
Seorang gadis berseragam SMA berlari menyusuri halaman rumahnya setelah turun dari mobil yang di tumpangi nya, sementara supirnya berlalu menuju tempat parkir kendaraan yang terletak tepat di sebelah rumah megah itu.
Gadis itu terlihat sangat gembira dengan mengibas-ngibaskan selembar kertas di tangannya. Setelah sampai di depan pintu dengan cepat ia mendorong gagang pintu di depannya.
“Ibu..., Ayah..., Agatha pulang.” Teriak Agatha setelah membuka pintu rumahnya. Namun, tak ada sahutan dari penghuni rumah itu.
“Ibu, Ayah. Agatha pulang....” Teriak Agatha mengulangi perkataannya sambil berjalan perlahan dengan terus mengedarkan pandangannya. Namun nihil, tetap tak ada sahutan dan rumah tampak sangat sepi.
‘Tumben banget rumah sepi gini. Kalau ayah mungkin masih di kantor, tapi Ibu..., Ibu tak biasanya keluar tanpa ngasih kabar ke gue.’ Batin Agatha. Perasaannya mulai gelisah karna tak biasanya Ibunya pergi tanpa memberinya kabar dan para pelayan di rumahnya pun tak terlihat batang hidungnya.
“Bi..., Bibi..., Mang Joko..., Kak Striii..., Kak Sastrii....” Panggil Agatha kepada kepala pelayan, pembantu dan tukang kebun yang cukup akrab dengannya di rumah itu. Tetapi tetap saja sama, tak ada sautan.
Dengan diselimuti perasaan was-was dan gelisah, Agatha melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke ruangan-ruangan di sekitar, tepatnya ruangan di lantai bawah rumahnya. Tiba saatnya dia menuju ke arah ruang keluarga yang letaknya tak jauh dari pintu masuk.
“A-yah..., I-ibu..., Bi-bi....” Teriak Agatha tercekat lalu menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Badannya seketika melemas, air matanya tumpah begitu saja, kakinya bergetar dan tak kuasa menopang tubuhnya lagi. Dia pun jatuh terduduk di depan pintu ruang keluarganya mengamati pemandangan yang mengerikan di depan matanya itu. Ingin rasanya ia berteriak meminta tolong, namun mulutnya serasa tercekat.
Beruntung sang supir langsung masuk ke rumah setelah memarkirkan mobilnya. Melihat nona mudanya yang menangis dengan keadaan yang memprihatinkan, dia pun mengurungkan niatnya untuk menuju ke arah dapur.
Dia menuntun kakinya menuju ke arah ruang keluarga milik majikannya itu, dia pun menghampiri nona mudanya dan berdiri tepat di belakangnya dengan mata yang tak berhenti menatap nona mudanya itu sambil mengerutkan keningnya.
“ Ada apa nona muda? Mengapa nona muda duduk menangis seperti ini?” Sang supir bertanya penuh keheranan.
“Pa-k Denis..., i-bu, ayah..., A-gatha.” Kata Agatha gemetar dan dengan suara yang sangat minim. Menolehkan pandangannya menatap pak Denis, sang supir pribadi ayahnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke tempat ayah, ibu dan kepala pelayannya berada.
Pak Denis lalu mengikuti arah telunjuk Agatha dan betapa terkejutnya dia melihat kedua majikannya terbaring mengenaskan di depan matanya.
__ADS_1
Laurey Anastasya Daniswara, Ibu Agatha terduduk diatas sofa dengan baju yang bagian kiri perutnya di penuhi darah dan terlihat lubang yang cukup besar pada bajunya, seperti bekas tancapan pisau.
Ardhani Daniswara, ayah Agatha terlihat sedang memeluk istrinya, ia memunggungi pintu. Kemeja putihnya telah di penuhi oleh darah. Tepat di belakangnya peluru pistol telah menembus kulit hingga sampai ke jantungnya.
Kepala pelayan, terbaring di lantai yang tak jauh dari kedua majikannya, kepala belakangnya mengeluarkan darah mungkin bekas pukulan benda yang cukup keras dan lubang bekas peluru di perut bagian kanannya.
“Tuan, Nyonya, Bi Num.” Panggil pak Denis dengan suara yang sedikit di tinggikan. Lebih tepatnya berteriak. Tubuhnya pun seketika gemetar. Namun, Dia mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya.
Dengan langkah gontai pak Denis mulai mendekat ke arah kedua majikannya dan bi Num berada. Keadaan di ruangan itu sudah acak-acakan. Semua benda berserakan di mana-mana. Darah memercik ke berbagai arah.
Pak Denis mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia berusaha menguatkan dirinya.
"Tuan...," Parau pak Denis memegang pundak tuannya. Nihil, tidak ada jawaban. Pak Denis membalikkan tubuh yang sedang mendekap erat istrinya. Air mata pak Denis luruh begitu saja saat melihat muka tuanya yang sudah di penuhi memar. Sekilas pak Denis melirik ke arah Agatha yang masih menatap kosong lantai di hadapannya.
Tut
Tut
Tut
'Kasian kamu non. Kamu masih muda sudah harus menyaksikan kematian kedua orang tuamu.' Batin pak Denis menatap iba anak majikannya itu.
"Non, sebaiknya non Agatha ganti baju dulu. Ayo non biar bapak antar ke kamar." Ajak pak Denis mencoba membantu Agatha berdiri.
"Pak, kenapa ibu sama ayah Agatha gak mau nemuin Agatha? Apa mereka marah sama Agatha, apa Agatha sudah berbuat salah sama mereka? Kenapa mereka...," Suara Agatha tercekat. Tangisan yang sedari tadi di bendung nya kini luruh begitu saja, isakan parau terdengar memenuhi ruangan. Begitu menyesakkan.
Pak Denis yang melihat kondisi Agatha sudah tidak stabil langsung mendekap Agatha. Mencoba menenangkan Agatha dengan berbagai kata dan kalimat yang di ucapkan nya.
__ADS_1
"Yang sabar ya non. Ini sudah takdir dari Allah. Non Agatha harus kuat, biar ayah sama ibu non bisa tenang di sana. Non Agatha ikhlas ya. Sekarang non harus do'a sama Allah supaya tuan dan nyonya di tempatkan di syurga." Pak Denis mengusap punggung Agatha dengan lembut. "Sekarang non ganti baju dulu yah, bentar lagi asisten tuan akan datang." Lanjut pak Denis melerai pelukannya saat isakan Agatha sudah berkurang.
Dengan lemah Agatha melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Ia menolak tawaran pak Denis yang ingin mengantarnya menuju kamar.
Alih-alih mengganti baju, Agatha memilih untuk menuju ke balkon kamarnya untuk menenangkan diri. Duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Isakan nya yang tertahan terdengar begitu memilukan.
"Hiks, Hiks, Mengapa Tuhan, mengapa kau begitu kejam. Hiks, Apa salah ku kepadamu, mengapa kamu mengambil orang tua ku dari ku. Kamu jahat!!" Racau Agatha berteriak sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
"Hiks, hiks, hiks, Kembalikan ibuku... kembalikan ayahku... aku janji akan menjadi anak yang baik, aku janji. Aku ingin mereka kembali. Kumohon..." Racaunya terus memukul-mukul dadanya.
"Hiks, A-ku ingin mereka kembali..." Lanjutnya berteriak sekeras-kerasnya.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
#Ini karya pertama aku, semoga dapat menemani keseharian kalian. Mohon kritik dan sarannya yah guys, semoga di bab bab berikutnya saya bisa menghasilkan karya yang lebih baik dan lebih menghibur untuk kalian.
Jangan lupa dukungannya
∆Like
∆Komen
∆Hadiah
∆Vote
∆Rating Bintang
__ADS_1
Dan jangan lupa tempatkan cerita ini di cerita favorite kalian dengan tekan love di ujung bawah.