
Hari Minggu pagi, Rio sudah tampak rapi dengan kaos putih dipadu dengan jeans biru. Tak lupa juga jaket jeans dengan warna yang sama. Seperti anak gadis, Rio berulang kali mematut diri di depan cermin.
"Tumben rapi, mau kemana Sayang?" tanya Mama.
"Mau jalan-jalan dong, sama Doi," jawab Rio sambil tersenyum.
"Widih, keren. Anak Mama udah punya doi. Ajak sini dong, kenalin sama Mama!"
"Nanti lah, Ma. Pasti Rio kenalin sama Mama, sama Papa, sama Niken juga. Tapi gak sekarang."
"Emang kenapa kalau sekarang?"
"Belum waktunya, doi belum siap. Katanya masih takut ketemu calon mertua," kata Rio tertawa.
"Hem, kenapa pakai takut segala, kita kan bukan keluarga vampir yang suka gigit. Awas aja ya, kalau gak dikenalin sama Mama."
"Iya, Ma. Sabar ya!"
"Jangan sampai salah pilih pacar! Kamu tau kan gimana Papa? Pilih yang bibit, bebet, dan bobotnya sesuai kriteria papamu!"
"Iya, Ma. Rio pasti akan ingat kok, gimana kriteria menantu idaman Papa. Rio gak bakal salah pilih kok."
"Bagus kalau gitu."
"Rio berangkat dulu, Ma. Doakan sukses ya!"
"Pasti Sayang, hati-hati di jalan, jangan ngebut. Ingat, lagi bawa anak gadis orang!"
"Asiap, Ma."
Setelah mencium tangan Mama, Rio segera berangkat ke rumah Nabila. Dalam hati Rio merasa bersalah telah berbohong pada mamanya. Gadis yang sedang ditaksirnya saat ini sangat jauh dari kriteria Papa. Masih belum jelas bibit, bebet dan bobotnya.
*****
Sementara itu, Nabila juga merasa gelisah. Baru kali ini ada cowok yang mengajaknya jalan-jalan. Dulu waktu SMP, jangankan mengajaknya jalan, untuk sekedar menyapanya saja cowok-cowok merasa eneg. Mereka takut kelihatan dekat dengan anak seorang napi.
Semua baju telah dicoba oleh Nabila, tapi tak satupun yang menurutnya pantas untuk dikenakan. Beberapa tahun ini, Nabila memang tak pernah membeli baju baru. Bajunya juga kebanyakan pemberian dari Bu Lek Winda, baju yang kurang cocok dikenakan oleh remaja seusianya.
Akhirnya Nabila memilih mengenakan kaos lengan panjang warna putih dan jeans warna biru. Satu-satunya pakaian yang masih cocok untuk dia kenakan.
__ADS_1
"Gimana nih, Nek? Cocok gak Bila kalau pakai ini?"
"Kamu tuh pakai apapun juga cocok kok, Ndhuk, sama kayak ibumu."
"Bila gak punya baju lagi, yang pantas untuk dipakai. Kebanyakan baju dari Bu Lek Winda, cocoknya dipakai oleh ibu-ibu."
Nenek menghela nafas mendengar keluhan cucu satu-satunya ini. Andai Nenek punya uang lebih, Nenek akan membelikan baju untuk Nabila. Tapi apa mau dikata, untuk makan sehari-hari saja mereka masih pas-pasan. Maklum, kakek dan nenek Nabila, mengantungkan hidup dari hasil sawah yang luasnya tidak seberapa.
"Udah, jangan sedih, Ndhuk! Gadis cantik kayak kamu ini, mau pakai apapun juga tetap cantik kok. Baju dari Winda juga, kalau kamu yang pakai, gak akan keliatan kayak ibu-ibu."
Nabila tau, Nenek hanya ingin menghiburnya. Bila tersenyum untuk menyenangkan neneknya itu.
"Ibu dulu, waktu masih muda, cantik ya, Nek?"
"Ya samalah kayak kamu sekarang. Kan udah Nenek bilang, kamu itu mirip ibumu."
"Pasti banyak yang naksir sama Ibu ya, Nek?"
"Banyak. Bahkan dulu ibumu sempat mau dilamar sama anak Pak Lurah, tapi ibumu gak mau, malah milih bapakmu."
"Emang Bapak cakep?"
"Terus, Kakek langsung setuju gitu, kalau Ibu pilih Bapak? Bukankah dulu Bapak waktu masih muda tuh nakal?"
"Sebetulnya kakek mu gak setuju, tapi sejak pacaran sama ibumu, bapakmu berubah jadi pria yang baik. Bertobat gitu, rajin ibadah juga. Jadi lama-lama kakek mu setuju."
Dari arah ruang tamu ada suara orang bercakap-cakap. Nabila mengakhiri obrolannya dengan Nenek, dan bergegas ke ruang tamu.
"Nah ini dia, Bila nya muncul," kata Kakek.
Rio tersenyum melihat Bila muncul dari ruang tengah diikuti Nenek di belakangnya. Rio segera mencium tangan nenek Nabila.
"Kami pamit dulu, Kek, Nek. Supaya tidak terlalu siang," pamit Rio.
"Iya, hati-hati ya, Rio. Kakek titip Bila, tolong jagain dia, dia kan cucu Kakek satu-satunya."
"Siap, Kek. Rio akan jagain Bila."
"Pulangnya jangan terlalu sore ya, Le."
__ADS_1
"Baik, Nek."
Setelah berpamitan dengan kakek dan neneknya Nabila, Rio melajukan motornya dengan pelan, meninggalkan rumah Bila.
"Kok bisa baju kita samaan ya, Bil. Padahal gak janjian juga, berarti kita sehati nih," kata Rio.
"Eh, iya juga ya, Kak. Kok bisa ya?"
"Itu artinya kita memang sehati, meskipun gak janjian, bisa saling mengerti. Atau jangan-jangan, kita emang jodoh ya, Bil?"
"Bisa aja nih, Kakak. Emang Kakak mau, kalau jodohnya sama Bila?" tanya Bila sambil tertawa.
"Ya aku sih gak bakal nolak, kalau emang dikasih jodoh Bila, sama Yang di Atas. Kalau Bila, emang mau, kalau jodohnya aku?"
Nabila tak menjawab pertanyaan Rio, dia malah pura-pura tak mendengarnya. Nabila berpura-pura asik menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lewati, membuat Rio merasa gemas dibuatnya. Tapi Rio sengaja tak mengulangi pertanyaannya. Dia akan menyatakan cintanya pada Nabila dengan momen yang lebih spesial.
"Udah pernah ke sini belum, Bil?" tanya Rio setelah memarkir motornya.
"Belum, Kak. Baru kali ini ada yang ngajakin kemari. Nabila juga baru tau, kalau ada wisata air terjun disini."
"Kan kakek mu tinggal di sini, masa sih gak tau?"
"Dulu Bila jarang datang ke sini, paling juga kalau lebaran aja. Terus waktunya juga udah habis untuk silahturahmi ke rumah saudara-saudara. Jadi kalau di sini, belum pernah jalan-jalan."
"Oh, gitu. Tapi kamu betah kan, tinggal di sini?"
"Betah, Kak. Bahkan Bila lebih senang tinggal di sini daripada tinggal di kota Bila yang dulu. Di sini lebih tenang dan asri, gak seperti di kota, yang selalu ribut dan banyak asap."
"Yuk masuk, tapi tungguin ya, aku beli tiket dulu!"
Nabila mengangguk, Rio berjalan ke loket tempat penjualan tiket masuk. Setelah mendapatkan tiket, keduanya masuk ke tempat wisata air terjun.
"Jalannya bakal naik terus sampai ke lokasi air terjunnya. Jadi kalau capek, kamu bilang aja, nanti aku gendong!" canda Rio.
"Mana kuat, Kakak gendong Nabila. Badan kita aja sebelas dua belas, mana jalannya naik. Bisa-bisa Kakak malah pingsan."
Nabila tertawa mendengar candaan Rio, sementara cowok itu cuma bisa nyengir.
Keduanya berjalan sambil bersenda gurau. Jalanan yang semakin menanjak dan berkelok tak membuat mereka merasa lelah. Tak terasa mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Keduanya merasa sama-sama bahagia. Merasa saling memiliki, meskipun Rio belum mengungkapkannya dengan kata-kata, Nabila tau, Rio telah jatuh cinta pada dirinya. Begitu juga sebaliknya.
__ADS_1