
Usaha warung nasi yang digeluti Bu Bakir semakin hari semakin ramai. Orang-orang mulai melupakan status Bu Bakir sebagai janda dari seorang napi yang meningal saat menjalani masa hukuman. Tenaga kakek dan nenek Nabila yang sudah tua, tak cukup lagi untuk membantu di warung. Jadi Nabila akan mulai membantu sejak pulang sekolah sampai warung tutup jam delapan malam.
"Bil, apa Ibu cari orang yang bisa bantuin di warung aja, ya? Kasian kakek dan nenekmu kalau harus bantuin Ibu, mereka sudah tua."
"Apa emang sudah perlu banget, Bu? Kan cari orang juga butuh bayaran."
"Iya juga sih, Bil. Terus gimana?"
"Kan ada Bila yang bisa bantu Ibu. Bila juga masih muda, masih kuat juga, gak seperti Kakek dan Nenek yang sudah tua."
"Apa belajarmu gak terganggu, kalau bantuin Ibu terus? Jangan sampai nilai-nilai kamu turun loh, Bil!"
"Tenang aja, Bu! Nabila masih bisa atur waktu, buat belajar dan bantuin Ibu kok."
"Bener?"
"Iya, Bu, bener."
"Terus? Waktu buat pacaran gimana?"
"Lha pacaran sama siapa, Bu? Kan Nabila gak punya pacar."
"Itu, Nak Rio?"
Nabila menghela napas. Pasti Ibu mengira dia balik lagi sama Rio, karena beberapa kali Rio kembali main ke rumahnya. Nabila juga masih merasa, kalau Rio masih menyimpan perasaan untuknya. Tapi mengingat omongan yang beredar di sekolah tentang hubungannya dengan Rio, Nabila menjadi enggan.
"Kami sudah gak ada hubungan kok, Bu, hanya sekedar berteman saja. Nabila cukup tau diri, siapa Nabila dan siapa Kak Rio."
Ibu juga ikut menghela napas. Wanita itu memahami sakit hati yang dialami anak gadisnya di sekolah, karena teman-teman Nabila suka bergosip, Nabila cuma memanfaatkan Rio.
"Kalau begitu, larang dia untuk terlalu sering ke sini! Bukannya apa-apa, Ibu cuma takut, kejadian dulu terulang kembali."
"Bukan Nabila gak melarang, Bu. Emang Kak Rio aja yang bandel, dia terbiasa keinginannya dituruti. Dan dia juga gak suka kalau dilarang-larang."
"Sayang aja ya, Bil, orang tua Rio kayak gitu, padahal anaknya baik banget."
"Buah tak selalu jatuh dekat pohonnya, Bu. Kalau jatuhnya ke sungai kan jadi kebawa arus, jauh deh jatuhnya."
"Bisa aja kamu, Bil. Tapi kata Dessy, mamanya Rio udah mau nerima kamu?"
__ADS_1
"Kan gara-gara Tante Anna aja itu, Bu. Tante Anna ngakunya Nabila ini keponakannya, jadi mamanya Kak Rio mengira, Nabila mantan pacar anaknya, beda dengan Nabila keponakan Tante Anna."
"Bisa gitu, ya?"
"Ya bisa dong, Bu. Kan mamanya Kak Rio pasti mikir, gak mungkin Tante Anna punya ponakan miskin, kan dari keluarga tajir yang punya banyak usaha bisnis."
"Benar juga katamu, Bil. Tapi Ibu jadi khawatir nih."
"Khawatir apa, Bu?"
"Khawatir kamu belum move on dari Rio, takutnya kamu kecewa, Ndhuk."
Bu Bakir menjadi sedih, mengingat Nabila yang dari keluarga yang sangat sederhana, harus menerima hinaan dari mama Rio.
"Tenang aja, Bu! Nabila udah move on kok. Dulu juga Bila rasa kalau gak beneran cinta sama Kak Rio, cuma sekedar simpati dan gak enak nolak, waktu dia nembak. Nabila sadar diri kok, kalau status sosial kami memang jauh berbeda, jadi kayak pungguk merindukan bulan, kalau Nabila berharap bisa langgeng sama Kak Rio."
Bu Bakir tampak menghela napas, kemudian memeluk anak gadisnya itu. Cobaan hidup yang telah mereka lalui bersama, membuat gadis kecilnya yang dulu sangat manja, berubah menjadi seorang gadis yang kuat dan dapat diandalkan.
"Kata Dessy, mamanya Kak Rio mau mengudang kita makan malam, Bu."
"Hah? Lalu gimana, Bil?" Bu Bakir melepas pelukannya, dan mengamati wajah Nabila.
"Alasan apa?"
"Ada acara di keluarga besar, jadi otomatis gak bisa memenuhi undangan mama Kak Rio. Kalau Nabila masih ponakan, kan termasuk keluarga besar, Bu."
"Haduh, lagian ada-ada saja mamanya Dessy itu. Kok sama persis kayak anaknya, suka iseng."
"Kalau nurun isengnya sih gapapa, Bu, masih mending, timbang yang nurun sifat buruknya."
"Iya, Bil, bener katamu. Jadi, ini beneran Ibu belum perlu nambah orang buat bantu di warung?"
"Iya, Bu, belum perlu."
Ibu dan anak itu tersenyum, mereka harus pintar-pintar mengais rejeki, karena sudah tak ada lagi Pak Bakir yang menjadi tulang punggung keluarga.
Di rumah Rio, mama Rio masih saja mengomel, karena mama Dessy menolak undangannya untuk makan malam bersama. Papa Rio yang tak tahan mendengar omelan istrinya, memutuskan masuk ke kamar kerja, dan mengunci pintu dari dalam.
Rio yang tak mau jadi sasaran curhat sang Mama memilih untuk melarikan diri ke dalam kamarnya, tapi sang Mama keburu menarik tangannya.
__ADS_1
"Mau kemana? Ayo duduk sini, dengerin Mama ngomong!"
"Anu ... Rio mau ngerjain tugas, Ma. Besok dikumpulkan nih."
"Gak usah ngarang, Rio! Besok kan hari Minggu, mana ada kumpulin tugas. Pokoknya sini, dengar Mama ngomong!"
Rio mendengkus kesal, kalau Kanjeng Mama sudah bertitah seperti itu, alamat akan ada ceramah bersambung.
"Ada apa sih, Ma?" Rio menghempaskan pantat ke sofa di sebelah Mama duduk.
"Kamu mau kan, kalau Mama jodohkan sama keponakan Tante Anna? Biar kamu move on dari anak napi itu!"
"Apaan sih, Ma? Kok main jodoh-jodohan segala, kan ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya," Rio mengeluh.
"Ya gapapa, kan itu ponakan Tante Anna baik, cantik, sopan lagi. Beda sama anak napi itu, udah hitam, keriting, dekil lagi. Gitu kok kamu bisa cinta mati sama dia, sih? Pasti kamu udah dipelet sama anak napi itu deh, Rio."
"Mama-Mama, jaman modern gini kok masih percaya sama yang gitu-gitu. Lagian kan Mama bilang, Nabila itu miskin, mana ada duit buat bayar dukun pelet?"
"Ya orang seperti mereka itu, pasti akan memakai segala cara untuk mencapai tujuannya. Termasuk pinjam uang ke rentenir buat bayar dukun pelet."
Rio tergelak mendengar tuduhan mamanya yang dinilai sangat konyol itu.
"Haduh, makin gak jelas aja nih Mama ini. Emang, ponakan Tante Anna yang mana yang mau dijodohkan sama Rio?"
"Yang cantik, putih, sopan, pinter dan tajir itu lho, Rio. Mama dengar sih papanya sudah meninggal, terus mamanya punya usaha restoran gitu lho. Pasti kamu gak bakal nyesel, kalau mau Mama jodohkan sama dia."
"Tapi kan Rio belum pernah ketemu orangnya, Ma. Nanti deh kalau udah ketemu Rio pikirkan."
"Kamu udah pernah ketemu sama dia kok, dan Mama lihat kamu juga suka sama dia."
"Hah, yang mana sih, Ma?"
"Itu, yang kemarin diajak ke sini sama Tante Anna, waktu nengok kamu sakit."
"Wah, kalau yang itu, Rio mau banget, Ma." kata Rio yang seketika ceria.
"Udah Mama duga, kamu pasti mau."
Tante Hesti tersenyum, sedang Rio anaknya cuma nyengir lebar.
__ADS_1