
“Berhenti!!” Teriak Keana. Ia merentangkan tangannya di depan mobil yang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi itu, membuat pengendara mobil menginjak rem dengan cepat.
“Aduh..., kamu apa-apaan sih, David.” Maki pria yang berada di jok belakang.
“Maaf, tuan. Ada seorang gadis yang tiba-tiba menghadang mobil dan hampir saja tertabrak.” Ucapnya menyesal.
Setelah mendapat penjelasan, pria yang di panggil tuan itu menatap ke arah depan. Benar saja, seorang gadis yang terlihat menyedihkan berdiri sambil merentangkan tangan di depan sana. Gadis itu berlari mendekati mobil dan singgah tepat di pintu masuk untuk mengemudi, tempat pria yang di sapa David berada.
“Tolong bantu saya, tuan. Teman saya di culik seseorang. Tolong bantu saya, tolong!!.” Ucapnya memohon sambil mengetuk kaca mobil berkali-kali.
“Siapa dia?” Tanya sang tuan.
“Saya tidak tau tuan.”
“Jalan!”
“Baik tuan.”
Mobil itu mulai melaju meninggalkan Keana yang terus berlari mengejarnya. Buliran bening tak hentinya mengalir membasahi wajahnya. Ia begitu mengkhawatirkan Arsyita yang telah di bawa entah kemana oleh kedua pria asing yang telah mengikutinya.
“Tuan, tolong bantu teman saya. Saya janji akan membalas kebaikan anda.” Teriak Keana terus berlari mengejar mobil yang sudah cukup jauh darinya.
“Saya mohon bantu teman saya. Kasian dia, dia pasti sangat ketakutan sekarang.” Teriaknya lagi.
“Andai aku tidak melarikan diri, sekarang
dia tidak akan sendirian.” Lirih Keana, tubuhnya merosot terduduk di atas jalan. Dia menunduk dan terus menangis. Memikirkan Arsyita yang akan pergi semakin jauh.
“Ma-afin aku Arsyi, a-ku tidak bisa menepati janji ku.” Lirih Keana, tangisnya semakin tak bisa di bendung. Memikirkan bagaimana nasib sahabatnya saat ini membuatnya begitu sedih.
***
"Tuan, mungkin gadis yang di maksud nona Ainsley adalah gadis yang tadi." Ucap David.
"Memangnya lokasi yang nona Ainsley kirim ada dimana?"
"Beberapa meter ke depan kita akan sampai ke lokasi yang nona Ainsley kirim, tuan." Jelasnya.
__ADS_1
"Hemm."
David yang mengerti maksud dari deheman tuannya itu terus melajukan mobil menuju lokasi yang tertera di layar monitor mobil. David tau tuannya ini memang tidak peduli dengan hal lain, Ia hanya fokus dengan tujuannya.
Mobil berwarna silver metalik itu berhenti tepat di belakang mobil sport berwarna merah milik Keana.
"Kita sudah sampai, tuan. Saya akan memeriksa keadaan sekitar terlebih dahulu." Ucap pria itu lalu turun menuju mobil Keana.
"Di luar tidak ada siapa-siapa, tuan. Mobil itu juga kosong." Ucapnya setelah memeriksa mobil dan daerah sekitar, yang di jawab deheman oleh tuannya itu.
Sang tuan keluar dari mobil dan berjalan menuju mobil Keana. Memeriksa setiap sudut mobil.
Drtt!! Drtt! Drtt!! Drtt!
Ponsel Keana berbunyi saat sang tuan sedang mengutak-atik ponselnya di luar mobil untuk menelefone seseorang. Ia mencari sumber suara dan menemukan ponsel Keana di dalam laci mobil. Di layar ponsel itu tertera nama 'Kak Ainsley'.
"Ainsley? Panjang umur banget, aku baru nyari nomornya tapi dia udah nelefone duluan." Gumamnya lalu mengangkat panggilan itu.
"Halo, nona Ainsley. Ini saya Devano."
"Saya tidak tau, nona. Disini kosong, tidak ada siapa-siapa."
"Tunggu sebentar ya, tuan."
Tutt...,
"Ada apa sih, kok nona Ainsley langsung mutusin sambungan telefonenya?" Gumam Devano menatap layar ponsel Keana.
Devano Setiawan Alexander, seorang pria dingin dengan usia 22 tahun. Pemilik Alexander Corp, perusahaan besar dan memiliki cabang di berbagai daerah. David Graham, sekretaris sekaligus orang kepercayaan Devano. Pria dingin berusia 22 tahun yang terus mengikuti kemanapun tuannya pergi. Kedua pria ini memiliki perawakan yang nyaris sempurna mampu menghipnotis para wanita yang menatapnya.
*****
"Keana...," Keana menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Kak, Ainsley. Kenapa kakak baru datang?" Keana berdiri dan langsung berlari memeluk Ainsley.
"Saya berada di luar kota saat kamu menghubungi saya, jadi memerlukan waktu lama untuk sampai ke sini." Jelas Ainsley melerai pelukannya dan menggenggam tangan Kean.
__ADS_1
"Kakak kan punya banyak bodyguard, kenapa kakak tidak menyuruh mereka untuk datang." Tutur Keana lagi menyalahkan Ainsley yang datang terlambat.
"Mereka juga di serang jadi mereka tidak bisa datang membantu mu." Jawab Ainsley.
"Diserang? Maksudnya?" Keana mengerutkan keningnya saat mendengar penjelasan Ainsley.
"Sudah, tidak ada apa-apa. Dimana Arsyi? Bukanya kalian berdua pergi bersama." Tanya Ainsley mengalihkan topik pembicaraan.
"ka-kak, Arsyi...," Suara Keana tercekat saat mengingat Arsyita. Ia menunduk, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Arsyi kenapa, Na? Bicara yang jelas!" Tanya Ainsley sambil mengangkat dagu Keana.
"Mereka membawa Arsyi, kak." Ucap Keana sekilas menatap mata Ainsley lalu kembali menunduk, air matanya kembali mengalir.
"Kalau begitu kamu masuk ke mobil dan pulang bersama Clau. Biar Saya yang mencari Arsyi."
"Nggak, kak. Aku akan ikut mencari Arsyi."
"Kamu pulang saja, liatlah keadaanmu sekarang."
"Nggak, Keana ikut cari Arsyi." Keana tetap kekeh pada keputusannya untuk ikut mencari Arsyita.
"Yasudah kalau kamu memang mau ikut." Pasrah Ainsley.
Ainsley kembali masuk kedalam mobil yang di susul Keana dan Claudia yang duduk di kursi depan. Beberapa bodyguard yang berjaga diluar juga kembali masuk ke mobil mereka.
"Mobil kalian ada dimana?" Tanya Ainsley.
"Mobilnya ada di depan. Cukup ikuti jalan ini saja."
Claudia yang mendengar jawaban Keana langsung melajukan mobilnya di ikuti mobil bodyguard di belakangnya. Ainsley sengaja membawa beberapa bodyguard nya karena ia curiga jika ini semua adalah rencana seseorang. Buktinya para bodyguardnya juga di serang.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
#Author up lagi nih. Ada yang nungguin nggak yah? Semoga betah.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Lop you😘😘😘😘😙
__ADS_1