Balas Dendam Sang Putri

Balas Dendam Sang Putri
KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

Agatha duduk termenung di balkon kamarnya memandangi keramaian yang terjadi di depan rumahnya. Garis polisi sudah di pasang mengelilingi rumah besar itu. Polisi berjejer menghalau wartawan yang ingin meliput kematian pengusaha besar beserta istrinya itu.


Agatha kembali mengingat peristiwa yang telah terjadi tadi. Matanya berubah menjadi sendu, kristal bening sudah menggenang di pelupuk matanya. Bagaimana tidak, dia menyaksikan sendiri kedua orang tuanya beserta para pelayan di rumahnya terbaring mengenaskan tanpa nyawa. Itu semua ada di depan matanya, di depan matanya sendiri!!!


Sementara di lantai bawah kedua orang tuanya dan pelayan di rumahnya masih di selidiki oleh para polisi dan detektive. Sudah satu jam berlalu sejak kedatangan sekretaris dan pengacara pak Ardhani yang membawa Detektif Nayra beserta anggota team nya atas permintaan pak Denis.


Tok


tok


tok


"Permisi nona." Terdengar suara pak Denis memanggil Agatha.


"Non, kamu baik-baik saja non?" Tanya pak Denis terus mengetuk pintu kamar Agatha.


"Non."


Masih mengenakan seragam sekolah dan dalam keadaan berantakan, Agatha beranjak dari duduknya dan segera melangkahkan kakinya dengan gontai untuk membuka pintu kamarnya.


"A-ada apa pak?" tanya Agatha dengan suara serak dan begitu pelan yang hampir tidak di dengar oleh pak Denis.


"Anu non, non Agatha di panggil sama Bu detektive, katanya mau ditanyai sebagai saksi. Mereka sekarang menunggu non Agatha di bawah." Jelas pak denis pada Agatha.


"Pak Denis." Panggil agatha sambil memandang sendu pak Denis.


"Ada apa non?" tanya pak denis yang iba melihat anak majikannya itu dalam keadaan yang memprihatinkan.


Agatha tak menjawab pertanyaan pak Denis, dia malah menangis sejadi jadinya di depan pak denis. Dia terduduk memeluk lututnya dengan isak tangis yang semakin lama semakin terdengar memilukan.


"Ini bohong kan pak? Ini cuman becandaan kan? Ayah sama Ibu agatha masih hidupkan?" Dengan di iringi isakan kecil agatha melontarkan berentetan pertanyaan kepada pak Denis sambil kembali menatap sendu pak Denis yang tetap setia berdiri di depan nona mudanya itu.

__ADS_1


"Yang sabar ya non." Hanya itu yang bisa pak Denis katakan saat ini. Ia tak tau harus berkata apa untuk menenangkan nona mudanya itu.


"Pak..., tolong kembalikan ibu Agatha, kembalikan ayah Agatha. Agatha mohon pak." Keana mengatupkan tangannya memohon kepada pak Denis.


"Non, sadar non. Istighfar, ini semua yang terbaik untuk tuan dan nyonya. Non Agatha harus kuat, nyonya dan tuan di sana pasti sedih melihat keadaan nona seperti ini." Pak Denis berjongkok dan memegang bahu Agatha, mengalirkan kekuatan kepada gadis malang di depannya itu.


'Benar, aku harus tegar, aku harus kuat!' Batin Agatha menguatkan dirinya. 'Aku harus kuat dan membalas semua yang telah terjadi kepada kedua orang tua ku.' Agatha menguatkan tekadnya.


Benar saja, sekarang memang saatnya dia bersedih. Tetapi, jika dia terus larut dalam kesedihan, siapa yang akan menegakkan keadilan untuk orang-orang yang dia cintai. Sedangkan dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Pikir Agatha.


"Pak Denis turun duluan saja nanti Agatha susul. Agatha mau bersih-bersih badan dulu." Pinta Agatha kepada pak Denis.


"Baik non." Jawab pak Denis sambil membungkukkan sedikit badannya dan berlalu pergi meninggalkan Agatha yang hilang bersamaan dengan pintu kamar yang di tutupnya.


Dengan tatapan lurus tanpa berkedip, Agatha terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan wajahnya yang sudah kaku di penuhi air mata.


Agatha mengguyur tubuhnya yang masih dibalut seragam sekolahnya itu.


Agatha berusaha menguatkan dirinya. Walau bagaimana pun dia harus menemukan keadilan untuk kedua orang tuanya. Hancur? Memang itu yang saat ini Agatha rasakan. Namun, sekali lagi ini bukan saatnya untuk jatuh. Dia harus tegar agar bisa menemukan dalang di balik kasus ini.


Setelah merasa tubuhnya sudah bersih dan segar agatha pun menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandinya, dia langsung menuju kearah lemari untuk mengambil baju dan mulai bersiap-siap.


Setelah beberapa menit bersiap-siap, Agatha pun langsung turun menuju ruang tamu, tempat detektive menunggunya.


Dia pun duduk berhadapan dengan dua detektive, satu detektive pria dan satunya detektive wanita, keduanya terlihat masih cukup muda.


Detektive wanita itu menghampiri Agatha dan duduk di sampingnya. Dia memiringkan sedikit tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Agatha.


"Yang kuat yah dek. Kami akan berusaha sebisa mungkin untuk menemukan dalang dibalik kematian kedua orang tuamu." Ucap detektive wanita itu sambil membelai rambut Agatha, seolah mencoba menyalurkan sedikit kekuatan untuk Agatha.


"Iya kak, makasih." Balas agatha sambil menundukkan wajahnya. Dia berusaha untuk membendung air matanya yang sudah siap membanjiri pipinya.

__ADS_1


"Saya detektive Nayra, dan itu teman saya detektive Bima." Detektive wanita yang Agatha ketahui namanya adalah detektive Nayra memperkenalkan dirinya dan rekannya. Dia mencoba untuk memulai percakapan seriusnya dengan Agatha. Bagaimana pun, detektive Nayra harus bersikap lembut kepada gadis malang dihadapannya sekarang.


"Saya Agatha kak." Jawab Agatha sambil memperkenalkan dirinya juga. Dia mulai mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat kedua detektive itu secara bergantian.


Kedua Detektive itu terus melontarkan serentetan pertanyaan kepada Agatha, dan Agatha menjawab semua pertanyaan dari kedua detektive itu tanpa ada yang disembunyikan. Walau seringkali di iringi dengan bulir air bening yang mengalir tanpa izin dari Agatha.


Setelah cukup lama mengintrogasi Agatha, detektive itupun selesai dengan tugasnya dan meminta izin undur diri untuk kembali ke kantor polisi.


"Baik, terima kasih atas kerja samanya. Kami permisi dulu. Kami akan mengirimkan panggilan saksi untuk anda nanti." Pamit detektive Bima mewakili seluruh rekannya.


"Iya kak. Tolong Temukan orang yang tega melakukan semua ini kepada keluarga saya." Pinta agatha penuh harap. Sedang sang supir hanya menundukkan sedikit badannya sebagai tanda hormatnya.


Sebelum benar-benar meninggalkan kediaman keluarga Daniswara, Detektive Bima dan Detektive Nayra serta tiga juniornya mendiskusikan sesuatu bersama pak Romi, sekretaris sekaligus orang kepercayaan ayah Agatha.


Setelah cukup lama berbincang bincang dengan pak Romi, Detektive itupun pergi meninggalkan kediaman Daniswara dengan di ikuti ambulance yang membawa mayat kedua orang tua beserta pelayan agatha untuk diselidiki lebih lanjut.


Agatha berniat untuk ikut bersama dengan para detektive, tapi dicegah oleh sekretaris ayahnya dengan alasan agar Agatha bisa beristirahat dan menjernihkan pikirannya.


#############


Ikuti terus part-part selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Dukung author terus yah.


∆Like


∆Komen


∆Hadiah


∆Vote


Dan save cerita ini di perpustakaan faforite kalian dengan menekan love di ujung bawah.

__ADS_1


__ADS_2