Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 60


__ADS_3

Dika sampai di depan warung milik Bu Bakir yang sedang ramai pembeli. Tampak sang pemilik warung sedang sibuk melayani, dibantu oleh kedua orang tuanya, kakek dan nenek Nabila.


Untuk sesaat, Dika merasa ragu. Apakah akan masuk ke dalam warung dan makan? Atau pergi mencari warung makan yang lain? Dika masih menyiapkan mental untuk bertemu sang pemilik warung.


Bu Bakir terlihat sangat sibuk, mondar-mandir membawakan pesanan para pelanggannya. Kakek sibuk membantu dengan membuat teh, kopi, jus jeruk, atau minuman lain sesuai pesanan. Sedang Nenek tampak sibuk di bagian belakang, mencuci piring. Nabila tidak tampak di antara kesibukan itu. Tentu saja, ini waktunya untuk sekolah. Bukan hari libur.


Dika menghela napas, sebelum memantapkan hati untuk melangkah memasuki warung. Selain karena desakan kampung tengah yang minta diisi, serta cacing-cacing yang berdemo minta asupan gizi. Dika punya tujuan lain. Meminta maaf atas segala kesalahan. Entah dimaafkan atau justru diusir. Kesalahan dan dosanya sudah terlalu besar.


"Mbak Yu, aku pesan nasi rames dan teh tawar, ya!" kata Dika setelah mendudukkan pantat di bangku warung.


Bu Bakir tampak terkejut. Pandangan matanya menunjukkan ketidaksukaan. Namun itu hanya sekejap. Selanjutnya wanita itu merubah ekspresi. Ramah, khas pemilik warung yang ingin dagangannya ramai pembeli.


Tak lama wanita itu kembali, membawakan pesanan Dika dalam sebuah nampan. Lalu meletakkan dengan sopan. "Silakan! Dan selamat menikmati!" Kembali wanita itu tampak sibuk, melayani para pembeli yang lain.


Dika kembali menghela napas. Kemudian mulai bersantap. Nantilah berpikir untuk meminta maaf, yang penting perut yang meronta terlebih dahulu diisi.


Hari beranjak siang. Satu-persatu para pembeli meninggalkan warung. Melanjutkan aktivitas masing-masing. Pergi bekerja, berdagang atau menawarkan jasa. Sekarang, hanya Dika yang masih tampak duduk di warung.


Ketiga orang itu saling pandang, melihat Dika yang belum berniat pergi. Bu Bakir tampak sekali merasa kurang nyaman. Tapi enggan untuk menghampiri. Nenek juga menunjukkan ekspresi yang sama. Bahkan tampak sekali ingin mengusir lelaki itu. Hanya Kakek yang tampak lebih sabar. Menghampiri Dika.


"Tumben sekali Mas Dika mampir? Ada angin apa?" tanya Kakek ramah.


"Ah, Kakek! Apa kabar?"


Dika mencium tangan keriput milik Kakek dengan takzim.


"Baik, Mas Dika. Semua pada sehat dan baik. Nabila juga baik. Tapi dia sedang sekolah. Kabarnya Tasya dan Mbak Winda gimana?"


"Mereka berdua juga baik, Kek. Tasya juga lagi sekolah, jadi gak bisa ikut ke sini. Padahal anak itu katanya kangen sekali dengan Nabila."


"Lain kali ajak ke sini!"


"Iya, Kek."

__ADS_1


Setelahnya kedua orang itu saling diam. Tak tau lagi harus berucap apa. Canggung. Nenek yang sedang mengelap gelas dan piring, sesekali melirik kedua pria itu. Demikian juga Bu Bakir yang sedang sibuk membersihkan warung.


"Kek, sebenarnya niat saya ke sini, ingin minta maaf pada Kakek dan keluarga. Terutama pada Mbak Yu dan Nabila."


Akhirnya, keluar juga kalimat permintaan maaf dari mulut Dika. Setelah pria itu menguatkan hati untuk mengucapkannya.


"Mas Dika tahu kan, apa kesalahan Mas Dika?"


"Iya, Kek! Saya tahu! Sangat tahu. Tapi ... saya terlalu pengecut untuk mengakuinya."


Dika menundukkan wajahnya. Tak berani menatap wajah tua di hadapannya. Dika mulai meneteskan air mata. Air mata penyesalan. Kakek menghela napas, sebelum melanjutkan bicara.


"Untuk maaf, Kakek kira anak dan cucu Kakek sudah memaafkannya, Mas Dika. Kakek selalu mengajari mereka untuk memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan sebelum yang bersangkutan meminta maaf. Tapi ... "


"Ya, Kek?" Dika memberanikan diri mengangkat wajah. Melihat ke mata Kakek. Ingin tau kelanjutan dari kalimat Kakek yang terputus.


"Kakek tau mereka kecewa, Mas. Rasa kecewa itu membuat mereka belum melupakan kesalahan Mas Dika. Memaafkan, tapi tidak untuk melupakan."


Dika menghela napas. Pria itu tau. Bu Bakir dan Nabila memang sangat kecewa padanya. Terbukti pada waktu Pak Bakir meninggal, mereka menunjukkan sikap sangat tidak bersahabat. Winda yang tidak tau ulah suaminya, merasa kesal.


"Menyerahkan diri pada polisi?"


Dika menggeleng. Pria itu tak punya cukup keberanian untuk menyerahkan diri. Terlalu takut untuk mendekam di balik jeruji besi.


"Lalu, apa yang akan Mas Dika lakukan?"


"Entah! Saya juga belum tau, Kek. Mungkin saya akan pergi dari kota ini. Mencari penghidupan di tempat lain."


"Istri dan anakmu?"


"Mereka akan tetap di sini. Di sini rumah mereka."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Saya ini binatang, Kek. Saya telah melakukan perbuatan binatang yang mungkin tidak akan dimaafkan oleh istri saya. Winda sudah mengusir saya dari rumah."


Kakek menggelengkan kepala prihatin. Tidak pernah menyangka, pria baik yang dikenalnya dulu, ternyata hanya sebuah pencitraan. Bu Bakir dan Nenek yang ikut mencuri dengar percakapan mereka, saling memandang. Tanpa tau harus berkomentar apa. Benci, tapi juga prihatin.


"Itu masalah rumah tanggamu, Mas Dika. Kakek tak berhak turut campur. Kakek cuma bisa mendoakan, agar semua masalahmu cepat selesai."


"Amin! Terima kasih, Kek."


"Nasehat Kakek, jangan lari dari masalah! Selesaikan! Meski itu sangat menyakitkan. Karena lari, gak akan pernah membuatmu merasa tenang. Kamu akan selalu terbebani, dan akan kesulitan untuk melangkah."


"Iya, Kek. Saya akan menuruti semua nasehat Kakek. Setelah ini saya akan pulang. Menyelesaikan masalah dengan Winda. Apapun keputusannya, akan saya terima dengan lapang dada."


"Bagus, Mas Dika!"


"Kalau begitu, saya pamit ya, Kek! Sampaikan permintaan maaf saya pada Mbak Yu dan Nabila. Suatu saat, kalau Tuhan masih memberi saya umur panjang, saya akan datang lagi. Meminta maaf lagi."


"Iya, hati-hati ya, Mas Dika!"


Dika mencium tangan Kakek, sebelum keluar dari warung dan meninggalkan lembaran merah untuk membayar makanan dan minumannya pagi itu. Bu Bakir menghampiri Kakek setelah Dika pergi.


"Kenapa dia, Pak?"


"Ada masalah dengan istrinya. Sepertinya berat, karena dia sampai diusir sama Winda."


"Hem, ada-ada saja. Heran, jadi manusia kok gemar banget berbuat dosa."


"Namanya juga manusia, Ndhuk! Belum berubah jadi peri. Tapi kamu sudah memaafkan dia kan?"


"Sudah kok, Pak. Tuhan tak akan mengampuni kesalahan manusia, yang tidak mau memaafkan kesalahan sesamanya. Bukankah begitu, Pak?"


"Benar, Ndhuk. Kita memaafkan, bukan untuk orang lain. Tapi untuk diri kita sendiri."


"Ya sudah, Pak. Biarkan saja dia berkreasi. Sekarang Bapak sama Emak istirahat! Warung juga masih sepi. Terima kasih sudah membantu."

__ADS_1


"Jangan berterima kasih. Kita memang harus saling bantu. Kita keluarga."


Kakek menepuk bahu anaknya sebelum berlalu.


__ADS_2