Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 8


__ADS_3

Di Jakarta, warung tempat Bu Bakir bekerja makin hari semakin ramai, hampir tak ada waktu bagi Bu Bakir untuk sejenak beristirahat. Waktu luang untuk sekedar menyapa Nabila lewat sambungan telepon juga semakin sempit. Bahkan untuk sekedar mengirim chat kadang tak sempat.


"Dek Murni, warung semakin hari semakin ramai ya?" kata Bu Bakir.


"Iya nih, Mbak. Aku jadi kasihan sama Mbak nih, jadi gak ada istirahatnya."


"Ya selama Mbak masih sehat, semua akan baik-baik aja. Cuma takutnya, gimana kalau tiba-tiba Mbak sakit, Dek Murni nanti gak ada yang bantuin. Apa sebaiknya gak cari karyawan tambahan?"


"Itu sih sebenarnya udah aku pikirkan sih, Mbak. Cuma, cari orang yang dapat dipercaya itu susah. Saat ini aku belum nemu yang cocok, tapi aku yakin, dalam waktu dekat udah ada. Mbak yang sabar dulu ya!"


"Iya, Dek, Mbak ngerti kok kesulitan mu. Mbak cuma kasih saran aja, Mbak kasihan liat anakmu, jadi jarang ketemu mamanya. Mbak jadi teringat Nabila."


Bu Bakir tampak sedih, rasa rindunya pada Sang anak sudah menggunung. Apalagi kesempatan untuk chat dan ngobrol juga semakin sempit.


"Oh iya, gimana kabarnya Nabila, Mbak? Sekarang dia udah SMA kan?"


"Baik kok, Dek, terima kasih. Bila udah SMA, sekarang juga udah tinggal sama kakek dan neneknya, Mbak jadi sedikit lega. Dulu Mbak sangat kuatir waktu dia masih numpang di rumah tetangga tempat Mbak ngontrak."


"Emang sih, Mbak. Bila itu anak gadis, jadi harus ada yang jaga, mending juga tinggal sama Pakdhe dan Budhe. Kalau sama orang lain kan gimana, apalagi mereka pasangan muda. Tau sendiri lah, Mbak. Punya anak gadis mah kayak telur di ujung tanduk, selalu kuatir."


"Itulah, Dek. Makanya Mbak lega, Bila udah tinggal sama kakek neneknya. Mbak ke belakang dulu, Dek. Sepertinya nasi yang Mbak tanak udah masak."


"Iya, Mbak. Sabar ya, nanti secepatnya akan kucari kan teman!"


Bu Bakir mengangguk, kemudian berlalu ke belakang.


Sementara itu, di penjara, Pak Bakir bersikap sangat baik, terkadang Pak Bakir juga menjadi tempat curhat teman-temannya sesama nara pidana. Pak Bakir juga sering memberikan nasehat yang berguna untuk teman-temannya, tak heran banyak para napi yang merasa segan. Teman-teman napi, sering memanggil Pak Bakir dengan panggilan 'Pak dhe'.


"Kok dari tadi ku lihat, Pak Dhe melamun terus?" tanya Seno, teman satu sel Pak Bakir.


"Aku lagi kangen sama anakku, Sen. Semenjak aku disini, dia belum pernah mengunjungi ku."

__ADS_1


"Emang kenapa, Pak Dhe? Apa dia malu, karena bapaknya seorang napi?"


"Ku rasa bukan karena itu, Sen. Sekarang kan anakku tinggal sama mertuaku, dan mereka tinggalnya di desa, jauh dari sini. Kurasa Nabila anakku, kesulitan kalau mau pergi sendiri kesini. Meminta antar kakeknya juga tak mungkin, mertuaku itu sudah tua."


"Apa gak ada saudara lain gitu, yang bisa nganterin?"


"Istriku anak tunggal, gak punya saudara. Kalau sepupunya, kebanyakan tinggal dan kerja di luar kota."


"Pak Dhe kangen sama anaknya doang? Gak kangen sama ibunya?"


"Kangen pun, istriku gak bakal kemari, Sen."


Pak Bakir menunduk sedih, rasa bersalah pada istrinya masih Pak Bakir rasakan. Karena sekarang, istrinya lah yang terpaksa membanting tulang, bahkan pergi ke Ibukota, untuk mencari nafkah buat anak mereka.


"Lha kenapa, Pak Dhe?"


"Istriku pergi ke Jakarta, Sen. Dia bekerja membantu di warung sepupunya. Mau gimana lagi, Sen, aku kan disini."


"Kasihan sekali anak dan istri Pak Dhe. Maaf Pak Dhe, kalau boleh tau, apa sih kasus Pak Dhe?"


"Lha, bagaimana tuh ceritanya. Aku sih yakin, kalau sebenarnya Pak Dhe gak bersalah."


"Waktu itu aku sedang ngojek, udah hampir Magrib, jadi aku buru-buru. Tiba-tiba aku melihat ada seorang wanita berjalan sempoyongan, aku kira dia lagi setengah sadar. Aku berusaha menolongnya waktu ku lihat dia jatuh ke dalam parit. Ternyata ada sesuatu yang menancap di dadanya, dan benda inilah yang menghilangkan nyawanya. Aku cuma hendak mencabutnya, aku kira dengan cara begitu dia bakal tertolong. Dan, sidik jari yang ditemukan di benda itu, cuma sidik jariku dan milik wanita itu."


"Jadi, sebenarnya, Pak Dhe ini berada di tempat dan waktu yang salah ya?"


"Aku rasa seperti itu. Tapi aku gak punya saksi, kan wanita itu meninggal, coba dia masih hidup, aku gak mungkin berada di tempat ini."


"Apa tempatnya sepi, Pak Dhe? Tak adakah saksi yang melihat?"


"Ya gak ada, Sen. Kan itu kejadiannya di area perkebunan tebu, apalagi mau magrib, gak ada seorangpun di tempat itu."

__ADS_1


"Terus, gimana ceritanya Pak Dhe bisa ditangkap?"


"Ada orang yang lewat, sebelumnya dia udah berhenti. Tapi begitu dia melihat di tanganku ada benda itu, dan juga warna merah yang berlepotan, dia langsung pergi dengan motornya. Tak lama kemudian aku ditangkap, karena aku masih di tempat itu, masih bingung dengan apa yang harus kulakukan dengan wanita itu. Mau ku tinggal begitu saja aku tak tega, mau minta tolong ya sama siapa."


"Waduh, begitu ya ceritanya, Pak Dhe. Benar dugaan ku, kalau Pak Dhe ini cuma korban salah tangkap, karena Pak Dhe gak pantes untuk jadi napi."


"Aku sih udah pasrah, Sen. Biar Tuhan saja yang akan membalas semuanya. Yang penting kita kan harus selalu bersyukur, masa kita hanya mau nerima yang baik-baik saja. Kalau kita dapat yang gak baik, kan nanti waktu dapat yang baik kita bisa lebih bersyukur."


"Iya, Pak Dhe. Aku juga banyak belajar dari Pak Dhe nih, selalu bersyukur."


"Kalau kamu, apa kasus mu, Sen?"


"Aku di tuduh pakai duit perusahaan, Pak Dhe. Tentu saja aku gak mau di tuduh begitu, jadi aku samperin tuh orang yang nuduh aku. Waktu ketemu ya kami berselisih paham, dia bawa teman, jadi single lawan double. Aku menghindari dia waktu itu, dan dia yang terlalu ceroboh jadi jatuh ke sungai. Kebetulan juga sungainya lagi banjir, ya gitu deh. Tubuhnya ditemukan esok harinya."


"Jadi kamu cuma membela diri ya, Sen? Terus temannya gimana?"


"Justru teman itu mengatakan aku yang mendorong, jadi jatuh ke sungai."


"Haduh, dunia memang gak adil ya, Sen?"


"Iya, Pak Dhe. Tapi aku juga bersyukur sih, istriku kerja Pak Dhe, jadi aku tak begitu kuatir anakku gak bisa makan."


"Memang selalu ada yang disyukuri kan ya, Sen. Meskipun tampak remeh, bersyukur selalu membuat kita merasa bahagia."


"Bener banget, Pak Dhe. Di tempat ini, aku bersyukur bisa satu sel dengan Pak Dhe, coba dengan yang lain, aku merasa takut, mereka kebanyakan bukan orang baik."


"Kan semua udah diatur sama yang di atas, Sen. Kamu jangan coba-coba ngatur sendiri, serahkan sama yang di atas."


"Iya, Pak Dhe."


"Yuk tidur, Sen! aku udah ngantuk."

__ADS_1


"Sama, Pak Dhe, aku juga."


Keduanya segera membaringkan diri, dan tak lama kemudian tertidur lelap.


__ADS_2