
"Jadi bagaimana dengan perusahaan ayah?" Tanya Keana sambil menyantap makanannya.
Mereka sedang berada di salah satu ruang VIP di restauran itu. Mereka, pria yang tadi ditabrak Keana dan Alice.
"Perusahaan baik-baik saja. Kalau nona punya waktu nona bisa sesekali berkunjung ke perusahaan." Jawabnya.
"Kerja bagus pak?"
"Pak Arsyad Syaputra." Jawabnya mengerti maksud dari Keana.
"Apa nona Keana..., Agatha sudah siap kembali dan memimpin perusahaan?" Lanjutnya bertanya.
"Saya belum bisa kembali. Masih banyak yang harus saya urus. Untuk sekarang perusahaan biar kak Arsyad yang jaga. Lagi pula Kak Ainsley pasti tidak sembarangan memberi amanah kepada orang lain. Dia pasti sudah memastikan kamu mampu menjaga perusahaan."
"Baiklah. Terima kasih atas pujiannya. Saya menjadi tersanjung."
"Heumm." Dehem Keana, Malas malas rasanya melihat tingkah Arsyad.
*****
"Keana, ahh tidak. Agatha, lo yakin kita bakal tinggal di sini?" Tanya Alice memastikan.
"Iya gue yakin. Sangat yakin. Emang kenapa, lo takut tinggal di sini? Gue kangen sama orang tua gue, jadi gue mau tinggal di sini selama kita berada di Indonesia."
"Yahh gak papa sih. Gue cuman khawatir lo bakal sedih lagi."
Keana dan Alice memasuki pintu utama rumah Agatha. Mereka di sambut oleh pelayan yang memang sudah di sediakan Ainsley. Sedangkan Mafioso yang mengikuti mereka berjaga di sekeliling rumah.
"Selamat datang nona Agatha." Sapa mereka serentak dan di balas senyum tipis dari Agatha.
"Foto itu...," Agatha mendekat kearah sebuah bingkai foto berukuran besar.
"Ayah, Ibu. Agatha kangen kalian. Kalian liat? sekarang aku ada di rumah kita." Mata Agatha mulai berkaca-kaca, tapi seutas senyuman juga terukir di bibirnya. Bingkai foto keluarga yang berukuran besar di pajang di dinding yang akan terlihat tepat setelah pintu terbuka.
Saat menelusuri setiap inci rumah itu, Agatha melihat sebuah pintu yang tertutup rapat. Dengan perlahan ia berjalan kearahnya. Ia tak hentinya menatap kosong pintu itu. Ingatan pada hari itu terus terngiang di pikirannya.
__ADS_1
∆∆∆¶¶¶∆∆∆
'Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini semua.'
'Mereka dibunuh dengan cara yang kejam.'
'Mereka pasti orang yang terlatih. Tembakannya memang sekali, tetapi langsung mengenai jantungnya.'
∆∆∆¶¶¶∆∆∆
Begitulah pembicaraan beberapa polisi yang sempat Agatha dengar. Air mata lolos di pipinya saat pintu di depannya terbuka. Perlahan ia melangkah masuk ke ruangan. Kenangan buruk terus berlarian di kepalanya. Bayangan Ayah dan ibunya yang terbaring tanpa nyawa dan di penuhi dengan darah terus berputar di kepalanya.
"Ayah, ibu. Agatha kangen. Apa ibu dan ayah juga merindukan ku, putri kalian. Maafin Agatha, Agatha belum bisa membalaskan dendam kalian. Bahkan..., Agatha terlalu takut memegang tangan kalian untuk terakhir kalinya. Maafin Agatha...," Agatha menangis. Ia duduk di atas sofa tempat orang tuanya meninggal. Mengusapnya dengan perlahan dan penuh kasih. Air mata tak hentinya mengalir di pipi mulusnya.
∆∆∆¶¶¶∆∆∆
'Agatha cepat kemari, karena kamu mendapatkan peringkat satu. Ayah akan tepati janji ayah, sekarang kita akan pergi ke taman bermain.' Panggil sang Ayah dengan senyum lebarnya.
'Horee..., Taman bermain.' Girang Agatha kecil.
∆∆∆¶¶¶∆∆∆
∆∆∆¶¶¶∆∆∆
Agatha menutup matanya. Senyum lebar di bibirnya sirna saat ingatannya kembali ke saat di mana kedua orang tuanya terbaring kaku.
Di luar ruangan raut kegelisahan nampak jelas di wajah kepala pelayan. Sudah sedari tadi Agatha berada di ruangan itu, namun ia tidak melihat tanda-tanda seseorang di dalam sana.
"Non, non Agatha baik-baik saja?" Ucapnya mengetuk pintu berulang.
"Bi...," Panggil Alice sambil memberi isyarat dengan gelengan.
"Biarkan dia. Sekarang kalian boleh pergi." Pintanya yang membuat pelayan satu persatu meninggalkan tempat itu, begitu pun kepala pelayannya.
*****
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Agatha...," Panggil Alice karena sudah lama Keana mengurung diri di ruang keluarga.
"Agatha, lo sudah terlalu lama di dalam. Ini sudah larut malam, kamu harus istirahat." Ucap Alice sedikit berteriak.
Klek...,
"Hehehe..., lo dari tadi di sini? Sorry, gue ketiduran di dalam." Agatha cengingiran tidak jelas.
'Gue tau lo sedih dan lo habis nangis. Liat aja mata Lo masih bengkak gitu.' Batin Alice.
"Yasudah. Lo pasti capek habis perjalanan jauh. Sekarang mending lo ke kamar ganti baju terus lanjut tidur lagi."
"Humm iya, iya ibu negara."
"Ohh iya. Lo tidur di mana?" Agatha berbalik menghadap Alice.
"Gue tidur di kamar tepat di samping kamar lo." Jawab Alice.
"Oooo." Agatha hanya ber O ria.
"Ingat yah. Besok jangan bangun telat. Kita kan mau ke rumah si princess." Teriak Agatha saat sudah berada di lantai dua.
Agatha mengambil piyama mandinya dari dalam koper setelah masuk kedalam kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Beberapa menit telah berlalu, Agatha telah keluar dari kamar mandi. Dengan cepat ia mengganti bajunya dan berjalan menuju ranjang.
"Ahhh..., Sungguh hari yang panjang." Ucapnya menatap plafon kamarnya. Lalu beralih menatap bingkai foto kedua orang tuanya yang terletak di atas nakas.
"Apa kalian sebahagia itu karena telah meninggalkan ku. Lihatlah senyum kalian begitu indah." Keana tersenyum dan mengambil foto itu. "Tapi, semuanya hilang karena pembunuh brengsek itu." Seketika semburat kemarahan terukir di wajahnya.
Ia memeluk erat bingkai foto itu dan ntah sejak kapan ia mulai memasuki alam mimpinya.
__ADS_1
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
#Up lagi dong. Jangan lupa mampir dan semoga betah. Love nya dong and jangan lupa jempolnya, vote, and hadiah.