Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 58


__ADS_3

Malam itu, di rumah Dika. Tampak Rika berjalan mondar-mandir dengan gelisah di kamarnya. Rasa kecewa dan kesal yang dirasakannya sedari pagi, masih mengganjal di hatinya.


Dika juga sedang menunggu kesempatan untuk bisa datang ke kamar Rika. Pria itu tau, Rika akan membuat ulah kalau keinginannya malam ini tidak tertuntaskan. Dika masih menunggu istrinya beranjak tidur. Tapi tampaknya rasa kantuk enggan hinggap pada Winda. Wanita itu masih asik bercerita, meski Dika sudah jenuh mendengarnya.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23:15. Tapi Winda masih asik ngoceh menceritakan tentang para pasiennya. Membosankan, batin Dika. Semakin hari, Winda semakin terlihat membosankan di mata Dika. Penampilan Winda yang terkesan apa adanya, membuat Dika beranggapan wanita itu tak bisa merawat diri. Apalagi tubuh subur Winda yang kerap berkeringat. Menimbulkan aroma yang sangat tidak sedap.


Berbeda sekali dengan Rika yang pandai merawat diri. Badannya yang langsing juga selalu wangi. Membuat Dika merasa betah, untuk berdekatan dengannya. Sikap Rika yang manja, membuat Dika tergerak untuk selalu mengayomi wanita itu. Winda dan Rika, bagai langit dengan bumi.


Akhirnya, Dika menggunakan cara pura-pura tertidur, karena lelah mendengar Winda berkicau. Cara yang cukup ampuh. Karena selanjutnya, winda diam dan mulai mendengkur.


Dika memicingkan satu matanya, memastikan sang Istri sudahlah terbang ke alam mimpi. Dengkur halus yang terdengar, membuat Dika menyunggingkan senyum senang. Dengan berjingkat, Dika turun dari peraduan.


Sial! Tiba di dapur yang letaknya bersebelahan dengan kamar Rika, tampak Bik Sari berdiri di depan kompor. Wanita tua itu sedang memanaskan sisa sayur. Kenapa harus tengah malam? Kenapa tidak tadi setelah makan malam? Sengaja?


"Ehem. Lagi apa, Bik?"


"Eh, Bapak. Lagi panaskan sayur, Pak. Sayang kalau basi. Tadi sore Bibi lupa."


"Oh gitu. Ya udah, Bik. Abis ini istirahat! Sudah malam!"


Bibi hanya mengangguk, kembali menghadap ke arah kompor. Tersenyum miring. Setelah berpura-pura dari kamar mandi, Dika segera balik masuk ke dalam kamar. Sial, hasratnya tak tertuntaskan lagi.


Udara dingin subuh, membuat Rika terbangun. Rupanya wanita itu tertidur, lelah menunggu Dika yang tak kunjung datang ke kamarnya. Rasa kesal itu datang lagi. Seandainya di subuh yang dingin ini ada Dika.


Pun di kamar yang berbeda, Dika juga terbangun. Udara dingin menganggu tidurnya. Juga sang Istri yang beringsut mendekat padanya. Tapi, bau apa ini? Membuat perutnya mual. Winda buang angin, sungguh tak sopan.


Dika melangkahkan kaki turun dari pembaringan. Ditutupnya tubuh sang istri dengan selimut, agar dia merasa nyaman. Juga sebuah guling besar, dirapatkan pada tubuh si Istri. Biar saja Winda mengira itu dirinya.


Dengan pelan, Dika melangkah mendekati pintu. Memutarnya, dan keluar tanpa menimbulkan suara.


Tiba di dapur, tak ada Bik Sari yang memasak seperti biasanya, aman. Dika menyelinap ke dalam kamar Rika, pengasuh anaknya.


"Kenapa gak semalam aja ke sini?" tanya Rika sambil cemberut.


"Si Gajah gendut gak mau bobo," jawab Dika sambil mulai sibuk beraktifitas.

__ADS_1


"Getok aja pala nya! Biar pingsan."


"Ngawur!"


"Abisnya gak mau tidur."


Rika ikut membantu kesibukan Dika. Keduanya kemudian sama-sama sibuk. Bekerja sangat keras, sampai banjir keringat. Padahal subuh itu sangat dingin. Bik Sari saja yang di luar kamar, menggigil. Geram.


Dengan langkah lebar, wanita tua itu pergi ke kamar majikannya. Tanpa mengetuk pintu, wanita tua itu merangsek masuk. Menghela napas, melihat sang Nyonya masih mendengkur.


"Nya, Nyonya! Bangun, Nya!"


Bik Sari menepuk pipi Winda pelan dan mengguncang bahunya agar wanita itu terbangun. Winda hanya beralih posisi. Kembali mendengkur.


"Nya! Bangun, Nya! Gawat nih, Bapak lagi di kamar Rika!"


Winda mengerjapkan matanya. Kemudian melompat bangun. Kepalanya sampai terbentur pinggiran ranjang. Pasti sakit sekali.


"Apa, Bik?"


"Bapak, Nya. Sekarang ada di kamar Rika. Bibi melihatnya mengendap masuk. Ayo Nya! Kita tangkap basah mereka!"


Sampai di TKP, pintu kamar Rika terkunci rapat. Padahal pintu itu rusak, tidak bisa tertutup kecuali dikunci dari dalam. Terdengar suara deru napas, pertanda penghuni kamar sedang bekerja keras. Winda memasang ponselnya dengan mode merekam video. Kemudian memberi kode pada Bik Sari, untuk berjaga di luar jendela kamar yang menuju keluar. Tak ingin suaminya bisa kabur dari sana.


Bik Sari mengangguk, sambil tersenyum miring. Sebelum menghilang di balik pintu keluar, meraih sapu. Pasti benjol kepala yang nanti bertemu gagangnya.


Tok ... Tok ... Tok ... Tok


Winda mengetuk pintu kamar Rika, dengan menahan amarah yang membuncah. Seketika suara deru napas di dalam kamar berhenti. Hening.


Tok ... Tok ... Tok


Kembali Winda mengetuk pintu. Menahan ingin untuk mendobrak pintu kamar. Geram.


"MBAK RIKA! BUKA PINTUNYA!!"

__ADS_1


Masih belum ada jawaban.


"NYA ... NYONYA! ADA MALING NIH, NYA!! KABUR DARI JENDELA."


BAG BUG BAG BUG


Suara teriakan Bik Sari memecah keheningan subuh. Terdengar juga suara wanita tua itu mengayunkan gagang sapunya. Bergegas Winda berlari keluar, tetap dengan kamera ponsel dengan mode merekam.


"MANA, BIK? MANA MALINGNYA? LHO??? MAS DIKA??"


Winda pura-pura terkejut, melihat Dika memegangi kepalanya yang mendapat sapaan bertubi-tubi dari sapu Bik Sari.


"Ii ... iya nih, Ma. Pa ... Papa keluar mendengar teriakan Bik Sari. Tapi malah Papa yang dikira maling."


Dika mengelus kepalanya yang pada benjol. Bik Sari hanya nyengir. Winda tersenyum sinis.


"Kok bisa ya, Bik Sari salah sangka? Papa tadi posisi di mana?"


"Pa ... Papa dari depan. Abis jalan-jalan."


"Oh, tumben-tumbenan Papa jalan-jalan subuh?"


"Pa ... Papa gak bisa tidur. Gerah. Makanya Papa jalan-jalan aja."


"Oh, begitu?"


"Iii ... iya, Ma."


"Sekarang, sakit dong kepala Papa kena gagang sapu?"


"Sa ... sakit banget, Ma."


"Tapi tak sesakit hatiku yang telah kau khianati, Pa. Pergi kamu dari sini! Jangan bawa apa-apa! Semua harta milikku, warisan orang tuaku! ingat! Kamu masuk ke rumah ini cuma bawa burung!"


Winda meninggalkan Dika yang masih terkejut mendengar keputusan istrinya. Ingin membantah. Tetapi nyali ciut, melihat gagang sapu yang dipegang Bik Sari. Wanita tua itu menyeringai.

__ADS_1


"Halo, Gaes. Itu tadi suami saya, yang babak belur digetok sapu oleh Bibi saya, Bik Sari. Bik Sari mengira suami saya maling. Karena tertangkap basah keluar dari jendela kamar. Jangan salah lho, Gaes! Bukan jendela kamar saya, tapi jendela kamar pengasuh anak saya. Tadi lihat kan, Gaes? Gimana ekspresi wajah suami saya yang ketahuan? Jangan lupa ya, like, koment, and share."


Winda mengakhiri live streamingnya subuh itu dengan tertawa. Tertawa miris, tentu saja.


__ADS_2