Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 21


__ADS_3

Winda pulang ke rumah dengan hati kesal, Bu Bakir kelihatan sekali menghindar untuk bertemu dengannya. Padahal hubungan mereka sebelumnya sudah seperti saudara. Apalagi, setelah Pak Bakir ditangkap dan Bu Bakir bekerja di Jakarta, anak mereka sempat dititipkan ke Winda dan Dika.


Winda tiba di bengkel komputer milik suaminya dengan wajah cemberut, hingga mengundang Dika untuk bertanya.


"Kok cemberut gitu sih, Ma? Ada apa?"


"Gak ada apa - apa kok, Pa. Mama lagi capek aja, makanya keliatan cemberut," elak Winda.


Dika meninggalkan pekerjaannya dan duduk di dekat istrinya.


"Gak usah bo ong deh, Mama! Kalau cemberut gitu, pasti ada apa - apa deh. Ayo ngaku!"


Winda menarik napas berat, Tak bisa dia menyembunyikan kekesalan dari suaminya.


"Itu tadi Si Mbak Yu, ngeselin deh, Pa. Masa sih dia sengaja menghindar dari Mama. Langsung keluar tanpa pamit, ketika Mama masuk ke klinik. Apa coba salahnya Mama, kok diperlakukan kayak gitu?" gerutu Winda kesal.


"Ya mungkin dia lagi ada keperluan aja, Ma. Dan kebetulan dia mau perginya pas Mama datang, jadi kesannya seperti menghindari Mama, padahal mah enggak," hibur Dika.


"Ya masa sih segitunya sampai gak sempat pamit sama, Mama? Mana alasannya lagi masuk angin, makanya buru - buru ke kantin buat cari teh anget, kan ngada - ngada tuh namanya. Secara kan Mama bidan, ya kali ngobatin masuk angin aja gak bisa sih?"


"Lha itu, dari mana Mama tau, kalau Mbak Yu mau ke kantin buat nyari teh anget? Katanya dia gak pamitan?"


"Pacarnya Bila sih yang bilang. Bahkan Mbak Yu gak kembali lagi ke klinik buat pamitan sama suaminya. Cowoknya Nabila tuh, yang menyampaikan pada bapaknya Bila tadi."


"Ya udah deh, Mama gak usah ambil ati, anggap aja Mbak Yu lagi PMS. Cewek kan kalau lagi PMS begitu, susah ditebak," kata Dika sambil menekuni pekerjaannya lagi.


"Ah, curhat sama Papa bukannya kasih solusi, tapi tambah bikin kesel. Ya udah deh, Mama jemput Tasya dulu."


Dika hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya, karena kesal Winda sampai lupa, kalau Tasya sudah dijemput papanya.


"Emang Mama mau jemput Tasya kemana?"


"Ya ke sekolah, masa jemput ke pasar, sih?"

__ADS_1


"Lha kan Tasya udah pulang sekolah dari tadi, udah Papa jemput juga. Sekarang lagi main pasir tuh, di samping bengkel."


"Kok Papa gak bilang, sudah jemput Tasya?"


"Lha kan Mama gak nanya."


Dika melanjutkan pekerjaannya memperbaiki laptop yang tadi dibongkarnya, sementara Winda mendengkus kesal.


Di tempat lain, Sueb berjalan kaki pulang ke rumahnya dengan gembira. Bibirnya bersiul menyuarakan sebuah lagu dangdut koplo dengan gembira. Sesekali Sueb menepuk dompetnya yang montok di saku belakang celana jeans yang dikenakannya.


"Bini gue pasti seneng banget nih, kalo gue pulang bawa duit banyak macam ini. Nanti pasti gue dapat servis yang memuaskan," kata Sueb senang.


Tak terasa, langkah Sueb sudah sampai di depan pintu rumahnya. Diketuknya pintu dengan semangat, sambil memanggil istrinya.


Tok...Tok...Tok...Tok.


"SAYANG, ABANG PULANG NIH, BUKA PINTU DONG!"


Tak ada sahutan dari dalam rumah. Rumah Sueb juga tampak sepi, sepertinya istri Sueb sedang tak ada di rumah.


"Kemana lagi perempuan satu itu dah, gak kerasan banget di rumah, hobinya keluyuran mulu. Nanti kalau suami gak ngasih duit, ngomel, terus ngancam minta cerai, dan diantar pulang ke rumah ortunya. Serba salah, lama - lama gue ceraikan juga tuh perempuan," gerutu Sueb kesal.


Tiba - tiba, istri Sueb pulang ke rumah dan langsung memberondong Sueb dengan omelan.


"Abang kemana aja sih? Keluyuran mulu gak pulang - pulang. Gak tau apa kalau beras sama gas pada abis? Terus anak Abang mau dikasih makan apa? Makan angin?"


"Ya udah, kasih aja makan angin! Biar ngirit," kata Sueb santai.


"Oh gitu ya sekarang? Udah gak peduli sama anak istri ya? Udah ada yang lain kan di luar sana?"


"Ya iya lah. Buat apa juga gak nyari yang lain, kalau yang ini kerjaannya cuman ngomel sama minta duit doang. Mending kan cari lagi di luar, toh perempuan kan bukan cuma situ seorang," kata Sueb masih dengan gaya santai.


"Ya udah kalau begitu, sana pergi!! Cari aja yang lain, gak usah balik ke rumah lagi."

__ADS_1


Sueb berdiri dan bersiap untuk kembali pergi dari rumah. Dengan banga, ditepuknya dompet yang tampak tebal dihadapan istrinya yang matre. Tapi anehnya, kali ini wanita itu tidak merespon, malah nyelonong masuk ke dapur.


"Ehh, tumben lu gak tertarik sama duit lagi?" tanya Sueb mengikuti istrinya ke dapur.


"Karena duit gue udah banyak. Jadi gue gak butuh duit lu lagi," kata istri Sueb ketus.


"Dari mana lu dapet duit, hah?"


"Ngapain juga lu nanya - nanya gue dapat duit dari mana?"


"Ya jelas gue nanya lah. Kan lu masih istri gue. Gue harus tau lu dapat duit darimana."


"Kalo gue masih istri lu, harusnya lu kasih nafkah dong! Ya masak istri disuruh cari makan sendiri? Sementara lu seneng - seneng sama perempuan lain di luar sana."


"Perempuan lain mana? Jelas - jelas gue tuh lagi sibuk kerja, cari duit buat elu. Buat ngasih makan elu dan anak elu. Juga buat penuhi kebutuhan belanja lu, yang kadang gak ngotak itu," kata Sueb mulai emosi.


"Terus yang kemarin minum - minum sampai teler, dan masuk kamar sama perempuan nakal itu sapa? Bayangan Abang? Emang Abang pikir gue gak tau, gimana kelakuan Abang di luar?"


"Udah deh, gak usah meladeni omongan orang! Mereka itu iri aja sama Abang, makanya jelek-jelekin Abang di belakang."


"Kalau yang ngomong perempuan yang Abang ajak ngamar, gue harus percaya gitu kalau dia iri sama Abang?"


Sueb diam, tak lagi menjawab pertanyaan istrinya. Dalam hati Sueb kesal, ternyata perempuan nakal itu yang memberi tau kelakuan Sueb di luar sana pada istrinya.


"Udah deh, Abang males ribut! Sekarang kasih tau Abang, darimana lu dapat duit banyak?"


"Oke gue jawab. Gue dapat duit dari juragan Rojali, itu lho, yang punya kontrakan bejibun. Dia udah janji mau nikah sama gue kalau gue udah cerai sama Abang."


Bagai petir di siang bolong, Sueb mendengar perkataan istrinya. Sueb tak menyangka, wanita yang sangat dicintainya mengeluarkan ucapan seperti itu.


"Jadi sekarang lu minta cerai dari gue, dan mau nikah lagi sama juragan Rojali?"


"Iyalah, ngapain juga bertahan jadi istri Abang, toh Abang gak pernah bisa nyenengin gue. Kan mending jadi istrinya juragan Rojali."

__ADS_1


Sueb menatap istrinya geram, sementara wanita itu berlalu dengan santai.


__ADS_2