
"Wow, jadi ini markas besar yang di maksud kak Clau. MARKAS MAFIA LARARENJANA." Ucap Keana menatap kagum bangunan megah nan besar di hadapannya.
Sedari tadi Keana tidak henti-hentinya memuji markas besar Ainsley. Bagaimana tidak, sejak memasuki gerbang utama yang menjulang tinggi, mereka di sambut dengan hamparan pepohonan hijau di sepanjang jalan menuju mansion yang sudah dijadikan markas besar oleh Ainsley.
"Mansion ini lebih besar dari pada mansion sebelumnya. Apa semua mansion ini benar-benar milik kakak? Kak Ainsley nggak ngaku-ngaku aja kan?" Tanya Keana tidak percaya.
"Sudahlah. Tidak usah banyak tanya. Kamu cukup ikut saja." Ainsley memimpin perjalanan.
"Wahhh...," Keana semakin dibuat takjub saat memasuki mansion itu. Dua tangga berukir klasik bertemu di tengah ruangan.
Keana tidak henti-hentinya mengagumi setiap inci mansion itu. Mansion ini lebih besar dan mewah dari pada rumah kami di Indonesia, begitu pikir Keana.
Claudia dan Alice menyambut mereka dengan hormat. Keduanya memberikan jalan kepada Ainsley dan Keana untuk berjalan di depan. Ainsley memimpin jalan, di susul oleh Keana serta Claudia dan Alice yang berjalan di belakang sisi kiri-kanan keduanya. Mereka menaiki anak tangga menuju lantai dua mansion.
"Kamu yakin mau bertemu mereka?" Tanya Ainsley saat tiba di depan dua daun pintu yang berukuran cukup besar.
__ADS_1
"Iya, kak. Aku yakin, SANGAT yakin." Ucap Keana menekan kata 'sangat'.
"Baiklah." Ainsley kembali menghadap pintu. Dengan sigap Alice membuka kedua daun pintu tersebut.
"Kita ngapain ke sini kak? Kan aku maunya ketemu mereka." Tanya Keana mengernyitkan dahinya saat melihat isi ruangan besar tersebut. Perpustakaan, itulah yang terlintas di benak Keana saat melihat banyaknya rak lemari yang di penuhi berbagai jenis buku.
Ainsley tidak menggubris ucapan Keana. Ia terus berjalan menuju sebuah meja yang terletak di ujung ruangan. Menggeser sebuah meja kecil. Mengotak-atik sisi belakang meja kecil tersebut yang ternyata juga memiliki pintu yang berukuran seperempat dari ukuran lemari.
Setelah selesai mengotak-atik beberapa tombol tersebut, Ainsley menekan tombol berukuran besar berwarna hijau. Tidak lama setelahnya, dua rak buku saling berjauhan. Membuat ruang di antara keduanya.
Ainsley berjalan mendekat kearah pintu yang terlihat setelah kedua rak itu berjauhan. Memerintahkan kepada Claudia untuk membuka daun pintu cokelat tersebut. Saat pintu terbuka, tampaklah tangga panjang yang mengarah kesebuah ruangan yang berada di bawah.
Menuruni tangga yang semakin dalam semakin gelap. Dengan ditemani penerangan dari lampu Hp Claudia, mereka terus menuruni tangga itu.
Di depan sudah terlihat sinar cahaya yang berasal dari sebuah ruangan. Saat memasuki ruangan tersebut Keana terdiam membungkam, matanya melebar mengamati setiap sudut ruangan itu dengan seksama.
__ADS_1
"Ohhh jadi gini bentuk ruang bawah tanah. Keren sih tapi menakutkan." Keana bergidik ngeri melihat begitu banyaknya benda tajam di ruangan itu.
"Lohh, ada apa ini. Kenapa kursinya kosong, kak? Apa mereka sudah melarikan diri?" Keana memperhatikan dua kursi yang di sana masih terdapat tali tang terlilit di masing-masing sisinya.
"Mereka ada di sini nona." Ucap Claudia menunjuk sebuah koridor.
"Aww...." Keana meringis kesakitan mengundang semua mata agar memandangnya.
"Keana..."
"Nona Keana..." Teriak Ainsley, Alice dan Claudia secara bersamaan.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
__ADS_1