
"Lo..., Lo kok bisa ada di sini?" Keana menatap intens gadis yang tengah duduk berhadapan dengan Ainsley.
"Agatha...," Ucapnya berdiri dari duduknya dan langsung melangkah memegang tangan Keana. Senyum tipis terbit di bibirnya.
"Alice, jaga sikapmu." Tegas Claudia menatap tajam Alice. Yup, masih ingatkan? Alice dan Nafisya sahabat Agatha di Negara lamanya, Indonesia.
Mendengar teguran dari Claudia, Alice langsung memundurkan langkahnya, berdiri tegak dan menundukkan pandangannya.
"Maaf, nona Agatha." Ucap Alice membungkukkan badannya.
"E-lis...," Ucap Keana ragu. Perlahan tapi pasti Keana melangkahkan kakinya mendekati Alice yang masih membungkukkan badannya.
"Alice, lo ngapain sih." Ucap Keana memegang kedua pundak Alice dan membantunya untuk berdiri tegak.
"Saya adik kak Clau, non." Jawab Alice menundukkan pandangannya.
"Ayolah Alice, lo kenapa jadi kaku gini sih. Pliss, jangan jadi kayak kak Clau, gak asik tau." Omel Keana melihat sikap Alice yang sangat formal.
"Dan juga, kalau Lo beneran adik kak Clau..., berarti, dulu Lo... ahh iya benar, itu benar." Ocehan Keana tersenyum aneh membuat yang lain mengerutkan keningnya heran.
"Maksud kamu apa? Kalau bicara itu yang jelas. Alah, sudahlah. Kalian bicarakan masalah kalian nanti saja, saya tidak punya banyak waktu. Jadi, sekarang kalian duduk saja dan kita bicarakan masalah dalang pembunuhan ayah dan bunda." Ucap Ainsley memotong percakapan Keana dan Alice.
Keana mendudukkan bokongnya di sofa dan meminta Alice untuk duduk di sampingnya. Alice pun menurut dan duduk setelah mendapatkan anggukan dari Claudia.
"Kamu juga duduk Clau. Pembicaraan ini akan memakan waktu lama." Perintah Ainsley.
"Tidak apa-apa, Queen." Jawab Claudia.
"Saya tidak suka dibantah, kamu tau itu kan." Tekan Ainsley dan menatap tajam Claudia yang berdiri di sampingnya.
"Baik, Queen." Jawab Claudia pasrah dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Alice dan Keana sedang Ainsley duduk di sofa khusus untuk satu orang.
__ADS_1
"Clau, mana dokumen yang saya minta." Ainsley memulai pembicaraan.
"Ini, Queen. Saya sudah mengumpulkan semua dokumen dan bukti-bukti lainnya di sini." Claudia menyerahkan map coklat kepada Ainsley.
Ainsley membuka map coklat yang diberikan Claudia dan membacanya dengan seksama. Selesai membaca beberapa lembar kertas yang berada di dalam map itu, Ainsley meletakkan kertas di atas map lalu menaruhnya di atas meja.
"Bacalah, ini beberapa data yang kami kumpulkan tentang pembunuh itu." Ucap Ainsley mendorong kertas tersebut ke depan Keana.
Dengan mantap Keana mengambil kertas itu dan membacanya.
"Jadi, kak Ainsley masih belum menemukan pelakunya? Bahkan satu pun tentang dia kakak tidak tau? Inisial, Negara, keluarga, satupun?" Tanya Keana meletakkan kertas itu di atas meja.
"Ini tidak semudah yang kamu pikirkan. Dia punya kuasa yang kuat dan besar. Kita sulit untuk menembus keamanannya." Jawab Ainsley menyilang kan kakinya.
"Huhh..," Keana menghela nafas berat. "Tuan Rick? Jadi dia kunci dari ini semua. Jadi orang yang di panggil Tuan Rick itu adalah pelakunya." Gumam Keana menyandarkan tubuhnya. Raut kemarahan tampak jelas di wajahnya.
"Dia belum tentu pelakunya, bisa saja dia hanya kaki tangannya atau bahkan hanya bawahan biasa yang dia punya. Kamu jangan meremehkannya. Dia lebih berbahaya dari apa yang kita pikirkan tentangnya. Kamu sebaiknya berhati-hati." Ainsley menjelaskan.
"Jadi, semuanya masih belum jelas. Ini sudah terlalu lama." Menjeda kalimatnya. "Baiklah, mulai sekarang aku akan ikut mencari si brengsek itu. Aku tidak akan membiarkannya terus merasakan kebahagiaan di dunia ini setelah merenggut nyawa kedua orang yang aku cintai. Aku akan mengajarkan apa arti KEPEDIHAN kepadanya." Ucap Keana menekan setiap katanya.
"Baik, Queen."
Claudia mulai menjelaskan secara detil tentang dokumen yang telah dibaca Keana dan Ainsley, lalu dilanjutkan menjelaskan tentang rencana dan siasat yang telah Ainsley dan Claudia susun. Claudia juga menjelaskan bahaya yang akan mereka hadapi dalam mencari kebenaran ini.
"Jadi, kak Ainsley masih menyekap penculik Arsyi? Siapa mereka kak? Kenapa mereka tau kalau aku adalah Agatha? Apa mereka..?" Keana menanyakan pertanyaan beruntun kepada Ainsley.
Malas menjawab, Ainsley mengisyaratkan kepada Claudia untuk menjelaskannya. Mengerti maksud dari tatapan Ainsley, Claudia dengan sigap kembali menjelaskan.
"Benar, nona. Mereka kemungkinan besar adalah suruhan dari pelaku pembunuhan keluarga anda. Sekarang mereka berada di ruang penyekapan di markas besar...," Claudia menjelaskan semuanya kepada Keana.
"Tuan Rick." Tekannya saat menyebut dua kata itu. Amarah terlihat jelas di matanya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku mau bertemu dengan pemimpin mereka. Dia pasti tau sesuatu." Ucap Keana menegakkan posisi duduknya kembali, matanya menatap mantap mata Ainsley.
__ADS_1
"Dia tidak mau mengaku. Hah, dia benar-benar bawahan yang setia." Ainsley kesal mengingat bagaimana ia menyiksa pemimpin kelompok penculik Arsyita dan anak buahnya, tetapi tetap saja mereka tidak mau memberitahu satu informasi pun kepada Ainsley.
"Aku akan menyiksa mereka sampai mereka mau mengaku." Keana menyilang kan tangannya di dada,ia menatap intens manik hitam milik Ainsley.
'Apa itu, kenapa dia tersenyum seperti itu. Apa dia merendahkan ku.' Keana kesal melihat senyum mengejek Ainsley.
"Kenapa kakak tersenyum? Apa kakak meragukan kemampuan ku?"
"Bukannya aku meragukan mu. Tapi, mereka memang keras kepala. Aku sudah menyiksa mereka dengan berbagai cara, tapi tetap saja mereka tidak mau bicara, bahkan mereka memilih mati dari pada harus mengatakan siapa yang telah mengirim mereka." Tutur Ainsley membalas tatapan Keana. Kedua manik itu bertemu, tatapan tajam yang di hunuskan Keana dibalas tatapan datar oleh Ainsley.
"Benar nona Keana. Sia-sia saja berurusan dengan mereka. Queen sudah menyiksa mereka dengan berbagai cara, tapi mereka tetap tidak memberikan informasi apa pun. Bahkan mereka mengatakan walau mereka harus mati, mereka tetap tidak akan mengatakan apa pun." Sambung Claudia meyakinkan Keana.
"Aku tetap ingin bertemu dengan mereka." Kekeh Keana.
"Baiklah jika itu mau mu. Kita lihat saja sejauh mana yang bisa kamu lakukan." Jawab Ainsley menyilang kan kedua tangannya di dada.
Mereka terus melanjutkan percakapan tentang dalang dibalik kematian keluarga Keana. Banyak misteri dibalik itu semua. Dimana semuanya terkubur dengan begitu rapi, sehingga sangat sulit untuk menggali kebenaran dibalik semuanya.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
#Author up lagi nih. Jangan bosan untuk mampir yah.
@Sorry yah pembaca setia BDSP, Author belakangan ini jarang up. Mohon pengertiannya, karena author masih sekolah jadi susah buat bagi waktunya. Ditambah saat ini author masih ulangan. Doakan supaya author dapat nilai yang bagus yahh. Makasih udah mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
☆Like
☆Komen
☆Hadiiah
__ADS_1
☆Vote
Lop you😘😘😘😘😘😘😘