alat yang dipasang Yusuf." Bima masih penasaran dengan hal itu.
" Itu karena alat yang dibawa Ucup terbuat dari kawat baja khusus. Tipis tapi tidak melukai. Sepertinya kawat-kawat itu dipasang dengan menggunakan alat khusus dan sudah dilengkapi sensor. Makanya jika tersentuh, alat itu akan langsung aktif menjerat. Yang terakhir itu kemungkinan Ucup hanya menggunakan teknik menyumpit untuk melepaskan jarum bius." Cicit mengungkapkan analisisnya.
"Oo... begitu rupanya! Pantas saja tidak terlihat!"
Kembali ke situasi di tengah hutan. Kini posisi Yusuf semakin terdesak. Jika dia tidak segera memutar otak. Otomatis dia akan kalah. Tadi Joni mengatakan jika dalam 10 menit Yusuf tidak dapat mengalahkannya maka jangan harap bisa menikahi Cicit. Waktu sudah hampir habis. Joni menyeringai, senyuman terlukis di wajahnya. Dia hampir menang. Setelah berpikir akhirnya Yusuf mendapatkan ide.
"Jon, saya teringat dengan kejadian waktu kamu terlambat membayarkan upah pekerja sampai-sampai saya dikomplain. Kamu belum memberikan penjelasan waktu itu!" Joni yang ditanya langsung panik. Pegangan tangannya melonggar. Kesempatan itu digunakan Yusuf untuk membalik keadaan. Yusuf berhasil bangkit dan menjatuhkan Joni bertepatan dengan bunyi peluit tanda waktu pertarungan telah selesai. Yusuf memenangkan pertarungan.
"Yes! Saya menang!" Yusuf berteriak kegirangan.
"Ah, sial! Kamu curang bos!" Joni tidak Terima telah dikalahkan.
"Terima saja! Lagi pula saya boleh menggunakan cara apapun untuk mengalahkan musuh! Kan Joni selalu bilang kita harus fokus dalam setiap pertarungan jangan terpengaruh oleh apapun! Lagian siapa suruh kamu bohong bilangnya sakit padahal lagi menyelamatkan orang-orang yang kena gusur! Kalau kamu jujur kan saya bisa bantu!" Yusuf menyalahkan Joni yang tidak fokus saat bertarung. Joni hanya tersenyum kecil. Dia tidak menyangka dikalahkan oleh murid yang dia didik.
Setelah pertarungan, mereka beristirahat sebentar sambil menikmati ayam panggang. Para skuad itu memuji Yusuf. Mereka juga tidak menyangka dapat dikalahkan Yusuf. Bahkan tanpa ada adu jotos maupun adu tembak. Dengan trik sederhana saja mereka bisa dikalahkan. Mereka mengakui kemampuan Yusuf dan menerima kenyataan kalau Yusuf pantas menikahi Cicit.
Kini mereka sudah kembali ke rumah utama. Cicit menyambut dengan penuh senyuman. Membuat Yusuf sangat bahagia.
"Jangan senyum terus, Sri! Senyum kamu bahkan bisa membuat kakiku lemas tak berdaya!" Yusuf mulai menggombali Cicit. Cicit hanya tertawa kecil.
Setelah mereka membersihkan diri, semua berkumpul di ruang tamu untuk makan bersama.
"Pa, ma! Yusuf sama Cicit nikahnya sekarang aja ya!" Semua yang mendengar omongan Yusuf terkejut. Untung saja mereka tidak tersedak.
Pletak!
"Aww!" Yusuf mengaduh. Papa Andre menjitak kepala Yusuf.
"Kamu pikir kamu itu kucing apa yang kalau mau kawin tinggal kawin! Sabar dulu kenapa? Kan mesti diurus segala sesuatunya. Surat-suratnya belum lagi nanti untuk pestanya. Masa penerus Winata Grup nikahnya biasa saja."
"Bukan begitu pa! Pesta ya boleh saja. Maksud Yusuf, nikahnya di KUA aja! Untuk pestanya nanti bisa menyusul. Yang penting kan resmi dulu! Kalau nanti-nanti, khawatir ada penyusup! Yusuf sudah mengurus surat-suratnya kok. Besok kita tinggal datang saja ke KUA!" Yusuf mengatakan itu dengan santai dan rasa bersalah.
"Apa?!!" Semua yang ada disitu terkejut mendengar omongan Yusuf.
"Kamu bercanda kan Cup!" Kini Mama Aiu memastikan.
"Siapa yang bercanda sih! Ma, Ucup itu serius! Jon, tolong kamu kasih tahu mereka deh!" Joni kemudian mengeluarkan surat pendaftaran pernikahan mereka. Semua syarat sudah terpenuhi. Mereka tinggal datang saja ke KUA. Mereka semua dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah Yusuf.
"Jangan-jangan kamu memalsukan surat-suratnya ya?" Bima menyelidik.
"Eits! Pak Bima kok gak percaya sih! Itu semua surat-suratnya asli. Ucup sama Joni yang sudah mengurusnya. Untuk mendapatkan data sekarang itu kan mudah apalagi sekarang untuk KK saja sudah pakai barcode dan bisa cetak sendiri. Hehe!"
Bima tidak menyangka calon mantunya itu begitu gercep, alias gerak cepat. Lagi-lagi Pak Surya dan Jendral Krishna dibuat kagum oleh tingkah polah cucu Adrian Natakusuma.
"Ya sudahlah Dre! Kita ikuti saja maunya Ucup! Toh semua sudah diurus! Nanti kan tinggal urus masalah pestanya bisa santai." Adrian memberikan saran.
Akhirnya Andre menyetujuinya. Begitu pun dengan Bima. Kini giliran Joni yang akan kena sidang.
"Jon, apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan?" Jendral Krishna bertanya. Joni yang ditodong pertanyaan jadi bingung.
"Maksud jendral apa ya?"
"Sudah kamu tidak perlu bersembunyi lagi, Joni Wardhana!" Joni terkejut karena sangat jendral sudah mengetahui identitas dirinya. Wajah Joni tertunduk.
"Maafkan saya paman!" Hanya itu yang terucap dari mulutnya.
__ADS_1
"Iya, paman mengerti! Tidak apa-apa! Yang penting kamu selamat dan sehat!" Jendral Krishna memeluk Joni. Sang Jendral kini bisa tenang telah menemukan Joni. Joni membalas pelukannya. Air mata mengalir di pipi Joni.
"Sekarang kamu tidak sendirian! Ada paman disini! Suasana baru menyelimuti ruangan itu.