
Hari sudah gelap, jam sudah menunjukkan pukul 08 malam. Dua mobil terparkir sempurna di pinggir jalan. Maps menunjukkan lokasi dari nomor yang menelefone Keana tadi berada beberapa meter dari tempat mereka sekarang.
"Kalian cek kondisinya." Perintah Ainsley kepada bodyguardnya menggunakan radio telepon. Para bodyguard yang mendengar perintah sanga atasan melalui earphone IEM yang terpasang di telinga mereka masing-masing bergegas turun dan berpencar mengawasi daerah sekitar.
"Di depan ada rumah tua queen. Mereka kemungkinan berada disana. Saya akan mengeceknya dari dekat." Laporan salah satu anak buah Ainsley.
"Cepatlah."
"Ada lampu yang menyala di dalam rumah itu, Queen. Diluar rumah juga terdapat beberapa pengawal yang menjaga. Sepertinya memang benar mereka bersembunyi disini." Lapornya lagi setelah memeriksa keadaan di rumah itu dari dekat.
"Semuanya, awasi rumah itu. Lihat berapa banyak pengawal yang berada di sana. Kalian berhati-hatilah, sepertinya mereka punya rencana lain. Karna jika dilihat dari rencana mereka yang tersusun rapi, tidak akan mungkin mereka dengan mudah membiarkan kita untuk melacak keberadaan mereka. Pasti ada sesuatu." Tutur Ainsley memperingati anak buahnya.
"Baik, Queen." Jawab anak buah Ainsley serentak.
"Queen?" Gumam Keana.
"Clau, kamu tunggu disini dan jaga Keana. Saya akan turun memeriksa keadaan." Ainsley yang mendengar gumam Keana langsung mengalihkan perhatian Keana.
"Baik, Quee-. Baik nona." Jawab Claudia hampir keceplosan.
"Kak, Keana mau ikut." Ucap Keana menoleh ke belakang, menghentikan Ainsley yang akan membuka pintu.
"Kamu disini saja Keana. Disana itu berbahaya, biar kami yang mengurusnya." Ainsley menjawab dengan tegas.
"Tapi, kak...,"
"Sudah, ikuti yang saya katakan. Bagaimana jika nanti malah kamu yang tertangkap? Sepertinya mereka memang mengincarmu." Ucap Ainsley dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
Melihat Keana yang hanya menunduk, Ainsley langsung turun dari mobil.
"Clau, jaga dia. Jangan sampai dia turun dari mobil."
"Baik, nona. Saya akan menjaga nona Keana dengan baik."
Ainsley berjalan mendekat kearah rumah tua yang dimaksud oleh anak buahnya. Disana sudah terdapat dua anak buahnya yang menunggu untuk melindungi Ainsley.
"Atur posisi kalian, kita akan menyerang setelah mengetahui situasi." Perintah Ainsley yang membuat para anak buahnya langsung mengatur posisi masing-masing. Anak buah Ainsley yang hanya berjumlah 9 orang sudah mengelilingi rumah tua itu, mereka masih tetap dalam persembunyiannya.
"Laporkan ada berapa pengawal di setiap sudut rumah itu. Apakah diantara kalian ada yang melihat Arsyi? Kalian sudah tau kan wajahnya. Cari dimana mereka mengurungnya." Perintah Ainsley, earphone IEM sebagai alat penghubung dengan anak buahnya sudah terpasang di telinganya.
__ADS_1
"Di pintu masuk depan ada 2 pengawal yang sedang berjaga secara berkala."
"Di pintu belakang juga terdapat 2 pengawal yang berjaga."
"Sisi kanan aman. Tapi, saya melihat ruangan tertutup yang dijaga oleh dua pengawal. Nona Arsyita mungkin berada di dalam sana."
"Sisi kiri ada satu pengawal yang terus berganti setiap 10 menit."
Ainsley mendapatkan laporan dari anak buahnya. Ia mulai menyusun strategi untuk dapat dengan mudah menyelamatkan Arsyita.
"Kalian habisi pengawal yang berjaga di pintu masuk belakang. Ingat! Kerjakan dengan mulus."
"Baik, queen."
Dua anak buah Ainsley mengendap-endap mendekat kearah pintu belakang. Dengan lihai mereka menghabisi kedua pengawal yang sedang berjaga tanpa menghasilkan suara.
"Tugas selesai, queen." Lapor anak buah Ainsley.
"Kalian mengerti kan apa yang harus kalian lakukan?"
"Mengerti, queen." Jawab anak buah Ainsley serempak.
*****
"Anda tenang saja nona. Nona Ainsley bisa menjaga dirinya sendiri. Dia tidak selemah yang anda pikirkan." Ucap Claudia.
"Tapi, bukankah kita harus mengecek keadaan mereka?" Keana akan membuka pintu mobil.
"Tidak perlu, nona. Nona Ainsley baik-baik saja." Ucap Claudia sambil memperlihatkan earphone IEM yang sedari tadi di pakainya.
Keana merainya, menempelkan benda mungil itu ke telingannya. Seulas senyum terukir di bibirnya saat mendengar Ainsley sedang berusaha masuk ke rumah tua itu.
"Kak Ainsley, tolong selamatkan Arsyi. Hati-hati kak Ainsley, semoga berhasil." Ucap Keana setelah menekan sebuah tombol memanjang yang terletak pada punggung earphone IEM berwarna hitam itu.
*****
'Pasti, saya pastikan akan membawa Arsyita dengan selamat.' Senyum tipis terukir di bibir Ainsley, ia melanjutkan misi penyelamatannya.
Satu busur panah beracun yang dilayangkan tepat mengenai pria yang sedang berjaga di sisi kiri rumah tua itu.
__ADS_1
"Tugas selesai." Lapor pria kekar yang telah memeriksa denyut pria yang terkena busur beracun tadi.
Tersisa dua pengawal yang berjaga di pintu depan dan beberapa pengawal yang berjaga di dalam rumah.
"Kalian ingat! Jangan gegabah."
Beberapa anak buah Ainsley sudah berada di dalam rumah. Mengawasi keadaan yang terjadi di dalam sana.
"Sepertinya nona Arsyita tidak sendiri di dalam ruangan itu." Bisik salah satu anak buah Ainsley yang berada di dalam rumah tua itu.
"Maju." Perintah Ainsley.
Beberapa anak buah yang berada di luar rumah langsung keluar dari persembunyiannya dan berlari menuju rumah tua itu. Menyerang kedua pengawal yang menjaga pintu masuk rumah itu hingga keduanya tewas di tempat.
Mendengar keributan yang terjadi diluar, pria yang berada diruangan bersama Arsyita keluar.
"Ada apa?" Tanyanya pada pengawal yang berjaga.
"Sepertinya ada yang menyerang tuan." Jawab salah satu pengawalnya yang menghadirkan seringai tipis di bibir pria yang mengenakan kacamata hitam itu.
Anak buah Ainsley masuk dan berjejer di depan pintu membiarkan Ainsley terlindungi di belakang mereka.
"Where is your Queen? (Dimana Queen kalian?) Apa dia takut untuk bertemu denganku?" Tanyanya disertai senyum smirknya.
"Saya ada di sini tuan." Ucap Ainsley. Para anak buahnya segera membuka jalan untuk sang queen maju kedepan.
"Waw, sungguh suatu kehormatan jika nona Ainsley datang ketempat seperti ini hanya untuk seorang gadis kecil." Senyuman dibuat-buat terbit di bibirnya.
Tidak mau membuang-buang waktu untuk meladeni ocehan pria itu, Ainsley memerintahkan anak buahnya melalui lambaian tangan untuk menyerang. Beberapa menaikkan senjata api yang dibawanya dan yang lainnya melangkah mendekat kearah pria berkacamata hitam itu.
"Tunggu dulu, nona. Bawa dia keluar." Perintah pria itu.
Tidak berselang lama, Arsyita keluar bersama seorang pria yang sedang menodongkan pistol di kepalanya.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
#Hi..., ketemu lagi. Ikuti terus kisah pembalasan dendam Keana yahh. Jangan bosan untuk mampir dan memberi dukungan kepada Keana.
Jangan lupa tinggalkan dukungan kalian untuk author. Lop you😘😘😘😘😙😘😙😘😚
__ADS_1