
"Ingat!! Sekali lagi gue liat kalian mengganggu siswa lain...," Dia menggantung kalimatnya. Pria tinggi dengan postur tubuh kekar nan tampan berdiri di depan kelima siswi yang menunduk gelisah. Menatap menelisik setiap gadis itu satu persatu, dia mengenakan seragam yang sama dengan yang dikenakan kelima siswi itu. "Gue gak bakal segan-segan buat manggil orang tua kalian ke sekolah. Ingat itu!!" Tekan pria itu di setiap kata katanya.
"Ara, jangan mentang-mentang lo adik dari Devino Setiawan Alexander, lo jadi se-enaknya di sekolah ini. sekolah ini juga punya aturan. Dan..., aku tau. Kalau kak Devino sampai tau masalah ini...," Seringai tipis muncuk di bibirnya. " Lo tau kan apa yang bakal terjadi. Kakak mu itu sangat tidak menyukai hal yang melanggar peraturan, apa lagi orang yang suka berbuat kesalahan." Dia, menatap ara dengan tajam membuat Ara yang juga menatapnya menampakkan wajah memelasnya.
"Kak, Kak Erick jangan bilang sama papi-mami yah. Shela mohon, Shela janji gak bakal ngulang kesalahan yang sama. Shela janji, kak. Jangan bilang ya, please." Shela memohon dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Lo..., Sejak kapan mereka mulai mengganggu kamu?" Tanyanya menatap Arsyita menyelidik, membuat Arsyi menundukkan pandangannya seketika saar matanya bertemu dengan mata elang pria itu yang Shela sebut namanya adalah Erick, kak Erick.
"Lohhh, kok malah bengong. Gue tanya sama lo." Ucapnya lagi melangkah mendekati tempat Arsyita.
"Ak-aku...," Ucap Arsyita tidak tau harus berkata apa.
"Aku, aku, kenapa? Gue nanya sejak kapan mereka gangguin lo?" Tanyanya dengan suara tertahan. Sepertinya dia mulai tersulut emosi melihat sikap Arsyita yang terus terdiam.
"Apaansih, Rick. Ngapain kita gangguin dia, kayak kita nggak punya kerjaan aja." Arabella mencoba mengelak dari tuduhan Erick.
"Huhhh, itu yang mau gue tanyakan juga. Ngapain kalian gangguin tu anak, nggak punya kerjaan lain apa?" Ucap Erick mengingat kejadian di toilet tadi.
__ADS_1
Flashback on
"Ohhh..., Jadi selama ini yang gue pikirkan itu benar." Ucap seseorang di pintu toilet yang langsung menjadi pusat perhatian penghuni didalamnya. Ara mematung, terdiam kaku menatap kearah pintu. Perasaan takut dan gelisah terlihat jelas di raut wajahnya.
"El-lo nga-pain di-sini?" Tanya Ara tergagap-gagap.
"Ka-kak." Lirih Shela.
Erick menatap tajam kearah Angel yang tanpa sadar masih memegang rambut Ainsley.
"Kalian, ikut gue ke ruang OSIS sekarang." Tekan Erick di setiap kata-katanya. Kenalin, Erick ini sang presiden sekolah loh, ketua OSIS.
Kelima siswi itu dengan pasrah mengikuti perintah dari Erick, melangkah dengan perlahan dan saling dorong-mwndorong untuk berjalan di depan.
Hingga tibalah di depan ruang OSIS. Semua pengurus OSIS yang lain diminta keluar ruangan sementara selama Erick mendisiplinkan ke empat pembuat onar itu.
Flashback Off
__ADS_1
"Yaudah lo kembali ke kelas, biar mereka aku yang urus. Kalau mereka berani gangguin lo lagi bilang ke gue. Gak usah takut sama ancaman mereka." Pinta Erick kepada Arsyita.
"Ba-baik, kak. Terima kasih, saya permisi." Balas Arsyita sedikit membungkukkan badannya kearah Erick lalu dengan cepat melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang menurutnya sangat mencekam itu. Sorotan mata tajam menghujam Arsyita, tapi tidak digubris Arsyita, dia malah berpura-pura tidak menyadari adanya sorotan yang menghunus itu.
"Kalian ngapain gangguin dia. Gue liat kalian juga ngambil duit dia tadi, emang duit dari orang tua kalian nggak cukup apa buat jajan kalian. Setau gue kalian semua dari keluarga terpandang. Gak malu apa kalau orang lain tau anak seorang pengusaha ternama ternyata memeras uang teman kelasnya." Cecar Erick mengomeli ke-empat siswi penindas itu.
"Shela." Panggil Erick dengan nada suara tertahan menahan amarah, Shela takut melihat wajah kakaknya itu yang sudah dia yakini sedang marah besar. Yup, Erick adalah kakak kandung dari Shela. "Liat kakak, apa didikan dari Mami-papi sama kakak selama ini kurang? Kenapa kamu menjadi anak yang pemberontak seperti ini. Kakak kecewa sama kamu Shela." Tangannya terkepal erat saat melanjutkan kalimatnya, amarhnya sudah memuncak. Kecewa, itulah yang ia rasakan saat ini. Kecewa karna adik satu-satunya berbuat hal buruk. Tapi, dia lebih kecewa kepada dirinya yang tidak bisa mendidik adiknya dengan baik.
"Kalian lebih baik ke kelas. Jam istirahat sudah hampir tiba. Jangan pernah melakukan hal itu lagi. Ingat!!! gue nggak main-main sama ucapan gue. Kalau kalian ngulang perbuatan itu lagi, yakinlah orang tua kalian bakal tau itu. Ingat itu!!!" Tekannya sebelum ke-empat siswi itu benar-benar meninggalkan ruangan itu yang seketika membuat Ara serta ke-3 sahabatnya bergidik ngeri saat mendengarnya.
"Ini semua gara-gara Ainsley. Liat aja ntar...,"Gumam Ara kesal
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
#Akhirnya up lagi. Jangan bosan-bosan yah mampir kesini. Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat lagi.
lop you😘😘😘😘😘😘
__ADS_1