
Malam itu, Winda sedang menolong pasien yang sedang melahirkan. Sedari siang, sebenarnya pasien itu sudah merasa mulas, tapi entah kenapa, sampai menjelang tengah malam, belum juga ada perkembangan. Sepertinya, Dedek bayi masih kerasan berada di perut ibunya.
Melihat ada kesempatan, Rika menggunakannya untuk memulai aksi. Saat melihat Dika pergi ke kamar mandi di dekat dapur, Rika berpura-pura mengerang kesakitan.
"Aduh, sakit sekali," erang Rika.
Dika mengabaikan suara Rika, dan melanjutkan niat ke kamar mandi, menunaikan panggilan alam. Tetapi ketika hendak kembali ke kamar, Dika melihat Rika keluar dari kamarnya sambil memegang perut.
"Kenapa, Mbak?"
"Entahlah, Mas Dika. Tiba-tiba perutku sakit sekali, sepertinya masuk angin."
"Sudah dikasih minyak kayu putih?"
"Sudah, Mas, tapi masih sakit. Mungkin akan sembuh kalau aku minum teh hangat, makanya aku mau ke dapur untuk membuatnya."
"Ya sudah kalau begitu," kata Dika akan berlalu.
BRUK
Tiba-tiba tubuh Rika sudah ambruk ke lantai begitu Dika berpaling, membuat lelaki itu panik.
"Astaga, Mbak Rika! Bangun, Mbak! Nanti aku panggil Winda buat memeriksa keadaanmu."
Rika masih tetap memejamkan mata, meski Dika sudah menepuk-nepuk pipinya agar wanita itu bangun. Dengan terpaksa, Dika mengangkat tubuh Rika ke kamarnya.
"Hadeh, mana si Winda lagi ada pasien, mana mungkin aku menganggu untuk ku suruh memeriksa Rika. Mending ku bangunkan Bik Sari aja deh," kata Dika.
Mendengar Dika akan memanggil Bik Sari, Rika menjadi panik. Wanita tua itu pasti mengetahui kalau dia hanya sedang berpura-pura. Dengan berakting seolah baru siuman dari pingsan, Rika mulai membuka mata.
"Di mana ini?" tanya Rika lirih.
"Kamu sudah siuman, Mbak? Padahal aku baru mau panggil Bik Sari, agar membantuku membuat kamu bangun."
"Aduh, perutku sakit banget, Mas Dika!" kata Rika sambil meringis kesakitan.
"Ku panggilkan Bik Sari, ya?"
__ADS_1
"Jangan, Mas! Pasti dia sudah tidur, kasian kalau dibangunkan, capek dia itu."
"Terus?"
"Mas Dika bisa tolong bikinkan aku teh hangat? Biasanya setelah minum teh hangat, masuk angin bisa sembuh."
Tanpa bicara, Dika beranjak ke dapur, dan membuatkan teh hangat untuk Rika. Winda juga mempunyai kebiasaan yang sama, minum teh hangat saat masuk angin, karena itu Dika tak menolak permintaan Rika.
"Ini tehnya, Mbak!"
"Terima kasih, Mas Dika."
Rika meminum teh dari Dika dengan pelan, sambil meniup ke arah gelas, seolah teh itu terlalu panas. Kemudian Rika pura-pura memijat tengkuknya agar bersendawa, tanda angin telah keluar dari tubuhnya. Beberapa kali Rika pura-pura bersendawa.
"Udah enakan, Mbak? Ku tinggal ya?"
"Anu ... anu, Mas, kalau aku minta tolong dikerok sebentar, boleh?"
"Kerok? Apa gak mending ku panggilkan Bik Sari saja, masa aku yang kerokin, kan kita bukan muhrim?"
"Gapapa lah, Mas Dika. Di sini lho, di bawah leher sini terasa berat, pasti anginnya ngumpul di situ."
"Iya, mau kan, Mas Dika?"
"Ya udah, mana uang koin dan minyak kayu putihnya, biar aku kerok?"
Rika mencari uang koin di laci kemudian menyerahkannya pada Dika.
"Pintunya ditutup aja ya,Mas! Takutnya nanti Bik Sari kebangun, terus salah paham melihat Mas Dika di kamarku."
"Kan tinggal jelasin aja, Mbak! Aku bantuin Mbak Rika yang masuk angin."
"Haduh, Mas. Tau sendiri kan gimana Bik Sari ke aku, meski dijelaskan juga percuma, dia pasti tetap mikir macem-macem ke kita."
"Ya udah kalau begitu, biar ku tutup pintunya," kata Dika mengalah.
Rika tersenyum licik, ketika Dika beranjak untuk menutup pintu. Rika sudah mengutak-atik pintu, agar mau tertutup kalau dikunci, dan akan terbuka bila dibiarkan tak terkunci. Terpaksa Dika mengunci pintu kamar Rika.
__ADS_1
Saat berbalik, Dika terperangah, melihat Rika sudah melepas baju atasnya. Punggung putih milik Rika, seketika membuat lelaki itu menelan air liur.
"Mbak, katanya cuma minta kerok bawah leher aja, tapi kok ... ?"
Dika tak dapat melanjutkan omongannya, ketika Rika berbalik menghadapnya. Seketika Dika menahan napas, saat pemandangan indah terpampang di depan matanya.
"Cepat ke sini dong, Mas! Kok malah berdiri di situ sih? Nanti aku tambah masuk angin nih."
Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Dika mendekat ke arah Rika, sambil matanya tak lepas dari pemandangan yang indah.
Rika memundurkan tubuhnya, hingga tanpa sadar Dika naik ke atas kasur Rika. Keduanya kini berada dalam jarak yang cukup dekat. Rika memegang tangan Dika, dan mengarahkannya ke benda yang sedari tadi tak lepas dari pandangan Dika.
Rika mendongak dan tersenyum licik, ketika wajah Dika tengelam dalam pemandangan indah yang sedari tadi dilihatnya. Terjadilah sesuatu yang memang sangat diharapkan oleh Rika.
Setelah semuanya selesai, kesadaran mulai melingkupi Dika, bahwa apa yang baru saja mereka lakukan salah. Menyesal bahwa dirinya sudah terhipnotis oleh pesona Rika juga percuma, semua sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur.
Cepat-cepat Dika mengenakan pakaiannya, dan keluar dari kamar pengasuh Tasya itu. Sedang Rika cuma tertawa sambil menutup mulutnya, ya rencananya sudah berhasil dengan mulus.
"G*la banget, kenapa aku bisa tergoda sama janda gatel itu, sih? Kalau sampai Winda tau, bisa habis aku disunat sama dia." kata Dika sambil memukul kepalanya.
"Benar berarti kata Bik Sari, kalau Rika itu kerja di sini dengan itikad gak baik, mau merusak rumah tanggaku dengan Winda. Sial banget, kenapa aku bisa jatuh ke dalam perangkapnya? Mana aku ngelakuin di sini, di rumah ini, untung gak ketahuan. Lain kali, aku harus menghindari wanita ular itu."
Dika menutup tubuhnya dengan selimut dan berusaha memejamkan mata, tapi setelah sekian lama belum juga berhasil. Bayangan perbuatan terkutuk yang baru saja dia lakukan bersama Rika, tak mau lepas dari pelupuk matanya.
Krieettt
Pintu kamar terbuka, dan Winda masuk sambil menunjukkan wajah lelah. Wanita itu duduk di depan meja rias untuk membersihkan wajah dan memakai krim malam.
"Kok belum tidur, Pa?" tanya Winda pada suaminya.
"Tadi udah, tapi barusan terbangun karena kebelet pipis. Udah lahiran pasiennya, Ma? Anaknya cewek apa cowok?"
"Udah, Pa, anaknya cowok. Posisinya agak sungsang, makanya lama baru lahir. Tadi mau ku rujuk ke rumah sakit, tapi suaminya gak mau karena gak punya biaya. Ya terpaksa ku usahakan sekuat ku."
"Itu yang namanya pengabdian, Ma. Membantu bukan orang yang mampu aja, terlebih yang tidak mampu yang harus diutamakan. Kan yang mampu bisa gampang aja lahiran di rumah sakit mahal. Kalau yang biasa aja, lebih memilih ke bidan kayak kamu."
"Iya, Mas. Dari awal aku pengen jadi bidan, tujuanku kan menolong orang yang lebih membutuhkan."
__ADS_1
"Nah pinter, istri Papa memang oke kok. Sini ku pijat, Ma! Kamu kan capek."
Tidak seperti biasa, Dika hanya menebus rasa bersalahnya saja.