Balas Dendam Sang Putri

Balas Dendam Sang Putri
Hantu


__ADS_3

Agatha duduk di balkon kamar memandangi ribuan bintang yang bersinar dengan terang di langit malam yang gelap tanpa rembulan. Meski rembulan tidak menampakkan diri malam ini, langit malam tetap terlihat menakjubkan baginya.


"Sejauh mana pun kamu pergi, aku pasti akan menemukan mu. Sudah cukup aku menunggu, kali ini aku benar-benar akan menghancurkan mu dengan tangan ku sendiri." Mengepal erat tangannya seakan meremas wajah pelaku itu. "Aku tidak akan pernah membiarkan mu hidup bahagia. Kamu harus merasakan rasa sakit dan kepedihan yang aku rasakan selama ini. Ingat itu, aku akan membuat mu merasakan apa yang selama ini aku rasakan, dan itu semua karena perbuatan mu." Tanpa meminta izin, kristal bening itu lolos begitu saja dari pelupuk mata Keana.


"Kali ini aku benar-benar tidak akan melepaskan mu." Lanjutnya menatap tajam langit malam.


Setelah puas melampiaskan emosinya, Keana memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah begitu letih.


*****


Rembulan telah kembali pada peraduannya, pagi ini sang surya bersinar dengan gagahnya di langit cerah. Keana terbangun karna cahaya yang masuk melewati celah-celah tirai. Ia mendudukkan tubuhnya dan meregangkan otot-ototnya.


"Hoam, udah jam 7 aja. Umm, tidur ku sangat nyenyak semalam." Menyingkap selimut dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, Keana keluar dari kamar, menuruni anak tangga, dan tiba di ruang keluarga. Cengak-clinguk seperti mencari sesuatu.


"Kak Ainsley kemana yah." Gumam Keana memegang dagunya seraya berpikir.


'Di ruang kerja kali ya.' Batinnya berbalik menuju ruang kerja Ainsley.


Tok


tok


tok


"Apa dia nggak di ruang kerja? Lah, terus pagi-pagi gini dia kemana coba." Ucapnya mencoba berfikir.


"Di kamar." Ucap sebuah suara yang entah dari mana asalnya.


"Ehh copot." Keana berjingkrak kaget.


'Itu orang bukan sih. Apa jangan-jangan..., hantu lagi, Ihh serem dehh.' Keana bergidik ngeri mendengar suara yang ntah asalnya dari mana.


Dengan perlahan mencoba membalikkan badannya.


"Aaaa..., HANTU..." Keana berteriak dengan keras. Memundurkan langkahnya sambil menunduk dan menutup telinga beserta matanya.


"Ehh copot-copot, hantu, mana hantu." Teriaknya tak kalah heboh.

__ADS_1


"Tolong ampuni aku. Jangan makan aku, aku anak baik-baik kok. Tolong ampuni aku, tolong." Keana terus mengoceh.


"Non? Non kenapa? Ini bi Em non. Non?." Wanita yang usianya sudah kepala tiga itu melirik ke belakangnya, ntar hantunya ada di belakang lagi. Begitu pikirnya. Nafas lega di hembuskannya saat mendapati tidak ada apa pun di belakangnya. Ia pun kembali menatap heran nona muda di depannya itu.


'Suara itu sepertinya familiar.' Dengan memberanikan diri Keana mencoba mendongak, melihat siapa yang tengah berdiri tegak di depannya.


'Kakinya menyentuh lantai. Kaki dan tangannya lengkap. Sepertinya dia bukan hantu deh...,' Keana meneliti setiap inci tubuh wanita di depannya itu.


"Huh. Jadi Bibi..., Bibi ngapain muncul tiba-tiba gitu sih. Ngagetin aja tau. Itu juga kenapa bibi pakai baju putih-putih gitu sambil maskeran lagi. Kayak hantu aja." Keana terus mengoceh membuat wanita yang masih terlihat muda itu mengernyit.


"Maafin bibi, non. Mumpung lagi gak ada kerjaan jadi bibi maskeran aja. Tadi bibi baru habis mandi jadi pakai jubah mandi, kebetulan juga jubahnya warna putih. Hehehe..." Jelas wanita itu yang ternyata asisten rumah tangga yang Ainsley pekerjakan tiga bulan yang lalu atas permintaan Keana. Rumah sepi banget, mending kak Ainsley bayar pembantu deh. Begitulah kata Keana.


"Tadi nona kenapa?" Senyum penuh arti terbit di bibirnya.


"Sudahlah, aku mau lanjut cari kak Ainsley lagi deh. Soalnya ada urusan penting, jadi gak boleh di tunda-tunda. Dadah bibi." Sambung Keana dan melesat pergi begitu saja.


'Duhhh..., apaan sih Lo Keana. Lo ngomong apa tadi? Ishh Malu-maluin aja.' Rutuk Keana memukul jidatnya berulang kali. Malu, sangat malu. Itulah yang dirasakan Keana saat ini. Bagaimana dia bisa mengira sang asisten adalah seorang hantu. Sungguh bodoh.


"Sudahlah, aku harus mencari kak Ainsley. Aku akan menemui mereka sebelum aku berangkat ke Indonesia." Gumam Keana mencoba melupakan kejadian tadi.


Tok


tok


tok


Klek


"Ada apa Keana?" Mengerutkan keningnya, kemalasan nampak jelas terukir di wajahnya.


"Ihhh, Kak Ainsley kok baru bangun sih. Aku kan mau nemuin mereka sebelum berangkat ke Indo." Omel Keana.


"Iya, saya tau. Semalam kamu sudah bilang berkali-kali." Jawab Ainsley malas.


"Terus kenapa kak Ainsley bangun terlambat?" Tanya Keana menyilang kan kedua lengannya di dada.


"Siapa bilang saya bangun telat. Saya dari tadi ngerjain tugas kantor bukan tidur, dan juga... waktu masih panjang sebelum kita berangkat. Kan semalam sudah saya bilang kalau kita akan berangkat jam 9. Sudah sana, saya mau lanjut bekerja." Jelas Ainsley kemudian langsung menutup pintunya.


"Ihhh dasar robot. Aku kan belum selesai bicara main di tinggal-tinggal aja." Omel Keana menatap kesal pintu kamar Ainsley.

__ADS_1


"Ohh iya aku lupa."


tok


tok


tok


Klek


"Apa lagi Keana?" Omel Ainsley kesal.


"Emm itu kak..." Keana cengengesan tidak jelas.


"Itu apa? Cepat katakan. Saya masih banyak pekerjaan."


"Kak Clau sama Alice kemana? Dari tadi aku tidak melihat mereka."


"Ohh mereka sudah berangkat semalam."


"Humm gitu yah. Kenapa mereka tidak bareng kita aja perginya. Yaudah, aku ke kamar dulu ya kak. By" Keana melambaikan tangannya sambil tersenyum. Semakin menjauh, jauh dan akhirnya hilang dari pandangan Ainsley.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€


#Author hadir lagi nih. Alhamdulillah, ulangan author dah selesai kemarin Sabtu.


Jangan lupa dukungannya


βˆ†Like


βˆ†Komen


βˆ†Vote


βˆ†Hadiah


and don't forget to save on favorite story kalian.


dan jangan lupa untuk menyimpan cerita ini sebagai cerita favorite kalian. Lop you....😚😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2